Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Sekuen Januari 2018

      Belum tahun baru, mengawali semangat geologi yang tak pernah padam menyambut 2018. Demi masa (Wal Asr’) hadir sebagai sebuah renungan bahwa waktu hampir selalu terlalu normatif (bagi geosaintis) untuk sekedar diperbandingkan. Siklon tropis Bolaven misalnya, enggan untuk tak membuntuti Dahlia dan Cempaka, membuat cuaca buruk menghantui sebagian besar wilayah di Pulau Jawa (termasuk Jakarta). Beruntung kita sudah punya BMKG dan BNPB yang senantiasa tanggap dengan penyampaian informasi serta mitigasi bencana termasuk penanggulangannya. Proyeksi gairah industri batubara tahun 2018 dan aspek legalitas terhadap akses database jurnal nasional dan internasional sempat didiskusikan cukup hangat di awal tahun, sebelum terbalut berita ambruknya girder proyek tiang pancang Desari yang hampir berbarengan dengan dibukanya akses baru Geopark Ciletuh. Geowisata nampaknya akan tetap menjadi primadona, karena popularitasnya saat ini tidak hanya mengisi papan-papan reklame besar dari dan ke arah Bandara, tapi bahkan sudah hadir di tiap-tiap gerbong kereta.

      Bantuan kemanusian untuk korban erupsi Gunung Agung di Bali oleh JCM (IAGI-HAGI-IATMI-IAFMI) menjadi pembuka pekan berikutnya, menunjukkan bahwa keempat asosiasi profesi kebumian dan energi ini tidak hanya berkutat dengan keilmuan dan teknologi semata, tapi tetap terus peduli dengan sesamanya. Di saat yang sama, IAGI tetap punya komitmen menghadirkan kantor Sekretariat yang sudah diidamkan sejak lama, tim sudah berkumpul menyusun strategi dan kali ini sudah jauh lebih banyak “tombak” nya. Tahun politik pun mulai terasa dengan intens nya pertemuan membahas divestasi saham Freeport dengan holding tambang. Rekan-rekan geologi ekonomis Indonesia pun tak kalah siap dengan masuknya Indonesia sebagai anggota ke-11 CRISCO menyusul kesuksesan pelaksanaan CRIRSCO Annual Meeting 2017. PP IAGI pun mengawali tahun ini dengan pertemuan dan rapat konsolidasi untuk merencanakan program yang sinergis, salah satunya dengan Badan Geologi.

      Di awal pekan setelahnya, rubuhnya level 1 gedung BEJ menjadi pembuka berita. Geoteknik sebagai salah satu kuncinya, membuat peran IAGI sangatlah terasa, salah satunya mengenai pentingnya inspeksi konstruksi paska gempa. Tantangan bagi MGTI sebagai Anak Organisasi yg termuda, untuk mulai menunjukkan kiprahnya. Infrastructure Talk pun digagas oleh Pemerintah melalui Kementerian PUPR, yang memang Menteri nya dari sesama lingkungan geologi dan baru saja mendapat Award dari IAGI. Tak lama, dibentuk pula Komite Keselamatan Konstruksi, termasuk turut menggandeng IAGI dan BMKG dalam pembangunan infrastruktur dan usaha mitigasi. Korelasi stratihati membuat kita kemudian segera meratakan dahi, bertambah semangat untuk berkontribusi dan bekerja nyata bagi negeri.

      Berbagai bidang dan komite pun segera mengadakan pertemuan untuk mengambil posisi siap berkolaborasi. Bidang Geothermal memaparkan program dan agenda nya untuk tahun ini. Pengda Riau pun terus bersiap mengawal pelaksanaan PIT IAGI, dibantu tim TPC dan sponsorship dari Jakarta yang terus berkoordinasi. Diadakan pula pertemuan komite bersama IAGI-PERHAPI, yang mengiringi sosialisasi kode KCMI. Semangat muda IAGI melalui FGMI merapatkan barisan kembali membahas berbagai rencana dan aksi. Geowisata tak pelak kian menyita perhatian jajaran Menteri, waktu pun rela beliau habiskan di Geopark Toba untuk sekedar berbincang santai sambil menyeruput secangkir kopi. Lantas timbul pertanyaan, sejauh mana peran IAGI? Tentunya sangatlah besar walaupun kadang tidak terekognisi. Pekerjaan rumah pun terus dikerjakan MAGI, dikejarlah bagi industri Geowisata untuk segera memiliki SKKNI, karena hampir semua kita telah terlanjur percaya bahwa geotourism is the current and future industry.

