Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • Monthly Archives: February 2012

    SELAMATKAN AIR SEKARANG

     Air yang kita pakai untuk makan dan minum; wudlu danMCK berasal dari sungai, Surabaya dari K Brantas. Kuantitas dan kualitas air yang mengalir sangat tergantung dengan perilaku masyarakat yang bermukim di hulu sungai (kawasan resapan dan kawasan mata air).

    Kita secara EKOLOGIS merupakan saudara dan saling tergantung. Saat ini saudara kita yang bermukim di hulu sungai sebagian besar kekurangan dalam berbagai hal termasuk miskin imu pengetahuan ekologis. Mereka melakukan segalanya untuk memenuhi kebutuhannya termasuk menebang hutan dan menjual kayunya. merekka idak tahu kalau mereka menebang bisa mempengaruhi sungai di bawahnya. Kita sebagai saudara bisa melakukan banyak aktivitas untuk memberi/meningkatkan pengatahuan saudara ita yang bermukim di kawasan hulu ini dan bisa memberi arahan teknologi meningkatkan panen buah-buahan tanaman keras serta kita bisa membeli hasil bumi (buah-buahan) secara terus menerus. Kita perlakukan saudara kita di kawasan hulu sungai sebagai saudara/kerabat/partner/kawanFakta : beberapa tahun terakhir sudah terjadi kekeringan hampir di seluruh Indonesia pada bulan September – Oktober dan uang milyaran sudah dikeluarkan untuk mengatasi kekeringan itu. Padahal kita tahu bahwa bulan September – Oktober memang musim kemarau dan selama ini kita bisa melaluinya tanpa bencana kekeringan. Ini tanda bahwa air yg meresap dan tersimpan di dalam tanah sedikit atau tidak ada. Di beberapa daerah sudah mulai kehilangan mata air atau jumlah mata air berkurang atau debit mata air mengecil SEHINGGA BANYAK SUNGAI TIDAK BERAIR LAGI

    Pada kenyataanya pembabatan hutan juga menyebabkan berkurangnya tanah karena terjadi peningkatan erosi dan longsor sehingga akan terjadi pengurangan tebal tanah yang menutupi pegunungan. Andai ini tidak segera dicegah maka tanah penutup akan habis sehingga gunung akan berubah menjadi gunung batu yang tidak akan bisa ditanami.

    Ancaman kekeringan yang akan diikuti kebakaran hutan, erosi, longsor, banjir bandang, banjir dan angin puting beliung serta sangat mungkin serangan hewan karena terganggu habitatnya di pegunungan. Bahkan ketika kawasan gunung jadi permukiman, air septik tank dan got akan meresap ke air tanah.

    Kita sebagai masyarakat bisa masuk memberi saran teknis kepada Presiden/Gubernur/Bupai/ Walikota agar segera menetapkan KAWASAN RESAPAN MUTLAK (tidaka ada hunian sama sekali), KAWASAN RESAPAN TERBATAS dengan sedikit hunian (pedesaan), KAWASAN RESAPAN TERBATAS KETAT dengan hunian permukiman modern dengan keharusan membangun air limbah komunal, dan usulan lain secepatnya.

    Selamatkan hutan di pegunungan, selamatkan air, selamatkan tanah, selamatkan ekosistem dan selamatkan umat manusia.

     

    IAGI PENGDA JABAR-BANT​EN SUMBANG PANEL GEOLOGI DI GUA BELANDA, BANDUNG

    Senen 20 Februari 2012, Dr. Ade Djumarma, Ketua Pengda IAGI Jabar-Banten, meresmikan dan sekaligus menyerahkan papan panel berlogo IAGI kepada pengurus Kawasan Wisata Taman Hutan Rakyat -TAHURA di Dago Pakar, Bandung . Papan panel tersebut yang berisi penjelasan tentang sejarah bebatuan di kawasan Bandung Utara diletakkan di pintu masuk utama Gua Belanda. Tahun lalu, Gua Belanda ini dikunjungi oleh sekitar 15.000 an wisatawan dan diharapkan dengan adanya papan panel tersebut maka jumlah pengunjung akan meningkat di masa mendatang . Perlu ditambahkan bahwa dalam acara Gowes Bareng IA- Teknik Geologi ITB pada 18 Desember 2011 yang lalu , rombongan yang turun dari G. Tangkuban Perahu menuju Kampus ITB sempat singgah di Gua Belanda ini.

