KONTROVERSI GUNUNG PADANG

Prof. Dr RP Koesoemadinata

Prof Dr RP. Koesoemadinata. Mantan Ketua IAGI.

KONTROVERSI GUNUNG PADANG
Oleh Prof Dr RP Koesoemadinata

Para pembaca:

Saya itu mulai belajar ilmu geologi ini masih di pertengahan abad yang lalu, di mana plate tectonics dan sequence stratigraphy  belum ada. Apa lagi computer, internet, georadar,  remote sensing, GPS, dsb, bahkan seismic survey  saja  masih sangat rudimenter. Saya ingat jawaban Prof Klompe waktu saya memberanikan diri menanyakan mengenai teori Wegener (pada zaman itu bertanya di ruang kuliah tidak ada, bahkan dianggap taboo), dia bilang “Oh, that is a fairy tale” (itu adalah dongeng mau tidur). Padahal kita tahu bahwa theory Wegener itu mempelopori teori plate-tectonic. Pada zaman itu bahwa benua bisa bergerak, bahkan berkeliaran (drifting) adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Dengan diyakini plate tectonics sekarang ini, maka sebetulnya telah terjadinya suatu revolusi dalam ilmu pengetahuan. Juga sequence stratigraphy telah merubah pandangan kita mengenai pola perlapisan serta sistim pengendapan sediment dari konsep “layer cake” geology. Juga penjelajahan ruang angkasa yang memperkaya pengetahuan planet2 serta teknologi exsplorasi penafsiran gempa telah merubah/menambah pengetahuan kita mengenai interior bumi kita. Thomas Kuhn (1962/1970, The structure of scientific revolutions: Chicago,Ill, University of Chicago Press)

mengatakan bahwa perubahan dalam science itu bersifat revolusioner, di mana terjadi perubahan paradigma secara drastis, dan bukan secara evolusioner, dengan contoh perubahan setelah Newton dan juga Einstein dalam ilmu pengetahuan alam. Di antara revolusi science itu adalah zaman yang disebutkan sebagai “normal science”, di mana teori-teori itu terikat ketat oleh paradigma yang berlaku secara mantap. (Istilah paradigma sendiri berasal dari Kuhn yang menyangkut prinsip-prinsip yang sangat mendasar ini kemudian istilah ini diambil alih para ahli social sciences, di mana  memang ilmu-ilmu ini sedang mengalami revolusi, namun sayangnya istilah paradigma ini mengalami perubahan pengertiannya, sehingga pengertian sekarang  perubahan paradigma itu tidak lain dari sekadar perubahan konsep)

petaSaya belajar geologi di ruang kuliah maupun di lapangan pada waktu  apa pada zaman itu disebut geological excursion (mungkin sekarang disebutnya sebagai kuliah lapangan, atau geological field trip), di mana kita belajar mengenai gejala alam baik secara morfologis maupun dari segi outcrop, khususnya hal2 seperti sifat perlapisan dari batuan sedimen, serta kedudukan strukturnya (strike&dip) dengan struktur sedimennya, gejala ketidak-selarasan,  mengenai kekar-kekar, columnar jointing, struktur patahan, pelipatan,  serta sifat2 batuan lainnya yang hanya dapat dilihat pada outcrop di lapangan, juga seperti gejala pelapukan, spheroidal weathering, sedimentasi resen. Hal ini dijarkan di semua textbook geologi di seluruh dunia.  Tentu selaku pemula kita sangat ta’ajub bahwa ternyata alampun dapat membentuk gejala-gejala geometrik seperti columnar joints, mudcracks yang bersegi lima. Gejala-gejala geologi inilah diajarkan pada tingkat S-1. Memang benar kita tidak diajarkan cara membedakan gejala alam dengan gejala buatan manusia, atau artefact, karena yang terakhir ini dianggap obvious. Tentu di bidang  arkeologi pada mahasiswa juga diajari di lapangan maupun di laboratorium bagaimana mengenai artifact, barang-barang buatan manusia, karena banyak pula artifact tidak bersifat geometric, seperti kapak batu dsb.

