Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Bandung 21 Mei 2019. Wacana tentang pemindahan ibukota RI dari Jakarta semakin marak dibicarakan di ruang publik. Walaupun ide awalnya sudah muncul sejak pemerintahan Presiden Sukarno, yang berencana memindahkan ibukota ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, namun gemanya selalu naik turun. Wacana ini muncul kembali setelah Presiden Joko Widodo memutuskan pada Rapat Terbatas Kabinet 29 April 2019 untuk memilih beberapa alternative lokasi pemindahan ibukota ke luar Jawa dan harus berada di tengah NKRI untuk memudahkan akses dari seluruh provinsi serta harus dapat mendorong pemerataan antara wilayah Barat dan Timur Indonesia. Beberapa diskusi teknis kemudian dilakukan oleh beberapa instansi terkait seperti Bappenas dan BNPB.

      Terkait dengan hal di atas, IAGI menyelenggarakan Diskusi ilmiah dengan tajuk Aspek Geologi dalam Penentuan Lokasi Ibukota Baru RI. Acara yang dilaksanakan 21 Mei 2019 di Museum Geologi Bandung bekerja sama dengan Badan Geologi. Empat narasumber berbicara di forum ini yaitu Ir. Rudy Suhendar MSc (Kepala Badan Geologi, KESDM), Dr. Ir. Danny Hilman Natawidjaja, MSc (Geoteknologi LIPI/ PPIAGI) berbicara Aspek Kebencanaan, Dr. Imam Sadisun, ST, MT (FITB, ITB/ Ketua MGTI) mengangkat sub-topik Aspek Geologi Teknik, dan Dr. Ir. Moh. Wachyudi Memed, MT (PSAG-BG/ PPIAGI) membahas Aspek Hidrogeologi. Moderator acara diskusi adalah Dr. Ir. Dicky Muslim, MSc (Unpad/ Ketua Pengda IAGI JBB).

      Acara dibuka oleh Ketua Umum IAGI, Sukmandaru Prihatmoko dihadiri oleh tak kurang dari 60 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh geologi senior sampai mahasiswa. Diskusi sambil bersilaturahmi iftar (buka puasa) ini membuka wacana baru bagi para ahli geologi khususnya di bidang geologi lingkungan.

      Tantangan untuk membangun kota di wilayah yang secara keilmuan geologi “saat ini” akan mahal dan sulit, perlu dijawab secara “smart”. Keterbatasan material bangunan, daya dukung tanah, kualitas air, potensi bencana dan lainnya, apakah ini akan membuat para ahli geologi Indonesia akan menyarankan untuk pindah lokasi atau mengembangkan konsep dan teknologi ‘baru’ untuk memastikan bahwa lokasi tertentu bisa menjadi layak? Ini akan menjadi titik uji batas-batas selama ini mengenai daya dukung geologi untuk ibu kota di Indonesia.

      Pemindahan ibukota negara sudah dilakukan oleh beberapa negara lain, sehingga Indonesia mestinya bisa belajar dari negara lain tersebut plus dan minusnya. Pada umumnya pemindahan ibuota dilakukan karena berbagai di antaranya karena peningkatan kepadatan penduduk, kepadatan hunian rumah, daya dukung lingkungan yang menurun seperti sering terjadinya banjir, penurunan muka airtanah, penurunan muka tanah, ketersediaan air bersih, kemacetan, dan keterbatasan lahan yang dibayangi akan ancaman bencana, menyebabkan fungsi Ibukota mulai menurun dan tidak efisien. Kondisi geologi akan mendapatkan “tekanan” yang semakin berat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan kegiatan pembangunan.

      Dalam siaran pers-nya pada 30 April 2019, Bappenas mengemukakan 7 kriteria dalam penentuan lokasi, yaitu (1) lokasi strategis, secara geografis berada di tengah wilayah Indonesia, (2) Tersedia lahan luas milik pemerintah / BUMN Perkebunan untuk mengurangi biaya investasi, (3) Lahan harus bebas bencana gempabumi, gunungapi, tsunami, banjir, erosi, serta kebakaran hutan dan lahan gambut, (4) Tersedia sumber daya air yang cukup dan bebas pencemaran lingkungan, (5)  Dekat dengan kota eksisting yang sudah berkembang untuk efisiensi investasi awal infrastruktur (a) Akses mobilitas / logistik: bandara, pelabuhan, dan jalan, (b) Ketersediaan pelabuhan laut dalam sangat penting untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim 
melalui konektivitas tol laut antar pulau, (c) Tingkat layanan air minum, sanitasi, listrik, dan jaringan komunikasi yang memadai untuk dikembangkan; (6) Potensi konflik sosial rendah dan memiliki budaya terbuka terhadap pendatang, dan (7) Memenuhi perimeter pertahanan dan keamanan.