    Dr. Ade Djumarma menjelaskan tentang sejarah letusan Gunung Api Sunda

    Acara serah terimanya sendiri berlangsung sederhana, dihadiri oleh Direktur dan Staf TAHURA, wartawan ( PR,Tempo dll ), Staf Badan Geologi , KRCB ( diwakili T. Bachtiar dan mang Okim yang merangkap juga sebagai anggota IAGI ), dan lain-lain. Dalam rangkaian acara tersebut, Dr. Ade Djumarma menjelaskan tentang maksud dan tujuan pemasangan papan panel tersebut . Selain dari itu, disinggung juga sejarah geologi kawasan Bandung Utara meliputi antara lain Sesar Lembang dan sejarah letutan Gunung Api Sunda berikut jenis bebatuan yang dihasilkan, yang dapat dilihat langsung di sekitar Gua Belanda seperti antara lain batuan Ignimbrite – batuan gunung api yang terbawa awan panas sekitar 105 ribu tahun lalu, batuan lava, batuan bom dan piroklastik , dan juga ropy lava yang oleh pengurus TAHURA disebut sebagai batu batik.

    Dr. Ade Djumarma menyerahkan secara resmi papan panel kepada Direktur Taman Hutan Rakyat ( Tahura ), Bapak Imam Santoso ( 20 Feb. 2012 ). Perhatikan logo IAGI - Badan Geologi - dan Tahura

    Mengenai Gua Belanda tersebut yang dibangun oleh Kolonial Belanda pada tahun 1914 dengan tujuan pertama sebagai terowongan PLTA, fungsinya kemudian beralih sesuai dengan situasi kondisi saat itu, antara lain sebagai stasiun radio telekomunikasi Belanda tahun 1941, depot logistik, ruang tahanan, gudang mesiu, dan lain sebagainya. Lorong-lorong dan ruangannya banyak dengan bekas-bekas jaringan listrik dan rel kereta / lori. Bagi rekan-rekan yang liburan ke Bandung, sangat dianjurkan untuk meninjau Gua Belanda ini yang terletak tidak jauh dari Gua Jepang.

    Direktur Tahura Bapak Imam Santoso, dengan dasi koboy obsidian berlogo IAGI, diabadikan di depan pintu keluar Gua Belanda,

    Langkah besar IAGI Pengda Jabar – Banten

    Sumbangan papan panel dari IAGI Pengda Jabar-Banten tersebut yang menurut Dr. Ade Djumarma dapat terlaksana berkat kerjasama dan dukungan dari Badan Geologi, konon akan dilanjutkan dengan sumbangan serupa di 5 lokasi pariwisata lainnya yaitu di Situs Gua Pawon, Kawah Putih / G. Patuha , G. Papandayan, G. Galunggung, dan Geyser Cisolok. Kalau hal ini benar-benar terlaksana maka langkah dan terobosan IAGI Pengda Jabar – Banten ini patut diapresiasi dan diacungi jempol mengingat hal itu sejalan dengan salah satu program PP IAGI dan kita semua yaitu memasyarakatkan ilmu geologi dalam rangka meningkatkan pengertian dan kecintaan masyarakat akan bangunan-bangunan geologi yang diwariskan oleh alam.

    Sehubungan dengan hal di atas maka mang Okim sebagai anggota IAGI langsung memberikan apresiasi berupa dasi koboy obsidian berlogo IAGI kepada Dr. Ade Djumarma dan Bapak Imam Santoso, Direktur TAHURA ( semoga Pak Ketum dan rekan-rekan tidak keberatan ya ). Sebagai penutup , mang Okim berharap , semoga langkah besar yang dicontohkan oleh IAGI Pengda Jabar – Banten ini dapat menular ke Pengda-Pengda IAGI lainnya di Indonesia. Amiin.

