Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Dr.Eng. Ir. Adi Maulana, ST.M.Phil.

      Kepala Pusat Studi Kebencanaan

      LPPM Universitas Hasanuddin
      Logo_Unhas

      Untuk kesekian kalinya, bangsa kita mengalami kedukaan dengan terjadinya gempa bumi yang diikuti dengan tsunami di Sulawesi Tengah, khususnya Palu dan Donggala. Masih belum pulih duka dan ingatan kita akan dampak gempa yang terjadi di Lombok beberapa bulan yang lalu. Lebih jauh ke belakang, bencana gempa dan tsunami di Aceh meninggalkan sejuta cerita pilu yang tidak akan habis diceritakan sampai anak-cucu. Bencana alam tersebut tidak hanya terjadi di satu kali ditempat-tempat tersebut, tetapi berkali-kali ditempat yang lain dengan dampak yang sangat besar baik dalam bidang sosial, ekonomi, sosial dan budaya. Korban jiwa yang tidak ternilai harganya yang disertai dengan hancurnya infrastruktur memberikan kerugian ekonomi bangsa yang sangat besar secara finansial. Namun yang paling tidak ternilai adalah kerugian sosial bahwa bencana tersebut akan menimbulkan efek traumatik berkepanjangan bagi masyarakat yang mengalaminya yang tentu saja akan mempengaruhi perjalanan hidup mereka entah sampai kapan.

      Ditengah masifnya pembangunan infrastruktur di negara kita sebagai salah satu nafas dari nawa cita, tentu saja fenomena bencana ini menjadi sangat penting untuk dikaji dan diselesaikan.

      Kejadian bencana yang berulang-ulang ini kemudian menimbulkan pertanyaan apa saja yang telah kita lakukan selama ini untuk mengatasi masalah ini. Bencana yang berulang-ulang seakan-akan tidak memberikan pelajaran berharga bagi kita, pemerintah dan masyarakat, untuk bangkit dan membuat sebuah konsep mitigasi atau pencegahan yang kemudian diharapkan mampu meminimalkan resiko dari bencana.

      Tulisan ini dibuat untuk menggugah kesadaran kita sebagai bagian dari bangsa dan negara yang besar untuk memahami bahwa bencana adalah bagian dari negara kita dan kita harus berupaya untuk sadar akan keberadaan bencana tersebut. Kita harus mampu memperlihatkan kepada dunia dan negara lain bahwa negara yang besar ini mampu dan siap melindungi segenap manusia yang ada di dalamnya dalam menghadapi bencana. Kesadaran akan bencana harus dimiliki oleh segenap komponen bangsa, dari semua tingkatan usia, semua jenis profesi, semua tingkatan sosial sehingga usaha untuk mencapai tujuan negara yaitu mencapai kesejahteraan umum tidak mengalami hambatan berarti dan dapat tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama.

      Dalam konteks menuju negara yang sadar bencana, hal yang pertama yang wajib dan harus diketahui oleh seluruh komponen bangsa ini adalah mengetahui dan memahami kondisi geologi negara kita. Pengetahuan dan pemahaman ini penting dilakukan karena modal dasar pembangunan sebuah negara akan sangat ditentukan dari kondisi geologi negara tersebut.

      Negara kita merupakan negara kepulauan terletak pada bagian bumi yang terbentuk dari hasil interaksi setidaknya tiga lempeng penyusun bumi. Layaknya seperti puzzle, bumi disusun oleh beberapa kepingan-kepingan atau bagian yang disebut dengan lempeng, terdiri dari lempeng samudera (oceanic plate) dan lempeng benua (continental plate). Bumi merupakan sebuah sistem yang sangat dinamis dan selalu mencapai keseimbangan. Dinamika bumi ini dihasilkan oleh adanya sebuah arus konveksi yang bekerja pada inti bumi yang diakibatkan oleh tekanan dan temperatur. Arus inilah yang kemudian menggerakkan lempeng-lempeng penyusun bumi sebagai manifestasi dari gaya yang dihasilkannya.

      Lempeng bumi yang membentuk kepulauan Indonesia yaitu antara lain Lempeng Eurasia pada bagian barat yang cenderung stabil dan membentuk Indonesia bagian Barat yang meliputi Sumatera, Kalimantan sampai dengan Jawa. Lempeng Indo- Australia menyusun bagian selatan kepulauan Indonesia dengan pergerakan relatif ke utara. Pergerakan ini mengakibatkan bertemunya lempeng ini dengan lempeng Eurasi yang kemudian membentuk suatu zona tunjaman ke bawah Lempeng Eurasia dan menghasilkan suatu jajaran gunungapi memanjang dari ujung utara Sumatera sampai dengan Nusa Tenggara yang dikenal juga dengan ring of fire. Lempeng ketiga yaitu Lempeng Pasifik pada bagian timur dengan pergerakan relatif ke barat bertemu dan bertumbukan dengan lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia, lalu membentuk sebagian besar kepulauan bagian timur Indonesia.

