Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Jakarta, 24 April 2018. IAGI – Isu yang berkembang beberapa tahun terakhir tentang meningkatnya salinitas airtanah di Jakarta diindikasi karena adanya pengaruh intrusi dan infiltrasi tegak (Hehanusa, 1979, 1980 & 1982; Tirtomiharjo & Maimun, 1994; PAM JAYA & DGTL, 1999; Prayogi, dkk., 2016 dan Nababan, dkk., 2016). Dengan adanya pernyataan tersebut, IAGI bersama Pengda IAGI DKI dan Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) – Badan Geologi mencoba untuk menjawab dari isu yang berkembang, yang dikemas dalam suatu acara diskusi ilmiah dengan tema “Salinitas Airtanah Jakarta, Intrusi dan Faktor Lainnya” yang menghadirkan para pakar dibidangnya untuk mengklarisifikasi pemberitaan yang beredar, yaitu Dr. Hendra Gunawan (Kepala BKAT), Dr. Abdurrahman Asseggaf (Univ. Trisakti) dan Prof. Lambok Hutasoit (Institut Teknologi Bandung) dengan dimoderatori oleh Ketua Bidang Hidrogeologi IAGI yaitu Dr. Fajar Lubis (LIPI). Antusiasme peserta yang terdiri dari beberapa latar belakang seperti mahasiswa, instansi pemerintah dan professional yang konsen terhadap airtanah di Jakarta menjadikan diskusi yang berlangsung sarat akan ilmu pengetahuan.

      Turut hadir juga Sukmandaru Prihatmoko (Ketua umum IAGI) dan Andiani (Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan) sebagai bukti pentingnya dari diskusi yang berlangsung. Sukmandaru menyampaikan, acara diskusi ilmiah yang diadakan merupakan salah satu rangkaian penting dari HUT IAGI Ke-58 yang nantinya isi dari diskusi, akan dijadikan sebagai siaran pers, bahan pertimbangan, dan rekomendasi kepada pemerintah. Kemudian, disambung oleh Andiani yang sekaligus membuka acara menyampaikan, saat ini PATGL sedang mempersiapkan Peta Konservasi Air Tanah Jakarta yang nantinya akan digunakan sebagai acuan dalam tata ruang dan wilayah di Jakarta. Harapannya dengan dibuat peta konservasi tersebut bisa menjadi pertimbangan pihak-pihak terkait dalam menjaga dan memanfaatkan sebaik-baikya airtanah di Jakarta.

      Penyampaian pertama oleh Dr. Hendra Gunawan. Saat ini, BKAT berperan dalam membantu beberapa instansi yang memiliki kepentingan akan airtanah di Jakarta untuk melakukan monitoring, evaluasi, rekomendasi teknis yang akan dikeluarkan dikedepannya. Kondisi pemenuhan air warga di DKI Jakarta oleh PDAM hanya bisa menjangkau 40%, sedangkan sisanya diperkirakan dipenuhi dari penggunaan airtanah. Ditambah lagi, kondisi airtanah di Jakarta saat ini cukup memprihatinkan, 80% airtanah pada akuifer bebas dan 85% airtanah akuifer tertekan tidak memenuhi standar tentang persyaratan air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.492 tahun 2010. Perlu adanya kajian penting untuk menjaga kuantitas dan kualitas airtanah di Jakarta.

      Dengan perkembangan teknologi yang ada, saat ini, BKAT mencoba mengeluarkan terobosan penting dengan mengeluarkan WebGIS tentang perubahan airtanah di DKI Jakarta yang bisa dinikmati secara real time. Hal tersebut merupakan suatu hal yang penting, perkembangan populasi penduduk yang meningkat pesat, harus didukung dengan data-data kritis yang bisa diperoleh secara cepat dengan genggaman tangan. Pada akhir pemaparannya, Hendrawan memberikan gambaran bagaimana kondisi airtanah di DKI Jakarta pada saat ini, penurunan airtanah (debit air) dan muka airtanah terjadi secara signifikan karena kurangnya kontrol pengawasan. Perlu adanya upaya konservasi airtanah untuk menjaga kondisi lingkungan airtanah dengan mengutamakan penggunaan air permukaan.

      Penyampaian kedua dilakukan oleh Dr. Assegaf. Sebenarnya ada empat kesimpulan yang menyebabkan naiknya salinitas airtanah di Jakarta yaitu: 1. Intrusi dan Infiltasi Tegak (Hehanusa, 1979, 1980 & 1982; Tirtomiharjo & Maimun, 1994; PAM JAYA & DGTL, 1999; Prayogi, dkk., 2016 dan Nababan, dkk., 2016); 2. Tidak terjadi Intrusi Airlaut, salinitas dipengaruhi karenan adanya connate water dan airtanah purba Iwaco & Waseco, 1994; Disbang DKI Jakarta & LPPM – ITB, 2000; BAPPEDA DKI Jakarta & LPPM ITB, 2004 dan Lubis et al, 2015; 3. Pengaruh dari kontrol geologi struktur, meyebabkan naiknya air fosil (brine) dari lapisan dibawah akuifernya (Delinom, 2015); dan 4. Berhubungan dengan air hujan karena ada perubahan isotop (Listiyani, 1999). Dalam disertasinya, Assegaf melakukan penelitian menggunakan analisis isotop dengan beberapa lokasi perconto yang tersebar di Jakarta. Hasilnya tidak ditemukan adanya indikasi dari nilai Intrusi airlaut. Assegaf menambahkan, sebenarnya peningkatan salinitas airtanah bisa terjadi karena adanya proses mineral terlarut yang menyebabkan adanya perubahan kimia pada air tanah, faktor curah hujan, kandungan besi dan pencemaran lingkungan bisa mempengaruhi dari nilai salinitas airtanah.

