Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • Monthly Archives: September 2016

    FGMI Mempersembahkan GeoMuda Project

    FGMI, posisi Indonesia yang berada di antara dua benua dan dua samudera memiliki keistimewaan tersendiri terutama secara Geopolitik. Sumber daya energi, potensi geowista, jalur perdagangan serta sumber daya perikanan menjadi primadona di kawasan zamrud khatulistiwa ini. Namun, hal ini menjadi tantangan karena Indonesia dikelilingi negara-negara lain, yang akhirnya akan berdampak ke strategi Geopolitik Indonesia.

    Saat ini FGMI berencana untuk membentuk tim “GeoMuda Project”. Ini adalah non-profit project yang nantinya akan fokus dalam kajian/ riset tentang geopolitik indonesia. Bagi anda para profesional muda dengan latar belakang ilmu kebumian yang memiliki ketertarikan terhadap kajian geopolitik, serta ingin menjadi bagian di dalam tim “GeoMuda Project” maka silahkan mendaftar dengan mengirimkan persyaratan sbb:
    1. CV
    2. Opini dengan tajuk “Geopolitik Indonesia di Era Globalisasi” (1 halaman)
    Ke alamat email:
    redaksi@fgmi.iagi.or.id
    Cc: aldis.ramadhan07@gmail.com

    7 kandidat terbaik akan kami undang untuk bergabung ke dalam tim “GeoMuda Project” ini. Mari bergabung dan berkontibusi bagi Negeri.

    geomuda-project-flyer

    AGENDA ACARA “GEOSEA CONGRESS AND IAGI ANNUAL CONVENTION 2016” (GIC 2016): 10 alasan kenapa kita harus hadir di GIC 2016

    Jakarta, 29 Okt 2016. Dalam 10 hari lagi, puncak acara gelaran akbar IAGI 2016 akan dilangsungkan. Pertemuan Ilmiah Tahunan IAGI ke 45 tahun ini diselenggarakan bersamaan dengan Kongres GEOSEA (forum komunikasi asosiasi kebumian se-Asia Tenggara) di Bandung awal Oktober 2016 – dimana IAGI/ Indonesia menjadi tuan rumah. Panitia tengah bekerja keras menyiapkan acara ini. Walaupun situasi industri kebumian sedang melesu, namun semangat kita para panitia dan PP-IAGI tetap menyala untuk mensukseskan gelaran acara internasional ini.
    Setelah melalui proses panjang, agenda acara telah dimatangkan termasuk jadwal presentasi teknikal seperti dapat dilihat pada Tabel terlampir.
    Lampiran 1: Agenda umum GIC 2016
    Lampiran 2: Jadwal presentasi teknikal GIC 2016
    GIC 2016 yang bertemakan “SE Asia Earth Resources and Geoscientist Roles in AEC Era” akan menjadi acara yang fenomenal dan bersejarah karena beberapa hal yakni:
    1. Melibatkan geoscientist dari negara-negara ASEAN. Bahkan di sesi Diskusi Panel akan menghadirkan narasumber dari negara-negara sahabat selain para tokoh Indonesia sendiri
    2. Konggres GEOSEA XIV dengan delegasi dari negara-negara ASEAN
    3. Workshop “Climate Change” dengan pembicara-pembicara internasional
    4.  Beberapa asosiasi anak organisasi dan mitra IAGI akan dideklarasikan di antaranya Masyarakat Geologi Teknik Indonesia (MGTI) dan Asosiasi Prodi Teknik Geologi Indonesia (Asproditegi)
    5. Peluncuran buku biografi “Soetarjo Sigit” yang merupakan salah satu pendiri dan penggiat IAGI di awal tahun 60-an
    6. Munaslub IAGI dengan agenda utama Penyempurnaan AD-ART IAGI
    7. Pemilu Pengda IAGI Jabar-Banten yang puncaknya akan menjadi salah satu acara yang diagendakan
    8. Annual Convention MGEI (Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia) yang bertemakan “Unconventional Exploration Targets, Latest Techniques and New Tools in Mineral and Coal Exploration” dan menjadi Pre-Convention Event of GIC 2016
    9. Geoscience Student Competition yang diselenggarakan oleh FGMI (Forum Geosaintis Muda Indonesia) yang melibatkan mahasiswa geosain dari berbagai perguruan tinggi Indonesia
    10. Talk Show dengan tajuk “Indonesian Geological Literatures: Past, present and future” yang akan menghadirkan Prof. Koesoemadinata dan Han van Gorsel
    Serta tak kalah seru, berbagai acara pre- dan post-convention yang sedang dan akan diselenggarakan.
    Informasi rinci tentang registrasi dan acaranya dapat dilihat di website GIC,  http://geosea2016.iagi.or.id/Jadi silakan mendaftar dan bergabung bersama kolega dan sahabat geosaintis Indonesia dan ASEAN di acara fenomenal IAGI ini. (Sukmandaru P/ Ketum IAGI)
     rundown-gic2016-technical-20161009