      Secara geologi interaksi ketiga lempeng tersebut terjadi sejak ratusan juta tahun yang lalu yang kemudian mengakibatkan rumitnya struktur dan susunan batuan di Negara Kepulauan ini. Bagaikan dua sisi mata uang, batas-batas lempeng tersebut saling berinteraksi satu sama lain pada saat-saat tertentu yang akan memberikan konsekuensi, yaitu 1) pembentukan sumberdaya alam berupa mineral ekonomis, minyak dan gas bumi; 2) tingginya aktifitas seismik yang menghasilkan gempa bumi, tsunami, tanah longsor serta gunungapi. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa betapa aspek geologi menjadi aspek penting yang harus dijadikan sebagai pertimbangan dalam kebijakan pembangunan suatu negara.

      Batas-batas lempeng yang ada di kepulauan Indonesia ini akan menghasilkan kondisi seismisitas atau kegempaan yang tinggi dan memicu terjadinya gempa bumi yang kadangkala diikuti oleh tsunami pada kondisi tertentu. Kondisi ini juga akan menyebabkan terjadinya tanah longsor pada daerah daerah ketinggian yang disusun oleh bebatuan yang tidak stabil, serta akan menghasilkan jajaran gunungapi dengan letusan secara eksplosif ataupun efusif. Bisa dikatakan kondisi inilah yang kemudian bertanggungjawab terhadap potensi kebencanaan yang ada di negara kita.

      Kondisi kegempaan atau seismisitas yang ada di Indonesia mencapai 10 % dari total seismisitas yang ada di dunia (Ritsema, 1954). Sebagian besar episenter terdapat pada jalur yang membentuk busur mengelilingi Sumatera-Jawa-Banda dan memanjang sampai ke utara melewati Sulawesi menuju Filipina (Gambar 1).

      Kebanyakan dari permukaan gempabumi ini berada di kedalaman dangkal (kurang dari 60 km) yang artinya akan sangat berdampak pada kerusakan massif di permukaan bumi. Penyebarannya sangat luas dan konsentrasi terbanyak terdapat di Sumatera dan di bagian baratnya, bagian selatan Jawa, di cekungan Banda, Nusa Tenggara, di bagian barat New Guinea dan di antara Sulawesi bagian tengah dan bagian utara, Halmahera dan Filipina.

      Sabuk seismisitas dengan kedalaman episenter yang menengah (berkisar antara 100 km sampai 300 km) dapat dijumpai disepanjang pantai barat Sumatera, dan di sepanjang garis pantai Jawa bagian selatan.

      Sabuk lainnya terletak di Sunda kecil , di antara Sumbawa dan laut Banda. Juga dapat dijumpai sabuk lain yang memanjang dari lengan utara Sulawesi ke bagian timur Mindanao. Episenter atau pusat gempa dari seismisitas dengan kedalaman menengah ini kebanyakan berada di bawah laut dan tampaknya bertemu dengan bagian bawah busur gunungapi dalam. Hal ini dapat dilihat dengan baik di bagian barat Sumatera, bagian selatan Jawa dan di antara Flores dan Timor. Kenampakan yang sama juga dapat dijumpai di antara daerah Sulawesi-Mindanao dan pulau Halmahera.

      Gempabumi dengan kedalaman dangkal yang dapat menimbulkan efek gempa besar dapat dijumpai pada cekungan laut Flores yang kemudian menimbulkan gempa Lombok beberapa waktu yang lalu, laut Sulawesi dan laut Banda.  Di darat, gempa bumi dangkal terjadi di sepanjang sesar Sumatera, di sepanjang sesar Fossa Sarasin di Sulawesi dan sepanjang sesar Palu-Koro dan Sesar Gorontalo, serta di daerah Papua, disepanjang zona sesar Sorong.

      Gempa-gempa tersebut akan menjadi sangat merusak apabila melewati kota-kota atau permukiman yang berada di atas formasi batuan yang terdiri dari material lunak dan tidak terkonsolidasi yang disebut dengan endapan alluvial. Endapan alluvial ini disusun oleh material berukuran bongkah sampai dengan pasir, dan lempung yang lunak dan tidak padu. Getaran dari gempa dapat menimbulkan fenomena alam yang disebut dengan likuifaksi, yaitu kondisi dimana tanah kehilangan kekuatan daya ikatnya atau daya kohesifitasnya pada zona jenuh air akibat getaran yang disebabkan oleh gelombang S (S-waves) yang dihasilkan oleh gempa bumi. Hampir semua kota yang ada di Indonesia terletak di atas endapan alluvial yang sangat rentan terhadap fenomena alam yang dikenal dengan likuifaksi ini. Akibat yang dihasilkan oleh liquifaksi ini dapat kita saksikan pada daerah Petobo dimana pemukiman padat penduduk mengalami amblesan sesaat setelah gempa.

