Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • Monthly Archives: May 2013

    Program Pendampingan MDMC oleh SM IAGI UNDIP.

    Program Pendampingan MDMC

    SMIAGIUNDIP_5Sesaat setelah meresmikan SM IAGI UPN, SMS itu datang ke saya mengabarkan :

    “Selamat sore pak rovicky. Saya dani, koordinator SM IAGI UNDIP yg jd relawan di Dieng. Sebelumnya maaf karna baru ngabari sekarang. Alhamdulillah acara lancar pak. Dan skrg kami sudah di semarang. Total 42 personil kami dibagi ke 4 daerah. Sabtu pagi-siang melakukan pngecekan di rekahan2 yg ada, kmudian sore-malam melakukan pnyuluhan ke warga. Warga sangat antusias pak dgn materi yg disampaikan, trutama latar blkang trjadinya gempa yg tgl 19 april kmrin”.

    Dengan bangga dan gembira Ketum IAGI, Rovicky, menjawab :

    Alhamdulillah semua berjalan lancar. Saya yakin kontribusi kawan2 SMIAGI Undip beserta Magmadipa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kontribusi besar ini harus menjadi cambuk pemicu dan pemacu kiprah riil nantinya setelah selesai kuliah. Salam dan selamat serta terimakasih PP IAGI pada semua peserta dan kontributor ini. Saya tadi juga mendengar kiprah kawan2 Undip telah memotivasi SM IAGI UPN yang baru lahir tadi siang. Congrats utk semua dan sampaikan salam saya. Rovicky – IAGI. Cc : PP IAGI.

    SMIAGIUNDIP_2Begitulah salah satu kiprah membanggakan dari Seksi Mahasiswa IAGI UNDIP yang dalam usianya satu bulan sudah berhasil melakukan tindakn nyata, bukan hanya untuk kegiatan ekstraksi yg paling sering dilakukan oleh organisasi mahasiswa pada umumnya, namun kegiatan mitigasi yang benar-benar dilakukan di lapangan.

    Continue reading

    KONTROVERSI GUNUNG PADANG

    Prof. Dr RP Koesoemadinata

    Prof Dr RP. Koesoemadinata. Mantan Ketua IAGI.

    KONTROVERSI GUNUNG PADANG
    Oleh Prof Dr RP Koesoemadinata

    Para pembaca:

    Saya itu mulai belajar ilmu geologi ini masih di pertengahan abad yang lalu, di mana plate tectonics dan sequence stratigraphy  belum ada. Apa lagi computer, internet, georadar,  remote sensing, GPS, dsb, bahkan seismic survey  saja  masih sangat rudimenter. Saya ingat jawaban Prof Klompe waktu saya memberanikan diri menanyakan mengenai teori Wegener (pada zaman itu bertanya di ruang kuliah tidak ada, bahkan dianggap taboo), dia bilang “Oh, that is a fairy tale” (itu adalah dongeng mau tidur). Padahal kita tahu bahwa theory Wegener itu mempelopori teori plate-tectonic. Pada zaman itu bahwa benua bisa bergerak, bahkan berkeliaran (drifting) adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Dengan diyakini plate tectonics sekarang ini, maka sebetulnya telah terjadinya suatu revolusi dalam ilmu pengetahuan. Juga sequence stratigraphy telah merubah pandangan kita mengenai pola perlapisan serta sistim pengendapan sediment dari konsep “layer cake” geology. Juga penjelajahan ruang angkasa yang memperkaya pengetahuan planet2 serta teknologi exsplorasi penafsiran gempa telah merubah/menambah pengetahuan kita mengenai interior bumi kita. Thomas Kuhn (1962/1970, The structure of scientific revolutions: Chicago,Ill, University of Chicago Press)

    mengatakan bahwa perubahan dalam science itu bersifat revolusioner, di mana terjadi perubahan paradigma secara drastis, dan bukan secara evolusioner, dengan contoh perubahan setelah Newton dan juga Einstein dalam ilmu pengetahuan alam. Di antara revolusi science itu adalah zaman yang disebutkan sebagai “normal science”, di mana teori-teori itu terikat ketat oleh paradigma yang berlaku secara mantap. (Istilah paradigma sendiri berasal dari Kuhn yang menyangkut prinsip-prinsip yang sangat mendasar ini kemudian istilah ini diambil alih para ahli social sciences, di mana  memang ilmu-ilmu ini sedang mengalami revolusi, namun sayangnya istilah paradigma ini mengalami perubahan pengertiannya, sehingga pengertian sekarang  perubahan paradigma itu tidak lain dari sekadar perubahan konsep)