Maka sebagai seorang ahli geologi lapangan yang ulung seperti Pak Sujatmiko, yang bertahun-tahun berkeliaran dilapangan merasa heran bahkan sangat terganggu kalau ada sesorang expert dalam bidang geofisika, bahkan juga seorang ahli geologi terkemuka (bahkan mantan Ketua IAGI) yang menafsirkan columnar joints sebagai buatan manusia. Juga sama halnya dengan para arkeolog yang berpengalaman mereka akan terusik dengan ke-expertis-annya. Ini sudah menyalahi “the basics of geology”, bahkan  pada zaman “normal science” dengan paradigma mantap yang sekarang berlaku sekarang. Barangkali Pak Danny dan Pak Andang memulai satu revolusi baru dalam ilmu kebumian dan arkeologi? Memang sebagaimana dikatakan (Wilson, Jr., E. Bright, 1990, An introduction to scientific research: New York, Dover Publication, Inc), suatu penemuan yang aneh yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu yang berlaku dapat mengelindingkan suatu revolusi baru dalam ilmu pengetahuan, namun hal ini sangat sangat jarang sekali terjadi, atau peluang-nya sangat-sangat kecil sekali. Mainstream Science, dalam hal ini mainstream geosciences akan mengabaikannya. Mainstream science will simply ignore it.

Saya juga adalah seorang pendukung  kemampuan “field geology” yang cukup fanatik yang mengutamakan hasil pengamatan visual sebagai kebenaran mutlak (a’inal yaqin), sesuai dengan filsafah ilmu kebumian yang berlandaskankan empiricism. Ini tentu  tidak mengenyampingkan hasil-hasil penyelidikan teknologi explorasi seperti geophysics, seismic, gravity, logging dsb yang berkembang dengan yang sangat menakjubkan, bahkan yang merupakan tulang punggung dari explorasi modern di zaman sekarang ini; apakah explorasi minyak-dan gasbmi, explorasi mineral, batubara dan sebagainya, yang tetap  merupakan interpretasi, bagaimanapun telah dikalibrasikan dengan keadaan geologi yang sebenarnya. Saya kira dalam kalangan industri minyak dan gasbumi maupun di kalangan pertambangan suatu discovery akan keberadaan  satu cadangan minyak-dan gasbumi  atau cebakan mineral hanya akan diakui setelah dilakukan pemboran yang ikuti dengan ujicoba /testing atau dilakukan core-sampling dan dianalisa di laboratorium yang diakui kemapannya. Bagaimanapun indah dan bagusnya hasil interpretasi seismic, georadar, remote sensing dsb, itu tetap belum merupakan kenyataan geologi, atau dalam istilah explorasi tetap hanya merupakan suatu prospect. Saya mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan dengan hal ini. Di tahun 70-han hasil seismic di Salawati Basin dekat lapangan Klamono menunjukkan suatu build-up yang sangat meyakinkan dan direkomendasikan untuk dibor (Orba-1). Pada waktu rig pemboran sudah naikkan, Petromer Trend melakukan survey SLR. Dari hasil side-looking radar itu terlihat  lokasi rig yang berada suatu tepat di tengah suatu drepressi yang berdasarkan penelitian Petromer Trend (Norman Foster, Exploration Manager) yang mempublikasikannya metoda geomorphology ini dalam AAPG sebagai methode explorasi dengan ketelitian 98% , paling tidak untuk menemukan suatu terumbu untuk cekungan Salawati dan sekitarnya. Norman Foster sendiri sangat excited melihat lokasi rig itu, “it is going to be a gusher!”, ujarnya. Saya sendiri berada di well site pada saat-saat pahat mau menembus reef yang diharapkan. Menit demi menit lewat, jam demi jam, bahkan sudah lebih dari 1 hari, yang keluar hanya orbitoid foraminiferal limestone melulu (Hey, where is the reef?, tanya si toolpusher), sama sekali tidak satu pun coral fragment.. Apalagi setelah ditest pun tidak keluar minyaknya. Ya mungkin Orba-1 itu sial, justru merupakan probability yang 2%, dari  100%  success probability. Mungkin saja pada tahun 70-han seismic pada waktu itu belum secanggih sekarang. Namun falsafah yang kita bisa ambil dari perisitiwa itu bahwa bagaimanapun canggihnya suatu teknologi explorasi, hasil tetap adalah merupakan peluang/probability saja, tetapi tetap merupakan suatu teknologi yang penting dan sangat bermanfaat, bahkan kita sangat tergantung demi suksesnya explorasi.. Tentu tidaklah semua gejala geologi yang ditafsirkan teknologi explorasi atau geofisika dapat diverifikasi kebenarannya secara visual, misalnya gejala lempeng dalam mantle atau inti bumi. Dalam hal ini kebenaran ilmiah dari penafsiran geofisika dsb harus diterima sesuai dengan keakuratan data yang ada, sesuai dengan logika serta kaidah dasar yang berlaku, sampai diketemukannya lagi data baru dengan teknologi baru serta penjelasan yang logis sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku saat itu.

