Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Yogyakarta, September 2018. IAGI – Dalam rangka memperingati Hari Pertambangan Nasional yang tahun ini jatuh pada hari Jumat tanggal 28 September 2018, Jajaran Pengurus Daerah Ikatan Ahli Geologi Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (Pengda IAGI DIY) mengadakan acara melacak lokasi gugurnya Pahlawan Nasional Arie Frederik Lasut. Pelacakan dilakukan pada hari Senin tanggal 17 September 2018. Acara ini didahului dengan rapat Pengurus Pengda bertempat di Ruang Sidang, Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.

      Rapat dipimpin oleh Ketua Pengda Dr. Arifudin Idrus, yang didampingi oleh Sekretaris Pengda Dr. Sutarto. Rapat dihadiri oleh  beberapa Penasehat dan Pengurus Pengda yaitu Prof. Dr. Ir. Subagyo Pramumijoyo, DEA, Ir. Wartono Rahardjo, Dr. Ir. Ev.Budiadi, Dr. Eko Teguh Paripurno, Dr. Hill Gendoet Hartono, Ir. Koesdaryanto, MSc., Dr. Didit Hari Barianto dan Dr. Nugroho Imam Setiawan.  Hadir pula pada kesempatan itu Prof. Emeritus Adjat Sudradjat, mantan ketua IAGI periode 1982-1983 yang sedang berada di Yogyakarta. Rapat membahas rencana pelaksanaan seminar nasional dalam rangka penyusunan Buku Geologi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Rencana Pelacakan Lokasi Gugurnya Pahlawan Nasional Arie Frederik Lasut. Atas usul salah seorang peserta, maka diputuskan untuk mengadakan peninjauan lapangan setelah selesai dilakukan rapat, dengan merujuk kepada referensi yang ada berkenaan dengan lokasi gugurnya Pahlawan Nasional Arie Frederik Lasut tersebut.

      Sebagaimana diketahui, Arie Frederik Lasut memimpin penyelamatan dokumen geologi dan pertambangan Indonesia dari pengambilalihan oleh Pihak Sekutu dan mengungsikannya ke Yogyakarta. Para pegawai Jawatan Pertambangan merebut dengan paksa kantor Jawatan  Pertambangan yang berlokasi di Bandung dari kekuasaan Jepang pada tanggal 28 September 1945. Tanggal itulah yang kemudian ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Hari Pertambangan.

      Berdasarkan referensi yang sejauh ini sudah dapat digali, diketahui bahwa ketika Belanda menyerbu Yogyakarta, Arie Frederik Lasut yang memimpin Jawatan Pertambangan Republik Indonesia diculik oleh “Tijger Brigade” dari rumahnya di Pugeran Yogyakarta dan dibawa ke arah Kaliurang. Penduduk menemukan sesosok mayat di suatu lokasi di sebelah timur Sekip di tepi jalan menuju ke Kaliurang. Oleh penduduk, mayat tersebut dimakamkan di dekat lokasi. Kemudian diketahui bahwa  mayat tersebut adalah jenazah Bapak Arie Frederik Lasut. Pemerintah memindahkan jenazah tersebut ke Pemakaman Kerkhoff berdampingan dengan istri beliau yang telah mendahului sebagaimana keinginan beliau ketika masih hidup.

      Lokasi gugurnya Pahlawan Nasional Arie Frederik Lasut sampai sekarang masih misteri dan belum diketahui dengan pasti. Lokasi pengenalan hanya menunjukkan kata kunci “tepi jalan menuju Kaliurang di sebelah timur Sekip”. Sehubungan dengan itu dalam rangka memperingati hari Pertambangan dan menghormati Pahlawan Nasional Arie Frederik Lasut, Pengda IAGI Daerah Istimewa Yogyakarta mengambil inisiatif untuk dapat menentukan lokasi itu berdasar data dan referensi yang ada. Lokasi akan diukur dengan GPS dan hasilnya akan diajukan melalui IAGI Pusat untuk dapat ditetapkan sebagai lokasi resmi dengan menggunakan koordinat.

      Pada pembahasan mengenai lokasi tersebut telah muncul penjelasan dari Bapak Wartono Rahardjo, bahwa Sekip adalah merupakan kata Belanda yang artinya lapangan tembak atau Schieten Plein yang oleh penduduk setempat diucapkan sebagai Sekip. Bahkan Bapak Wartono menjelaskan bahwa pada tahun 1960 lapangan tembak itu masih merupakan lahan terbuka yang memiliki tanggul setinggi lebih kurang dua  meter dengan panjang lebih dari 100 meter. Tanggul itu berfungsi sebagai penahan peluru. Tanggul memanjang pada arah Barat Timur, sedangkan lapangan tembak pada arah Utara Selatan atau sejajar dengan Jalan Yogya-Kaliurang.

       Pada peninjauan lapangan yang dilakukan sesudah selesai rapat, lokasi lapangan tembak ditunjukkan oleh Bapak Wartono Rahardjo. Sekarang di lokasi itu berdiri beberapa gedung. Selanjutnya dilakukan peninjauan ke lokasi yang diduga tempat ditemukannya jenazah Bapak Arie Frederik Lasut yaitu di tepi jalan Kaliurang, sebelah Timur dari lapangan tembak. Sambil menunggu penelitian lebih lanjut, antara lain mencari informasi dari peta lahan Universitas Gadjah Mada, maka untuk sementara lokasi yang terletak di sebelah Timur lapangan tembak itu disepakati sebagai lokasi yang diduga kuat sebagai tempat ditemukannya jenazah Pahlawan Nasional Arie Frederik Lasut.

      Pengukuran koordinat dilakukan saat pengecekan lapangan. Hasil pengukuran ini merupakan hasil sementara yang memerlukan pengecekan dan penetapan lebih lanjut oleh Pengda IAGI DIY. Namun sebagai catatan sementara dan tidak resmi angka koordinat tersebut adalah 7o 46’ 11’ LS/ 110o 22’ 37” BT/  Elevasi 152,2m di atas permukaan laut, diukur pada 17 Sep 2018, pukul 16:01:39. (AI/Pengda IAGI DIY/ Biro Media IAGI)

        penelusuran_AFLasut_ft2

      Suasana Rapat dipimpin oleh Dr. Arifudin Idrus Ketua Pengda IAGI DIY, didampingi oleh  Dr. Sutarto Sekretaris Pengda IAGI DIY, Prof. Adjad Sudrajad, Dr. Eko Teguh  dan Prof. Subagyo Pramumijoyo.

      penelusuran_AFLasut_ft1

      Bapak Ir. Wartono Rahardjo berdiskusi dengan Prof. Subagyo Pramumijoyo tentang lokasi gugurnya pahlawan Arie Frederik Lasut, disaksikan Dr. Arifudin Idrus.

       penelusuran_AFLasut_ft3
      Ketua Pengda IAGI DIY Dr. Arifudi Idrus diikuti Prof Subagyo dan Dr. Sutarto sedang menelusuri Jalan Kaliurang di wilayah sebelah timur Sekip.

      penelusuran_AFLasut_ft4
      Bapak Wartono Rahardjo sedang menjelaskan situasi lokasi pada tahun 1960an. Tampak Prof Adjat mencatat dan disaksikan oleh Dr Hill (Gambar kanan).
      (Potret-potret oleh Kusdiyono, BPPTKG Yogyakarta)

      Comments

      comments