Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • Monthly Archives: June 2012

    “Volcanology : Basic Volcanology, Eruption Processes and Products, Volcanic Facies, and Related Mineralization”. (Jogjakarta, 14-16 Sept 2012)

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, mengiringi acara annual meeting IAGI, tahun ini MGEI kembali mengadakan Workshop Pre-41th IAGI Annual Convention, di Jogjakarta 14-16 September 2012.

    Untuk tahun ini, tema workshop / course dipilih basic knowledge “Volcanology : Basic Volcanology, Eruption Processes and Products, Volcanic Facies, and Related Mineralization”.

    MGEI  (IAGI) sengaja memilih tema ini melihat kebutuhan ahli2 Volkanologi untuk Indonesia di masa depan. (sebagai catatan, tahun 2009 dan 2010 Gold Workshop, tahun 2011 Good Mining Practise).

    Instructors 3 Days Course Volcanology ini adalah :

    • 1. Prof.Ris.Dr.Ir. Sutikno Bronto (PSDG, Badan Geologi)

    • 2. Prof.Dr. Jocelyn McPhie (CODES,University of Tasmania, Australia)

    • 3. Dr.Ir. Suyatno Yuwono (T.Geologi, ITB)

    Klick for detail flyer

    Informasi lengkap dapat dilihat di flyer terlampir. (klick)

    IAGI History at Glance

    Sejarah singkat IAGI – Ikatan Ahli Geologi Indonesia

    • 1960 – April 13, IAGI, Ikatan Ahli Geologi Indonesia was established in Diponegoro 59 Bandung (current Geological Museum)
    • 1974 – First IAGI annual conference in Bandung
    • 1974-1975 IAGI logo designed by Dr. Koesmono was accepted by the board
    • 1975 – August 4-7, IAGI hosted GeoSEA 2nd conference in Jakarta
    • 1980 – IAGI secretariat moved to 6th Flr. Mineral and Batubara Building, 10 Prof.Dr.Soepomo SH street, Jakarta
    • 1995 – IAGI Mailing list was started up by Aris Setiawan
    • 1997 – IAGI set up a website by Rovicky
    • 2000 – Together with HAGI and IPA, IAGI hosted AAPG conference in Bali
    • 2010 – November 22-25, Golden Jubilee, 50th anniversary of IAGI. Total 3805 names registered in IAGI secretariat.

    Nama Ketua Umum IAGI :

    1. Soetaryo Sigit – Ketua IAGI 1960 – 1961
    2. Prajitno Mantan – IAGI 1962 – 1964
    3. R. Prajatna Koesoemadinata – Ketua IAGI 1974 – 1975
    4. H.M.S. Hartono – Ketua IAGI 1975 – 1976
    5. Sukendar Asikin – Ketua IAGI 1976 – 1977
    6. Fred Hehuwat – Ketua IAGI 1977 – 1978
    7. Djajadi Hadikoesoemo – Ketua IAGI 1978 – 1979
    8. G A S Nayoan – Ketua IAGI 1980 – 1981
    9. Adjat Sudradjat – Ketua IAGI 1981 – 1982
    10. Suyitno Patmosukismo – Ketua IAGI 1983 – 1984
    11. Achmad Effendi Harsa – Ketua IAGI 1985 – 1986
    12. Sulaiman Zuhdi Pane – Ketua IAGI 1987 – 1989
    13. Purnomo Prijosoesilo – Ketua IAGI 1989 – 1990
    14. Suparka – Ketua IAGI 1991 – 1994
    15. Abdul Wahab – Ketua IAGI 1994 – 1995
    16. Yanto R Sumantri – Ketua IAGI 1996 – 2000
    17. Andang Bachtiar – Ketua IAGI 2001 – 2005
    18. Achmad Luthfi – Ketua IAGI 2006 – 2008
    19. Lambok M Hutasoit – Ketua IAGI Periode 2008 – 2011
    20. Rovicky Dwi Putrohari – Ketua IAGI Periode 2012-2014

    Pertemuan Ilmiah Tahunan – PIT  (data sebelumnya tidak didapatkan oleh sekretariat IAGI.)

