Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Oleh: Budhi Kumarawarman (IAGI-5517)

      Dalam dunia perdagangan nikel dunia, Indonesia mempunyai peranan yang sangat strategis. Pada Januari 2014, Indonesia memberlakukan larangan ekspor bijih tambang mentah sebagai amanat dari UU No 4 tahun 2009, atau yang sering disebut dengan UU Minerba. Seketika itu pula harga nikel merangkak naik dari level sekitar USD 14.000 /ton ke level sekitar USD 18.000/ton. Begitu pula saat pemerintah memberlakukan relaksasi ekspor bijih tambang mentah tahun ini, harga nikel yang berada pada level sekitar USD 10.500 /ton ke level sekitar USD 9.000/ton. Kenapa demikian? Ini karena Indonesia merupakan salah satu produsen utama bijih nikel dunia. Produksi bijih nikel Indonesia memang mengalami pasang surut menyesuaikan dengan perubahan regulasi yang ada. Puncak produksi nikel Indonesia terjadi pada tahun 2013, dimana Indonesia menjadi produsen bijih nikel terbesar no 2 di dunia dengan 440.000 metrik ton nikel, hanya terpaut 6.000 metrik ton dari Filipina yang  berada di no 1.

      Lalu, apa saja yang berpengaruh pada harga nikel dan apa dampaknya terhadap bisnis nikel di Indonesia? Untuk membahas ini, kita akan mulai dari kegunaan nikel dan mengapa nikel ditambang dan diproduksi. Sebanyak 68% dari nikel yang diproduksi di dunia digunakan sebagai bahan dalam pembuatan stainless steel (baja tahan karat). Sisanya digunakan untuk pembuatan alloy (16%), plating (9%), baterei (3%), dll. Stainless steel sendiri banyak digunakan untuk rangka bangunan, industri otomotif, industri berat dan industri energi. Karena itu, supply and demand nikel akan sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian dunia. Saat pertumbuhan ekonomi meningkat, banyak kegiatan konstruksi dan pembangunan, produksi otomotif meningkat, industri berat berkembang, dan eksploitasi sumber energi serta pembangunan pembangkit listrik juga bertambah. Ini tentu akan mengakibatkan kebutuhan stainless steel meningkat dan ujungnya juga akan meningkatkan kebutuhan nikel.

      Kemudian, siapa yang saat ini jadi konsumen utama nikel di dunia? Data INSG tahun 2013 menunjukkan produksi nikel dunia utamanya diserap oleh China (51%) dan Eropa (19.5%). Atau artinya sekitar 70% dari produksi nikel dunia diserap oleh China dan Eropa. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika harga nikel dunia sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian 2 kawasan ini, terutama oleh China. Saat pertumbuhan ekonomi China sangat tinggi di level 14% pada tahun 2008, harga nikel melonjak sampai sekitar USD 30.000/ton. Saat pertumbuhan ekonomi China melambat di level 6,7% di tahun 2016, harga nikel pun ikut mengalami penyesuaian yang cukup jauh sampai ke kisaran antara USD 9000 – 11.600/ton.

      Pertanyaan berikutnya adalah apa hubungan antara industri stainless steel dan kebutuhan nikel China dengan Indonesia? Kebutuhan stainless steel China ditopang oleh industri stainless steel dalam negeri yang sumber nikelnya terutama berasal pabrik-pabrik pengolahan Nickel Pig Iron (NPI) di China. Nah, dari mana pabrik NPI China ini mendapatkan bahan baku bijih nikel? Jawabannya adalah dari Indonesia dan Filipina. Sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2013, sumber bahan baku nikel untuk China didominasi oleh 2 negara tersebut . Di tahun 2013, sebanyak 99% sumber bahan bijih nikel mentah China disuplai oleh Indonesia dan Filipina, sekaligus mendudukkan kedua negara tersebut sebagai dua negara produsen bijih nikel terbesar di dunia dengan produksi 446.000 metrik ton nikel (Filipina) dan 440.000 metrik ton nikel (Indonesia).

      Pada Januari 2014, pemerintah Indonesia memberlakukan larangan ekspor bijih mentah dalam rangka menjalankan amanat UU No 4 tahun 2009. Hanya nikel hasil olahan yang boleh diekspor. Selain untuk memberikan nilai tambah terhadap komoditas nikel yang diekspor, pemerintah juga berharap pemberlakuan aturan ini dapat memberikan pengelolaan dunia tambang nikel yang lebih baik, serta memberikan efek domino positif terhadap perekonomian di sekitar area tambang yang umumnya berupa daerah terpencil. Sebelum larangan bijih mentah berlaku ada ribuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) diterbitkan oleh para Bupati dan banyak di antara area IUP-IUP tersebut yang saling tumpang tindih sehingga menimbulkan konflik antar perusahaan di lapangan. Merebaknya tambang-tambang nikel skala kecil serta pelabuhan-pelabuhan kecil untuk ekspor nikel di banyak daerah terpencil membuat kontrol pemerintah terhadap jumlah dan kadar material tambang yang diekspor menjadi sulit. Dengan adanya larangan ekspor bijih nikel mentah, ekspor komoditas nikel hanya akan dilakukan oleh smelter-smelter yang jumlahnya jauh lebih sedikit. Hal itu akan membuat pengelolaan dan kontrol pemerintah menjadi lebih mudah. Keberadaan smelter juga akan memberikan efek domino yang positif terhadap ekonomi lokal karena memberikan lapangan pekerjaan serta peningkatan arus barang dan perputaran uang pada daerah tersebut.