G_Padang_6Kembali mengenai masalah kebenaran ilmiah, kita harus sadari bahwa pengetahuan mengenai penafsiran gejala geologi lapangan yang dianut Pak Sujatmiko, Prof. Bronto dan juga termasuk saya sendiri, merupakan main-stream geology dewasa ini diseluruh dunia. Tentu saja banyak teori-teori geologi yang aneh-aneh yang dimuat di website/ blogs dsb, termasuk adanya “flat earth theory”, bahkan ada masyarakatnya sendiri di London yang bernama “the Flat-Earth Society”, yang merupakan side-stream (dalam agama mungkin disebut sebagai aliran sesat). Juga halnya dalam ilmu-ilmu lainnya, antara lain dalam Arkeologi, banyak teori-teori yang bertentangan dengan mainstream archaeology, seperti teori Atlantis, teori Paleo-aliens dari Erich Von Daniken, UFO, Bermuda Triangle, Crystal Skull.

Perlu pula diketahui bahwa saya sendir adalah penggemar membaca buku-buku, menonton film “documentary” di National Geographic atau Discovery Channel, dan film-film science-fiction di mana teori-teori di luar mainstream science ini ditayangkan, namun dalam hal ini saya menikmatinya hanya semata sebagai hiburan/entertainment saja. Banyak bukti-bukti yang dikemukakan dalam teori-teori itu sangat meyakinkan, tetapi mainstream science tetap tidak menghiraukannya. Pada umumnya main-stream scientific communities tidak menghiraukan dan cenderung mengabaikan (ignore) teori side-stream ini. Jarang-jarang ada yang meminta dilakukan tindakan terhadap terhadap aliran (sesat) ini, silahkan saja, namun kadang-kadang pula ada menyatakannya toeri-teori aneh ini sebagai pseudo-science, para-science atau science fiction. Namun teori-teori yang aneh ini, yang merupakan side-stream praktis tidak bisa dimuat dalam  main-stream scientific journals, di lain fihak karena penuturan ini sangat menarik bagi public yang haus akan adanya mujizat (instat miracle) dalam perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga tgeori-teori macam ini  mempunyai nilai komersial yang tinggi daripada artikel-artikel ilmiah yang cenderung membosankan, dan akan sangat laku keras dijual sebagai buku diluar penerbitan mainstream science, seperti buku Atlantis dari Prof Santos, Chariot of the Gods dari Eric von Daniken dsb. Dalam hal ini tidak ada kelompok ilmiah yang meminta kepada pemerintahnya untuk dilakukan pelarangan.