    Bersepeda Menikmati Bentang Alam Gunung Api Tangkuban Parahu dan Sesar Lembang

    Bersepeda merupakan kegiatan olahraga yang sedang marak dilakukan di mana-mana, khususnya di Kota Bandung. Pada tanggal 24 September 2016, dalam suasana yang sangat sejuk dan berawan berkumpullah 105 orang dengan membawa sepeda yang siap untuk bersepeda di alam sambil belajar mengenai geologi. Ya, hari itu adalah hari pelaksanaan GIC Gowes Bareng Geolog (GBG) 7. Acara ini digelar sebagai “Pre-Convention Event” dari PIT IAGI dan Kongres GEOSEA 2016 yang akan dilaksanakan awal Oktober 2016. (red)

    Di pagi hari itu semua orang mulai mengerumuni panitia untuk mengambil jersey dan setelah itu menaikkan sepeda ke atas mobil untuk dibawa ke Gunung Tangkuban Parahu. Sempat terjadi keramaian dikarenakan beberapa peserta yang merasa sudah mendaftar namun belum terdaftar, untunglah dengan sigap panitia langsung mendaftarkan dan mengikutsertakan peserta tersebut. Setelah pengambilan jersey dan pendaftaran selesai, peserta bersiap untuk briefing.

    Tepat pukul 07:34 pagi WIB, semua peserta, dengan menggunakan transportasi yang telah disediakan panitia, rombongan mulai bergerak menuju Gunung Tangkuban Parahu.

    gbg7-foto01

    Gambar 1. Suasana saat daftar ulang dan pengambilan jersey peserta

    gbg7-foto02

    Gambar 2. Suasana briefing seluruh peserta GIC Gowes Bareng Geolog (GBG) #7 sebelum berangkat (atas) bersama para marshall (bawah)

    gbg7-foto03

    Gambar 3. Peserta GIC GBG #7 berfoto bersama sesaat sebelum memulai kegiatan

    Gunung Tangkuban Parahu merupakan stop pertama dari perjalanan kami. Di sini semua peserta dikumpulkan di sebuah platform yang memungkinkan peserta untuk melihat geomorfologi sekitar Gunung Tangkuban Parahu dan tentunya Sesar Lembang yang menjadi salah satu primadona dari kegiatan bersepeda ini.

    Di sini peserta mendengarkan penjelasan mengenai geologi dan morfologi sekitar Gunung Tangkuban Parahu. Penjelasan ini diberikan oleh Pak Budi Brahmantyo, geocoach GBG-7. Penjelasan geologi yang dipaparkan oleh beliau sangat berbeda dengan penjelasan geologi pada umumnya, mulai dari pemilihan kata, penggunaan istilah geologi serta analogi yang diberikan sangat mudah dicerna oleh orang awam sehingga peserta merasa seperti didongengkan oleh beliau.