    petaSaya belajar geologi di ruang kuliah maupun di lapangan pada waktu  apa pada zaman itu disebut geological excursion (mungkin sekarang disebutnya sebagai kuliah lapangan, atau geological field trip), di mana kita belajar mengenai gejala alam baik secara morfologis maupun dari segi outcrop, khususnya hal2 seperti sifat perlapisan dari batuan sedimen, serta kedudukan strukturnya (strike&dip) dengan struktur sedimennya, gejala ketidak-selarasan,  mengenai kekar-kekar, columnar jointing, struktur patahan, pelipatan,  serta sifat2 batuan lainnya yang hanya dapat dilihat pada outcrop di lapangan, juga seperti gejala pelapukan, spheroidal weathering, sedimentasi resen. Hal ini dijarkan di semua textbook geologi di seluruh dunia.  Tentu selaku pemula kita sangat ta’ajub bahwa ternyata alampun dapat membentuk gejala-gejala geometrik seperti columnar joints, mudcracks yang bersegi lima. Gejala-gejala geologi inilah diajarkan pada tingkat S-1. Memang benar kita tidak diajarkan cara membedakan gejala alam dengan gejala buatan manusia, atau artefact, karena yang terakhir ini dianggap obvious. Tentu di bidang  arkeologi pada mahasiswa juga diajari di lapangan maupun di laboratorium bagaimana mengenai artifact, barang-barang buatan manusia, karena banyak pula artifact tidak bersifat geometric, seperti kapak batu dsb.

    Maka sebagai seorang ahli geologi lapangan yang ulung seperti Pak Sujatmiko, yang bertahun-tahun berkeliaran dilapangan merasa heran bahkan sangat terganggu kalau ada sesorang expert dalam bidang geofisika, bahkan juga seorang ahli geologi terkemuka (bahkan mantan Ketua IAGI) yang menafsirkan columnar joints sebagai buatan manusia. Juga sama halnya dengan para arkeolog yang berpengalaman mereka akan terusik dengan ke-expertis-annya. Ini sudah menyalahi “the basics of geology”, bahkan  pada zaman “normal science” dengan paradigma mantap yang sekarang berlaku sekarang. Barangkali Pak Danny dan Pak Andang memulai satu revolusi baru dalam ilmu kebumian dan arkeologi? Memang sebagaimana dikatakan (Wilson, Jr., E. Bright, 1990, An introduction to scientific research: New York, Dover Publication, Inc), suatu penemuan yang aneh yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu yang berlaku dapat mengelindingkan suatu revolusi baru dalam ilmu pengetahuan, namun hal ini sangat sangat jarang sekali terjadi, atau peluang-nya sangat-sangat kecil sekali. Mainstream Science, dalam hal ini mainstream geosciences akan mengabaikannya. Mainstream science will simply ignore it.

    Saya juga adalah seorang pendukung  kemampuan “field geology” yang cukup fanatik yang mengutamakan hasil pengamatan visual sebagai kebenaran mutlak (a’inal yaqin), sesuai dengan filsafah ilmu kebumian yang berlandaskankan empiricism. Ini tentu  tidak mengenyampingkan hasil-hasil penyelidikan teknologi explorasi seperti geophysics, seismic, gravity, logging dsb yang berkembang dengan yang sangat menakjubkan, bahkan yang merupakan tulang punggung dari explorasi modern di zaman sekarang ini; apakah explorasi minyak-dan gasbmi, explorasi mineral, batubara dan sebagainya, yang tetap  merupakan interpretasi, bagaimanapun telah dikalibrasikan dengan keadaan geologi yang sebenarnya. Saya kira dalam kalangan industri minyak dan gasbumi maupun di kalangan pertambangan suatu discovery akan keberadaan  satu cadangan minyak-dan gasbumi  atau cebakan mineral hanya akan diakui setelah dilakukan pemboran yang ikuti dengan ujicoba /testing atau dilakukan core-sampling dan dianalisa di laboratorium yang diakui kemapannya. Bagaimanapun indah dan bagusnya hasil interpretasi seismic, georadar, remote sensing dsb, itu tetap belum merupakan kenyataan geologi, atau dalam istilah explorasi tetap hanya merupakan suatu prospect. Saya mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan dengan hal ini. Di tahun 70-han hasil seismic di Salawati Basin dekat lapangan Klamono menunjukkan suatu build-up yang sangat meyakinkan dan direkomendasikan untuk dibor (Orba-1). Pada waktu rig pemboran sudah naikkan, Petromer Trend melakukan survey SLR. Dari hasil side-looking radar itu terlihat  lokasi rig yang berada suatu tepat di tengah suatu drepressi yang berdasarkan penelitian Petromer Trend (Norman Foster, Exploration Manager) yang mempublikasikannya metoda geomorphology ini dalam AAPG sebagai methode explorasi dengan ketelitian 98% , paling tidak untuk menemukan suatu terumbu untuk cekungan Salawati dan sekitarnya. Norman Foster sendiri sangat excited melihat lokasi rig itu, “it is going to be a gusher!”, ujarnya. Saya sendiri berada di well site pada saat-saat pahat mau menembus reef yang diharapkan. Menit demi menit lewat, jam demi jam, bahkan sudah lebih dari 1 hari, yang keluar hanya orbitoid foraminiferal limestone melulu (Hey, where is the reef?, tanya si toolpusher), sama sekali tidak satu pun coral fragment.. Apalagi setelah ditest pun tidak keluar minyaknya. Ya mungkin Orba-1 itu sial, justru merupakan probability yang 2%, dari  100%  success probability. Mungkin saja pada tahun 70-han seismic pada waktu itu belum secanggih sekarang. Namun falsafah yang kita bisa ambil dari perisitiwa itu bahwa bagaimanapun canggihnya suatu teknologi explorasi, hasil tetap adalah merupakan peluang/probability saja, tetapi tetap merupakan suatu teknologi yang penting dan sangat bermanfaat, bahkan kita sangat tergantung demi suksesnya explorasi.. Tentu tidaklah semua gejala geologi yang ditafsirkan teknologi explorasi atau geofisika dapat diverifikasi kebenarannya secara visual, misalnya gejala lempeng dalam mantle atau inti bumi. Dalam hal ini kebenaran ilmiah dari penafsiran geofisika dsb harus diterima sesuai dengan keakuratan data yang ada, sesuai dengan logika serta kaidah dasar yang berlaku, sampai diketemukannya lagi data baru dengan teknologi baru serta penjelasan yang logis sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku saat itu.

