Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • Monthly Archives: September 2015

    Geologist Ekskursi ke Gedung Bursa Efek Indonesia

    Kamis, 4 Juni 2015, MGEI-IAGI dan PERHAPI diundang PT Bursa Efek Indonesia untuk mengikuti Sekolah Pasar Modal di Gedung BEJ di Senayan, Jakarta Pusat. Undangan tersebut adalah sebagai kelanjutan dari kerja sama IAGI-PERHAPI dengan BEI pada 11 Desember 2014. Pada waktu itu, ketiga pihak sepakat menjalin kerja sama untuk mengembangkan industri pertambangan mineral dan batubara di pasar modal Indonesia, setelah sebelumnya BEI menerbitkan Peraturan Nomor I-A.1. tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas selain Saham yang diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat di bidang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) pada 1 November 2014. Peraturan tersebut dikonsep oleh IAGI dan PERHAPI. Jadi, BEI secara resmi menunjuk IAGI dan PERHAPI sebagai pihak independen dalam menilai, mengevaluasi dan memonitoring emiten-emiten pertambangan dari sisi kompetensi teknis.

    Dalam hal pengembangan industri pertambangan mineral dan batubara di pasar modal Indonesia, BEI proaktif mengedukasi masyarakat, termasuk dalam hal ini mengundang stakeholder IAGI dan PERHAPI, tentang dunia pasar modal, melalui program rutinnya Sekolah Pasar Modal (SPM).

    Ketika SPM ini ditawarkan ke anggota IAGI-MGEI via milis MGEI yaitu economicgeology@yahoogroups.com. Hanya dalam waktu 2 jam kuota 30 orang terpenuhi. Rupanya para geologist sangat antusias terhadap pasar modal, tidak hanya pada singkapan batu!

    Pada hari H, para geologist dan engineer tambang (anggota PERHAPI) berduyun-duyun hadir di Gedung BEI, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Pusat. Di Galeri BEI, ada yang menarik perhatian saya, yaitu papan hall of fame, memuat direksi PT BEI dari masa ke masa. Ternyata, ada seorang geologist yang penah menahkodai bursa efek ini, yaitu Dr. Cyril Noerhadi, periode 1996-1999. Beliau memang sudah malang melintang di dunia industri keuangan plus melanjutkan studi MBa di University of Houston.

    Kelas dimulai pukul 09.05, dibuka oleh Ibu Ira Shintiya Rahayu, staf marketing PT BEI. Lalu disambung dengan sambutan perwakilan IAGI dan PERHAPI, dalam hal ini Pak Iwan Munadjat. Beliau me-refresh kembali hubungan baik IAGI (MGEI) PERHAPI dan BEI dengan beberapa milestone-nya dan memvitalisasinya agar terjalin hubungan timbal balik yang menguntungkan kedua belah pihak.

    Materi pertama tentang dasar-dasar pasar modal. Istilah-istilah dasar finansial dan pasar modal serta payung-payung hukumnya diperkenalkan. Materi kedua tentang kepemilikan sekuritas dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Di ujung materi, sang narasumber membagikan souvenir kepada beberapa peserta yang pada saat itu membawa kartu AKSes.

    Setelah lunch break, materinya adalah seputar investasi saham dari salah satu broker atau sekuritas, yaitu PT Danareksa.

