Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    •  

      Masyarakat Ahli Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) mengadakan forum yang mencakup pokok bahasan strategis non teknis pertama yang disebut “MGEI Annual CEO Forum”; diadakan di Jakarta pada tanggal 27 Februari 2019 di Hotel Fairmont. Acara dihadiri lebih dari 70 an peserta berdasarkan undangan yang terdiri dari para top level eksekutif perusahaan tambang skala besar, menengah, kecil termasuk perusahaan kontraktor pertambangan, pejabat Departemen dan Badan terkait dari pemerintahan, Bursa Efek Indonesia, perwakilan universitas, asosiasi profesi dan industri pertambangan serta kalangan profesional pertambangan juga insan pers. Acara ini adalah kolaborasi dengan Majalah Tambang, IAGEO UPN, IA GL ITB, IKA GEO UNPAD dan KAGEO GAMA.

      Tujuan utama dari acara ini adalah untuk mendapatkan gambaran nyata dan terkini atas potret dunia bisnis pertambangan Indonesia 2019 dan setelahnya dari para CEO perusahaan tambang di Indonesia nasional maupun multinasional dimana perusahaan-perusahaan tersebut adalah komponen utama penyumbang PDB Indonesia, pembangunan regional dan penyedia lapangan kerja utama dari sektor ini. Para CEO sebagai narasumber diminta memaparkan strategic planning jangka pendek maupun panjang dari perusahaannya yang didalamnya termasuk topik-topik khusus yang secara signifikan akan mempengaruhi warna dunia bisnis pertambangan di Indonesia misalnya proses akuisisi, divestasi, konstruksi,  perubahan atau kendala regulasi, strategi dan lain-lain.

      image003 image001

      Acara ini dicanagkan sebagai cikal bakal acara unggulan tahunan MGEI disamping acara Annual Convention teknis yang telah secara rutin telah berlangsung; yang akan diselenggarakan tiap awal tahun dengan tajuk yang sama yaitu “MGEI Annual CEO Forum” dengan mengangkat tema yang akan menyesuaikan isu-isu yang kontekstual pada saat diadakannya. Dari forum seperti ini diharapkan wajah dunia pertambangan di Indonesia bisa divisualisasikan secara lebih jelas dari sumber pengambil keputusan langsungnya minimal dari sisi komponen penting dalam industri tersebut: pelaku bisnisnya. Forum tersebut juga diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi perusahaan lain untuk menyusun atau menyusun ulang atas rencana-rencana strategisnya dan bagi pemerintah menjadi bahan acuan dalam menentukan kebijakan baik jangka pendek maupun jangka panjangnya.

      Jalannya Forum CEO 2019:

      Optimisme Masih Menyeruak di Bisnis Pertambangan

      ‘’Saya mengajak dunia industri untuk  bersama-sama berkontribusi dalam memikirkan, membagi ide dan masukan untuk perbaikan dunia pertambangan Indonesia ke depan melalui format diskusi atau penyampaian langsung dengan atau kepada pemerintah.’’

      Ajakan itu diutarakan Wakil Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Arcandra Tahar saat menjadi keynote speaker di acara MGEI Annual CEO Forum 2019 pada 27 Februari 2019 di Jakarta. Forum tersebut memilih tema ‘The Depiction of the Indonesia Mining Industry 2019 and Beyond from the CEO’s Perspective’.

      Acara berformat seminar tersebut mengadirkan pembicara di antaranya CEO dari PT Pama Persada, CEO Vale Indonesia, CEO Freeport, CEO Bumi Resource, dan petinggi Inalum. Moderator seminar adalah senior pertambangan Sukmandaru Prihatmoko dan Adi Maryono.

      Apa yang disampaikan Archandra tersebut merespon iklim pertambangan Indonesia yang tidak kunjung seperti yang diharapkan oleh para pelaku bisnis pertambangan. Meskipun tetap diakui pula bahwa Indonesia masih menjadi magnet bagi dunia pertambangan karena potensinya yang sangat besar dan belum tereklorasi secara optimal.

      Perusahaan pun terus melakukan terus ekspansi. PT Pama yang telah sukses di bisnis batubara misalnya, mengakuisisi Martabe untuk masuk bisnis pertambangan mineral ‘’Pama telah melakukan proses transformasi dari sebuah perusahaan kontraktor pertambangan menjadi mining house yang diperhitungkan tidak hanya di batubara tapi juga di emas, tidak hanya tingkat nasional tapi juga regional,’’ kata CEO PT Pama Persada Frans Kesuma.

      Frans juga melihat bahwa eksplorasi sangat penting, karena itu pula Pama mengelokasikan anggaran 15 juta dolar pada 2019 untuk eksplorasi. Kegiatan eksplorasi yang didukung dengan aplikasi teknologi dan sumber daya yang kompeten diyakini  menjadi pondasi bagi Pama menjadi perusahaan kuat seperti sekarang dan akan terus berkembang besar.

