Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Hingga saat ini sedimentasi dari arus turbid (turbidity current) atau studi fasies arus turbid sudah banyak dikaji oleh para ahli geologi, dan kenyataan hipotesa yang ada pun semakin berkembang. Salah satu hipotesa dan potensi geologi yang sedang dikembangkan saat ini bahwa endapan turbidit berpotensi akan keterdapatan minyak bumi. Endapan turbidt yang lingkungan pengendapanya pada lower fan (kipas paling luar) sangat berpotensi sebagai source rock (batuan induk) dari sistem reservoir minyak bumi, sedangkan batuan-batuan yang sifatnya ritmis dan perulangan, bisa dikelompokkan dalam salah satu sistem reservoir minyak bumi, yaitu sebagai caps rock (batuan penutup), dan juga trap (perangkap) secara stratigrafi. Penelitian dilakukan di daerah Patuk, Sambipitu dan Gedang Sari Kabupaten Gunung Kidul Provinsi D.I.Y, termasuk dalam Cekungan Wonosari (Wonosari Basin). Daerah penelitian disusun oleh Formasi Sambipitu yang litologinya tersusun oleh batupasir berkarakter pengendapan arus turbid pada submarine fan (kipas bawah laut) di fore arc basin (cekungan depan busur) pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah yang berlangsung antara 23,03 hingga 5,33 juta tahun yang lalu. Berdasarkan hasil dan analisa measuring section (pengukuran stratigrafi terukur) pada tiga jalur sungai: Kali Bubung bagian utara, Kali Bubung bagian selatan dan Kali Ngalang, maka mekanisme sedimentasi arus turbid di Formasi Sambipitu dikelompokkan atas dua yaitu: Satuan batupasir bagian bawah, yang terdiri dari batupasir kasar dengan endapan turbidit volklanoklastik berselang-seling tuff halus dan lapili, (Jalur Kali Bubung) diakibatkan pengaruh volkanisme yang tinggi pada Miosen Bawah sampai awal Miosen Tengah dan satuan batupasir bagian atas, yang semakin keatas batuan fasies volkanoklastik (sisipan tuff, lapili) hilang dan berangsur-angsur menjadi batupasir halus yang berselang-seling dengan serpih, batulanau dan batulempung, hingga terbentuklah fasies batupasir yang memiliki stuktur sedimen permukaan trace fosil (fosil jejak) pada bagian lower fan (Jalur Kali Ngalang), dan sejauh itu mekanisme arus turbid pun masih berlangsung hingga berakhir di Formasi Oyo yang disusun oleh batugamping berlapis (kalkarenit) dan Formasi Wonosari yang disusun oleh batugamping terumbu, secara tidak selaras dalam suatu basin yang disebut Wonosari Basin. Berdasarkan analisis petrologi fisik dan petrografi sayatan tipis satuan batupasir pada Kali Ngalang, hasilnya, batupasir memiliki porositas buruk, bentuk butir: subangular-subrounded, terpilah buruk, kemas terbuka, disusun oleh mineral kuarsa (14%), plagioklas (25%), k.feldspar (9%), piroksen (5%), kuarsit (7%), kalsit (18%), lumpur karbonat (20%), serta fosil foram kecil (5%) dan secara megaskopis memiliki sifat sebagai batuan induk dengan keberadaan ditemukan banyaknya organisme organik yang telah menjadi fosil pada batuan, berupa fosil jejak, cangkang Molusca, Gastrophoda, dan Foraminifera. Potensi hidrokarbon pada formasi batuan yang diendapkan secara turdid di fore arc basin (depan busur) ini sangat mungkin terjadi, namun sampai sekarang masih jarang dipelajarinya, orang lebih tertarik mengkaji pada belakang busur yang potensinya lebih besar. Dengan keterbatasan sumber energi saat ini, sudah saatnya kita mengeksplorasi, melalukan survey geologi bawah permukaan serta mengkaji dan mempelajari endapan-endapan sedimen di depan busur khususnya endapan turbidit tersebut.

      Comments

      comments