      Seminggu berselang, geologi lingkungan kembali mengawali bahasan dengan peristiwa longsor di Trenggalek, tidak hanya akibat buruknya cuaca, bencana ini pun diberitakan menunggu kajian geologi. Ya, geologi kian diakui. Bahkan Gubernur DKI Jakarta pun mengagendakan pertemuan khusus dengan Badan Geologi mengenai pembahasan air tanah.

      Siklon tropis mulai mereda, namun dengan cepat disela dengan gempa bumi yang kian kerap melanda. BMKG dan BNPB (yang beberapa Petinggi nya merupakan Pengurus dan penggiat di lingkungan IAGI) kembali menunjukkan perannya. Bersamaan dengan itu, info-info hoax mengenai gempa susulan beberapa kali muncul ke masyarakat melalui media sosial dan grup-grup WA. Beberapa mengaitkan dengan fase bulan tertentu, melambatnya rotasi bumi, aktifnya cincin gunung api, dan lain-lain. Tentu saja tidak semua 100% benar adanya, tetapi dongeng geologi hadir ke permukaan untuk mencerahkan suasana dan memberi penjelasan seksama dengan bahasa sederhana tentang bagaimana geosaintis memprediksi gempa.

      Dari Forum Lingkar Pengda, Pengda IAGI Nusa Tenggara melaporkan beberapa rencana kegiatan yang akan diselenggarakannya, tentunya tidak lepas dengan program Satu Pengda Satu Geowisata. Seolah tak mau kalah, beberapa Anak Organisasi dan Bidang pun memulai dan melanjutkan koordinasinya. Bidang Sertifikasi melakukan pertemuan perdana nya termasuk mengangkat isu mengenai pentingkah tiap-tiap Petroleum Geologist Indonesia di-sertifikasi, hal yg sama yang telah dilakukan rekan-rekan Geologi Ekonomis beberapa tahun yang lalu dengan Competent Person –nya. FGMI pun mulai launching rangkaian program menyambut ulang tahun yang ke-6 ketika MGEI dengan sukses telah mengadakan Training Camp bersama dengan SC MGEI dan SC SEG.

      Apresiasi juga disampaikan kepada Bidang Media dan Publikasi atas terbitnya Berita IAGI, tentu saja rencana peluncuran kembali majalah dan jurnal ilmiah IAGI masih menjadi aspirasi yang perlu terus ditindaklanjuti. Bidang Pengembangan Keilmuan menyambut baik rencana ini dengan segera merencanakan rapat koordinasi. Migas kian menghangat di penghujung bulan, harga minyak mentah dunia yang merangkak naik membuat membahasnya kembali menarik. Itulah mengapa, Workshop Petroleum Economics diselenggarakan sebagai rangkaian ISPG Research Forum. Headline di salah satu surat kabar berjudul “Klaim Biaya Membengkak, Produksi Menurun” juga menyoroti masih banyaknya tantangan di industri ini.

      ISPG menginisiasi sebuah Forum Diskusi menggandeng HAGI dan IATMI untuk menjawab tantangan eksplorasi dan produksi migas Indonesia saat ini. Disinari bulan yang hampir purnama sempurna, tercetuslah beberapa resolusi. Tidak ketinggalan dengan FOSI, persis di penghujung bulan ini diadakanlah seminar dengan menggandeng P3GL, kembali mengangkat petroleum system dan play di Indonesia Timur yang (seharusnya memang) masih ada potensi.


      Salam IAGI, Geologi Membumi
      Dwandari Ralanarko (Andar)
      Sekretaris Jenderal
      Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
      NPA #4693