      Dari penjelasan umum diatas, kita bisa mengetahui bahwa memang kondisi kebencanaan terutama kegempaan yang ada di negara kita sangat intensif. Gempa ini kemudian akan men-trigger munculnya bencana-bencana yang berasosiasi dengannya yaitu tsunami, tanah longsor dan gunungapi. Dampaknya tentu saja akan menghasilkan bencana sosial yang sangat merugikan masyarakat baik dari segi fisik maupun mental. Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa memang kita hidup di daerah yang sangat rawan dari bencana, baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar.

      Dengan memahami kondisi geologi negara kita diharapkan masyarakat luas, terutama pemerintah daerah dan masyarakat yang bermukim di wilayah-wilayah yang secara geologi berada di wilayah rawan kegempaan, dapat melakukan antisipasi sejak dini bisa pada saat gempa terjadi. Memang secara absolut kita tidak bisa menentukan kapan suatu gempa akan terjadi, tetapi dengan modal pemahaman geologi yang ada paling kita bisa mengetahui titik-titik atau lokasi dimana gempa tersebut terjadi sehingga dapat meminimalkan akses yang akan ditimbulkan oleh gempa tersebut.

      Pemahaman tentang kondisi geologi juga bisa dijadikan sebagai salah satu acuan bagi pemerintah dalam membuat sebuah kebijakan pembangunan yang berkelanjutan di setiap daerah dan sebagai acuan bagi pembuatan sistem peringatan dini kebencanaan untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia.

      Dibandingkan dengan beberapa negara lain, terutama negara yang mempunyai tatanan tektonik kompleks seperti Jepang, Filipina, Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, negara Indonesia sangat tertinggal jauh dalam pemahaman akan ilmu kebumian . Di Negara-negara tersebut, ilmu kebumian khususnya geologi sudah diajarkan sejak pendidikan dasar dan menjadi kurikulum nasional, sehingga pemerintah sudah tidak perlu lagi mengadakan sosialisasi apabila terjadi bencana alam yang ada kaitannya dengan aktivitas dinamika bumi, seperti gempa bumi, Tsunami, Gunung Api dan tanah longsor. Pun pemerintah di negara tersebut telah menjadikan faktor geologi dalam menentukan beberapa kebijakan pemerintah yang terkait dengan masalah tata ruang dan pemukiman, sehingga kejadian seperti Lumpur Sidoarjo, tsunami Aceh dan Palu, bencana longsor di Sinjai dan bencana lainnya bisa dicegah sejak dini dengan memperhatikan peruntukan lahan yang ada. Daerah yang memang diketahui mempunyai struktur batuan yang tidak stabil atau daerah yang mempunyai tingkat kerawanan akan terjadi longsor serta dilewati oleh sebuah jalur sesar aktif hendaknya direkomendasikan untuk tidak dijadikan sebagai kawasan pemukiman ataupun kawasan industri, sehingga dampak yang ditimbulkannya kelak tidak akan merugikan. Bukankah kerugian yang sekarang dirasakan akibat Lumpur Sidoarjo sampai sekarang masih dirasakan dan entah sampai kapan berakhir ???

      Lewat tulisan ini saya hanya ingin memberi sedikit sumbangan pemikiran bahwa konsep mitigasi kebencanaan akan efektif jika didukung oleh dua pendekatan, yaitu pendekatan secara edukasi (educational approach) dan pendekatan secara birokrasi (bureaucracy approach).

      Pendekatan yang pertama yaitu educational approach hendaknya diterapkan sejak level pendidikan dini, yaitu jenjang sekolah dasar dengan memasukkan bencana alam dalam kurikulum pendidikan kita sampai dengan level sekolah menengah. Sudah saatnya mata pelajaran tentang ilmu bumi (atau lebih populer disebut earth science) dijadikan mata pelajaran wajib dan didalamnya memuat muatan lokal tentang daerah kondisi geologi daerah masing-masing dalam kaitannya dengan kebencanaan. Tentu diharapkan, semua murid murid mempunyai pengetahuan dasar akan kebencanaan dan potensi yang ada di daerah mereka dan dengan sendirinya mereka akan mempunyai kesadaran diri akan hal tersebut (self awareness).

