Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Bali, Menyimak tulisan Bapak Devi Kamil Syahbana, Kasubid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur sangatlah jelas dan lengkap. Masyarakat umum juga dapat membaca dan memahami, apalagi sudah mengalami kondisi /keadaan dimana Status Gunung Agung meningkat dari Normal ke Status Waspada selanjutnya Status Siaga dan sampai pada level tertinggi (IV) Status Awas. PVMBG senantiasa melaporkan data terkini setiap 6 jam, termasuk analisis dan rekomendasi yang begitu mudah dapat diakses di media sosial. Sosilaisasi secara langsung kepada masyaratkat terdampak juga secara kontinyu dilaksanakan bersama BPBN dan pihak terkait. Termasuk akses langsung ke Pos Pengamat Gunung Agung Rendang secara terbuka diterima untuk masyarakat luas, tidak terbatas hanya pejabat dan awak media massa yang bahkan sampai magang berhari-hari. Ini sebagai bukti keterbukaan informasi dan berdiskusi dengan pihak-pihak pengambil kebijakan maupun media cetak/elektronik.  Pihak Ikatan Ahli Geologi Indonesia, melalui IAGI Pengda Bali senantiasa berkomunikasi, berdiskusi, serta aktif melakukan sosialisasi menyebarluaskan informasi analisis ilmiah dan mitigasi bencana, baik bersama PVMBG maupun BNPB.

      Pembina IAGI yang juga mantan Kepala PVMBG dan mantan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Bapak DR. Sukyar, menyampaikan bahwa, Vulkanologi (PVMBG) bertanggung jawab penuh dalam menetapkan Alert Level berdasarkan analisis data dan pengalaman yang dimiliki. Alert Level mulai dari Normal, Waspada manakala ada kenaikan aktivitas kegempaan. Apabila kegempaan terus meningkat, maka akan dinaikan ke level Siaga. Pada saat level ini , Manajemen Bencana (Disaster Management) di Pusat maupun di Daerah sudah mulai mempersiapkan diri, seperti jalur evakuasi, pos pengungsian, dll. Apabila terjadi kenaikan tajam tingkat kegempataan (kenaikan tajam mengikuti kurva asimtotik dan didukung oleh trend deformasi yang inflasi/ gunung yang mengembang) maka status akan dinaikan ke level Awas., artinya ada kecebderungan untuk meletus (erupsi). Cenderung juga bermakna tidak ada jaminan untuk meletus, seperti kasus Gunung Sindoro, di Jawa Tengah 6 tahun yang lalu. Kondisi psikologis dan pengalaman nyata (emperis) para pakar Gunung Api sangat menentukan dalam pengambilan keputusan. Dalam kasus Gunung Agung, hal-hal yang memberikan pressure, misalnya Gn. Agung sudah istirahat lebih dari 50 tahun dan sepi dari solfatara (asap), namun tiba-tiba ada kegempaan yang meningkat tajam dibarengi muncul asap, maka menjadi kekhawatiran para pakar/pengamat di lapangan sehingga peningkatan status menjadi kebijakan yang harus diambil. Menaikan status biasanya lebih mudah dari pada menurunkan. Dibutuhkan waktu yang lama untuk membentuk sequence data variasi temporal yang meyakinkan untuk diambil kesimpulan. Dari pengalaman, lebih mudah memprediksi gunung yang frekuensi letusannya tinggi, yang membuat kita mengetahui kelakuan (karakter) gunung tersebut baik dari data monitoring dan data visual. Pada saat alert level Gunung Agung dinaikan semua setuju, seharusnya pada saat diturunkan juga setuju. Kalaupun berdasarkan analisis data monitoring dan data visual, suatu saat levelnya kembali naik, tentunya kita tidak keberatan dan lebih siap.

      Mengamati peningkatan status Gunung Agung dari Level Normal sampai pada Level Awas dan penurunan kembali ke Level Siaga, terlihat sekali bahwa pemahaman terhadap Mitigasi Bencana Alam bagi masyarakat kita relatif masih kurang. Sehingga saat status naik ke level Awas, kita cenderung kebingungan bahkan panik. Semuanya baru sibuk, mulai dari pejabat, aparat, apalagi masyarakat awam, pasti lebih bingung. Bahkan beberapa pihak, untuk membuktikan level awas ini dengan nekat mendaki untuk mengamati secara langsung kawah Gn. Agung. Sudah terbuktipun, masih juga ada yang lain penasaran. Apa harus dibuktikan dengan letusan, bahkan dengan ada korban jiwa..?

      Setelah sekian hari, tidak terjadi erupsi (letusan) keraguan mulai terjadi, kenapa tidak terjadi erupsi. kapan terjadi erupsi, seberapa besar jika terjadi erupsi. Keraguan meningkat lebih dikarenakan aktivitas ekonomi tidak bisa berjalan dengan normal. Secara umum, sektor pariwisata terganggu. Tidak ada yang salah dari peningkatan aktivitas Gn. Agung. Tidak ada yang keliru dari penetapan status Awas. Ini semata-mata memang ketidaksiapan semua pihak dalam hal antisipasi secara baik. Gunung Agung adalah Gunung Api, yang artinya Gunung yang masih aktif, yang setiap saat dapat meletus (erupsi). Oleh sebab itu, Gn. Agung dan Gunung Api lain tetap dilakukan pemantauan dan pengamatan, walaupun status dalam Level Normal.

      Berdasarkan analisis data monitoring dan data visual dalam dua minggu terakhir, akhirnya status diturunkan ke level Siaga. Bertepatan pula jika dikaikan secara spiritual, kita syukuri diberi kesempatan melakukan ritual Hari Raya Galungan, khususnya di kawasan yang katergori cukup aman, seperti Pura Besakih. Untuk membuktikan status sudah turun maupun berdoa (ritual keagaaman/hari raya) tidaklah tepat harus dengan mendaki mendekati kawah. Masih sangat beresiko jatuh korban jiwa, jika terjadi erupsi.

      Seperti yang disampaikan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, kita mesti bersyukur, saat ini Gunung Agung tidak meletus, namun kita tidak boleh sombong. Kita tetap selalu berdoa, penurunan status ke level Siaga dapat berlanjut ke level Waspada bahkan ke Level Normal kembali. Dalam status apapun, kita sudah siap, antisipasi kita sudah lebih baik, siap mengikuti arahan Manajemen Bencana (Disaster Management). Tidak hanya bagi para pengungsi, tapi juga semua lapisan masyarakat dan tentunya pengambil kebijakan. Demikian juga pelaku pariwisata harus menyiapkan strategi dan memberikan penjelasan yang komprensif kepada wisatawan. itulah Mitigasi Bencana sesungguhnya.

      Kita bersyukur tinggal di Pulau Bali, Pulau yang dikagumi dunia. Pulau penuh budaya unik, Pulau indah dengan pemandangan Pantai, Sungai, Gunung serta Danau yang tiada lain adalah produk dari aktivitas Gunung Api.  Namun, kita harus pahami juga kita tinggal di Pulau yang secara geologis memiliki potensi Bencana Gunung Api maupun Bencana Gempa Tektonik dan Tsunami. Pahami dan bersahabatlah dengan Alam kita, bukan dengan menantang dan melawannya. Yang terjadi biarlah terjadi, mari kita antisipasi bersama, “Salam Tangguh Bencana”

      Ditulis oleh: I KETUT ARIANTANA (KETUA IAGI PENGDA BALI)

      iketut ariantana

      Comments

      comments