Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Jakarta, 27 Maret 2018. IAGI – Kejadian gempa yang mengguncang Banten, DKI Jakarta dan sekitarnya pada 23 Januari 2018 dengan kekuaan 6,1 SR memunculkan pertanyaan dan keresahan pada warga DKI Jakarta, apakah tempat tinggal mereka saat ini merupakan daerah yang aman dari bencana gempa. Terlebih lagi DKI Jakarta merupakan ibukota negara dengan gedung-gedung pencakar langit. Akibat kejadian tersebut, Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) yang merupakan anak organisasi dari IAGI menginisasi Seminar dengan topik “Langkah Strategis dan Kreatif Untuk Menghadapi Gempa di Jakarta” dengan harapan bisa mengedukasi dan memberikan wawasan tentang gempa kepada masyarakat luas.
      Kegiatan seminar gempa yang berlangsung di Jakarta Creative Hub adalah salah satu rangkaian dari peringatan ulang tahun FGMI yang ke-6, sekaligus peringatan Ulang Tahun IAGI yang ke58 yang akan jatuh pada bulan April 2018. Seminar dan diskusi dihadiri lebih dari 50 peserta yang terdiri dari akademisi, pemerintahan, mahasiswa, profesional dan beberapa perkumpulan/ LSM yang peduli akan bencana gempa. Dengan narasumber yang memiliki latar belakang geosains seperti Prof. Dwikorita Karnawati (Kepala BMKG), Rudy Suhendar (Kepala Badan Geologi), Sukmandaru Prihatmoko (Ketua Umum IAGI) dan Dwandari Ralanarko (Sekjen IAGI) sebagai moderator menjadikan seminar sarat akan edukasi gempa serta menjawab isu-isu yang berkembang pada beberapa kolom media lokal maupun nasional. Acara dihadiri pula oleh Jupan Royter S. Tampubolon (Kepala BPBD DKI Jakarta) beserta jajarannya untuk membuka acara sekaligus mendengarkan paparan dari narasumber. Diharapkan ide-ide dan masukan dari acara ini bisa menjadi pertimbangan dan persiapan pemerintah DKI Jakarta dalam menghadapi bencana gempa dikedepannya.
      Prof. Dwikorita mengawali penyampaian materi gempa. Gerakan gelombang gempa bumi terbagi menjadi tiga yaitu Pressure Wave (P-wave), Shear Wave (S-wave) dan Love Wave (Ground Roll). Gempa yang merusak adalah gempa dengan gelombang S-wave dan Love wave yang diawali dengan pergerakan dari P-wave, dengan fase perpindahan rambat gelombang dari P-wave menjadi S-wave yaitu berkisar per 10 detik. Pada negara Jepang, gelombang P-wave yang terekam dimanfaatkan untuk mematikan sistem kereta api cepat, listrik, gas dan reaktor nuklir sehingga bisa meminimalisir dari resiko bencana. Early warning system tersebut diharapkan bisa diterapkan juga di Indonesia.
      Dwikorita menjelaskan saat ini isu gempa megathrust kembali mencuat setelah kejadian gempa di DKI Jakarta dan menimbulkan keresahan di masyarakat, sebenarnya daerah yang berpotensi untuk terjadi gempa tersebut adalah wilayah yang dekat ataupun berada pada jalur subduksi seperti pada pertemuan lempeng yang membentang dari Myanmar – pantai barat Sumatera – selatan Jawa – Nusa Tenggara hingga Papua dengan potensi gempa hingga 8,8 SR (berdasarkan penelitian Pusat Studi Gempa Nasional pada tahun 2017). Jakarta merupakan daerah yang berada pada bagian utara Pulau Jawa sehingga potensi dari gempa megathrust tidak terlalu besar. Dengan dilewati oleh 295 sesar aktif dan 5 zona subduksi, dengan ± 5000 gempa sepanjang tahun menjadikan Indonesia sebagai kawasan paling aktif gempa di dunia.
      Saat ini, yang perlu dipersiapkan oleh masyarakat adalah bagaimana melakukan mitigasi dari kejadian gempa bumi. Khususnya pada masyarakat DKI Jakarta, harus menjadi warga yang terampil dan cekatan untuk bisa menangani dirinya sendiri, keluarganya, dan tetangganya. Cara mitigasi yang bisa dilakukan adalah dengan membuat tempat/ruangan kosong di dalam rumah dan tempat untuk bisa berlindung seperti dikolong meja pada 10 – 20 detik awal saat gempa berlangsung, kemudian setelah gempa berhenti bisa menyelamatkan diri dan orang sekitar keluar dari rumah/ bangunan.
      Rudy Suhendar sebagai pemateri yang kedua. Ada tiga hal yang mendasari terjadinya suatu gempa yaitu zona subduksi, terusan dari subduksi dan patahan sesar aktif. Sementara di Jakarta sendiri, terdapat Sesar Baribis yang melewati selatan Jakarta dengan arah relatif barat – timur, dan hal tersebut juga bisa memiliki potensi akan munculnya gempa di Jakarta. Umumnya daerah Jakarta merupakan daerah dengan endapan vulkanik kuarter dan endapan alluvial yang sangat tebal, Kementerian PUPR pernah melakukan pengeboran dimana ketebalan endapan alluvial mencapai 300 – 500 m di Jakarta, dengan kondisi tanah yang lunak, getaran dari rambat gelombang gempa akan semakin kuat dirasakan dibanding pada daerah dengan kondisi batuan yang relatif keras. Dengan kondisi tersebut, tentunya Pemerintah dan warga DKI Jakarta harus bisa memperhitungkan lebih matang dalam membangun suatu struktur bangunan tahan gempa.