      Penyampaian ketiga oleh Prof. Lambok Hutasoit. Menyambung dari pernyataan oleh Assegaf tentang tidak ditemukannya intrusi airasin. Sebenarnya, dari tahun 1920an para peneliti sudah menemukan bukti pada kedalaman tertentu salinitas dari airtanah di DKI Jakarta cukup tinggi, hal tersebut terjadi bukan karena faktor dari intrusi airasin. Pada tahun 1920an kondisi airtanah Jakarta masih sangat baik dengan populasi yang tidak begitu tinggi seperti sekarang. Sebenarnya, penyebab adanya kandungan airasin bisa terjadi karena adanya tekanan hidrostatik, dimana airasin akan menekan kebawah dengan adanya perbedaan massa jenis airasin yang lebih tinggi dibanding airtanah. Prof. Lambok mencoba membahas penyebab lain dari menurunnya muka tanah di Jakarta. Hal tersebut bisa terjadi karena kompaksi alamiah karena Jakarta tersusun atas batuan kuarter lunak yang sangat tebal, beban bangunan yang terus bertambah yang menyebabkan penyusutan dan overpressure pada batuan di Jakarta, ditambah lagi indikasi tektonik bisa terjadi karena wilayah Jakarta merupakan bagian dari Sub-Cekungan Ciputat. Pada akhir kesimpulan, Prof. Lambok menekankan sebenarnya kecil sekali kemungkinan adanya intrusi airlaut, karena batuan Jakarta didominasi oleh kehadiran lempung yang tebal (impermeable), sehingga airlaut tidak bisa menembus dan masuk kedalam akuifer. Faktor lain yang menyebabkan adanya kehadiran airasin, terjadi karena adanya connate water sebagai media penyimpanan yang biasanya berasoasi pada pengendapan transisi – laut.

      Setelah akhir diskusi dilapangan, kemudian para peserta melanjutkan kunjungan ke stasiun sumur pemantau terbesar di Asia Tenggara yang masih berada dalam komplek perkantoran BKAT dan mengunjungi lokasi perconto dari coring batuan. Para peserta disuguhkan dengan sumur-sumur tua dari tahun 1980an dan ditemukannya air artesis yang berasal dari kedalaman 300 m. Kemudian bukti terpenting yang bisa dilihat dari kunjungan adalah,  pada beberapa sumur ditemukan adanya bukti penurunan muka tanah dengan naiknya level dari tiang yang menyentuh basement Jakarta.

      Kondisi airtanah di Jakarta akan terus menurun dari segi kualitas dan kuantitas, hal tersebut terjadi karena masih rendahnya kepedulian warga Jakarta tentang menjaga airtanah. Faktor lainnya adalah, perusahaan atau bangunan-bangunan tinggi mengambil airtanah secara besar-besaran dengan sedikit mempertimbangkan resiko kedepannya. Harapannya, dengan diskusi ilmiah yang dilakukan para peserta yang hadir bisa menyampaikan dan membantu mensosialisasi kepada masyarakat yang lebih luas untuk turut menjaga airtanah Jakarta, demi terciptanya hidup yang lebih baik dikedepannya. (Hazred UF – IAGI)

      Makalah/materi bisa diunduh di link berikut ini:

      diskusi_salinitas_airtanah_jkt_file1   diskusi_salinitas_airtanah_jkt_file2  diskusi_salinitas_airtanah_jkt_file3

      salinitas_air_jkt_ft1
      Sambutan oleh Sukmandaru Prihatmoko (Ketua Umum IAGI)

      salinitas_air_jkt_ft2
      Sambutan oleh Andiani (Kepala PSATGL)

      salinitas_air_jkt_ft3
      Penyampaian Materi oleh Prof. Lambok Hutasoit

      salinitas_air_jkt_ft4
      Foto bersama para peserta diskusi ilmiah

      salinitas_air_jkt_ft5
      Kunjungan Sumur Pantau di sekitaran area kantor BKAT Jakarta

      salinitas_air_jkt_ft6
      Melihat conto coring batuan dalam menganalisis airtanah di Jakarta

      Comments

      comments

    • Diskusi Ilmiah salinitas air tanah Jakarta

      Comments

      comments