    G_Padang_6Kembali mengenai masalah kebenaran ilmiah, kita harus sadari bahwa pengetahuan mengenai penafsiran gejala geologi lapangan yang dianut Pak Sujatmiko, Prof. Bronto dan juga termasuk saya sendiri, merupakan main-stream geology dewasa ini diseluruh dunia. Tentu saja banyak teori-teori geologi yang aneh-aneh yang dimuat di website/ blogs dsb, termasuk adanya “flat earth theory”, bahkan ada masyarakatnya sendiri di London yang bernama “the Flat-Earth Society”, yang merupakan side-stream (dalam agama mungkin disebut sebagai aliran sesat). Juga halnya dalam ilmu-ilmu lainnya, antara lain dalam Arkeologi, banyak teori-teori yang bertentangan dengan mainstream archaeology, seperti teori Atlantis, teori Paleo-aliens dari Erich Von Daniken, UFO, Bermuda Triangle, Crystal Skull.

    Perlu pula diketahui bahwa saya sendir adalah penggemar membaca buku-buku, menonton film “documentary” di National Geographic atau Discovery Channel, dan film-film science-fiction di mana teori-teori di luar mainstream science ini ditayangkan, namun dalam hal ini saya menikmatinya hanya semata sebagai hiburan/entertainment saja. Banyak bukti-bukti yang dikemukakan dalam teori-teori itu sangat meyakinkan, tetapi mainstream science tetap tidak menghiraukannya. Pada umumnya main-stream scientific communities tidak menghiraukan dan cenderung mengabaikan (ignore) teori side-stream ini. Jarang-jarang ada yang meminta dilakukan tindakan terhadap terhadap aliran (sesat) ini, silahkan saja, namun kadang-kadang pula ada menyatakannya toeri-teori aneh ini sebagai pseudo-science, para-science atau science fiction. Namun teori-teori yang aneh ini, yang merupakan side-stream praktis tidak bisa dimuat dalam  main-stream scientific journals, di lain fihak karena penuturan ini sangat menarik bagi public yang haus akan adanya mujizat (instat miracle) dalam perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga tgeori-teori macam ini  mempunyai nilai komersial yang tinggi daripada artikel-artikel ilmiah yang cenderung membosankan, dan akan sangat laku keras dijual sebagai buku diluar penerbitan mainstream science, seperti buku Atlantis dari Prof Santos, Chariot of the Gods dari Eric von Daniken dsb. Dalam hal ini tidak ada kelompok ilmiah yang meminta kepada pemerintahnya untuk dilakukan pelarangan.

    Dalam soal teori pyramid G. Padang sayapun secara prinsip tidak setuju untuk meminta Presiden untuk melarang dilakukan penelitian lebih lanjut oleh Tim yang mempercayainya G. Padang sebagai pyramid yang terpendam. Kita sebagai scientist harus berpikiran terbuka (open-minded). Dalam soal agama memang banyak pihak yang ingin melarang aliran sesat, tetapi inipun secara internasional  dianggap sebagai pelanggaran hak azasi manusia atau hak kebebasan beragama, hak kebebasan berpendapat. Tentu dalam soal G. Padang ada masalah praktis lain, seperti penggunaan anggaran Negara, masalah kerusakan lingkungan, kerusakan cagar budaya dsb.

