Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • Monthly Archives: April 2015

    IAGI Menyapa Tambora (2)

    Sambungan dari bagian 1

    Pit Stop

    Tambora -4

    Sepanjang perjalanan, terdapat beberapa pit stop dimana iring-iringan berhenti 15-20 menit guna mengamati singkapan singkapan vulkanik produk Tambora. DR Agus secara gamblang menjelaskan perbedaan dan sejarah dari tiap tiap singkapan. IAGIers seakan akan diajak untuk bersama sama memasuki alam sejarah perjalanan letusan Tambora melalui rekonstruksi singkapan singkapan yang ditemui sepanjang titik pengamatan.

     

    Pos 3

    Sekitar pukul 17.50 rombongan akhirnya tiba di pos 3, pos terakhir sebagai basecamp mendirikan tenda dan rest area sebelum summit attack dinihari esok. Kabut cukup pekat sejak pukul 16.00, jarak pandang sekitar 20 – 30 meter. Sejumlah 12 tenda didirikan untuk menampung rombongan IAGIers.

    Tambora -5

    Sebagian peserta langsung meringkuk dalam tenda berhubung udara dingin yang mulai menusuk kulit. Sebagian lagi masih betah bercengkerama di luar tenda sembari ngopi dan ngobrol. Walaupun sedikit telat, gambing guling dan makan malam akhirnya siap sekitar pukul 22.00. Selepas makan malam, seluruh peserta berisitirahat guna menyiapkan energi buat ‘summit attack’ pada pukul 02.00 dini hari nanti.

     

    Summit Attack

    13 April, tepat pukul 02.30 dinihari, rombongan IAGIers bersiap memulai perjalanan menuju puncak kaldera Tambora. Sepanjang perjalanan seluruhnya mendaki dengan slope yang lumayan buat latihan kardio, sama sekali tanpa ada ‘bonus’ dataran. Setelah menempuh perjalanan menanjak sekitar tiga jam, rombongan akhirnya berhasil mencapai puncak Kaldera pada pukul 05.15.

     

    Puncak Kaldera – Last Stop

    Tambora -7Bibir kaldera Tambora menjadi stasiun pengamatan terakhir dari serangkaian trip Vulkanologi Tambora yang dibawakan oleh DR Agus. Disini beliau menunjukkan beberapa batuan terobosan (dyke), jalur sesar, serta lapisan lapisan batuan vulkanik hasil proses erupsi Tambora.

    Dahsyatnya ledakan Tambora pada medio April 1815 menyisakan lebar Kaldera yang membuka dengan diameter sekitar 7km! dan kedalaman hampir 1 km. Memangkas ketinggian semula dari 4.000an mdpl menjadi hanya tersisa sekitar 2.851 mdpl. Benar benar peristiwa geologis yang super dahsyat.

     

     

    Peringatan Ulang Tahun IAGI ke 55

    Tepat sesaat setelah matahari terbit menyapa dengan semburat lembayung di ufuk timur, IAGIers berkumpul di bibir Kaldera Tambora, merayakan ulangtahun IAGI dengan penuh kesyahduhan, humble. Semua merasakan betapa kita benar benar tidak punya apapun yang bisa disombongkan dihadapan Tuhan. Manusia diajarkan melalui peristiwa peristiwa alam dahsyat, dan Tambora telah mengajarkan dengan jelas hal itu.

    Setelah didahului sepatah kata dari Ketua IAGI, tim IAGIers dengan kompak dan penuh rasa kebersamaan bersama-sama menyanyikan PADAMU NEGERI dengan syahdu. Rasa nasionalisme benar benar menyeruak dalam relung hati terdalam. Selanjutnya, acara yang penuh dengan penuh kesederhanaan ini ditutup dengan pembacaan puisi yang berisi untaian kalimat sederhana namun penuh dengan spirit dan pengharapan ke masa depan yang lebih baik sebagai hadiah ultah sederhana untuk IAGI yang ke 55.

     

    Perjalanan Turun

    Dalam perjalanan pulang, IAGIers menghadapi tantangan yang tidak lebih mudah, yaitu tantangan berat badan yg secara gravitasi bertumpu pada lutut dan kaki ditambah faktor belum sarapan. Namun mereka masih bersemangat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan aksi nyata pemungutan sampah sepanjang jalur tracking dan pembersihan Pos 3 dan sekelilingnya.

     

    “Selamat Ulang Tahun IAGI yang ke 55, Untuk IAGI yang Lebih Membumi!”

     

    Penulis : Surahmat (Buena Persada)

    IAGI Menyapa Tambora (1)

    Kali ini perayaan ulang tahun IAGI yang ke-55 yang jatuh tanggal 13 April 2015, dirayakan sedikit diluar kebiasaan. Bukan di hotel, bukan di gedung pertemuan, bukan pula di kantor, tetapi dirayakan di puncak Kaldera gunung api Tambora!