    Setelah menerima penjelasan geologi yang singkat nan padat dari Pak Budi, semua peserta, dengan menggunakan transportasi yang ada, bergerak turun ke area parkir bus dan mulai mempersiapkan sepeda. Di sinilah titik awal mulainya kegiatan bersepeda. Seperti biasa, sebelum keberangkatan, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan mekanikal sepeda seperti rem, setang, tekanan angin ban, hingga sadel. Setelah persiapan selesai, dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh Pak Asep, marshal penunjuk jalan. Kesenangan inipun dimulai !

    gbg7-foto04

    Gambar 4. Penjelasan mengenai geologi dan morfologi sekitar Gunung Tangkuban Parahu oleh Pak Budi Brahmantyo

    gbg7-foto05

    Gambar 5. Kemeriahan peserta ketika sampai di Gunung Tangkuban Parahu

    gbg7-foto06

    Gambar 6. Bergaya sebelum berangkat dari Gunung Tangkuban Parahu

    gbg7-foto07

    Gambar 7. Pembagian kelompok sambil melakukan pemeriksaan mekanik sebelum mulai bersepeda

    Dari area parkiran bus, peserta turun ke arah selatan menuju portal hijau. Tetapi ternyata portal tersebut terkunci dan kuncinya ada di kantor Perhutani sehingga peserta harus mengangkat sepeda melewati pembatas setinggi pinggang yang memanjang di tepi gerbang hijau besar tersebut. Ya! Inilah rintangan pertama pada permulaan kegiatan gowes kami, entah rintangan apa yang akan datang lagi.

    Pada malam sebelum dilaksanakannya kegiatan ini, daerah sekitar Bandung – Cimahi diguyur hujan deras yang kabarnya baru reda pada pukul 03.00 pagi WIB. Hal ini sangat membuat kami was-was, karena kemungkinan besar jalan yang akan dilalui rusak, dan hal ini sangat mengganggu. Namun sepertinya kekhawatiran kami hanya berhenti disitu, jalanan yang kami lalui hanya sedikit lebih basah namun tetap kokoh. Walaupun genangan air tetap banyak terbentuk, tapi itu semua hanya menambah keseruan kami bersepeda.

    Jalan yang kami lalui sebagian besar sudah rusak oleh kegiatan motocross dan erosi air hujan. Untuk menghibur hati ketika bersepeda di rute yang menyebalkan seperti ini saya menganggap rute ini sebagai rute ‘braided stream’, karena jejak ban motocross yang saling potong memberi kesan teranyam yang mirip seperti bentuk khas braided stream. Saya katakan menyebalkan karena selain menjadi sulit untuk berkendara, jalan sudah licin serta berbatu ditambah lagi dengan jalan yang tergali oleh ban motor sehingga tidak jarang ada bekas galian ban yang tergenang air. Juga ada pohon tumbang, yang mungkin tumbang secara alami dan tidak disingkirkan oleh warga sekitar atau mungkin sengaja diletakkan oleh warga yang berfungsi untuk mempersulit motor yang lewat. Saya rasa hal ini menunjukan bahwa kehadiran motocross sudah mulai perlu ditertibkan karena cenderung tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Akhirnya sebagian besar dari kami melintasi rute ini dengan menuntun sepeda, atau sering disebut TTB – Tuntun bike, bukan MTB. Tetapi semua itu adalah bumbu dalam kegiatan gowes yang membuat acara ini semakin menarik.

    gbg7-foto08

    Gambar 8. Suasana rute awal gowes – dekat area parkiran bus

    gbg7-foto09

    Gambar 9. Mengantri dikarenakan rusaknya jalan karena erosi air hujan, demi safety.

    gbg7-foto10

    Gambar 10. Pohon tumbang, genangan air yang dalam dikarenakan rusaknya jalanan akibat aktifitas motocross.