Dalam soal teori pyramid G. Padang sayapun secara prinsip tidak setuju untuk meminta Presiden untuk melarang dilakukan penelitian lebih lanjut oleh Tim yang mempercayainya G. Padang sebagai pyramid yang terpendam. Kita sebagai scientist harus berpikiran terbuka (open-minded). Dalam soal agama memang banyak pihak yang ingin melarang aliran sesat, tetapi inipun secara internasional  dianggap sebagai pelanggaran hak azasi manusia atau hak kebebasan beragama, hak kebebasan berpendapat. Tentu dalam soal G. Padang ada masalah praktis lain, seperti penggunaan anggaran Negara, masalah kerusakan lingkungan, kerusakan cagar budaya dsb.

Namun demikian munculnya teori-teori off the mainstream science dapat menimbulkan masalah dalam pendidikan ilmu kebumian. Tentu sebagaimana pendidikan geologi di seluruh dunia pendidikan geologi di Indonesia mengikuti mainstream geology, di mana secara tegas columnar joints yang diperdebatkan ini dinyatakan sebagai gejala alam dan dapat dijelaskan dengan penciutan magma/lavayang membeku. Dengan digembar-gemborkannya oleh media masa akan adanya piramida di G. Padang yang jelas terdiri dari columnar joints itu saya kira akan juga mempengaruhi persepsi mahasiswa akan terjadinya gejala ini sebagai buatan manusia (yang tentunya lebih menarik), walaupun bertentangan dengan penjelasan yang diberikan di ruang kuliah dengan alasan kebebasan akademis dalam menyatakan pendapat, dan muncul lah pada peta geologi mereka pyramid atau bangunan puba  setiap kali diketemukan columnar jointing. Saya tidak tahu apakah pandangan Pak Danny dan Pak Andang ini hanya terbatas pada columnar jointing yang ada di G. Padang saja atau untuk semua columnar jointing. Bagaimana pula jadinya kalau setelah lulus dari S-1 di Indonesia kemudian melanjutkan pasca sarjana di luar negeri, dan waktu diinterview mengidentifikasikan gambar Devil’s Tower di Wyoming itu sebagai buatan manusia (atau aliens dari ruang angkasa?)

Masalah ini pernah terjadi pula di sekitar tahun 90-han di mana salah seorang gurubesar yang sangat senior mengajarkan secara fanatik teori delapsi. Teorinya sendiri sebetulnya masih termasuk dalam mainstream geology, yang dihasilkan dari disertasi doktor di Universitas Utrecht di Negeri Belanda yaitu suatu kombinasi antara tektonik, pelengseran dan sedimentasi. Namun caranya Prof Sartono alm (now it can be told)  mengaplikasikan teori adalah sangat berlebihan dan diberlakukan di semua lingkungan tektonik. Padahal teori ini sebetulnya dikembangkan untuk suatu lingkungan palung dalam subduction. Anehnya Prof Sartono alm (bersama dengan Dr. Moh Koesmono alm dari Unpad) sama sekali tidak bisa menerima teori plate-tectonics. Menurut beliau semua struktur geologi itu hasil dari proses delapsi, dan hasilnya semua bidang perlapisan itu kacau balau teracak-acakan, sehingga tidak adanya gunanya untuk dilakukan pengukuran strike and dip. Beliau itu membimbing banyak mahasiswa untuk thesis lapangan di ITB, Unpad maupun di UPN yang disponsori instansi maupun perusahaan (a.l. Caltex di Sumatra Tengah). Maka pada peta geologi yang dihasilkan para mahasiswa itu tidak tertera satupun strike&dip, apalagi keberadaan struktur lipatan seperti antiklin dan sinklin, hanya batas-batas penyebaran litologi dan sesar/patahan saja, padahal daerah pemetaan mereka itu berdasarkan peta dari P3G jelas terdapat struktur lipatan, a.l. daerah Sumatra Tengah, di mana pada puncak-puncak antiklin di dapatkan lapangan minyak yang terkenal seperti Duri dan Minas. Juga kolom stratigrafinya yang muncul menjadi off the mainstream stratigraphy. Pada sidang ujian sarjana jelas ini menjadi masalah. Walaupun kami pada umumnya lebih junior dan belum jadi gurubesar, tetapi kami tentu tidak dapat menerima hal ini untuk meluluskan si mahasiswa ini dalam sidang. Di lain pihak kamipun  tidak dapat pula mempersoalkan hal ini pada beliau secara langsung karena selain kami menghargai beliau yg sudah sangat senior, juga memang kami harus menghormati  kebebasan akademis untuk berbeda pendapat, karena debat dengan beliau tidak akan ada gunanya. Saya tidak ingat betul bagaimana akhir penyelesaiannya, namun seingat saya si mahasiswa terpaksa kembali ke lapangan untuk mengukur strike and dip dan selanjutnya mereka membuat 2 versi laporan, satu versi untuk pembimbingnya, dan versi utama untuk yang lainnya dan sponsor pemetaan (a.l. Caltex). Mungkin di antara pembaca ada yang pernah jadi korban peristiwa ini dan dapat menceritakan apa yang selanjutnya terjadi.