      Saat ini, Badan Geologi sedang meneliti apakah ada kemungkinan patahan dengan arah utara – selatan yang melewati dari wilayah Jakarta, penelitian lain juga gencar dilakukan seperti menyusun peta tapak lokasi DKI Jakarta, penyusunan peta kawasan resiko gempa, dimana wilayah Jakarta memiliki kawasan dengan intensitas guncangan VI – VIII MMI. Gedung-gedung tinggi di Jakarta memang sudah memiliki standar building code yang baik, tetapi pada bangunan-bangunan seperti ruko, sekolah, rumah sakit yang memiliki bangunan 3 – 5 lantai harus memperhatikan standar dari building code dengan mengacu dari peta kawasan rawan gempa yang dikeluarkan oleh Badan Geologi. Rudy mengharapkan dengan adanya seminar yang dilakukan, Kementerian PUPR, BMKG, BPBD dan IAGI bisa melakukan kolaborasi dalam mengaudit bangunan-bangunan di DKI Jakarta yang tahan akan gempa dan meminimalisir kerugian yang akan terjadi.
      Pada akhir pemaparan, Rudy mengharapkan upaya mitigasi bisa terus digalakkan baik mitigasi struktural maupun mitigasi non-struktural. Kebencanaan gempa bumi juga harus dimasukkan kedalam kurikulum Pendidikan baik pada tingkat SD, SLTP dan SLTA sehingga warga DKI Jakarta juga bisa sedari dini mengenal dari gempa bumi, bagaimana cara melakukan mitigasi dan mengurangi dari dampak yang akan ditimbulkan.
      Sukmandaru menyampaikan materi yang ketiga. Indonesia tercatat memiliki lebih dari 48000 kegempaan dari kurun waktu 1799 – 2010 (Putra, 2012), dengan negara yang paling banyak memiliki kegempaan dibanding negara lain. Pada kurun 14 tahun terakhir, ada kejadian 6 – 7 gempa besar di wilayah Sumatera yang menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak dan kehilangan harta benda. Sedangkan di Pulau Jawa pada kurun waktu 10 tahun terakhir terdapat 4 gempa yang terasa cukup kuat dirasakan oleh Jakarta. 3 kemungkinan pemicu gempa diungkapkan yaitu megathrust di selatan Jawa, struktur intraslab di bawah pulau Jawa, dan sesar/ patahan dangkal yang kemungkinan melewati area seputar Jabodetabek. Struktur dangkal tersebut di antaranya seperti sesar Baribis yang melampar timur-barat dari Jawa Timur (dikenal sebagai Struktur Kendeng), Jawa Tengah, dan menerus ke Jawa Barat bagian utara dan mungkin tenggelam di bawah endapan alluvial pantai utara Jabar.
      Pertumbuhan penduduk di Indonesia memiliki peningkatan yang sangat signifikan, tercatat pada tahun 2017 tercatat populasi masyarakat di Indonesia telah mencapai 262 jt, dimana 30jt jiwa tinggal di wilayah JABODETABEK dengan 10jt berada pada wilayah DKI Jakarta. Pada beberapa lokasi, terdapat perkampungan warga dengan bangunan-bangunan yang sangat rapat dan hal tersebut bisa meningkatkan resiko akan bencana. Menyambung dari apa yang disampaikan oleh Rudy dalam melakukan kolaborasi mengaudit bangunan, Sukmandaru berharap IAGI bisa memberikan kontribusi dan rekomendasi penting bagi warga DKI Jakarta melalui Bidang Mitigasi Bencana dan Konservasi Lingkungan yang dimiliki IAGI. Pengurangan resiko bencana bisa dilakukan dengan berbasis riset dan pemetaan serta analisis bahaya, kerentanan dan resiko; penertiban tata ruang dan wilayah; penegakan hukum terutama terkait pendirian bangunan/ infrastruktur dan; peringatan dini dan edukasi masyarakat untuk membangun ketangguhan terhadap bencana. Saat ini, anggota IAGI di seluruh Indonesia lebih dari 5600 orang dimana hampir setengahnya berada di wilayah DKI Jakarta. Diharapkan dengan adanya pertemuan ini, IAGI bisa lebih berperan aktif khususnya anggota yang terkonsentrasi di Pengda DKI Jakarta dan Jabar-Banten untuk lebih intens melakukan sosialisasi dan edukasi tentang mitigasi bencana gempa bumi bersama stakeholder lain, seperti Badan Geologi, BMKG, BNPB, BPBD, Univ/Perguruan Tinggi dll.  (Hazred UF – Biro Media IAGI).

      seminar gempa 20180329 ft1

      Gambar 1: Struktur geologi utama di Pulau Jawa

      seminar gempa 20180329 ft2

      Foto 1. Diskusi gempa Jakarta bersama BMKG, Badan Geologi dan IAGI (ki-ka: Sukmandaru Prihatmoko, Ketum PP-IAGI, Dwandari Ralanarko, Sekjend PP-IAGI,  Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG, Rudi Suhendar, Kepala Badan Geologi)

      seminar gempa 20180329 ft3

      Foto 2. Diskusi gempa Jakarta bersama BMKG, Badan Geologi dan IAGI (ki-ka: Dwandari Ralanarko, Sekjend PP-IAGI, Sukmandaru Prihatmoko, Ketum PP-IAGI, Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG, Rudi Suhendar, Kepala Badan Geologi)

      seminar gempa 20180329 ft4

      Foto 3: Pose bersama narasumber dan peserta Diskusi Gempa Jakarta

      Comments

      comments