    Namun demikian munculnya teori-teori off the mainstream science dapat menimbulkan masalah dalam pendidikan ilmu kebumian. Tentu sebagaimana pendidikan geologi di seluruh dunia pendidikan geologi di Indonesia mengikuti mainstream geology, di mana secara tegas columnar joints yang diperdebatkan ini dinyatakan sebagai gejala alam dan dapat dijelaskan dengan penciutan magma/lavayang membeku. Dengan digembar-gemborkannya oleh media masa akan adanya piramida di G. Padang yang jelas terdiri dari columnar joints itu saya kira akan juga mempengaruhi persepsi mahasiswa akan terjadinya gejala ini sebagai buatan manusia (yang tentunya lebih menarik), walaupun bertentangan dengan penjelasan yang diberikan di ruang kuliah dengan alasan kebebasan akademis dalam menyatakan pendapat, dan muncul lah pada peta geologi mereka pyramid atau bangunan puba  setiap kali diketemukan columnar jointing. Saya tidak tahu apakah pandangan Pak Danny dan Pak Andang ini hanya terbatas pada columnar jointing yang ada di G. Padang saja atau untuk semua columnar jointing. Bagaimana pula jadinya kalau setelah lulus dari S-1 di Indonesia kemudian melanjutkan pasca sarjana di luar negeri, dan waktu diinterview mengidentifikasikan gambar Devil’s Tower di Wyoming itu sebagai buatan manusia (atau aliens dari ruang angkasa?)

    Masalah ini pernah terjadi pula di sekitar tahun 90-han di mana salah seorang gurubesar yang sangat senior mengajarkan secara fanatik teori delapsi. Teorinya sendiri sebetulnya masih termasuk dalam mainstream geology, yang dihasilkan dari disertasi doktor di Universitas Utrecht di Negeri Belanda yaitu suatu kombinasi antara tektonik, pelengseran dan sedimentasi. Namun caranya Prof Sartono alm (now it can be told)  mengaplikasikan teori adalah sangat berlebihan dan diberlakukan di semua lingkungan tektonik. Padahal teori ini sebetulnya dikembangkan untuk suatu lingkungan palung dalam subduction. Anehnya Prof Sartono alm (bersama dengan Dr. Moh Koesmono alm dari Unpad) sama sekali tidak bisa menerima teori plate-tectonics. Menurut beliau semua struktur geologi itu hasil dari proses delapsi, dan hasilnya semua bidang perlapisan itu kacau balau teracak-acakan, sehingga tidak adanya gunanya untuk dilakukan pengukuran strike and dip. Beliau itu membimbing banyak mahasiswa untuk thesis lapangan di ITB, Unpad maupun di UPN yang disponsori instansi maupun perusahaan (a.l. Caltex di Sumatra Tengah). Maka pada peta geologi yang dihasilkan para mahasiswa itu tidak tertera satupun strike&dip, apalagi keberadaan struktur lipatan seperti antiklin dan sinklin, hanya batas-batas penyebaran litologi dan sesar/patahan saja, padahal daerah pemetaan mereka itu berdasarkan peta dari P3G jelas terdapat struktur lipatan, a.l. daerah Sumatra Tengah, di mana pada puncak-puncak antiklin di dapatkan lapangan minyak yang terkenal seperti Duri dan Minas. Juga kolom stratigrafinya yang muncul menjadi off the mainstream stratigraphy. Pada sidang ujian sarjana jelas ini menjadi masalah. Walaupun kami pada umumnya lebih junior dan belum jadi gurubesar, tetapi kami tentu tidak dapat menerima hal ini untuk meluluskan si mahasiswa ini dalam sidang. Di lain pihak kamipun  tidak dapat pula mempersoalkan hal ini pada beliau secara langsung karena selain kami menghargai beliau yg sudah sangat senior, juga memang kami harus menghormati  kebebasan akademis untuk berbeda pendapat, karena debat dengan beliau tidak akan ada gunanya. Saya tidak ingat betul bagaimana akhir penyelesaiannya, namun seingat saya si mahasiswa terpaksa kembali ke lapangan untuk mengukur strike and dip dan selanjutnya mereka membuat 2 versi laporan, satu versi untuk pembimbingnya, dan versi utama untuk yang lainnya dan sponsor pemetaan (a.l. Caltex). Mungkin di antara pembaca ada yang pernah jadi korban peristiwa ini dan dapat menceritakan apa yang selanjutnya terjadi.

    Juga yang jadi masalah adalah penggunaan dana pemerintah untuk penelitian dalam ilmu ataupun konsep/teori yang  di luar mainstream science. Dalam hal penggunaan anggaran negara memang suatu pemerintahan modern selalu akan bersandarkan/berorientasi pada main-stream science, yang terlihat dalam pengangkatan pejabat dalam instansi-instansi yang berlandaskan science dan teknologi yang didukung oleh masyarakat  ilmiah yang diakui secara internasional. Begitupun dengan Indonesia, Presiden tak mungkin akan mengangkat Menteri Kesehatan seorang ahli penyembuhan alternatif, tentu akan ditentang oleh Ikatan Dokter Indonesia yang diakui secara internasional oleh mainstream medical profession, walaupun sangat banyak masyarakat Indonesia yang lebih percaya pada pengobatan alternative dari pada ke dokter.  Namun pernah pula terjadi di Indonesia (zaman Gus Dur) di mana Menteri Riset-nya ingin melakukan riset mengenai jin. Jika Indonesia ini menganggap dirinya sebagai negara modern maka , maka undang-undang dari Negara ini harus pula berdasarkan main-stream science. Dalam hal ini kita bermasalah karena anggota DPR masih sangat banyak yang percaya sama klenik, seperti halnya dengan undang-undang mengenai santet, yang oleh mainstream science jelas tidak diakui keberadaannnya. Mungkin saja di dalam DPR yang ingin mendukung penelitian pyramid.