Juga yang jadi masalah adalah penggunaan dana pemerintah untuk penelitian dalam ilmu ataupun konsep/teori yang  di luar mainstream science. Dalam hal penggunaan anggaran negara memang suatu pemerintahan modern selalu akan bersandarkan/berorientasi pada main-stream science, yang terlihat dalam pengangkatan pejabat dalam instansi-instansi yang berlandaskan science dan teknologi yang didukung oleh masyarakat  ilmiah yang diakui secara internasional. Begitupun dengan Indonesia, Presiden tak mungkin akan mengangkat Menteri Kesehatan seorang ahli penyembuhan alternatif, tentu akan ditentang oleh Ikatan Dokter Indonesia yang diakui secara internasional oleh mainstream medical profession, walaupun sangat banyak masyarakat Indonesia yang lebih percaya pada pengobatan alternative dari pada ke dokter.  Namun pernah pula terjadi di Indonesia (zaman Gus Dur) di mana Menteri Riset-nya ingin melakukan riset mengenai jin. Jika Indonesia ini menganggap dirinya sebagai negara modern maka , maka undang-undang dari Negara ini harus pula berdasarkan main-stream science. Dalam hal ini kita bermasalah karena anggota DPR masih sangat banyak yang percaya sama klenik, seperti halnya dengan undang-undang mengenai santet, yang oleh mainstream science jelas tidak diakui keberadaannnya. Mungkin saja di dalam DPR yang ingin mendukung penelitian pyramid.

IAGI - LogoDi sinilah sebetulnya peranan dari IAGI dan reputasi IAGI dipertaruhkan, jika ingin diakui secara internasional. Di satu pihak tentu IAGI ingin para anggotanya untuk bebas berpendapat, bagaimanapun absud-nya pendapat itu, di lain pihak tentu ingin diakui sebagai masyarakat ilmiah internasional, yang jelas mengikuti mainstream geology. Apakah columnar joints ini dapat diterima sebagai buatan manusia oleh mainstream geology?

Yang krusial dini adalah dalam hal penerbitan IAGI. Apakah IAGI akan mau menerbitkan dalam majalahnya, sebagai suatu mainstream scientific journal,  teori piramid ini sebelum benar-benar terbukti secara visual, di mana dengan mata kepala dapat melihat adanya ruangan yg dapat diyakini sebagai buatan manusia dengan keberadaan aftefak di dalamnya seperti pada dindingnya. Boleh jadi dalam suatu presentasi di PIT IAGI ini masih bisa dimungkinkan, karena biasanya tidak di refferied. Bahkan nilai kum dari presentasi itu dalam naik jabatan fungsional di instansi pemerintah adalah rendah.