      Bertahannya Vale, Freeport, dan Newcrest di Indonesia juga membuktikan bahwa perusahaan tambang asing besarpun masih bisa beroperasi di Indonesia.

      Nico Kanter CEO PT Vale Indonesia membuktikan bahwa Vale tetap di Indonesia dan terus ekspansi. Vale rencananya  membangun dua smelter baru di dua blok KK yang dimilikinya. Mereka akan bekerjasama dan menggunakan teknologi dari China yang terbukti sangat efisien.

      Kegiatan eksplorasi akan terus dilakukan khususnya untuk memastikan potensi di area yang secara regulasi pada akhirnya harus dilepas. Vale secara konsisten bertahan beroperasi di Indonesia dengan mengimplementasikan tata cara penambangan yang baik. ‘Good mining practice adalah kunci utama bagaimana Vale bisa dan akan bertahan,’’ kata Kanter.

      Tony Wenas, CEO PT Freeport Indonesia dalam kesempatan tersebut memberikan pandangan tentang masih sangat besarnya sumberdaya dan potensi cadangan PT FI saat ini, bahkan untuk waktu setelah 2041. ‘’Estimasi masih cukupnya sumberdaya dan potensi cadangan untuk masa 50 tahun setelah 2041 adalah klaim yang sangat wajar,’’ kata Wenas.

      Disampaikan juga bahwa saat ini terjadi penurunan angka produksi seiring dengan masa peralihan dari tambang terbuka ke tambang bawah permukaan. Situasi ini berlangsung sampai dua tahun ke depan.

      Pengembangan deposit bawah permukaan masih meninggalkan masalah yang cukup enikmatik karena terbatasnya masa berlaku ijin produksi yang hanya sampai 2041. Sempat muncul wacana masa berlakunya ijin produksi sebaiknya didasarkan pada jumlah cadangan, bukan dibatasi oleh waktu tertentu. Jikapun akan ada kegiatan eksplorasi, maka kegiatan tersebut hanya akan dilakukan di prospek/wilayah Kontrak Karya yang ada dibawah PT FI.

      Sementara itu, Bumi Resources Minerals (BRMS) sampai saat ini masih belum berproduksi, namun memiliki aset-aset eksplorasi yang sangat potensial. Secara umum Seno Kramadibrata selaku CEO BRMS memaparkan bahwa status kelayakan dua proyek Bumi di Sulawesi (PT GM dan PT CPM) sudah disetujui oleh pemerintah dan akan segera mulai melakukan operasi produksi untuk emas dan tembaga sulfida.

      Inalum yang seyogyanya menghadirkan Budi G Sadikin diwakili oleh Direktur MMII (Mining Mineral-based Industry Institute) Ratih Amri. Disampaikan bahwa Inalum sebagai ‘6,8 Biliion Dollar Mining Company’ memiliki diversifikasi aset yang tersebar di seluruh tanah air.

      Pesan penting yang disampaikan adalah bahwa Inalum menempatkan eksplorasi dan petumbuhan sumberdaya sebagai pilar penting dari strategi bisnisnya. Inalum telah menyususn road map untuk menjadi perusahaan global yang disegani dan masuk dalam Top Fortune 500 Company. ‘’Keiginan itu bisa dicapai di antaranya dengan jalan melakukan akuisisi maupun eksplorasi yang berkelanjutan,’’ kata Ratih.

      MMII sebagai think tank akan bekerjasama dengan universitas ternama di dalam maupun luar negeri, sehingga diharapkan muncul peluang-peluang startegis baru yang mampu membantu tercapainya tujuan besar perusahaan sekaligus memberikan masukan kepada pemerintah. Inalum masih sedang berkembang dan akan terus berkembang dengan misi besarnya dan itu perlu dukungan dari segenap stakeholder.

      Secara keseluruhan para pembicara memiliki satu pandangan bahwa potensi pertambangan masih besar, namun tantangan yang diharapi masih tetap klasik: perijinan. Terkait dengan kehutanan misalnya, betapa sulit  perusahaan tambang memperolehnya. Berbelitnya perijinan pada gilirannya akan mengambat kontribusi keuangan pada negara, karena ada porsi pendapatan yang tertunda atau bahkan hilang lantaran berlarutnya ijin.

      Bagaimana pengalaman perusahaan besar itu jika sudah kesana-kemari tetapi perijinan selalu mentok? ‘’Kita hanya bisa berdoa,’’ begitu kelakar Tony Wenas. Kelakar itu pun diamini oleh CEO yang lain.

      @STJ Budi Santoso

      STJ Budi Santoso-Chairman of MGEI

      image005 image007

       

      Comments

      comments