Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Jakarta, 27 November 2017. Pembangunan infrastruktur merupakan hal terpenting yang sedang dilakukan pemerintah saat ini dalam upaya mewujudkan program Nawacita. Program Nawacita yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), menargetkan pada kurun 2015 – 2019 dapat membangun 1000 km jalan tol, 2650 km jalan baru, 30 km jembatan, 65 waduk, 1jt hektar pembangunan irigasi dan perumahan.

      Pembangunan yang sangat masif ini tidak luput dari tantangan aspek kebumian/ geologi, sehingga perlu adanya studi-studi yang perlu dilakukan dari berbagai aspek untuk meminimalisir hal tersebut. Beberapa contoh/ bukti yang terjadi di antaranya pembangunan Pusat Olahraga Hambalang, Bogor yang ambruk dan bergeraknya pilar dari Jembatan Cisomang di Tol Cipularang. Dua contoh tersebut terjadi akibat batuan dasar yang menyangga bangunan dan pondasi berada pada Formasi Jatiluhur yang terdiri atas batuan shale-clay yang mudah retak dan mengembang, sehingga menjadi penyebab dari tidak stabilnya bangunan di atasnya oleh beban berat diatasnya ataupun oleh air permukaan (curah hujan).

      Kegiatan berupa diskusi dengan topik “Program Pembangunan Infrastruktur dan Ancaman Bencana Gempa Dalam Konteks Kesejahteraan Rakyat” menjadi salah satu cara untuk mensosialisasikan masalah ini dan mencari solusi bagaimana meminimalisir bencana geologi yang ditimbulkan. Diskusi Publik ini digelar pada 27 November 2017 di Perpustakaan MPR, Senayan, dan dihadiri oleh sekitar 30 peserta. Kehadiran pakar-pakar ahli sebagai narasumber dari berbagai latar belakang seperti Badan Litbang Kementerian PUPR yang diwakili Ridwan, Sukmandaru Prihatmoko (Ketum IAGI) dan Trinirmalaningrum (Ketua Perkumpulan Skala) menjadikan diskusi berlangsung hangat untuk membuka wawasan masyarakat akan pentingya mengantisipasi ancaman-ancaman bencana geologi dikedepannya. Diskusi dipandu oleh Jojo Raharjo dari Disaster Channel.

      Paparan pertama dilakukan oleh Sukmandaru, diawali dengan menjelaskan bagaimana belajar dari pengalaman pahit dari pembangunan infrastruktur yang tanpa memikirkan aspek geologi. Kondisi Indonesia yang kompleks yang berada pada tiga lempeng besar yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik menyebabkan Indonesia tinggi akan bencana geologi seperti gempa bumi, gunung api dan tsunami. Semua hal tersebut tidak bisa diprediksi kapan, dimana dan berapa besar kekuatan dari bencana yang ditimbulkan. Ditambah dengan kondisi Indonesia yang memiliki beberapa wilayah dengan tanah lunak/gambut dan intensitas curah hujan yang tinggi menambah rentetan dari masalah pembangunan infrastruktur. Dua hal yang terakhir bisa menjadi ancaman seperti terjadinya amblesan tanah dan potensi dari gerakan tanah yang cepat. Hal-hal yang perlu diantisipasi dalam melakukan pembangunan infrastruktur menurut Sukmandaru yaitu 1. Memperhatikan posisi bangunan terhadap zona-zona patahan serta memetakan secara rinci jenis batuan, 2. Pemetaan mikrozonasi; 3. Uji geoteknik; dan 4. Memberikan masukan kepada engineer dalam penentuan perencanaan wilayah pembangunan. Di akhir paparan yang diberikan, Sukmandaru menjelaskan bahwa bencana geologi bukanlah penghambat untuk melakukan pembangunan infrastruktur tetapi menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan memitigasinya serta meminimalisir potensi bencana yang akan terjadi.