    • PIT Pertama di Bandung
    • PIT-2
    • PIT-3
    • PIT-4
    • PIT-5
    • PIT-6
    • PIT-7
    • PIT-8
    • PIT-9
    • PIT-10
    • PIT-11
    • PIT-12
    • PIT-13
    • PIT-14
    • PIT-15
    • PIT-16
    • PIT-17
    • PIT-18
    • PIT-19
    • PIT-20
    • PIT-21
    • PIT-22
    • PIT-23 Jakarta 1994
    • PIT-24 Yogyakarta 1995
    • PIT-25 Bandung 1996
    • PIT-26 Jakarta 1997
    • PIT-27 Yogyakarta 1998
    • PIT-28 Jakarta 1999
    • PIT-29 Bandung 2000
    • PIT-30 Yogyakarta/ Geosea 2001
    • PIT-31 Surabaya 2002
    • PIT-32 Jakarta / IAGI-HAGI 2003
    • PIT-33 Bandung 2004
    • PIT-34 Surabaya / IAGI-HAGI 2005
    • PIT-35 Pekanbaru 2006
    • PIT-36 Bali / IAGI-HAGI 2007
    • PIT-37 Bandung 2008
    • PIT-38 Semarang 2009
    • PIT-39 Lombok 2010
    • PIT-40 Makasar / IAGI-HAGI 2011

    Sekretariat IAGI sedang menyusun ulang sejarah IAGI ini. Apabila anda mengetahui tentang sejarah IAGI silahkan di postkan dalam komentar dibawah.

    IAGI Luncheon Talk “RE‐DEFINING THE ALLOCHTHON IN TIMOR”

    Biro kursus PP-IAGI telah sukses mengadakan diskusi Luncheon Talk pada  tanggal 29th May 2012. Pembicara dalam acara ini adalah Tim Charlton (Consultant Regional Geologist), dengan judul : RE‐DEFINING THE ALLOCHTHON IN TIMOR – “Structural‐stratigraphic relationships at the boundaries of the Lolotoi metamorphic complex in Timor‐Leste, and implications for the Mutis Complex in Timor Barat, NTT”.


    Luncheon Talk yang dihadiri oleh sekitar 40 peserta ini diadakan di Ruang CANDI KALASAN,  GRAND SAHID JAYA HOTEL Jl. Jend. Sudirman Kav. 86, Jakarta. Acara dimulai pukul: 11.30 AM hingga 14.00 PM. Slide presentasi dapat diunduh dibawah.

    Continue reading

    Awal Pendidikan Geologi di Indonesia

    Dibawah ini tulisan Professor Koesoemadinata tentang bagaimana sejarah awal pendidikan geologi ini muncul di Indonesia. Perjuangan tokoh-tokohnya tidak kalah penting dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia itu sendiri. Tulisan ini pernah dimuat di Berita IAGI.

    Awal Pendidikan Geologi di Indonesia

    oleh R.P.Koesoemadinata

    Lain dengan pendidikan kedokteran, hukum, pertanian dan teknik yang telah dimulai pada awal abad ke-20, pendidikan geologi sangat terabaikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pendidikan geologi untuk orang Indonesia terbata tingkatan “mantri opnemer” atau surveyor/juru ukur saja. Untuk kebutuhan tenaga ahli geologi dan insinyur pertambangan pemerintahan colonial Belanda mengandalkan lulusan universitas dan sekolah tinggi teknik dari Belanda da negara Europa lainnya.

    Keadaan berubah setelah dimulainya Perang Dunia ke II pada tahun 1938 terutam setelah Tentara Jerman menginvasi negeri Belanda, sehingga hubungan terputus. Maka mulailah Pemerintah Kolonial Belanda pada tgl 10 Mei 1938 melalui mendirikan suatu lembaga pendidikan darurat yang dinamakan “Assistent Kursus” (Kursus untuk Asisten Geolog, mungkin sekarang setara dengan D-3) yang berlangsung 3 tahun.

