Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Jakarta, 18 Juni 2017. Gempa bumi bermagnitude 4,8 (versi USGS) atau 5,1 (versi BMKG) terjadi semalam (17 Juni 2017) sekitar jam 21.24 di Malili, Morowali, perbatasan Sulteng – Sultra. Semoga pergerakan lempeng bumi ini tidak menimbulkan korban. Melihat lokasi epicenternya, gempa ini nampaknya terkait dengan Sesar Matano yang merupakan ekstensi bagian tenggara dari Sesar Palu Koro. Dua sesar ini dikenal sangat aktif, dan perlu terus diwaspadai dalam kaitannya dengan mitigasi bencana. Budhi Kumarawarman (Anggota IAGI) menuliskan ulasannya tentang sesar Matano ini di dinding FB-nya, seperti disadur di bawah ini.

      gempa_matano_ft1
      Mengenal Sesar Matano & Gempanya
      Oleh: Budhi Kumarawarman (IAGI-5517)
      Sorowako, 18-06-17; 00.25 AM

      Sesar (patahan) Matano merupakan salah satu sesar yang aktif di daratan Sulawesi yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara. Di daratan Sulawesi, sesar ini terukur sepanjang 170 km mulai dari daerah pantai Bahodopi di Teluk Tolo, ke arah barat laut melewati sepanjang lembah Sungai Larongsangi ke area di sebelah utara Desa Lampesue, Petea, sepanjang pantai Danau Matano, Desa Matano dan menyambung di barat laut dengan lembah Sungai Kalaena. Meski masih menjadi perdebatan, beberapa ahli seperti Tjia dan Hamilton mempercayai bahwa sesar ini menyambung jauh ke timur dengan Sesar Sorong yang ada di Papua.
      Mekanisme sesar ini adalah sesar geser kiri dengan pergseran relative 5 mm /thn. Secara kolektif sejak terbentuk, sesar ini telah menghasilkan total pergeseran batuan kurang lebih 20 km ke arah barat laut, ditandai dengan batuan-batuan di utara jalur sesar yang bergeser sepanjang sekitar 20 km tadi. Sesar ini terbentuk sebagai hasil dari pergerakan lempeng Samudera Pasifik yang bergerak ke arah barat. Pergerakan ini telah menghasilkan gaya tekan di wilayah bagian timur Indonesia yang selanjutnya menghasilkan retakan yang panjang mulai dari kepala burung Papua sampai daratan Sulawesi. Seiring dengan tekanan yang terus berlangsung akibat pergerakan dari arah timur tersebut, pergerakan ini akhirnya menghasilkan gerakan di sepanjang retakan tersebut dan akhirnya terbentuklah sebuah sesar. Arti sesar sendiri secara simple adalah retakan di kulit bumi dimana sdh ada pergerakan di sepanjang retakan tsb.

      Pada sesar besar, umumnya sesar tidak hanya terdiri dari satu garis lurus, tetapi merupakan kumpulan beberapa sesar sejajar yang berdekatan dan membentuk suatu zona sesar yang panjang. Ini juga yang terjadi di Sesar Matano. Di Sorowako, area di antara sesar-sesar yang sejajar tersebut membentuk lembah besar dan dalam, berupa Danau Matanao. Lembah ini terbentuk dari dua sesar sejajar yang memanjang di sepanjang kedua sisi utara dan sisi selatan Danau Matano.

      Gempa pada dasarnya adalah release dari akumulasi gaya tekan yang ada di pada sesar tersebut. Saat gaya tekan tidak bisa ditahan lagi, batuan di sepanjang retakan akan bergerak dan gerakan ini disertai getaran yg disebut dg gempa bumi. Ini seperti jika kita punya penggaris mika tipis lalu kita tahan satu sisi dan kita dorong sisi kedua ke arah sisi pertama. Saat penggaris mika tadi tidak kuat lagi utk menahan gaya tekan akibat dorongan ygbterjadi terus menerus, pada akhirnya penggaris akan patah dan bergetar seperti halnya gempa bumi. Mungkin itu ilustrasi yg mudah soal bgmn gempa terjadi.

      Khusus untuk Sesar Matano, ada kemungkinan dua sesar di sepanjang pantai sisi utara dan sisi selatan danau Matano ikut bergerak saat gempa, itulah kenapa kota Sorowako sering ikut merasakan gempa, meskipun pusat gempa bisa jadi jauh dari kota Sorowako. Daerah yg ada di sepanjang pantai Danau Matano bisa jd jg akan mengalami getaran yg lebih besar dibanding daerah yg lain di sebalah utara atau selatannya. Semakin dekat ke jalur sesar, intensitas getaran biasanya semakin besar. Maka di seputar Sorowako, semakin dekat ke danau, intensitas getaran yg dirasakan kemungkinan jg akan semakin besar.

      Akhirnya, gempa itu fenomena alam biasa, bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dikenali. Gempa tidak bisa dihindari, tetapi potensi resiko terhadap nyawa dan harta benda bisa dikurangi/dimitigasi. Bagi yang terbiasa bekerja di tambang, kita terbiasa dengan aturan safety untuk meminimalisir resiko. Sehari-hari pekerja tambang bekerja untuk meminimalisir resiko supaya tetap selamat saat pulang kerja. Seperti itu jugalah cara bersahabat dengan gempa. Behaviour seperti inilah yg membuat negara maju spt Jepang mengembangkan teknologi bangunan tahan gempa. Mereka jg mengajari anak-anak mereka sejak kecil utk tahu apa yg harus dilakukan saat ada gempa . Sehingga meski dilanda gempa besar berkali-kali, jml korban jiwanya relatif sedikit. Intinya adalah kenali resiko, lakukan langkah-langkah mitigasi. Dan tentu saja jangan lupa selalu berdoa. Bukankah manusia itu memang diwajibkan utk selalu berdoa & berusaha?

      (Biro Media IAGI)
      gempa_matano_ft2
      Konfigurasi sesar aktif Palu Koro – Matano – Lawanopodi Sulawesi bagian tengah (Parkinson & Dooley, 1996)

      Comments

      comments