    Dr. Ade Djumarma, Ketua IAGI Pengda Jabar-Banten memberikan penjelasan tentang makna gambar-gambar yang tertera di papan panel. ( Senen, 20 Februari 2012 )

     

    Group Gowes IA-GL-ITB singgah di Gua Belanda yang menembus endapan ignimbrit hasil letusan Gunjung Api Sunda sekitar 105.000 tahun yl. ( Foto Iman Santoso, 18 Desember 2011)

    Apresiasi PP-IAGI

    Pengurus Pusat IAGI, Rovicky Dwi Putrohari, memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas inisiatip dan hasil kegiatan Pengda IAGI Jabar-Banten ini. Kegiatan ini merupakan salah satu langkah kongkrit IAGI dalam sosialisasi ilmu kebumian kepada masyarakat.
     
     

    Skeptis dan budaya riset

    Skeptis itu memang bawaannya seorang saintist. Sains itu diawali dengan keraguan bukan semangat dan keyakinan. Jadi kalau ada yg sekptis pada sesuatu penemuan bukan berarti yang bersangkutan menolak. Secara mudah orang skeptis itu baru akan mengikuti atau menyetujui adanya hipotesa baru bila dia sudah menemukan evidence. Tanpa evidence kok sudah meyakini sebuah penemuan baru hanya karena ditemukan si anu yg terkenal berarti itu taklid buta ….  Sains ndak mengenal hal taklid seperti itu. Banyak saintis bergelar doktor yg tidak sepaham dengan promotornya ….

    Dalam perkembangannya sains itu juga tidak ada loncatan besar yang datangnya “ujug-ujug mak pluk”.

    Mohon maaf saja …. Sains itu jalannya thimik-thimik, bukan berlari kencang. Mirip langkah siput, seperti proses evolusi, pelan tapi pasti.

    Keingintahuan.

    Budaya riset di Indonesia dikatakan menurun oleh beberapa peneliti di Indonesia. Keinginan untuk melakukan riset yang dikatakan menurun itu bukan karena sikap skeptis ‘researcher‘, tetapi mungkin ini justru kekelirian orang yang mengaku saintis yang pesimistis pada hasil yg akan diperoleh. Saintis murni melakukan penelitian seringkali bukan karena tujuan tertentu, tapi karena keingintahuan.Rasa ingin tahu ini yang mesti dimiliki oleh seorang periset sejati. Lingkungan yg mendorong rasa ingin tahu ini yang perlu ditumbuh kembangkan.

    Ketiadaan rasa ingin tahu bukan berarti pesimis atau skeptis loo. Bisa saja penemuan bagus menjadi tidak menarik karena kemasan atau pengungkapan yang rumit. Archimides menjelaskan teorinya dengan ‘berlari-lari telanjang, eureka … eureka !’ Newton menjelaskan gravitasi dengan kejatuhan buah apel. Jelaskanlah dengan bahasa awam. Saat ini dengan mudah kita mengerti mengapa kapal dari besi yang beratnya ratusan ton dapat terapung karena ‘ketelanjangan’ Archimides.

    Penemuan besar sering tidak disadari oleh penemunya.

    Yang penting menurut saya, seorang peneliti sejati seringkali tidak memperdulikan dampak dari temuannya … Sikapnya adalah “persistent” dalam bahasa mudahnya “tekun” dalam melakukan riset. Jangan membayangkan atau memikirkan hasilnya akan menggelegar. Kebanyakan penemuan besar didunia tidak disadari oleh penemunya. Jadi kalau anda telah menemukan sesuatu, jangan punya harapan anda akan mendapatkan hasilnya secara instant. No. No …. Bukan seperti itu “reward” atau penghargaan yang diperoleh oleh seorang penemu sejati. Ketika nanti manusia menyadari, barulah “nama” anda akan dikenal dan “dikenang“. Syukur-syukur didoakan, ilmu dan penemuan yang bermanfaat adalah sebuah amal jariah.

    Kalau anda menemukan sesuatu, ikhlas saja dengan apa yg ditemukan. Memang kalau diamati, hanya penemuan yg hasil temuannya diteliti terus secara berlanjut yang bermanfaat. Jadi satu hal lain yang penting adalah sikap dari si peneliti ketika mengemukakan hasil risetnya. Sikap “low profile“, lembah manah, sopan, membuat orang memberikan apresiasi atas penemuan dan kalau diteruskan maka penemuan itu menjadi sebuah ilmu yg bermanfaat. Yang seperti ditulis diatas, menjadi amal jariah.