      Imam Sadisun mengemukakan beberapa aspek geologi teknik yang harus dipertimbangkan meliputi:

      • Kondisi geomorfologi, bentang alam / bentuk alam beserta proses-proses geomorfik di dalamnya, seperti erosi dan longsoran
      • Karakteristik keteknikan batuan / tanah yang mempengaruhi daya dukung dan kestabilan lereng dalam mendukung pengembangan infrastruktur dan sarana prasarana ibukota, serta kebutuhan material konstruksi
      • Aspek keteknikan struktur geologi / bidang-bidang diskontinuitas pada batuan yang juga mempengaruhi daya dukung dan kestabilan lereng
      • Kondisi hidrogeologi yang juga mempengaruhi daya dukung dan kestabilan lereng, serta tingkat kesulitan dalam melakukan rekayasa infrastrutur
      • Karakteristik bahaya-bahaya geologi yang berpotensi mengganggu jalannya kegiatan pengembangan infrastruktur dan produk-produknya

      Di sisi hidrogeologi kondisi air tanah (dan air permukaan) sangat perlu dikaji karena sebagian besarnya untuk memenuhi kebutuhan sebuah kota besar, seperti diungkap oleh Wachyudi Memed. Selain itu kemungkinan adanya intrusi air laut, kalau kota akan ditempatkan di wilayah pesisir perlu menjadi perhatian dan kajian.

      Dari sisi kebencanaan (gempabumi dan tsunami), Danny Hilman menyebutkan bahwa calon lokasi ibukota yang sedang dipertimbangkan berada di daerah dengan potensi bencana geologi (gempa, tsunami, tanah longsor, banjir, dll) yang minimal. Sebagai contoh wilayah Kalimantan dari aspek kegempaan adalah relatif paling kecil potensi kegempaanya, dibanding pulau/ wilayah lain di Indonesia. Barier lain yang cukup signifikan adalah area lahan gambut yang banyak diketemukan di Kalimantan dan rawan akan bahaya kebakaran lahan.

      Pada kesempatan yang sama Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar menyatakan bahwa Badan Geologi sudah terlibat banyak dalam pembahasan topik ini, di antaranya (1) sebagai narasumber dalam rapat pembahasan terkait dengan kondisi geologi daerah, meliputi Sumberdaya Geologi dan Sumber Bencana Geologi; (2) melakukan kompilasi kajian geologi terdahulu, meliputi survey geologi, kebencanaan geologi, sumberdaya geologi, dan potensi air tanah serta rekomendasi geologi tata lingkungan; dan (3) Mendukung kebutuhan data kegeologian yang diperlukan dalam kajian Bappenas.

      Mengacu pada siaran pers Bappenas, calon lokasi ibukota sudah mulai mengerucut ke dua wilayah yaitu di Kalteng (kawasan segitiga Kab. Gunung Mas, Kab. Katingan dan Kota Palangkaraya) dan di Kaltim (kawasan Kab. Kutei Kartanegara, Kab. Penajam Paser Utara, dan Kota Balikpapan). Kajian dan investigasi rinci pada wilayah-wilayah kandidat ibukota negara ini harus dilakukan sebagai basis mengambil keputusan. Penambahan pengetahuan tentang kondisi geologi akan dapat memberikan penghematan pada perencanaan pindah ibukota ini. Data dan informasi geologi adalah sangat penting dalam mem-formulasikan strategi pembangunan berkelanjutan yang meminimalkan dampak lingkungan. Perencanaan tata ruang juga akan mendatangkan banyak keuntungan melalui pemahaman kondisi geologi setempat. Kondisi geologi yang tidak terlihat di permukaan dan problem geoteknikal yang berasosiasi dengannya adalah penyumbang terbesar dari “project overrun”. Solusi terbaik adalah dengan menginvestigasi dan memahami geologi setempat secepatnya dan se-akurat mungkin  sehingga “kejutan”/ hal-hal yang tidak diinginkan bisa dikurangi.

      Sejauh geologi dijadikan pertimbangan, data dan informasi yang cukup harus diberikan kepada “engineers”, sehingga proyek dapat dikembangkan baik infrastrukturnya maupun lingkungannya dalam keharmonisan dengan alam. IAGI bermaksud untuk memberikan masukan berdasar hasil diskusi ini kepada instansi yang berkompeten di antaranya Bappenas.

      Acara ini terwujud berkat kerja keras panitia dari MAGI, MGTI, FGMI, SM-IAGI ITB, SM-IAGI Unpad, dan PP-IAGI dengan dukungan penuh Badan Geologi/ Museum Geologi. (FL/ IS/ SP/HR/ Biro Media IAGI).

      pindah ibukota ft1

      Foto 1: Pemaparan materi oleh 4 narasumber dalam Diskusi IAGI – Aspek Geologi dalam Penentuan Lokasi Ibukota Baru

      pindah ibukota ft2

      Foto 2: Pose bareng Narasumber, Pengurus IAGI, MAGI, FGMI, dan Kaban dan Kapus Badan Geologi

      pindah ibukota ft3

      Foto 3: Danny Hilman memaparkan materi Aspek Kebencanaan

      pindah ibukota ft4

      Foto 4: Panitia Penyelenggara Diskusi IAGI

       

       

       

      Comments

      comments