Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Cekungan Tersier Barito terhampar mulai dari Kalimantan Tengah sampai ke Kalimantan Selatan. Di utara cekungan ini berbatasan dengan Cekungan Kutai Barat, di barat dengan Tinggian Schwaner, di timur dengan Tinggian Meratus, di selatan dengan Laut Jawa.

      Cekungan Barito terbentuk akibat dari pensesaran bongkah pada kala Paleosen pada batuan Pra-Tersier (batuan sedimen, gunungapi, beku, malihan, dan ultra mafik). Pada kala Eosen Akhir Cekungan Barito merupakan daratan yang mengendapakan bagian bawah Formasi Tanjung (konglomerat dan batupasir kasar), pada lingkungan fluvial, diikuti oleh bagian tengah (betulempung dan batubara) pada lingkungan dataran banjir dan rawa, kemudian bagian atas (batulumpur dan batupasir halus-kasar) pada lingkungan pasang-surut. Selanjutnya diikuti oleh pengendapan Anggota Lempung Formasi Tanjung pada lingkungan lagun.

      Pada Kala Oligo-Miosen, proses pensesaran bongkah dan transgresi berlanjut yang menyebabkan bagian barat dan utara menjadi lingkungan transisi yang mengendapkan Formasi Montalat (batulempung dengan sisipan batupasir, batubara dan lensa batugamping). Kemudian bagian tengah-timur merupakan laut yang mengendapkan batugamping Formasi Berai.

      Pada Kala Miosen proses regresi terjadi yang mengakibatkan Cekungan Barito menjadi transisi yaitu mulai dari dataran banjir, saluran limpahan, dan rawa yang mengendapkan Formasi Warukin (batulumpur dengan sisipan batupasir dan batubara). Pada kala Mio-Pliosen proses pensesaran bongkah sangat intensif yang mengakibatkan terangkatnya batuan Pra-Tersier ke Permukaan yang membentuk Tinggian Meratus dan menyebabkan Cekungan Barto menjadi daratan yang mengendapkan Formasi Dahor (konglomerat, batupasir dan batulumpur). Proses ini menyebabkan ketidakselarasan antara Formasi Dahor dengan Formasi di bawahnya.

      Comments

      comments