    IAGI - LogoDi sinilah sebetulnya peranan dari IAGI dan reputasi IAGI dipertaruhkan, jika ingin diakui secara internasional. Di satu pihak tentu IAGI ingin para anggotanya untuk bebas berpendapat, bagaimanapun absud-nya pendapat itu, di lain pihak tentu ingin diakui sebagai masyarakat ilmiah internasional, yang jelas mengikuti mainstream geology. Apakah columnar joints ini dapat diterima sebagai buatan manusia oleh mainstream geology?

    Yang krusial dini adalah dalam hal penerbitan IAGI. Apakah IAGI akan mau menerbitkan dalam majalahnya, sebagai suatu mainstream scientific journal,  teori piramid ini sebelum benar-benar terbukti secara visual, di mana dengan mata kepala dapat melihat adanya ruangan yg dapat diyakini sebagai buatan manusia dengan keberadaan aftefak di dalamnya seperti pada dindingnya. Boleh jadi dalam suatu presentasi di PIT IAGI ini masih bisa dimungkinkan, karena biasanya tidak di refferied. Bahkan nilai kum dari presentasi itu dalam naik jabatan fungsional di instansi pemerintah adalah rendah.

    Namun demikian kita simak mengenai Bull AAPG yang sangat terkenal di dunia internasional ini. Pada akhir tahun 1960-an teori plate-tectonics ini sudah mulai diakui oleh masyarakat ilmiah dunia. Namun pada waktu itu Chief Editor dari AAPG dipegang oleh A.A. Meyerhoff yang menentang teori plate-tectonics, yang sempat menerbitkan artikel oleh dirinya sendiri(?) mengenai data-data dari Iceland yang bertolak belakang dengan teori spreading center. Di awal 70-han beliau diganti sebagai chief editornya, dan muncullah teori-teori mengenai plate-tectonics yang sudah diterima keberadaannya sebagai sesuatu yang nyata. A.A. Meyerhoff sendiri mempunyai teori alternatif yang diberti nama”Surge Tectonics”, namun beliau mengalami kesulitan untuk menerbitkannya, termasuk dalam AAPG Bull, dan dalam scientifc journal dunia yang terkemuka, karena selalu ditolak. Bayangkan seseorang yang pernah berkuasa untuk menentukan diterima atau tidak suatu artikel dalam suatu scientific journal yang sangat bergengsi mendapatkan kesulitan untuk menerbitkan dalam suatu mainstream scientific journals. Menjelang ajalnya akhirnya artikel yang cukup tebal (60 hal) diterbitkan juga oleh Journal of Southeast Asia Geosciences. Namun teori ini diabaikan (ignored) oleh masyarakat ilmiah (mainstream), walaupun sangat menarik dalam menjelaskan gejala-gejala geologi yang selama ini sulit dijelaskan tanpa plate-tectonics. Di lain pihak Bull AAPG setelah Meyerhoff juga menerbitkan makalah mengenai teori dari Rusia mengenai terbentuknya minyak bumi secara anorganik, yang sampai kini teori ini tidak diterima oleh masyarakat mainstream geology.

    Kembali ke masalah G. Padang, saya kira pihak yang ingin melanjutkan penelitian mengenai keberadaan piramid ini silahkan saja. Kebebasan ilmiah harus dijamin negara, namun tentu harus sesuai ketentuan yang ada, seperti tidak merusak/membahayakan  cagar budaya, atau gejala alam lainnya. Kalau pintu untuk masuk ke ruangan dalam piramid itu sudah diketemukan, singkirkan bongkah2 yang menghalangi terowongan selanjutnya, saya kira kerusakan yang akan ditimbulkan dapat diminimalkan. Mungkin bisa dilakukan horizontal core-drilling yang dampaknya terhadap lingkungan akan sangat minimal, dan begitu suatu ruangan diketemukan diintai dengan camera yg diusung dengan kabel flexible. Dalam hal kegiatan ini gagal untuk membuktikan keberadaan piramid,  core-samples-nya tetap masih bermanfaat dan dapat digunakan untuk research dalam petrologi dari suatu volcanic neck  Hindari penggunaan dana pemerintah, himpunlah dari dana masyarakat kaya, yang mendambakan suatu miracle dengan diketemukannya kejayaan masa lalu, dan mengharap dapat kembali modal dengan berkembangnya pariwisata. Juga yang penting adalah kapan harus berhenti, jangan seperti terjadi di salah satu negara di Europa Timur (ex Yugoslavia kalau tidak salah) di mana seseorang berkeyakinan pula keberadaan suatu piramid di bawah suatu gunung berbentuk kerucut mendapakan dana untuk melakukan penggalian dengan terowongan. Sesudah bertahun-tahun penggalian terowongan yang sudah ratusan meter  itu tidak pula menemukan ruangan yang diharapkan. Beberapa orang geologist pernah menyelinap masuk ke dalamnya, dan batuan yang ditembus diyakini adalah gejala alam. Namun sang fanatik piramid tetap melanjutkan penggaliannya, masih berkeyakinan bahwa sesuatu waktu pembuktian akan tiba. Di lain pihak pariwisata pun berkembang, bahkan menghasilkan sumbangan dana untuk melanjutkan penggalian itu.

