Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • KAPUR


    • Mengapa zaman geologi Cretaceous (145-65 Ma -million years ago, juta tahun y.l.) diterjemahkan sebagai Kapur dalam istilah Indonesia? Sebab, itu diterjemahkan langsung dari Krijt (istilah Belanda). Krijt – kapur (juga kapur tulis). Creta = kapur, bahasa Latin.

      Mengapa semuanya berhubungan dengan kapur? Sebab ada endapan kapur, batukapur, batuan sedimen gampingan laut dalam, chalk deposits, di Inggris yang umurnya antara 145-65 juta tahun. Sebab bahasa Latin kala itu sering digunakan sebagai bahasa ilmiah, maka disebutlah zaman itu Cretaceous, -ceous adalah akhiran penunjuk sifat dlm bhs Inggris.

      Endapan kapur itu berbeda dengan batugamping secara fasies/ tempat pengendapan. Kapur diendapkan di laut dalam/ pelagis, sementara batugamping hasil pengendapan di laut dangkal/ batugamping paparan. Material penyusun dan biota/bioklasnya pun lain. Ini berbeda lagi dengan kapuran- chalky sebagai efek diagenetic/ chalkyfication. Batugamping paparan/platform bisa menunjukkan kenampakan endapan kapur karena chalkyfication, tetapi itu bukan kapur pelagis. Kapur yang dimaksud di dalam tulisan ini adalah pelagic chalk deposits.

      Zaman ketika endapan kapur di Inggris itu terbentuk disebutlah Cretaceous. Orang Belanda menyebutnya Krijt. Di interval waktu tersebut kapur memang banyak diendapkan di Eropa. Belanda lalu membawa istilah zaman Krijt itu ke Indonesia.

      Kita lalu menerjemahkannya dengan mudah saja sebagai Kapur. Dan para geolog Indonesia sampai sekarang menyebut waktu geologi antara 145-65 Ma itu sebagai Kapur, meskipun misalnya tak ada selapis pun endapan kapur di dalamnya, Juga di tempat-tempat lain di seluruh dunia para geolognya menyebut zaman itu Cretaceous, meskipun tak ada endapan kapurnya.

      Jadi, salahkah kita menyebut zaman itu Kapur meskipun tak ada selapis pun batukapur di dalamnya? Padahal nama Cretaceous dulu diberikan oleh para geolog awal Inggris dan Eropa atas lapisan yang seluruhnya mengandung kapur (Creta, bhs Latin).

      Tidak salah, janggal saja rasanya. Namanya zaman Kapur, tetapi tak ada endapan kapur di dalamnya. Namun kita juga tak punya nama baru pengganti nama Kapur, Cretaceous, Krijt.

      Di Indonesia Tmur, pada zaman Kapur bisa terjadi banyak endapan kapur (chalk). Ingat bahwa pada zaman itu teran-teran yang baru lepas dari Gondwana pada Jura Atas sedang hanyut ke utara dan bagian-bagian tepi teran yang tenggelam ke laut dalam bisa ditutupi endapan pelagis berupa kapur. Itu misalnya yang sekarang menyusun Kepala Burung Papua. Formasi Imskin (Kapur Atas) di Bintuni misalnya, itu kaya Kapur, atau Formasi Waaf (Kapur Atas) di Misool itu juga kaya kapur.

      Namun pada saat yang bersamaan, batuan Kapur Bawah di Papua Niugini justru tak mengandung kapur, tetapi batupasir yang kaya minyak dan gas, batupasir Toro (Kapur Bawah) namanya, atau batupasir Woniwogi di Pegunungan Tengah Papua. Di Indonesia barat juga pada zaman Kapur minimal ada endapan laut dalam kapur, justru yang banyak adalah batu-batu klastik kasar sebab di pertengahan Kapur sedang banyak terjadi benturan antarteran, yang mengangkat banyak teran dan menafikan pengendapan kapur laut dalam. Tetapi toh kita tetap menamai mereka semua endapan Kapur.

      Begitu, bila kita mau melihat penamaan zaman Kapur secara lebih kritis. Perlukah kita mengetahui hal ini? Perlu, bila kita mau melakukan eksplorasi hidrokarbon di lapisan-lapisan batuan berumur Kapur. ***

      kapur_ft1

      kapur_ft2

      Oleh:

      awang_satyana

      Awang Satyana

      https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1465952943551322&id=100004098920754

      Comments

      comments