    Pendidikan ini dilaksanakan oleh Dienst van het Mijnbouws (Dinas Pertambangan) di Jl Diponegoro 58 Bandung, dengan para ahli geologi daninsinyur pertambangan yang bekerja pada instansi tersebut sebagai pardosennya, antara lain Van Bemmelen. Pendidikan ini diikuti pada umumnya orang-orang Belanda, dan hanya ada 2 orang Indonesia yang mengikutnya sampai selesai yaitu F. Lasut dan Sunu Sumosusastro. Persyaratan mengikuti pendidikan itu adalah lulus sekolah menengah atas, yaitu HBS (Hogere Burgerschool, khusus untuk orang Belanda) atau AMS B ( Algemeene Middlebare School , opsi B/IPA, terutama untuk orang pribumi/Indonesia). Kursus ini hanya berlangsung 1 angkatan saja (3 tahun) karena Tentara Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942.

    Maka kedua orang inilah sebetulnya merupakan ahli geologi Indonesia pertama dan boleh dikatakan juga pionir dalam pendidikan geologi.

    Semasa pendudukan Jepang pada ahli geologi dan insinjur pertambangan Belanda masih dipekerjakan oleh penguasa Jepang, khususnya untuk menterjemahkan laporan2 geologi ke dalam bahasa Inggris, namun Van Bemmelen masih sempat supervisi pekerjaan geologi lapangan yang dilaksanakan F. Lasut mengenai endapan jarosit di Ciater, Lembang di Utara Bandung. Selain itu juga masih ada geolog orang Swiss (waktu itu negara netral dalam kecamuk perang dunia ke II) yang masih bekerja pada Dinas Pertambangan di Bandung itu. Jadi pada waktu pendudukan Jepang ini A. F. Lasut dan Sunu Sumosusastro adalah merupakan staf orang Indonesia di Dinas Pertambangan di Bandung, dan memegang pimpinan dalam pengambil-alihan instansi ini pada waktu Jepang bertekuk-lutut dan terjadi proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945.

    Mereka inilah yang berhasil menyelamatkan arsip dan buku2 geologi ke Jl Braga di Bandung Selatan, karena kantor Dinas Pertambangan di Jl. Diponegoro yang berada di Bandung Utara diduduki tentara Inggris/Belanda, kemudian dipindahkan secara berangsur ke Ciwidey, Tasikmalaya ke Magelang dan akhirnya ke Jogya sejalan dengan mundurnya tentara RI. Di antara arsip dan buku2 ini tidak termasuk manuskrip buku the Geology of Indonesia hasil karya van Bemmelen itu, yang merupakan cerita lain.

    Pada waktu para ahli geologi dan insinyur pertambangan Belanda harus masuk kamp interniran (kompleks tahanan perang), Van Bemmelen menitipkan naskah serta buku-bukunya itu pada orang yang sangat dipercayainya, seorang hoofd mantri opzichter (mantri ukur kepala) yaitu Djatikusumo untuk diselamatkan. Pada waktu Van Bemmelen yang telah dibebaskan dari tahanan meminta kembali titipannya ini, yang bersangkutan menolak dengan alasan sebagai seorang pejuang kemerdekaan ingin menyelamatkan arsip ini untuk kepentingan bangsa Indonesia , dan kemudian membawanya ke tempat asalnya yaitu Malang . Namun kemudian manuskrip dan arsip/buku lainnya dia serahkan ke Dinas Pertambangan yang sudah mengungsi ke Magelang dan kemudian ke Jogyakarta.

    Pada waktu pemerintahan RI mengungsi ke Jogyakarta, maka dibentuk pula suatu Pusat Jawatan Geologi dan Pertambangan dibawah naungan Departement Kemakmuran di Magerang, yang dipimpin oleh A.F. Lasut (sebagai kepala) dan (Sunu Sumosusastro sebagai wakilnya). Selain itu juga didirikan beberapa sekolah untuk mendidik tenaga geologi dan pertambangan secara darurat pada Nopember 1946 yaitu:

    • Sekolah Geologi Pertambangan Pertama (SGPP, untuk pendidikan juruukur geologi
    • Sekolah Geologi Pertambangan Menengah (SGPM, untuk pendidikan juruukur geologi penilik)
    • SekolahGeologi Pertambangan Tinggi (SGPT), untuk pendidikan asisten geologi, dengan dosennya antara lain Sunu Sumosusastro (kepala sekolah) dan A.F. Lasut. N Lembaga pendidikan ini kemudian pindah ke Jogyakarta, dan nama SGPT berubah menjadi Akademi Geologi dan Pertambangan (AGP).