    Saya orang penggemar film2 mengenai Atlantis, Bermuda Triangle, Paleo-aliens, UFO dan sebagainya sebagai hiburan yang sehat. Dalam hal G. Padang saya mempunyai pikiran terbuka, tetapi saya tetap seorang mainstream geologist yang berkeyakinan pada field geology dengan field observationnya.. All geophysical interpretations must be subject to testing. Saya baru akan percaya akan keberadaan piramid di bawah G.Padang kalau ruangan di dalam perut gunung ini sudah terlihat secara visual secara meyakinkan buatan manusia dengan keberadaan artefak-nya.

    Sebagai penutup saya ingin mensitir suatu pepatah yang berlaku  dalam industri minyakbumi sektor non-real :

    “ALL PROSPECTS ARE GOOD UNTIL YOU DRILL”

    Dalam portfolio perusahaan minyak, blok yang menunjukkan adanya prospect-prospect hasil tafsiran geologi/geophysics itu mempunyai nilai ekonomis tinggi (bahkan dapat meningkat sesuai dengan peningkatan harga minyak)  sampai prospect itu dibor, karena hasil pemboran itu dapat menaikkan nilainya sampai berlipat ganda, tetapi nilainya bisa turun sangat drastic, jika ternyata kosong. Jadi janganlah dibor jika Anda  meninginginkan nilai portfolio-nya stabil..

    Ciburial,  Bandung  tanggal  6 Mei 2013 jam 02.00

    R.P.Koesoemadinata

    Pertemuan ’empat mata’ Ketua IAGI dan IAAI seputar Gunung Padang

    Dear All IAGI-ers,

    Sabtu siang kemarin saya bertemu Pak Junus Ketua Umum IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia) di Chitos, saya sendiri dan beliau juga sendiri saja, empat mata. Sehingga saya tidak dapat hadir diacara FGMI MGEI di hari yg sama.

    Kami ngobrol santai sampai hampir 2 jam tentang issue Gunung Padang. Dan kami saling mengemukakan pandangan organisasi pada issue yang sedang berkembang ini. Beliau mengemukakan kekhawatiran kalau issue ini berkembang lanjut akan mempengaruhi profesi arkeologi secara umum. Saya mengerti concern beliau tentang hal ini. Saya juga mengemukakan bahwa dalam eksplorasi situs arkeologi ini, anggota IAGI atau geolog sebagai “supporting science“nya. Penggalian situs Arkeologi bukan ranah utamanya ahli geologi. Namun ilmu geologi sudah berinteraksi dengan arkeologi dalam hal ini.

    Gunung Padang

    Ilustrasi Pon Purajatnika

    Ilustrasi Pon Purajatnika

    Saya memberitahukan bahwa IAGI sebagai organisasi profesi sangat terbuka kepada semua anggotanya untuk berkreasi dan berkiprah dalam bidang apapun asalkan masih dalam koridor ilmiah akademis. Walaupun pada akhirnya ada perbedaan dan bahkan kontradiksi dalam hal interpretasi atau opini, IAGI tidak akan memihak salah satu. Justru dengan dua tiga hingga berapapun macam hasil interpretasinya akan menambah wawasan dan perkembangan berpendapat, dan IAGI tetap akan melindunginya sebagai hak mengemukakan pendapat, sekali lagi, asalkan semuanya kaidah keilmuannya tidak dilanggar. Saya memberikan contoh bagaimana IAGI saat ini berusaha tidak memberikan opini karena adanya perbedaan pendapat tentang Lusi yang juga ada pro-kontra diantara anggota IAGI.

    Pak Junus mengerti pendapat IAGI diatas, beliau juga sama dalam hal hak dan kebebasan berpendapat pada anggotanya ini. Tetapi beliau, sebagai arkeolog, dan kawan-kawan lainnya, sangat konsen dengan masa depan profesinya (ahli arkeologi) bila pengambilan kesimpulan yang menurut beliau sangat terburu-buru ini masuk dalam keputusan kepemerintahan dan menjadi kebiasaan yang berkelanjutan. Saya rasa ini hal yang wajar kalau beliau sangat konsen.

    Beberapa aspek keilmuan dalam pengujian hipotesa arkeologi juga diceritakan termasuk bagaimana menjelaskan aspek supporting socia (community, group, kelopon state dll) ketika sebuah bangunan (konstruksi) yang sangat besar dibangun pada satu masa saja. Seberapa besarnya aspek sosial ini. Dalam pembangunan sebuah candi yg besar, memerlukan waktu, jumlah tenaga manusia yang besar, food, shelter, dll dimana didalamnya ada sebuah manajemen sosial yg tentunya juga masih harus dijawab sebelum memberikan sebuah kesimpulan final adanya bangunan besar dibawah situs, apalagi untuk melakukan sebuah excavasi atau penggalian penemuan yang baru.

