Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • Monthly Archives: June 2013

    Peluncuran Peta Metalogeni Indonesia

    Peluncuran Peta Metalogeni Indonesia

    Selasa, 4 Juni 2013, bertempat di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Badan Geologi sebagai unit di bawah Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral meluncurkan Peta Metalogeni Indonesia skala 1:5.000.000 serta buku Magmatism in Kalimantan. Peta tersebut merupakan hasil kajian yang juga melibatkan pihak akademisi dan praktisi industri pertambangan dan yang terkait. IAGI, dalam hal ini melalui anak organisasinya MGEI, juga mengawal dan berperan aktif di dalamnya, sejak Focus Group Discussion “Indonesian Metallogenic Map and Exploration Strategy” di Badan Geologi pada Desember 2011.

    Acara dibuka oleh Dr. R. Sukhyar selaku Kepala Badan Geologi dan dilanjutkan oleh keynote speaker yang mewakili praktisi industri yaitu Sekjen MGEI Arif Zardi dan mewakili akademisi Dr. Lucas Donny (Dosen Teknik Geologi UGM).  Dalam pidato pembukaan, Dr. R. Sukhyar mengucapkan terima kasih kepada MGEI-IAGI atas kemitraan aktifnya selama penyusunan peta ini dan berharap kemitraan tersebut bertahan ke depannya karena peta metalogeni pastinya bersifat dinamis atau terus mengalami update, baik dalam hal skala atau ukuran, kedetilan, dan kajian sainsnya.

    Diskusi Panel Peta Metalogeni Indonesia

    Diskusi Panel Peta Metalogeni Indonesia

    Peluncuran Peta Metalogeni Indonesia

    Peluncuran Peta Metalogeni Indonesia

    Pada dasarnya, peta metalogeni adalah peta yang memuat informasi distribusi pola sumberdaya mineral, terutama keterkaitannya dengan karakteristik geologi secara lokal. Oleh karenanya, ini penting untuk kalangan eksplorasionis, akademisi, pengusaha pertambangan, geologist, analis pertambangan dan industri mineral terkait, dan lain-lain. Sejarah perkembangan peta metalogeni Indonesia sudah dimulai tepat 100 tahun yang lalu, yaitu oleh Louis Auguste de Launary pada 1913 (yang kemudian dikuotasi oleh Lindgren, 1933). Lalu, tercatat pada tahun 1952 Westerveld pertama kali menerbitkan peta jalur magmatisme Indonesia dalam kaitannya dengan keterdapatan mineral logam, dan selanjutnya pada tahun 1994, Carlile & Mitchell menerbitkan peta yang menggambarkan busur-busur magmatisme di Indonesia yang banyak diacu didalam kegiatan eksplorasi mineral logam.

    Selanjutnya, peta metalogeni ini akan diunggah di website Badan Geologi dan MGEI atau dapat diperoleh di Kantor Badan Geologi, Bandung. (GP)

     

    * Foto courtesy: website Badan Geologi

    Sikap Lintas Asosiasi Terhadap Industri Mineral dan Batubara

    Tujuh organisasi yang berhubungan dengan dunia pertambangan berkumpul membuat surat pernyataan bersama. bertempat di ASEAN Room 1-3, Hotel Sultan Jakarta. Asosiasi itu adalah IAGI-MGEI, PERHAPI, API, APBI, Forum Reklamasi Hutan Pada Lahan Bekas Tambang (FRLBT), Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (Apemindo), Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (Aspindo)
    Diskusi antar lintas organisasi ini sudah berlangsung 2-3 bulan sebelumnya. Memang tidak mudah menyatukan visi serta langkah yang diinginkan ketujuh organisasi ini. IAGI-MGEI dan PERHAPI yang merupakan organisasi profesi tentunya sangat berbeda tujuan dan cara pandangnya dengan asosiasi perusahaan pertambangan. Keduanya ingin industri pertambangan berjalan dengan baik. Namun visi organisasi profesi tentunya jangkanya lebih panjang, tidak hanya tentang produksi saja. IAGI sangat konsen dengan ‘sustainability’ industri ini, sehingga aspek data, eksplorasi, serta proyeksi kebutuhan dimasa mendatang menjadi hal utama.
    Sikap lintas asosiasi thd industri minerba

    Sikap Lintas Asosiasi terhadap Industri Minerba

    Isu smelter, eksport, DMO serta lahan pertambangan yang intinya ada pada UU Minerba no4/2009 sepertinya menjadi awal pemicu berkumpulnya ketujuh organisasi ini. Larangan export bijih mentah tahun 2014 adalah salah satu desakan Pemerintah (sesuai amanat UU Minerba 4/2009). Namun kurangnya smelter yang sudah ada di Indonesia menjadikan potensi penumpukan bijih mentah. Sebelumnya bijih mentah ini di proses di negara lain termasuk Jepang dan Spanyol. Kedua negara ini mengimpor bijih dan memprosesnya. Mirip kegiatan refinery dalam migas.
    Tujuan UU Minerba ini sebenernya bagus, IAGI juga sangat setuju dan mendukung diundangkannya UU ini. Namun pelaksanaan sejak 2009 hingga kini kurang dalam menunjang pembangunan infrastruktur pertambangan, sehingga berpotensi menurunnya produksi (baca export) karena minimnya fasilitas smelter.
    Disisi lain DMO untuk batubara yang dipatok 20% untuk semua jenis coal rank, juga membingungkan karena pasaran jenis coal di dalam negeri tidak untuk semua kualitas batubara. Fasilitas “Coal Blending” juga belum mencukupi sehingga pengusaha batubara akan terancam melanggar UU bila nekad mengeksport batubara yang tidak ada pasarannya di dalam negeri.
    IAGI-MGEI, disisi lain juga menginginkan data (eksplorasi) pertambangan dikumpulkan dan dikelola dengan baik sehingga dapat diketahui potensi cadangannya dengan benar, termasuk didalamnya juga perlunya Assesor penilai harus tersertifikasi sebagai Competent Person. Bahkan MGEI-IAGI bersama Perhapi telah menyusun standar KCMI sebagai salah stau standart pelaporan yang setara dengan JORC.Data dan perkiraan proyeksi kebutuhan masa depan (hingga 2030/2040) untuk mineral bijih serta batubara perlu dibuat oleh Pemerintah. Sehingga dengan mengetahui proyeksi kebutuhan dimasa mendatang maka “pengaturan export” bahan tambang akan lebih tertata dengan lebih baik.
    Dalam hal “pengaturan export” inilah IAGI sering berbeda pendapat dengan asosiasi lain.
    Selain melalui kegiatan lintas asosiasi, IAGI juga akan bertemu Wamen ESDM supaya input dari IAGI lebih mengena ke pengambil kebijakan.

    Liputan media cukup banyak diantaranya :