    Secara umum profil rute yang dilalui berupa jalan menurun dan kombinasi antara jalan lumpur basah, jalan berbatu besar – sedang dan tanah basah yang terganggu oleh aktifitas mobil land rover. Karena saat itu kegiatan GBG bersamaan dengan kegiatan kelompok lainnya yang menggunakan mobil land rover, sehingga jalan menjadi sangat hancur. Sedih rasanya melihat trek lam yang rusak.

    Setelah melalui rute braided stream kami melanjutkan perjalanan menuju arah Gunung Putri. Seharusnya kami sempat berfoto di benteng, namun karena hujan deras tiba-tiba turun, kami menyegerakan pergerakan. Luar biasa sekali cuaca hari ini, sudah hujan deras semalaman, siangnya hujan deras lagi. Hujan sempat berhenti ketika saya mencapai puncak bersama Pak Ibnu (peserta). Kemudian setelah diikuti oleh kedatangan Pak Asep (marshal penunjuk jalan), hujan mulai turun kembali, namun kali ini lebih deras dari sebelumnya, dengan segera kami semua melanjutkan perjalanan karena menghindari risiko bahaya tersambar petir.

    gbg7-foto11

    Gambar 11. Benteng yang seharusnya dikunjungi – suasana saat survey bersama marshal

    gbg7-foto12

    Gambar 12. Jalan yang rusak karena mobil

    gbg7-foto13

    Gambar 13. Hujan deras membasahi sekitar Gunung Putri

    gbg7-foto14

    Gambar 14. Pemandangan puncak Gunung Putri menjelang hujan.

    – habis balapan ke puncak sama Pak Ibnu, dan hasilnya kalah T_T

    gbg7-foto15

    Gambar 15. Lokasi dongeng geologi ke-2 sebelum hujan (lokasi: Tugu Sespimpol – Puncak Gunung Putri)

    Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, dikarenakan hujan maka cerita geologi tidak memungkinkan dilakukan di puncak Gunung Putri. Maka diambillah lokasi alternatif yaitu di jalur batu sekitar lereng Gunung Putri. Di sini sambil berbasah-basahan, semua peserta dengan setia mendengarkan pemaparan mengenai Sesar Lembang, sejarah Gunung Sunda yang merupakan induk Gunung Tangkuban Parahu dan sedikit edukasi mengenai mitigasi bencana gempa. Dongeng geologi di titik ini berlangsung cukup lama, tanpa terasa hujan sudah reda dan cuaca menjadi cerah kembali.

    Setelah pemaparan selesai dilakukan, para peserta makan siang di areal SPBU di selatan Gunung Putri. Saat makan siang wajah semua peserta langsung menjadi berseri-seri, memang makan apapun akan nikmat setelah kedinginan dan energi habis. Namun panitia punya kejutan setelah makan siang ini.

    gbg7-foto15a

    gbg7-foto16

    Gambar 16. Cerita mengenai Sesar Lembang di sekitar Gunung Putri – dipindahkan dari puncak Gunung Putri

    gbg7-foto17

    Gambar 17. Lokasi makan siang peserta

    Setelah makan siang seluruh peserta segera menuju Gunung Batu. Melalui jalan kecil aspal yang berada di sebelah kiri toko swalayan Indomaret, peserta melaju perlahan karena perut yang sudah kenyang. Beberapa meter setelah jalan kecil tersebut peserta disuguhi jalan turunan berbatu, kemudian dihadapkan pada tanjakan terjal. Sekitar 80% peserta memilih untuk TTB dalam menembus rute tanjakan ini. Kesulitan utama melintasi rute ini adalah apabila tidak diimbangi oleh kayuhan pedal yang cukup cepat dan bobot badan kedepan untuk keseimbangan maka ban depan sepeda akan cenderung bergerak naik/terangkat – jumping dan membuat sepeda kehilangan kendali.