      Paparan kedua dilakukan oleh Trinirmalaningrum (Rini) yang menjelaskan bagaimana Ekspedisi Sesar Palu Koro berkaitan dalam pembangunan infrastruktur di Sulawesi. Ekspedisi ini merupakan ekspedisi gabungan Skala, IAGI, Disaster Channel, ACT dan beberapa LSM lain untuk mensosialisasikan potensi Sesar Palu-Koro, Sulawesi baik aspek sumberdaya maupun bencananya. Penentuan ekspedisi didasari dari minimnya data-data bagaimana sejarah dari bencana geologi yang berada sepanjang jalur sesar yang dilewati. Ekspedisi tahap 1 yang dilakukan telah berhasil mengidentifikasi  beberapa hal yang menarik yaitu adanya bukti sejarah pada Lembah Bada berupa Patung-Patung Batu (Megalitik Palindo), Kalamba (tempat untuk menempatkan orang-orang mati) dan air panas yang merupakan bukti dari jalur sesar. Dalam perjalannya tim berhasil menemukan bukti adanya kehidupan manusia di dalam hutan lindung yang mengitari danau besar, tetapi akibat bencana geologi pemukiman tersebut menghilang dan hanya menyisakan puing-puing bangunan. Pencarian informasi dengan menanyakan kepada ahli sejarah dan sesepuh masyarakat juga dilakukan oleh tim untuk mengetahui bagaimana kejadian-kejadian gempa yang berlangsung dari tahun 1920an hingga sekarang.

      Paparan ketiga dilakukan oleh Ridwan yang menyampaikan tentang “Pemutakhir Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017 dan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk infrastruktur Tahan Gempa”. Ridwan menjelaskan tupoksi yang dilakukan Kementerian PUPR selain pembangunan infrastruktur, bangunan air dan irigasi, menghitung sumber gempa/beban gempa juga dilakukan untuk melakukan efisiensi dari pembangunan yang dilakukan. Penyusunan dan Pemuktahiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa dilakukan oleh badan formal non-struktural yaitu Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) yang terdiri dari berbagai macam latar belakang yang berbeda meliputi ahli geologi, geodesi, geofisika dan seismologi yang bekerja dari berbagai instansi yang berbeda. Tahap awal yang dilakukan yaitu dengan melakukan studi literature berupa rekaman gempa dan jalur-jalur patahan di Indonesia. Peta makrozonasi juga dilakukan untuk mengetahui rekaman hazard yang ditimbulkan di permukaan. Dengan dikeluarkannya Pemutakhiran Peta Gempa, bisa menjadi salah satu dasar untuk mengetahui wilayah-wilayah yang rawan akan bencana geologi. Ridwan menjelaskan dalam pembuatan SNI, timnya merujuk dari berbagai standar internasional dimana data yang dibuat akan perbarui dalam periode per lima tahun. SNI merupakan hal penting dalam pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan sehingga bisa meminimalisir kerugian yang ditimbulkan. Dalam akhir paparannya Ridwan menjelaskan gempa bumi tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi runtuhan bangunan yang mengenai manusia itulah yang menyebabkan terjadinya korban jiwa.

      Sesi tanya jawab berlangsung dinamis, yang intinya merekomendasikan sosialisasi potensi bahaya/ bencana kebumian perlu terus dilakukan kepada seluruh kalangan masyarakat dengan berbagai cara. (Hazret/ Biro Media IAGI)

      mpr_diskusi_publik_infrastruktur_vs_gempa_ft1

      Foto 1. Diskusi publik Pembangunan Infrastruktur dan Ancaman Gempa Bumi

      mpr_diskusi_publik_infrastruktur_vs_gempa_ft2
      Foto 2. Diskusi publik Pembangunan Infrastruktur dan Ancaman Gempa Bumi

      mpr_diskusi_publik_infrastruktur_vs_gempa_ft3
      Foto 3. Foto bersama narasumber dan sebagian peserta Diskusi Publik

      mpr_diskusi_publik_infrastruktur_vs_gempa_ft4
      Foto 4. Sesi penyerahan momento buku “Pembangunan Infrastruktur”

      Comments

      comments