      Pendekatan yang kedua adalah dengan pendekatan birokrasi, yaitu dilakukan oleh pemerintah lokal dalam bentuk kebijakan dan anggaran. Sebagai level pemerintahan yang paling bertanggung jawab akan kondisi daerahnya masing masing, pemerintah daerah diharapkan mempunyai konsep yang jelas dalam memahami potensi kebencanaan daerahnya. Rencana Tata Ruang baik tingkat wilayah provinsi maupun kabupaten harus dibuat dengan memasukkan faktor kebencanaan sebagai parameter inti dalam perancangan pembangunan dan tidak hanya menjadikan faktor ekonomi sebagai faktor utama seperti yang terjadi sekarang ini. Disetiap level provinsi bahkan kabupaten mempunyai instansi teknis (Dinas Energi dan Sumberdaya Alam, BAPPEDA, Dinas Lingkungan Hidup, dll) yang mempunyai tenaga ahli geologi ataupun tenaga earth scientist. Sumberdaya ini bisa dimanfaatkan untuk memetakan potensi bencana yang ada di daerah masing-masing lengkap dengan analisa tentang sumber bencana tersebut. Kerjasama dengan institusi pendidikan hendaknya menjadi agenda yang wajib, mengingat sumberdaya manusia pada perguruan tinggi sangat dibutuhkan dalam menjawab permasalahan terkait kebencanaan baik pra, saat terjadi bencana maupun pada pasca bencana. Kerjasama dengan institusi perguruan tinggi dalam mengkaji hal ini merupakan hal yang banyak dilakukan di negara-negara maju lainnya.

      Akhirnya diharapkan bahwa penanganan bencana di masa yang akan datang bisa lebih tertata. Harus ada upaya terstruktur yang dilakukan dalam menanganinya, dan upaya tersebut akan sangat sulit jika kita tidak memulainya dari sekarang terutama di tengah intensifnya pembangunan infrastruktur dimana-mana.

      Bencana tidak hanya terjadi dalam waktu beberapa tahun, tetapi akan selalu terjadi sampai umur bumi ini habis, dan itu artinya kita tidak akan tahu sampai kapan kita akan terus terancam. Kita harus siap menjadi negara yang siaga bencana. Pengelolaan bencana yang baik dan sistematis harusnya dipandang sebagai modal dasar pembangunan, karena betapa besar cost yang harus dikeluarkan oleh negara apabila bencana terjadi tanpa ada persiapan dalam menghadapinya.

      Undang-undang kegeologian yang sudah sangat lama dirancang, sudah saatnya disahkan karena kondisi geologi harus menjadi salah satu prioritas utama dalam pembangunan nasional. Masifnya pembangunan infrastruktur sebagai nafas dari pemerintah sekarang harus mutlak dibarengi dengan konsep mitigasi bencana alam yang komprehensif, sehingga pembangunan infrastruktur tersebut tidak mubazir karena akan dirusak dengan sangat mudah oleh bencana alam geologi yang terjadi. Pemerintah sudah harus menyiapkan contingency plan dalam setiap kebijakan pembangunan yang di dalamnya menyangkut keselamatan manusia. Kondisi kegeologian harus menjadi modal dasar dalam pembangunan bangsa.

      Kedepan tidak perlu lagi melihat aliran listrik terputus, karena pemerintah daerah dengan perangkatnya sudah menyiapkan genset portable yang siap dioperasikan, tidak akan ada lagi sinyal komunikasi terputus karena pemerintah daerah sudah menyiapkan sambungan telepon seluler agar komunikasi dengan dunia luar tidak terputus, tidak akan ada lagi penjarahan makanan karena stock makanan darurat sudah dipersiapkan sejak jauh hari, tidak akan ada lagi cerita bala bantuan tidak bisa masuk karena kondisi bandara sudah dirancang untuk tahan dari gempa, tidak aka nada lagi bangunan-bangunan public penting seperti rumah sakit dan infrastruktur jembatan dan jalan yang rusak karena semua bangunan tersebut sudah disesuaikan dan mematuhi ketentuan yang telah dibuat berdasarkan kondisi geologi dari daerah masing-masing. Semua pimpinan pada level masing-masing harus mempunyai kesadaran dan pengetahuan bencana yang tinggi akan daerahnya dan menjadikan faktor kebencanaan sebagai referensi dalam pengambilan kebijakan.

      Semoga negara kita bisa menjadi contoh bagi negara lain sebagai negara siaga bencana.

      peta_gempa_ind

      Gambar 1. Peta sebaran titik-titik pusat gempa di Indonesia

      Adi_Maulana1
      Biodata:
      Nama                        : Dr.Eng. Adi Maulana, ST.M.Phil.
      TTL                            : Balikpapan, 28 April 1980
      Pekerjaan                  : Dosen Teknik Geologi Universitas Hasanuddin
      Riwayat Pendidikan     : S-1 Teknik Geologi Universitas Hasanuddin (2003)
                                         S-2 Australian National University, Australia (2009)
                                         S-3 Kyushu University, Jepang (2013)
      Jabatan                     : Kepala Laboratorium Geologi Lapangan UNHAS
                                         Kepala Pusat Studi Kebencanaan UNHAS

      Comments

      comments