    Salah satu diskusi lain yaitu tentang ijin, justifikasi serta otorita excavasi situs purbakala juga mengemuka tadi siang. Kalau misalnya ada satu penemuan situs candi di Jogja tentunya relatif mudah untuk melakukan justifikasi serta ijin excavasi, apalagi diatasnya tidak ada situs yg harus dilindungi. Namun untuk excavasi di G Padang tentunya harus ada banyak “reasons based on researches”  yang perlu dilakukan sebelum melakukan excavasi besar-besaran. Beliau mengingatkan juga bahwa situs G Padang bukanlah satu-satunya situs megalith di Jawa Barat, namun merupakan situs Megalith terbesar di Asia. Jadi perlu perlindungan khusus. Penggalian dibawah situs purbakala ini memang sepertinya belum ada rujukan pastinya. (catatan: ini PR untuk institusi kepurbakalaan)

    Sebagai seorang PNS Penyidik, beliau mengkhawatirkan apabila nantinya mengarah pada penyidikan. Salah satu kasus yang beliau lakukan pada kasus pembongkaran Batutulis dahulu, yang merupakan salah satu dugaan (kemungkinan) adanya pelanggaran aturan yang berlaku. Sepertinya memang team mandiri ini harus bersabar sebelum melakukan pembuktian melalui excavasi dibawah Gunung Padang. Dan saya pribadi beberapa kali menyingung dengan menuliskan bahwa “sebuah penemuan besar itu sering tidak disadari oleh penemunya“. Jadi kalau ini nantinya menjadi sebuah penemuan besar ya waktulah yang membuktikan, seolah begitu. Yang penting ada publikasi ilmiah yang akan menjadi catatan dan rekaman sebuah penelitian ilmiah. Ini berkali-kali saya dorong ke semua Anggota IAGI yang rajin meneliti.

    Akhirnya saya dan Pak Junus sepakat untuk mengadakan seminar bersama IAAI dan IAGI tentang Gunung Padang ini. Nanti IAGI dan IAAI menghadirkan pembicara-pembicara baik yang pro, kontra juga yang dianggap netral. Walaupun ini diselenggarakan bersama, namun karena hal ini lebih dekat dengan profesi Arkeologi, maka beliau (IAAI) yang akan menginisiasi jadwal, waktu serta pengaturan tempatnya. IAGI akan menjadi pendamping penyelenggaranya dan memberikan usulan pembicara dari ahli anggota IAGI.

    Geoscience dan Arkeologi

    Pemanfaatan Georadar serta pengeboran yg dilakukan oleh team mandiri ini memang lazim di dalam penyelidikan kebumian, namun belum atau masih belum berkembang didalam penyelidikan Arkeologi di Indonesia. Ini sangat disadari Pak Junus. Beliau juga terbuka untuk mendapat ilmu tentang “mengintai” bawah permukaan dengan GPR, slimhole drilling, Geolistrik dll. Ini wacana baru untuk Arkeolog pada umumnya.
    Geoarkeologi sendiri juga belum lama berkembang di dunia ini. Jadi kolaborasi dua keilmuan ini harus mulai dikembangkan di Indonesia. Archaeological geology is a term coined by Werner Kasig in 1980. It is a sub-field of geology which emphasises the value of earth constituents for human life.

    Saya juga kemukakan beberapa anggota IAGI yang saat ini banyak tertarik sejarah manusia dan interaksinya dengan manusia. Termasuk bagaimana aspek Gunung Merapi dalam kehidupan untuk melihat konsep mitigasi jaman dahulu yg mungkin dapat dipelajari. Termasuk Candi Kedulan yg diperkirakan ditinggal karena gempa, bukan karena lahar, hipotesa danau mengelilingi Candi Borobudur dll.
    Menurut Pak Junus, saat ini ada beberapa geolog yang menjadi anggota IAAI, salah satunya Pak Zaim yang beliau ingat. Mungkin Pak Zaim dapat bercerita banyak tentang hal ini.

    Hal lain yang juga lebih penting
    Simposium Internasional 200 tahun Letusan G. Tambora,

    Saya mengemukakan tentang rencana IAGI dan HAGI untuk memperingati 200 tahun Gunung Tambora tahun 2015 (TAmbora klimax meletus 10 April 1815), dan ternyata sejalan dengan beliau (IAAI) yang sudah melakukan beberapa penggalian di “Pompei of Indonesia” ini. Letusan ini meninggalkan beberapa lokasi yang dapat diteliti dan diselidiki aspek Arkeologisnya. Namun banyak hal yang tidak dapat dijelaskan oleh arkeolog ketika melihat sedimen-sedimen penutup yang semestinya menjadi domain geolog (Quartenary stratigrapher).

    Juga kita sepakat sudah harus dimulai kerjasama IAAI dan IAGI ini tidak hanya untuk hal ini (G Padang) saja, banyak hal-hal yang mengemuka selama ngobrol santai dengan Pak Junus ini. Ini salah satu hikmah dari issue tentang Gunung Padang barangkali.