    gbg7-foto18

    Gambar 18. Tanjakan ‘Sampah’ setelah makan siang…maaf ya para peserta, supaya ada cerita…

    Setelah diberi kejutan berupa tanjakan pendek namun terjal, peserta masuk kembali ke jalan raya dekat Sekolah Staf dan Pimpinan POLRI (SESPIMPOL). Kejutan dari panitia belum berhenti di sini. Karena dari jalan raya ke arah Gunung Batu harus dicapai dengan mendaki dan jarak yang ditempuh lebih panjang dari tanjakan sebelumnya, para pesertapun menempuh tanjakan ini dengan sabar.

    Orang bilang,” Pain is only temporary, but glory last forever.” Mungkin itu ungkapan yang cukup menggambarkan suasana hati ketika berhasil melewati tanjakan ini. Memang ini bukan tanjakan yang epic namun tetap saja melelahkan, and yes, it’s quite painful. Sesampainya di Gunung Batu semua peserta disuguhkan pemandangan tebing Gunung Batu dari jarak dekat. Bagi orang awam, ini hanyalah seonggok tebing batu cadas, namun dengan dibumbui oleh penjelasan geologi dan sedikit cerita, tebing cadas yang tidak menarik menjadi sebuah monumen alami yang menjadi bukti adanya bahaya besar yang sedang tertidur di dekat kita. Pak Budi bercerita bahwa Gunung Batu ini merupakan bagian dari Sesar Lembang, sementara tempat kita semua berpijak saat itu merupakan bagian yang mengalami pergerakan.

    Penjelasan ketiga ini menandakan bahwa kegiatan telah sampai pada akhirnya. Syukur alhamdulillah tidak ada peserta yang mengalami cedera yang berarti. dengan demikian secara keseluruhan acara sudah berjalan lancar. Satu hal yang tidak sempat terlaksana, yaitu penutupan acara di museum geologi. Ini dikarenakan hujan deras yang mengguyur peserta sehingga cukup merubah suasana. Dan juga karena saat peserta mencapai Gunung Batu waktu sudah menunjukan pukul 13:00 WIB. Jadi keputusan untuk menutup GBG-7 di Gunung Batu adalah pilihan yang terbaik untuk semuanya.

    gbg7-foto19

    Gambar 19. Dongeng geologi terakhir di Gunung Batu Lembang

    gbg7-foto20

    Gambar 20. Keceriaan saat ditutupnya acara GBG 7 di Gunung Batu Lembang

    gbg7-foto21

    Gambar 21. Suasana saat penutupan GIC GBG-7 – Cyclexplore Tangkuban Parahu Volcano and Lembang Fault

    gbg7-foto22

    Gambar 22. Rute yang dilalui oleh sepeda

    gbg7-foto23

    Gambar 23. Foto bersama khusus marshal – Fotografer: Yogie Subrata (ITB)

    Kiri-kanan

    • Usman Muthalib (Fisika ITB) – Marshal pemandu 1
    • Fajar Handyono (Geologi ITB) – Marshal pemandu 3
    • Rosa Ipantani (Geodynamics ITB) – Marshal penyeberangan jalan
    • Terry Alfa Furqan (Geologi ITB) – Marshal pemandu 4
    • Budi Brahmantyo (Geologi ITB) – Pemateri
    • Cian Ruswidianto (Arsitektur ITB) – Marshal pemandu 2
    • Asep Hidayat (Geologi ITB) – Marshal pemandu utama
    • Asep ‘bengkel’ (Pemilik Bengkel Sepeda di Lembang) – Marshal mekanik
    • Betha Sidik (Geologi ITB) – Marshal sweeper
    • Aris Priyandoko (Geodesi ITB) (sedang mendaratkan drone) – Marshal Dokumentasi + Pilot Drone
    • Yang hijau = penyusup 😀