Namun demikian kita simak mengenai Bull AAPG yang sangat terkenal di dunia internasional ini. Pada akhir tahun 1960-an teori plate-tectonics ini sudah mulai diakui oleh masyarakat ilmiah dunia. Namun pada waktu itu Chief Editor dari AAPG dipegang oleh A.A. Meyerhoff yang menentang teori plate-tectonics, yang sempat menerbitkan artikel oleh dirinya sendiri(?) mengenai data-data dari Iceland yang bertolak belakang dengan teori spreading center. Di awal 70-han beliau diganti sebagai chief editornya, dan muncullah teori-teori mengenai plate-tectonics yang sudah diterima keberadaannya sebagai sesuatu yang nyata. A.A. Meyerhoff sendiri mempunyai teori alternatif yang diberti nama”Surge Tectonics”, namun beliau mengalami kesulitan untuk menerbitkannya, termasuk dalam AAPG Bull, dan dalam scientifc journal dunia yang terkemuka, karena selalu ditolak. Bayangkan seseorang yang pernah berkuasa untuk menentukan diterima atau tidak suatu artikel dalam suatu scientific journal yang sangat bergengsi mendapatkan kesulitan untuk menerbitkan dalam suatu mainstream scientific journals. Menjelang ajalnya akhirnya artikel yang cukup tebal (60 hal) diterbitkan juga oleh Journal of Southeast Asia Geosciences. Namun teori ini diabaikan (ignored) oleh masyarakat ilmiah (mainstream), walaupun sangat menarik dalam menjelaskan gejala-gejala geologi yang selama ini sulit dijelaskan tanpa plate-tectonics. Di lain pihak Bull AAPG setelah Meyerhoff juga menerbitkan makalah mengenai teori dari Rusia mengenai terbentuknya minyak bumi secara anorganik, yang sampai kini teori ini tidak diterima oleh masyarakat mainstream geology.

Kembali ke masalah G. Padang, saya kira pihak yang ingin melanjutkan penelitian mengenai keberadaan piramid ini silahkan saja. Kebebasan ilmiah harus dijamin negara, namun tentu harus sesuai ketentuan yang ada, seperti tidak merusak/membahayakan  cagar budaya, atau gejala alam lainnya. Kalau pintu untuk masuk ke ruangan dalam piramid itu sudah diketemukan, singkirkan bongkah2 yang menghalangi terowongan selanjutnya, saya kira kerusakan yang akan ditimbulkan dapat diminimalkan. Mungkin bisa dilakukan horizontal core-drilling yang dampaknya terhadap lingkungan akan sangat minimal, dan begitu suatu ruangan diketemukan diintai dengan camera yg diusung dengan kabel flexible. Dalam hal kegiatan ini gagal untuk membuktikan keberadaan piramid,  core-samples-nya tetap masih bermanfaat dan dapat digunakan untuk research dalam petrologi dari suatu volcanic neck  Hindari penggunaan dana pemerintah, himpunlah dari dana masyarakat kaya, yang mendambakan suatu miracle dengan diketemukannya kejayaan masa lalu, dan mengharap dapat kembali modal dengan berkembangnya pariwisata. Juga yang penting adalah kapan harus berhenti, jangan seperti terjadi di salah satu negara di Europa Timur (ex Yugoslavia kalau tidak salah) di mana seseorang berkeyakinan pula keberadaan suatu piramid di bawah suatu gunung berbentuk kerucut mendapakan dana untuk melakukan penggalian dengan terowongan. Sesudah bertahun-tahun penggalian terowongan yang sudah ratusan meter  itu tidak pula menemukan ruangan yang diharapkan. Beberapa orang geologist pernah menyelinap masuk ke dalamnya, dan batuan yang ditembus diyakini adalah gejala alam. Namun sang fanatik piramid tetap melanjutkan penggaliannya, masih berkeyakinan bahwa sesuatu waktu pembuktian akan tiba. Di lain pihak pariwisata pun berkembang, bahkan menghasilkan sumbangan dana untuk melanjutkan penggalian itu.