      Namun demikian, menjalankan aturan ini bukan berarti tanpa masalah. Finansial masih menjadi masalah yang paling utama. Membangun smelter membutuhkan biaya yang besar. Selain smelternya sendiri, infrastruktur pendukung produksi juga dibutuhkan seperti pembangkit listrik, pelabuhan, bandara, fasilitas perumahan (akomodasi) karyawan dan jalan. Fasilitas-fasilitas ini umumnya masih absen di daerah tambang nikel yang umumnya daerah terpencil dan terletak di Indonesia Timur yang minim infrastruktur. Pembangkit listrik yang dibutuhkan pun umumnya berskala besar, umumnya berkapasitas puluhan sampai ratusan mega watt. Sehingga, untuk membangun smelter, perusahaan pun sering harus mengeluarkan dana untuk membangun fasilitas-fasilitas tersebut. Tentu tidak mengherankan jika perkembangan smelter nikel di Indonesia cukup lambat. Apalagi dengan harga nikel yang saat ini relatif rendah, tidak banyak investor yang berani mengambil resiko untuk mengeluarkan uangnya guna membangun smelter.

      Sampai saat ini, tercatat baru beberapa smelter nikel besar yang sudah beroperasi , seperti milik PT SMI di Morowali (kapasitas sampai tahap 3 sekitar 90.000 ton nikel/tahun??) dan PT Harita di Maluku (kapasitas sekitar 27.000 ton nikel/tahun??). Untuk membangun smelter sampai tahap 3 tersebut, PT SMI, perusahaan patungan PT BDM dan Tsigshan Group dari China dikabarkan mengeluarkan biaya sekitar 2,5 milyar dollar atau sekitar Rp 32.3 trilyun termasuk pembangunan PLTU dengan total kapasitas 730 MW (Bisnis. com, 29 Mei 2015). Sedangkan untuk membangun smelternya, PT Harita yang menggandeng Xinxing Qiyun Investment dari China dikabarkan mengeluarkan USD 320.000 atau sekitar Rp 4,2 trilyun untuk membangun smelternya di Pulau Obi, termasuk dengan PLTU berkapasitas 120 MW (tambang.co.id, 3 Juni, 2015). Kedua smelter nikel PT SMI dan PT Harita ini bertipe NPI (Nickel Pig Iron) dengan teknologi electric furnace (tungku elektrik) terbaru.

      Investor smelter nikel yang hadir di Indonesia sejak UU No 4 tahun 2009 diberlakukan memang didominasi oleh investor dari China. Ini cukup logis karena sampai saat ini China masih menjadi konsumen nikel terbesar sekaligus menjadi produsen stainless steel terbesar di dunia dengan kapasitas produksi sekitar 800 juta metrik ton per tahun atau sekitar 50% dari produksi stainless steel global. Untuk memenuhi kebutuhan produksinya, tentu saja China membutuhkan banyak bahan baku NPI. Bahan baku NPI ini dibutuhkan utk membuat stainless steel seri 200 atau seri rendah dengan kandungan nikel dalam baja 1-2%.

      Saat Indonesia memberlakukan larangan ekspor bijih mentah, banyak industri NPI di China yang kekurangan suplai bahan baku. Sehingga, memindahkan pabrik NPI mereka yang ada di China ke Indonesia menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka. Investor dari Barat dan Jepang yang banyak berfokus pada produksi stainless steel seri 300 (kadar Ni dalam baja 8-9%) tidak banyak membutuhkan bahan baku tipe NPI, tetapi membutuhkan bahan baku nikel hasil olahan tipe yang lainnya seperti pabrik Ferro-Nikel dengan kadar nikel tinggi atau Nikel-Matte. Masalah utamanya, membangun pabrik tipe yang lain tersebut membutuhkan biaya kapital yang lebih besar dibanding NPI. Meskipun Operational Expenditure dari pabrik NPI tinggi, tetapi Capital Expenditure-nya relative rendah. Dalam kondisi harga nikel yang relatif rendah (kurang dari USD 15.000 / ton) dalam beberapa tahun terakhir, NPI sering menjadi pilihan terbaik bagi para investor. Tipe lain dari pabrik pengolahan nikel laterit menjadi kurang menarik bagi investor pada saat ini. Mungkin hanya ada beberapa perusahaan saja yang masih tertarik untuk serius mengembangkan tipe pabrik pengolahan non-NPI. Melihat kondisi global, perkembangan harga nikel dan trend yang ada, sepertinya angin akan banyak berhembus dari dataran Tiongkok. Angin dari dunia barat kemungkinan akan lebih banyak wait and see meskipun mungkin ada juga beberapa perusahaan yang masih berkeinginan serius untuk tetap menggarap smelter non NPI-nya. Bagaimana dengan perusahaan merah putih? Sampai saat ini belum ada investor murni merah putih, yang menyatakan akan membangun smelter nikel skala besar. Bagaimana di masa yang akan datang? Kita tunggu saja.

      Salam Hardrocker

      Budhi Kumarawarman
      Praktisi Eksplorasi dan Tambang

      Comments

      comments