    Terima kasih

    Cimahi, 27 September 2016

    gbg7-foto-penulis

    Terry Alfa Furqan

    ASPRODITEGI: Aksi Mulai Bergulir dan Lomba Logo

    Yogyakarta, 16-17 September 2016. Menyambung pertemuan terakhir di Jakarta pada 1 Juni 2016, Asproditegi (Asosiasi Program Studi Teknik Geologi Indonesia) melaksanakan pertemuan berikutnya di kampus IST Akprind, Yogyakarta pada 16-17 September 2016. Seperti halnya pada pertemuan 1 Juni 2016, pertemuan di Yogyakarta ini dihadiri oleh lebih dari 20 perwakilan perguruan tinggi dengan Prodi Teknik Geologi. Pertemuan yang dibuka oleh Rektor IST Akprind dan disaksikan oleh Ketua Umum IAGI berjalan dengan penuh semangat. Dua agenda utama pertemuan adalah (1) penentuan dan finalisasi Capaian Pembelajaran (CP) Prodi Teknik Geologi dan (2) pembahasan lambang dan AD-ART organisasi.

    Asproditegi yang disepakati pembentukannya pada 1 Juni 2016 akan bekerja sama dengan KNPGI (Komite Nasional Pendidikan Geologi)‘’ – satu komite di bawah IAGI yang selama ini mengurusi masalah pendidikan geologi – mulai bekerja dan menggulirkan kegiatannya.

    Sebagai kilas balik (diolah kembali dari tulisan di Berita IAGI edisi cetak, Juni 2016), terbentuknya asosiasi ini berawal pada pertemuan di Universitas Trisakti, Jakarta pada 11 Mei 2015 yang dihadiri oleh 4-5 prodi geologi dan dipimpin oleh Prof. Emmy Suparka. Hasil pertemuan, para peserta sepakat bahwa KNPGI perlu dihidupkan lagi dan dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya di IST Akprind, Yogyakarta dengan difasilitasi IAGI.

    Satu bulan kemudian, 13 Juni 2015 dilakukan pertemuan lanjutan di IST Akprind Yogyakarta yang dihadiri 11 prodi geologi dan juga pengurus pusat IAGI. Ada beberapa poin kesimpulan yakni KNPGI harus berperan aktif dalam menyeragamkan kurikulum; lulusan geologi harus memiliki kemampuan dasar geologi dan pemetaan geologi; adanya workshop kajian Profil Lulusan (PL) dan Capaian Pembelajaran (CP) yang standar; pengkajian kurikulum oleh tim anggota komisi KNPGI; dan diskusi tentang : prodi geologi atau teknik geologi.

    Berikutnya dilakukan pertemuan di Balikpapan bersamaan dengan PIT IAGI yang diikuti delapan prodi geologi pada 6 Oktober 2015. Hadir pula Prof. Emmy Suparka dan mantan ketua umum IAGI Prof. Lambok Hutasoit. Hasilnya semakin konkret di antaranya segera membentuk asosiasi prodi dan membahas kurikulum berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia); membahas mata kuliah yang sama/mirip pada beberapa perguruan tinggi; teknis kurikulum tentang jumlah SKS inti dan kuliah wajib dalam kurikulum; dan lain-lain.

    Dari serentetan proses itulah kemudian terlaksana pertemuan 1 Juni 2016. Dari 33 prodi yang ada di seluruh nusantara, 23 prodi mengikuti pertemuan ini, sehingga bisa dikatakan merupakan pertemuan antar prodi geologi terbesar yang pernah terselenggara.

    Menurut ketua panitia pertemuan Burhanudinnur, kegiatan ini bertujuan untuk menyepakati PL dan CP Program Studi Teknik Geologi untuk Strata-1, Strata-2, dan Strata-3 sesuai Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Bidang Pendidikan Tinggi  yang kemudian menjadi Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang diatur dalam Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2015.