Saya orang penggemar film2 mengenai Atlantis, Bermuda Triangle, Paleo-aliens, UFO dan sebagainya sebagai hiburan yang sehat. Dalam hal G. Padang saya mempunyai pikiran terbuka, tetapi saya tetap seorang mainstream geologist yang berkeyakinan pada field geology dengan field observationnya.. All geophysical interpretations must be subject to testing. Saya baru akan percaya akan keberadaan piramid di bawah G.Padang kalau ruangan di dalam perut gunung ini sudah terlihat secara visual secara meyakinkan buatan manusia dengan keberadaan artefak-nya.

Sebagai penutup saya ingin mensitir suatu pepatah yang berlaku  dalam industri minyakbumi sektor non-real :

“ALL PROSPECTS ARE GOOD UNTIL YOU DRILL”

Dalam portfolio perusahaan minyak, blok yang menunjukkan adanya prospect-prospect hasil tafsiran geologi/geophysics itu mempunyai nilai ekonomis tinggi (bahkan dapat meningkat sesuai dengan peningkatan harga minyak)  sampai prospect itu dibor, karena hasil pemboran itu dapat menaikkan nilainya sampai berlipat ganda, tetapi nilainya bisa turun sangat drastic, jika ternyata kosong. Jadi janganlah dibor jika Anda  meninginginkan nilai portfolio-nya stabil..

Ciburial,  Bandung  tanggal  6 Mei 2013 jam 02.00

R.P.Koesoemadinata

Comments

  1. Rahmawan Helmi says:

    Kontroversi . . . itulah berkah dari yang maha kuasa, perbedaan sudut pandang, atau perbedaan pespektif merupakan bagian dari sistem pembelajaran. Makanya sabtu 22 Juni 2013 ini saya ikut nebeng HAGI ikut menjenguk sang sumber kontoversi.
    Berminat ? kita bareng start dari depan Gerbang itb – Jln Ganesha 10.

  2. betul Prof, sangat memprihatinkan batu columnar joint basalt dikondisikan sebagai batu buatan manusia. bahkan diplintir sebagai batu “gamelan” yang bisa mengeluarkan musik yang indah. menurut saya ahli geologi yang berbicara pada penelitian gunung padang telah keluar dari bidang keahliannya jika harus bersinggungan dengan keilmuan yang tidak masuk dalam kompetensinya dalam hal ini Arkeologi. lebih mengagetkan lagi hasil boring yang didapati berupa pasir halus direpresentasikan sebagai pasir ayak hasil campur tangan manusia, padahal pasir pada daerah tertentu seperti di lumajang pasirnya sangat halus padahal material tersebut terjadi secara alamiah. punden berundak yang di klaim sebagai turap penahan tanah buatan juga sebenarnya columnar joint basalt, sy khawatir nanti permukaan vertikal columnar joint basalt disangka sebagai “paving stone” buatan manusia sperti yang dilakukan di Bosnia, kajian preseden mengenai ini sudah ada Prof. di Bosnia ada arkeolog amatir yang mengklaim gunung sebagai Sun Pyramid, mereka menggali lorong2 dan tidak menemukan apa2. terakhir saya lihat foto disana menunjukkan lelehan lava yang membentuk lempengan2 batu persegi yang mengering di klaim sebagai “ancient pdestrian way”. sangat menyedihkan. kesimpulan terakhir telah dibuat keputusan oleh komunitas arkeologi dunia bahwa Pyramid di bosnia ini adalah sebuah kebohongan Ilmiah terbesar.

Speak Your Mind

*