    Dengan adanya kegiatan ini, sebagai suatu rangkaian sinergi IAGI (MGEI), PERHAPI dan BEI, ke depan diharapkan sinergi yang lebih dalam lagi. Pun juga diharapkan bahwa semakin banyak perusahaan pertambangan, khususnya yang masih fasa studi kelayakan (eksplorasi lanjut), berani maju dan membuka diri dengan melantai atau ber-IPO (initial public offering) di bursa saham setelah mengikuti regulasi yang baru tersebut, yaitu kepemilikan status Ijin Usaha Pertambangan Operasi Produksi dari Kementrian ESDM (tentunya harus sudah lolos studi kelayakan dan AMDAL). Regulasi ini melunak, setelah sebelumnya BEI mewajibkan perusahaan pertambangan yang boleh listing adalah hanya yang sudah melakukan penjualan hasil produksi. Sebelum ini, perusahaan pertambangan eksplorasi di Indonesia hanya bisa menangguk modal di bursa efek Australia, Kanada, dan lain-lain. Sekarang bisa bermain di kandang sendiri. Semakin banyak perusahaan tersebut yang IPO, semakin terbuka luas lapangan pekerja untuk para stakeholder IAGI dan PERHAPI, yaitu geologist dan engineer pertambangan.

    Salut untuk IAGI (MGEI) dan PERHAPI yang sudah berjuang untuk itu!

    Foto bersama peserta di Pulau Kepas, bagian paling timur dari Kepulauan Seribu

    Biro Kursus IAGI: Fieldtrip “Karbonat Modern dan Sedimentologi”

    Sedimentologi dan stratigrafi cekungan Jawa Barat yang berumur Oligo-Miosen merupakan contoh dan perbandingan yang baik untuk mempelajari lapangan kerja PT Pertamina Hulu Energi-West Madura Offshore yang berada di bawah lepas pantai Madura. Batuan yang terdiri dari perselingan antara batuan silisiklastik dan batuan karbonat memerlukan pemahaman geologi yang mendalam dan komprehensif guna mengurangi resiko ketidakpastian pengeboran serta mengoptimalkan produksi hidrokarbon. Untuk itulah, pada tanggal 3-8 Agustus 2015 dilakukan field trip ke Kepulauan Seribu untuk mempelajari sistem pengendapan dan kontrol lingkungan dalam pembentukan karbonat modern, ke Cipamingkis dan Cibeet untuk mempelajari sedimentasi dan stratigrafi sedimen turbidit fluvio-deltaik, dan ke Padalarang untuk mempelajari karbonat Oligo-Miosen yang kini tersingkap di permukaan. Secara keseluruhan, tujuan dari field trip ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai play dan concept dalam eksplorasi hidrokarbon baik di batuan silisiklastik maupun karbonat

    Perjalanan dimulai dari PHE Tower menuju Dermaga Marina Ancol pada Senin pagi. Dari sana peserta menggunakan kapal Tidung Express yang membawa peserta menuju Pulau Putri. Pembukaan field trip dilakukan di Pulau Putri Resort oleh IAGI Learning Center dan Robert (bob) Park selaku instruktur. Usai makan siang, peserta mengunjungi stop site hari pertama yaitu di Pulau Putri Barat dan Pulau Belanda, pulau paling barat di Kepulauan Seribu. Benar adanya bahwa Kepulauan Seribu menawarkan perbandingan yang baik dengan endapan terumbu Miosen di Asia Tenggara. Kemiripan ini meliputi tatanan regionalnya (seperti bentuk, ukuran, kedalaman air, dll), tipe dan tekstur litofasies, serta komponen biotiknya (terutama foraminifera, alga merah, dan koral). Pulau Putri Barat dan Pulau Belanda mengindikasikan bagaimana proses angin dan pasang surut memberi andil yang besar dalam sedimentasi karbonat. Acara hari pertama ditutup dengan sunset cruise, makan malam, dan penerbangan lampion.

    Untuk mempelajari bagaimana pengaruh lingkungan dalam pertumbuhan terumbu, peserta juga melakukan perjalanan ke Pulau Kepas, yang merupakan bagian paling timur dari Kepulauan Seribu, pada hari kedua. Pulau ini sendiri merupakan sebuah platform interior dengan lagoon berpasir yang memiliki pemilahan butir yang buruk akibat badai, sangat kontras dengan site sebelumnya, yang memiliki butir yang lebih kecil. Acara dilanjutkan dengan core session di tepi pantai setelah makan siang. Para peserta membuat deskripsi dan analisis geologi batuan inti yang dibor di Pulau Pabelokan dan Pulau Putri Barat. Hari kedua ditutup dengan acara makan malam, summary session dari Bob dan persiapan field trip berikutnya oleh Dwiharso Nugroho, dosen Teknik Geologi ITB, selaku instruktur kedua.