    ‘’Kesepakatan tentang PL dan CP tidak untuk penyeragaman kurikulum atau mata kuliah Prodi Teknik Geologi,’’ kata Burhan. Karena, lanjutnya, masing-masing perguruan tinggi mempunyai visi dan misi masing-masing. Kesepakatan CP dan PL ini sebagaimana diatur oleh pemerintah salah satunya untuk memberikan standar minimal capaian pembelajaran untuk prodi teknik  geologi sesuai levelnya. Level mencerminkan gradasi kemampuan kerja. Dalam deskripsi KKNI Prodi S1 setara dengan level 6, S2 setara dengan level 8 dan S3 mempunyai level 9.

    Tujuan kedua dari pertemuan adalah membentuk asosiasi prodi teknik geologi, sesuai dengan kebutuhan dalam penyusunan CP dan PL dalam SNPT.  Musyawarah pembentukan asosiasi dipimpin oleh Mohamad Syaiful (Ketua Bidang Pendidikan Geologi PP IAGI). Hasilnya, disepakati wadah bernama Asosiasi Prodi Teknik Geologi Indonesia disingkat Asproditegi.  ‘’Peserta musyawarah sepakat mengangkat saudara Burhanuddinun dari prodi geologi Universitas Trisakti menjadi ketua Asproditegi periode 2016-2019,’’ kata Syaiful.

    Dalam kepengurusan, Burhanuddin didampingi Sri Mulyaningsih sebagai sekretaris dan Lizmawati sebagai bendahara. Kemudian untuk prodi S1 dikoordinir oleh Salahuddin Hussein dan Aswan; Prodi S2 dikoordinir Zulfaida Zakaria dan Prasetyadi; Prodi S3 dikoordinir Agung Harijoko; sedangkan kegiatan antar prodi untuk kegiatan lapangan dan laboratorium dikoordinir Asri Jaya dan Arifuddin Idrus.

    Ada beberapa program yang menjadi pekerjaan rumah pengurus baru Asproditegi. Program jangka pendek seperti dikatakan Burhan adalah menyelesaikan formula awal CP dan PL hasil workshop menjadi CP dan PL yang siap untuk dikonsultasikan dengan Dikti, dan penyelesaian administrasi organisasi. Program selanjutnya mulai merintis kerja sama dalam kegiatan lapangan, penelitian sampai publikasi ilmiah baik oleh antar mahasiswa atau antar dosen antaranggota Asprotegi.

    Pada pertemuan 16-17 September 2016 pokok bahasan mulai mengerucut. Salah satu yang menjadi bahan rekomendasi adalah diumumkannya lomba pembuatan logo Asproditegi. Informasi rinci tentang lomba ini dilampirkan di bawah artikel ini.

    Daftar pendukung pendirian Asproditegi adalah sebagai berikut.

    1. Institut Teknologi Medan – Sumatra Utara
    2. Universitas Jambi – Jambi
    3. Universitas Sriwijaya – Palembang
    4. Universitas Pakuan – Bogor
    5. Universitas Trisakti – Jakarta
    6. Universitas Pertamina – Jakarta
    7. Universitas Indonesia – Jakarta
    8. Institut Teknologi Bandung – Bandung
    9. Universitas Padjajaran – Bandung
    10. Universitas Soedirman – Purwokerto
    11. Universitas Diponegoro – Semarang
    12. Universitas Gadjah Mada – Yogyakarta
    13. Universitas Pembangunan Nasional Veteran – Yogyakarta
    14. STTNAS – Yogjakarta
    15. IST Akprind -Yogyakarta
    16. ITATS – Surabaya
    17. Universitas Negeri Gorontalo – Gorontalo
    18. Universitas Halu Oleo – Kendari
    19. Universitas Hasanudin – Makasar
    20. Universitas Mulawarman – Samarinda
    21. Institut Sains dan Teknologi TD Pardede – Medan
    22. Universitas Papua – Manokwari

    Terbentuknya Asproditegi bagi IAGI merupakan langkah maju dari program kerja KNPGI. ‘’Nantinya IAGI akan menjadi partner Asproditegi’’, kata Ketua Umum IAGI Sukmandaru Prihatmoko yang hadir membuka acara pertemuan bersejarah 1 Juni 2016 ini. Dengan begitu kelak akan tercipta hubungan yang kuat antara kalangan profesi (IAGI) dan pendidikan (Asproditegi).