    Pada serangan agresi Belanda ke Jogya pada tahun 1948, A.F. Lasut selaku Kepala Jawatan Tambang dan Geologi diambil tentara Belanda dari rumahnya dan kemudian ditembak dipinggir jalan pada 7 Mei 1949 sebagai seorang pejuang kemerdekaan. Lembaga pendidikan ini berakhir dengan ujian akhir pada akhir tahun 1949 sehingga berlangsung hanya 1 angkatan saja. Di antara para lulusan pendidikan yang pertama dan terakhir ini adalah: M.M. Purbohadiwidjo, Djajadi Hadikusumo (kemudian pendiri IAGI), Harli Sumadiredja, R. Prajitno (Ketua IAGI yang ke-2), Surjo Ismangun, G.M Mohamad Slamet Padmokesumo, Mohamad Jasin Rachmat dan Sanjoto Soeseno dan Sumardi Umarkatab.

    Sementara itu Bp Suroso, seorang ahli geologi praktek (autodidak) ex pegawai explorasi Shell/BPM juga mendirikan Sekolah Menengah Geologi di Jogyakarta. Yang akhirnya menjadi Jurusan Tehnik Geologi Universitas Gadjah Mada.

    Catatan: Saat ini sudah banyak Universitas dan Institute Negeri serta swasta yang menyelenggarakan pendidikan geologi diantaranya .

    • Medan
      • Institut Teknologi Medan (S1)
      • Institut Sains dan Teknologi Td Pardede (S1) 
    • Jakarta
      • Universitas Trisakti (S1)  
    • Cikarang, Kab Bekasi
      • Institut Teknologi Sains Bandung (S1)
    • Bogor
      • Universitas Pakuan (S1)
    • Bandung
      • Institut Teknologi Bandung (S1,S2,S3)
      • Universitas Padjadjaran (S1,S2,S3)
      • Sekolah Tinggi Teknologi Mineral Indonesia (S1)
      • Politeknik Geologi dan Pertambangan AGP (D3) 
    • Purwokerto
      • Universitas Jenderal Soedirman (S1)
    • Semarang
      • Universitas Diponegoro (S1)
    • Yogyakarta
      • Universitas Gadjah Mada (S1,S2,S3)
      • Institut Sains dan Teknologi Akprind (S1)
      • Universitas Pembangunan Nasional Veteran(S1,S2)
      • Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (S1)
    • Surabaya
      • Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (S1)
    • Kutai Kartanegara
      • Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong (D3)
    • Makassar
      • Universitas Hasanuddin (S1)
    • Sorong
      • Universitas Victory Sorong (S1)
    • Manokwari
      • Universitas Negeri Papua (D3)
    • Jayapura
      • Universitas Sains Dan Teknologi Jayapura (S1)
      • Universitas Ottow Geissler Jayapura (S1)
    • Riau
    • Teknik Geologi di Universitas Islam Riau.

    Dan mungkin masih akan terus berkembang karena kebutuhan ahli geologi di tingkat kabupaten suatu saat nanti adalah sebuah keharusan karena untuk mengatur serta mengetahui kondisi geologi kabupaten masing-masing. Mengerti sumberdaya alamnya, sifat dan gejala kebencanaan, serta kebutuhan pemeliharaan lingkungan (Ekstraksi, Mitigasi, dan Kosnervasi)

    International Symposium: EAST ASIA – Geology, Exploration Technologies and Mines

    Geoscientists Symposia (GS) dan Australian Institute of Geoscientists (AIG) bekerja sama dengan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, Pusat Survey Geologi, IAGI, MGEI, serta SEG dan AusIMM menyelenggarakan simposium internasional bertema East Asia: Geology, Exploration Technologies, and Mines. Acara ini akan diselenggarakan di Sanur Paradise Hotel, Bali pada 27-29 Mei 2013 dan juga diadakan pre and post meeting berupa rangkaian short course mulai 25-26 Mei dan 30-31 Mei 2012 serta field trip ke beberapa area pertambangan dan eksplorasi di Indonesia.