    Mengapa Tambora?

    Banyak alasan, tetapi yang jelas karena Tambora menyimpan sejarah dahsyat kegeologian gunungapi Indonesia, bahkan dunia. Kita tahu akibat dahsyatnya letusan menyebabkan ‘a year without summer – setahun tanpa musim panas di belahan Eropa’. Perubahan cuaca itu yang konon menyebabkan kalahnya panglima perang Prancis Napoleon Bonaparte dalam Waterloo War lantaran kesalahan Napoleon dalam memperhitungkan perubahan musim ketika mobilisasi pasukan.

    Letusan Tambora juga menjadi salah satu penyebab maraknya perdagangan opium pada abad 19 di jalur sutra. Yakni ketika survival instinct para petani di pedalaman Asia berusaha tetap hidup dengan mengganti komoditi tanaman reguler yang gagal panen dengan tanaman opium yang tumbuh di daerah ketinggian dimana hulu sungai berasal.

    Di kawasan lokal, letusan Tambora menyebabkan hilangnya tiga kerajaan besar di pulau Sumbawa yakni Sanggar, Pekat, Tambora, yang tersapu aliran piroklastik. Ribuan orang tewas, begitu pula dengan hewan ternak yang tak tersisa. Kondisi itu secara tidak langsung justru ‘memaksa’ munculnya penemuan sepeda sebagai alternatif transportasi akibat banyaknya hewan ternak pengangkut yang mati kelaparan.

    Lakey Hu’u

    Tepat tanggal 11 April 2014, tim IAGI Greets Tambora berkumpul di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, sebagai meeting point. Herryadi Wachyudin bertindak sebagai kordinator perjalanan sebelum diambil alih oleh DR. Agus Budianto dari PVMBG sebagai saintis sekaligus trip leader saat tiba di Tambora.

    Tepat pukul 14.03, Rombongan mendarat di Bandara Sultan Salahuddin, Bima. Dari Bima, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berkendara ke Dompu, selama kurang lebih tiga jam. Pukul 16.53 Rombongan akhirnya tiba di Hotel Aman Gati, wilayah kecamatan Hu’u, Dompu. Tim disambut oleh rekan rekan dari Vale Eksplorasi yang kebetulan menjadi ‘tuan rumah’ di hotel Aman Gati yang merangkap basecamp utama mereka.

    Hotel Aman Gati sendiri berada tepat di pinggir pantai Lakey yang terkenal sampai ke mancanegara sebagai tujuan surfing. Gelombangnya terkenal dikalangan surfer mancanegara yang datang ke Indonesia.

    Malam harinya kegiatan diisi dengan kuliah malam yang dibuka oleh Ketua IAGI, Sukmandaru, kemudian dilanjutkan oleh DR Agus Budianto, DEA, sekaligus sebagai pengantar vulkanologi Tambora sebagai bekal untuk trip esok hari saat hiking di Tambora.

    Tambora -2DR Agus menampilkan presentasi yang menawan. Para IAGIers akhirnya menjadi lebih paham dengan geologi, stratigrafi, sejarah dan fase letusan letusan gunung api Tambora. Ditambah lagi video animasi dan kisah Tambora yang dikemas Beliau dengan sangat apik, layaknya menonton kisah epic gunung api Pompei ala Hollywood.

    Pos1.

    Tanggal 12 April, pagi hari rombongan IAGIers bersiap menuju Doro Ncanga, di kaki Tambora. Doro Ncanga juga sebagai titik awal Pos 1 perjalanan menuju puncak Kaldera Tambora. Ada dua jalur tradisional yang sering dimanfaatkan menuju Kaldera Tambora, via jalur desa Pancasila dan jalur Doro Ncanga. Kali ini IAGIers memilih jalur Doro Ncanga yang relatif lebih mudah ditempuh dengan kendaraan jenis Jeep hingga ke Pos 3 yang berada persis di pinggang Tambora.

    Pukul 06.33 pagi, rombongan berangkat meninggalkan Hu’u menuju Tambora.

    Tambora -3Perjalanan ditempuh selama kurang lebih empat jam. Normalnya Hu’u – Doro Ncanga dapat ditempuh tiga jam perjalanan, namun dalam perjalan terdapat beberapa kali persinggahan di kota Dompu guna melengkapi kebutuhan logistik tambahan.

    Pukul 10.38 rombongan akhirnya tiba di pos 1 Doro Ncanga, sekaligus meeting point dengan tim tambahan dari Kompas TV yang juga ikut bergabung kolaborasi dalam acara Tambora kali ini. Selepas siang, enam buah iring-iringan jeep IAGIers akhirnya bertolak menuju Pos 3 di pinggang Tambora.

     

    Bersambung ke bagian kedua