    Apabila diperlukan IAGI mungkin akan menyelenggarakan pertemuan terpisah sendiri di kalangan IAGI untuk sekalilagi berargumentasi tentang kontroversi geologi.

    Salam Sukses !

    Rovicky Dwi Putrohari
    Ketua Umum IAGI.

    Penemuan besar itu bukan karena menghasilkan, tetapi menCERAHkan, mengINSPIRASI, dan meMOTIVASI yang lain untuk meneruskannya.

    Klarifikasi IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) kepada anggota IAGI tentang penelitian Gunung Padang, dan seputar Piramida.

    IAGI - LogoAdanya beberapa anggota IAGI yang mengikuti dan ikut aktif menandatangani Petisi 34 dengan menyebutkan sebagai IAGI, tanpa menambahkan kata “anggota”, dengan ini Pengurus Pusat IAGI menjelaskan bahwa kepesertaan ybs adalah atas nama pribadi, BUKAN pernyataan kelembagaan.

    Sebagai penjelasan saya selaku Ketua Umum PP-IAGI adalah, hingga kini PP-IAGI tidak memberikan pernyataan resmi secara keorganisasian mengenai pembicraan serta diskusi tentang situs Arkeologi Gunung Padang ini. Bahkan IAGI belum mendapatkan surat resmi dari siapapun juga mengenai hal ini. Demikian juga soal Gunung Padang yang sudah dinyatakan sebagai peninggalan arkeologis. IAGI hanya menerima jawaban surat elektronik dari ketua umum organisasi profesi Arkeolog Indonesia (IAAI), sebagai organisasi resmi, mengenai hal ini, dimana IAAI juga tidak membuat release ataupun pendapat terhadap sebuah kasus seperti ini..

    Himbauan kepada anggota IAGI

    2012_IAGI_G_Padang_DiskusiDi era kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat saat ini anggota IAGI bebas mengemukakan pendapatnya, se-”nyleneh” apapun opini dan pendapatnya itu semestinya disadari akan melekat pada pribadi masing-masing. IAGI sangat mendorong dilakukannya penelitian riset dan pengkajian sesuai dengan kaidah keilmuan. Oleh sebab itu dihimbau ketika berhubungan dengan media silahkan ditegaskan ulang bahwa yang diungkapkan opininya ini adalah opini pribadi, tidak mewakili institusi IAGI.

    Secara mudah prosedur atau protokol dalam Ilmu komunikasi sebuah pernyataan resmi dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :

    1. Diutarakan langsung oleh Pimpinan dalam forum dinamakan Konfrensi Pers dan disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta
    2. Diutarakan tidak langsung oleh seorang jurubicara dalam forum dinamakan Konfrensi Pers disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta
    3. Diutarakan secara tertulis , dengan Kop surat dan Nomor Surat dan ditandatangi oleh Pimpinan, atau Sekjen dan bukan Juru Bicara.

    Penyataan yang keluar dari tidak melalui ketiga protokol diatas bukan merupakan pernyataan resmi walaupun di katakan sebagai pernyataan pribadi. (SMS, e-mail atau seseorang sambil jalan kemudian diwawancarai).

    2012_IAGI_G_Padang_Gerbang_Situs

    Kunjungan PP IAGI ke G Padang Feb 2012.

    Sebagai anggota IAGI, kita belajar satu hal baru dalam dunia komunikasi media. Masyarakat Indonesia saat ini sangat haus dan sensitif terhadap sebuah issue atau berita. Perlu kehati-hatian dalam hal mengemukakan pendapat ini di media apapun (tulis, cetak ataupun media elektronik lainnya). Selain isi dari kajian saintifik yang dilakukan, perlu juga mengindahkan kaidah kesopanan dalam berdiskusi dan mengemukakan argumentasi. Untuk itu, juga perlu berhati-hati ketika menyinggung institusi resmi termasuk perusahaan, perorangan, juga pejabat maupun institusi resmi lainnya. Konsekuensi logis dari kebebasan berbicara (dan mnulis) adalah tanggungjawab.

    PPIAGI berusaha selalu mengikuti perkembangan kegiatan anggotanya. Khususnya untuk evaluasi Gunung padang ini, Tahun lalu (Feb 2012) PP IAGI telah menyelenggarakan seminar serta kunjungan eksursi ke lokasi. Juga FGMI (Forum Geosaintist Muda Indonesia) bersama dengan MGEI (Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia) merencanakan untuk peninjauan kembali ke situs Gunung padang sebagai bagian dari usaha PP IAGI untuk mengerti tentang issue ini. Rekan-rekan IAGI silahkan menghubungi FGMI untuk mengikuti ekskursi/trip ke lokasi serta seminar tersebut.

    2012_IAGI_G_Padang_Batu_NadaMari kita teruskan melakukan riset, studi, penelitian dan juga berdiskusi secara elegan dan bertanggung jawab.

    Salam

    Ketua Umum IAGI.

    Rovicky Dwi Putrohari