    Jadi,

    Kalau anda merasa menemukan sesuatu, ungkapkan saja apa adanya sejujurnya. Duniapun sekarang tahu bahwa bukan Darwin yg menemukan teori evolusi, dia hanyalah mengembangkan, merapikan dan menuliskan, namun saat ini semua tahu bahwa Lamark juga Wallace lebih duluan mengemukakan ide evolusi yang fenomenal ini. Malah Darwin yg akhirnya dicaci oleh orang yg “tersinggung” karena penemuan teori evolusi.

     

    Rovicky Dwi Putrohari

    Ketua Umum IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia)

    Running Text MetroTV dan TVOne : Himbauan pada anggota IAGI

    Pagi-pagi saya disms Pak Awang H Satyana :

    • AHS : “Slmt pagi p. Rovicky. Smalam di metro tv dan tv1 ada running text bhwa IAGI menyatakan sadahurip bukan piramida, tp tumpukan lava yg mengeras. Benarkah itu brdasarkan berita resmi IAGI dan sepengetahuan p. Rovicky? Tkasih.”
    • RDP : “Bukan pernyataan PPIAGI. Mungkin Pengda Jabar. Selama ini PP IAGI tidak pernah memberi pernyataan apapun ttg hal itu.”
    • AHS : ” P. Vicky, karena isunya mungkin sudah brskala nasional, bukan lg daerah, tak ada knsultasi dulu dg PP ya? Klihatannya ada bbrapa org yg ingin ‘memaksakan’ pndapat pribadi/golongan ke publik tp mnggunakan legitimasi lembaga.”
    • RDP : Iya Pak Awang. Mungkin IAGI perlu membuat release ttg hal ini. Tapi hingga saat ini saya pribadi masih menganggap terlalu dini, perlu pengkajian riset utk menyatakan sesuatu. Namun akan saya bahas di rapat pleno sabtu besok. Btw, mnurut pak Awang apakah Sadahurip ini manmade dan ada bangunan tinggalan manusia didalamnya ?
    • AHS : “Sy setuju skali dg sikap IAGI spt yg dikemukakan p. Rovicky. Trlalu dini untuk mnntukan sikap/brkesimpulan, juga sy pikir akan susah mnengahi suatu prdebatan, bhkan ketika nnti riset sudah trkumpul banyak sebab slalu ada ruang intrpretasi dalam geologi maupun arkeologi. Sy pikir IAGI tak perlu release apa2 ttg sadahurip, biarkan aja anggota2nya saling brpndapat & brdebat. Yg perlu diklarifikasi adalah pndapat2 ‘liar’ yg mmakai nama IAGI, apa pun pandangannya, selama IAGI tak mrasa mngeluarkan release apa2. Buat sy, sadahurip sesuatu yg kompleks, tak sederhana shingga mudah disimpulkan. Kalau kita prcaya geolistrik, model & intrpretasinya bisa ditafsirkan macam2 baik natural maupun manmade, tp tak mnunjukkan bahwa itu cinder cone spt blkangan mngemuka di milis, knapa bukan cindercone nnti sy tulis di milis. Ttg sadahurip, sy lebih mnyoroti fakta hilangnya sebelah punggungan lava baturahong yg lokasinya frontal thd sadahurip. Dr pnyelidikan lapangan dan brbagai analisis sy mnafsirkan massa yg hilang ini sbg area ‘bongkaran’, pnambangan batuan, skala masif, yg trjadi pada masa yg jauh dlm sejarah/prasejarah (masa ini sy tafsirkan dr wawancara dg pnduduk skitar yg mngatakan bhwa dlm sejarah yg trukur oleh mreka tak ada riwayat pnambangan di skitar sdhurip, artinya kalau ada pnambangan maka trjadi sblum ada pnduduk masa kini dan leluhurnya). Daerah bongkaran baturahong prnah ditafsirkan sbg amblesan sesar, ttapi sy tak mnemukan buktinya. Cekungan baturahong adalah manmade, sekian banyak batu yg digali itu lalu dipakai apa, nah ini yg putus, dan sy tak mau brspekulasi dipakai mmbangun piramida sdhurip. Andaipun iya, sy tak akan kesulitan membayangkan proses pmbangunannya, bisa sy jelaskan. Gunungpadang adalah bangunan prasejarah masif analognya,dan itu dibangun skitar 3000 SM. Demikian p. Vicky, smoga cukup mmberikan info. Salam.