    Foto bersama peserta di Pulau Kepas, bagian paling timur dari Kepulauan Seribu

    Foto bersama peserta di Pulau Kepas, bagian paling timur dari Kepulauan Seribu

    Stop site yang dikunjungi pada hari ke-3 adalah Sungai Cipamingkis di Jonggol. Endapan marine yang sangat jelas tersingkap dengan sangat baik di dasar sungai yang tengah surut airnya karena musim kemarau. Disini peserta dapat mempelajari endapan turbidit bawah laut yang terdiri dari perselingan batupasir dan batulempung, yang dibuktikan dengan adanya bioturbasi, konkresi, batuan yang bersifat karbonatan, dan dari struktur sedimennya. Peserta juga mengamati adanya batugamping bioklastik dengan platy coral, perselingan batupasir-batulempung (flisch-like), dan juga jejak bioturbasi (terutama tipe skolithos). Rencana kunjungan ke sungai Cibeet terpaksa dihapus untuk menghindari keterlambatan kembali ke hotel Santika TMII.

    Batununggal dan Gunung Guha, Padalarang menjadi desitinasi field trip hari ke-4. Di Batununggal peserta dapat mengamati beberapa siklus batugamping backstepping yang ditutupi oleh karbonat-silisiklastik. Fosil platy coral dan head coral dapat diamati secara langsung di singkapan dengan sangat baik. Sayangnya, karena ada sedikit masalah safety di area pertambangan di Gunung Guha, peserta akhirnya memutuskan untuk mengunjungi stop site alternatif yaitu di Gunung Bancana, dekat Gunung Pawon. Secara geologi, peserta dapat menemukan section yang sama dengan section sebelumnya, tapi dengan koral yang lebih sedikit. Peserta menjalankan ibadah di mushola terdekat dan bergegas kembali ke hotel di Bandung.

    Foto bersama peserta di depan singkapan Batununggal, Padalarang

    Foto bersama peserta di depan singkapan Batununggal, Padalarang

    Destinasi field trip di hari terakhir adalah Cikamuning, Padalarang. Stop site ini lebih diarahkan untuk memahami secara konseptual dengan mengobservasi karbonat dari pandangan panorama. Instruktur juga menunjukkan beberapa section hasil pengeboran untuk mendeskripsikan singkapan. Peserta juga mengunjungi stop site kedua untuk mengamati singkapan secara lebih dekat. Setelah shalat Jumat dan makan siang di Kota Baru Parahyangan, peserta menuju kampus Teknik Geologi ITB untuk acara core session. Disana peserta mengamati batuan inti dari beberapa sumur yang dibor di lokasi stop site yang peserta kunjungi sebelumnya, yaitu di daerah Cikamuning. Dengan mengamati singkapan dari jarak jauh, mengobservasi dari jarak dekat, kemudian melihat secara langsung batuan inti yang dibor di lokasi yang sama, peserta mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan detail mengenai geologi di lokasi yang bersangkutan. Keseruan diskusi dua arah ini ditutup dengan snack spesial pempek Palembang. Acara keseluruhan field trip ditutup dengan summary session oleh Dwiharso Nugroho, pembagian sertifikat, dan penutupan oleh Dwi Mandhiri, selaku perwakilan dari pihak manajemen PHE WMO dan Hari Utomo, dari IAGI Learning Center. Peserta kembali ke Jakarta di hari ke-6, Sabtu 8 Agustus 2015.

    Pasca acara core session di kampus Teknik Geologi ITB

    Pasca acara core session di kampus Teknik Geologi ITB

    (Solihatun – Field Trip dan Workshop Division IAGI Learning Center)