    Selain itu, bagi IAGI, terbentuknya organisasi baru ini juga diharapkan bisa lebih mensosialisasi kan keberadaan IAGI di kampus-kampus. Karena kenyataannya selama ini keberadaan IAGI masih belum tersosialisasi dengan baik di berbagai perguruan tinggi, terutama di wilayah Indonesia timur (AP/ SP)

    flyer-asproditegi-2016-yogya

    Foto bersama peserta Pertemuan Asproditegi, 16-17 September 2016 di Yogyakarta

    peserta-pertemuan-asproditegi-2016-yogya

    Workshop Hydrothermal Ore Deposits Exploration: Discovery to Inventory

    Yogyakarta, dalam rangka mewujudkan dan merealisasikan tujuan dan cita-cita MGEI-SC UPN  “Veteran” Yogyakarta untuk mengembangkan ilmu geologi di bidang mineral, maka MGEI-SC UPN “Veteran” Yogyakarta bekerja sama dengan PSME mengadakan Workshop Hydrothermal Ore Deposits Exploration: Discovery to Inventory yang diadakan di Ruang Seminar Fakultas Teknologi Mineral Yogyakarta. Workshop yang akan berlangsung selama empat hari ini telah mencapai hari ketiga.

    Hari pertama (20/9) diisi oleh empat pembicara, yaitu Arif Zardi Dahlius dengan tema ”Ore Deposits Exploration and Mining in Indonesia: Opportunities and Challenges”, STJ. Budi Santoso dengan tema ”Genetic Classification of The Hydrothermal Ore Deposits”, Wahyu Sunyoto yang diwakilkan oleh Anton Perdana dengan tema ”Exploration Stages and Strategy”, dan Dunan Madong Siregar dengan tema ”GENEX (Generative Exploration)sebagai penutup. Hari kedua (21/9) yang tak kalah serunya diisi oleh lima orang pembicara, yaitu Anton Perdana dengan tema ”Remote Sensing”, Arif Ismanto dengan tema ”Geophysical Application in Exploration”, Damar Kusumanto dengan tema ”Geochemical Survey”, Iswahyudi Agus Sinugroho dengan tema ”Geological Mapping and Logging”, dan Riana Muliani dengan tema ”Data Management and QAQC”.

    Pada hari ini, serangkaian kegiatan workshop telah mencapai hari ketiga. Antusiasme para peserta semakin meningkat, begitu pula para dosen yang tidak kalah antusias untuk menghadiri workhop di sela-sela waktu mengajarnya. Hal ini menunjukkan bahwa workshop yang MGEI-SC dan PSME adakan ini

    adalah suatu kegiatan yang sangat bermanfaat bagi mereka yang haus akan ilmu tentang geologi, terlebih pada ore deposits. Semoga kegiatan ini dapat menjadi sebuah wadah untuk para peserta mendapatkan banyak hal baru yang positif dari para pembicara yang sudah sangat berkompeten di bidangnya masing-masing. Tidak lain dan tidak bukan, pembicara-pembicara pada kegiatan ini adalah alumni UPN “Veteran” Yogyakarta sendiri.

    MGEI-SC UPN “Veterean” Yogyakarta / AZD

    workshop-hydrothermal-ore-deposits-exploration-foto3

    workshop-hydrothermal-ore-deposits-exploration-foto2

    workshop-hydrothermal-ore-deposits-exploration-foto1