Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • MENGENAL SESAR MATANO & GEMPANYA


    • Sesar (patahan) Matano merupakan salah satu sesar yang aktif di daratan Sulawesi yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara. Di daratan Sulawesi, sesar ini terukur sepanjang 170 km mulai dari daerah pantai Bahodopi di Teluk Tolo, ke arah barat laut melewati sepanjang lembah Sungai Larongsangi ke area di sebelah utara Desa Lampesue, Petea, sepanjang pantai Danau Matano, Desa Matano dan menyambung di barat laut dengan lembah Sungai Kalaena. Meski masih menjadi perdebatan, beberapa ahli seperti Tjia dan Hamilton mempercayai bahwa sesar ini menyambung jauh ke timur dengan Sesar Sorong yang ada di Papua.
      Mekanisme sesar ini adalah sesar geser kiri dengan pergeseran relative 5 mm/tahun. Secara kolektif sejak terbentuk, sesar ini telah menghasilkan total pergeseran batuan kurang lebih 20 km ke arah barat laut, ditandai dengan batuan-batuan di utara jalur sesar yang bergeser sepanjang sekitar 20 km tadi. Sesar ini terbentuk sebagai hasil dari pergerakan lempeng Samudera Pasifik yang bergerak ke arah barat. Pergerakan ini telah menghasilkan gaya tekan di wilayah bagian timur Indonesia yang selanjutnya menghasilkan retakan yang panjang mulai dari kepala burung Papua sampai daratan Sulawesi. Seiring dengan tekanan yang terus berlangsung akibat pergerakan dari arah timur tersebut, pergerakan ini akhirnya menghasilkan gerakan di sepanjang retakan tersebut dan akhirnya terbentuklah sebuah sesar. Arti sesar sendiri secara simple adalah retakan di kulit bumi dimana sudah ada pergerakan di sepanjang retakan tersebut.
      Pada sesar besar, umumnya sesar tidak hanya terdiri dari satu garis lurus, tetapi merupakan kumpulan beberapa sesar sejajar yang berdekatan dan membentuk suatu zona sesar yang panjang. Ini juga yang terjadi di Sesar Matano. Di Sorowako, area di antara sesar-sesar yang sejajar tersebut membentuk lembah besar dan dalam, berupa Danau Matanao. Lembah ini terbentuk dari dua sesar sejajar yang memanjang di sepanjang kedua sisi utara dan sisi selatan Danau Matano.
      Gempa pada dasarnya adalah release dari akumulasi gaya tekan yang ada di pada sesar tersebut. Saat gaya tekan tidak bisa ditahan lagi, batuan di sepanjang retakan akan bergerak dan gerakan ini disertai getaran yang disebut dengan gempa bumi. Ini seperti jika kita punya penggaris mika tipis lalu kita tahan satu sisi dan kita dorong sisi kedua ke arah sisi pertama. Saat penggaris mika tadi tidak kuat lagi untuk menahan gaya tekan akibat dorongan yang terjadi terus menerus, pada akhirnya penggaris akan patah dan bergetar seperti halnya gempa bumi. Mungkin itu ilustrasi yang mudah soal bagaimana gempa terjadi.
      Khusus untuk Sesar Matano, ada kemungkinan dua sesar di sepanjang pantai sisi utara dan sisi selatan danau Matano ikut bergerak saat gempa, itulah kenapa kota Sorowako sering ikut merasakan gempa, meskipun pusat gempa bisa jadi jauh dari kota Sorowako. Daerah yang ada di sepanjang pantai Danau Matano bisa jadi juga akan mengalami getaran yang lebih besar dibanding daerah yang lain di sebelah utara atau selatannya. Semakin dekat ke jalur sesar, intensitas getaran biasanya semakin besar. Maka di seputar Sorowako, semakin dekat ke danau, intensitas getaran yang dirasakan kemungkinan juga akan semakin besar.
      Akhirnya, gempa itu fenomena alam biasa, bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dikenali. Gempa tidak bisa dihindari, tetapi potensi resiko terhadap nyawa dan harta benda bisa dikurangi/dimitigasi. Bagi yang terbiasa bekerja di tambang, kita terbiasa dengan aturan safety untuk meminimalisir resiko. Sehari-hari pekerja tambang bekerja untuk meminimalisir resiko supaya tetap selamat saat pulang kerja. Seperti itu jugalah cara bersahabat dengan gempa. Behaviour seperti inilah yang membuat negara maju seperti Jepang mengembangkan teknologi bangunan tahan gempa. Mereka juga mengajari anak-anak mereka sejak kecil untuk tahu apa yang harus dilakukan saat ada gempa . Sehingga meski dilanda gempa besar berkali-kali, jumlah korban jiwanya relatif sedikit. Intinya adalah kenali resiko, lakukan langkah-langkah mitigasi. Dan tentu saja jangan lupa selalu berdoa. Bukankah manusia itu memang diwajibkan untuk selalu berdoa & berusaha?
      Sorowako, 180617 – 00.25 AM
      Budhi Kumarawarman
      https://www.facebook.com/budhi.kumarawarman/posts/10213707612513526
      Gambar dari Parkinson & Dooley (1996)
      Sesar Matano

      Comments

      comments