    Dari sekelumit sms saya dengan Pak Awang saya kira kita (sebagai anggota IAGI di mailist ini) mesti tahu bagaimana media saat ini sering mengaduk-aduk persepsi, pedapat dan opini seseorang yang sering dikaitkan dengan opini institusinya. Seperti sebelumnya juga ada pernyataan bahwa penelitian ini juga dilakukan oleh ahli dari ITB dan UGM, namun kita tahu bahwa itu bukanlah penelitian dan bukan pernyataan resmi kelembagaan institusi ITB. Dan ITBpun tidak memberikan tanggapan apapun mengenai hal ini.

    Demikian juga posisi PP-IAGI hingga kini. Anggotanya sedang melakukan penelitian yang berujung pada dua atau lebih pendapat yang berbeda-beda. Namun IAGI (PP-IAGI) tidak menyimpulkan apapun mengenai pengkajian ini.

    Satu penjelasan saya selaku Ketua Umum PP-IAGI adalah, hingga kini PP-IAGI tidak memberikan pernyataan resmi secara keorganisasian mengenai pembicraan serta diskusi tentang Sadahurip dan piramida ini. Bahkan IAGI belum mendapatkan surat resmi dari siapapun juga mengenai hal ini. Demikian juga soal Gunung Padang yang sudah dinyatakan sebagai peninggalan arkeologis. IAGI juga tidak menerima surat dari organisasi profesi Arkeolog Indonesia mengenai hal ini.

    Himbauan pada anggota IAGI

    Di era kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat saat ini anggota IAGI bebas mengemukakan pendapatnya, se-“nyleneh” apapun opini dan pendapatnya itu semestinya disadari akan melekat pada pribadi masing-masing. IAGI sangat mendorong dilakukannya penelitian riset dan pengkajian sesuai dengan kaidah keilmuan. Oleh sebab itu dihimbau ketika berhubungan dengan media silahkan ditegaskan ulang bahwa yang diungkapkan opininya ini adalah opini pribadi, tidak mewakili institusi IAGI kepada penerima info atau pewawancara (media).

    Secara mudah prosedur atau protokol dalam Ilmu komunikasi sebuah pernyataan resmi dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :

    1. Diutarakan langsung oleh Pimpinan dalam forum dinamakan Konfrensi Pers dan disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta

    2. Diutarakan tidak langsung oleh seorang jurubicara dalam forum dinamakan Konfrensi Pers disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta

    3. Diutarakan secara tertulis , dengan Kop surat dan Nomor Surat dan ditandatangi oleh Pimpinan, atau Sekjen dan bukan Juru Bicara.

    Penyataan yang keluar dari tidak melalui ketiga protokol diatas bukan merupakan pernyataan resmi walaupun di katakan sebagai pernyataan pribadi. (SMS, e-mail atau seseorang sambil jalan kemudian diwawancarai).

    Sebagai anggota IAGI, kita belajar satu hal baru dalam dunia komunikasi media. Masyarakat Indonesia saat ini sangat haus dan sensitif terhadap sebuah issue atau berita. Perlu kehati-hatian dalam hal mengemukakan pendapat ini di media apapun (tulis, cetak ataupun media elektronik lainnya). Selain isi dari kajian saintifik yang dilakukan, perlu juga mengindahkan kaidah kesopanan dalam berdiskusi dan mengemukakan argumentasi. Untuk itu, juga perlu berhati-hati ketika menyinggung institusi resmi termasuk perusahaan, perorangan, juga pejabat maupun institusi resmi lainnya. Konsekuensi logis dari kebebasan berbicara (dan menulis) adalah tanggungjawab.

    PPIAGI sedang menggodog (merencanakan) untuk mengadakan forum pemaparan/diskusi mengenai studi paleo katastropik, sebagai bagian dari usaha mitigasi. Dalam waktu dekat akan di infokan undangan forum diskusi ini.

    Mari kita teruskan melakukan riset, studi, penelitian dan juga berdiskusi secara elegan dan bertanggung jawab.

    Salam

    Ketua Umum IAGI

    Rovicky Dwi Putrohari