Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • Memahami Tangkuban Perahu Lebih Dalam


    • Jumat, Agustus 2019, pukul 18.10 WIB Mirzam Abdurachman, mewakili IAGI berkesempatan menyampaikan pandangan mengenai perkembangam status Tangkuban Perahu yang berubah dari Level 1 ke 2, melalui salah satu saluran TV swasta. Karena keterbatasan akses komunikasi, tidak semua hal terungkap dengan baik. Di bawah ini beberapa hal yang bisa ditambahkan.

      Perubahan kondisi status gunungapi Tangkuban Perahu dari level 1 ke 2 dalam pandangan saya sebagai volkanolog adalah: “bukan sesuatu yang mengejutkan namun juga bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan secara belebihan”

      Hidup di daerah yang komplek secara geologi seperti Indonesia, berada pada pertemuan 3 lempeng seperti Eurasia, Indo-Australia serta Pasifik-Filipina menjadikan Indonesia negara yang tidak hanya kaya sumberdaya alam namun juga tinggi resiko bencana, salah satunya letusan gunungapi selain tsunami, tanah longsor dan juga gempa bumi

      Tangkuban Perahu, hanya salah satu dari gunungapi aktif yang ada di Pulau Jawa, dari 35 setidaknya ada 19 gunungapi aktif di Jawa dan 9 diantaranya di Jawa Barat.

      Pencatatan sejarah letusan gunung Tangkuban Prahu cukup lengkap setidaknya sejak 200 tahun terakhir. Namun yang menarik adalah pola letusan yang mulai konstan sejak tahun1950an. Diawali letusan tahun 1951, berturut-turut adalah sebagai berikut 1961, 1971, 1983, 1994, 2004. Tidak persis sama interval waktunya namun setidaknya urutan erupsi tersebut memberikan sedikit info geologi yang cukup baik, perlu dicermati dan diterjemahkan, rata-ratanya hampir sekitar 10 tahunan.

      Dalam volkanlogi ada banyak cara melakukan prediksi letusan gunungapi yang dapat dikelompokan dalam 2 kelompok besar: prediksi jangka pendek dan prediksi jangka panjang. Urutan-urutan waktu yang saya sampaikan tadi sangat bermanfaat buat melakukan prediksi jangka panjang, yaitu mengetahui hubungan antara jeda waktu erupsi dan volume yang dikeluarkan. Idealnya data jeda waktu diketahui begitu pun volumenya, jika tidak salah satu diantaranya harus diketahui. Sederhananya gununapi akan mempunyai waktu rata-rata erupsi dengan volume yang relatif sama. Inilah tugas rumah kita bersama, melengkapi data jeda letusan dan volume selengkap mungkin guna melakukan prediksi lebih akurat.

      Jika letusan terakhir Tangkuban Perahu adalah 2004 maka seharusnya 2014 adalah waktu yang pas buat letusan kembali terjadi. Datanya letusan terjadi kecil-kecil pada tahun 2013 dan tahun setelahnya hingga jumat minggu tepatnya 26 Juli 2019 letusan freatik terjadi berlanjut hingga sekarang. Artinya kita boleh berharap letusan-letusan kecil ini akan mengurangi akumulasi energi dari interval waktu yang sudah terlewati.

      Apakah perlu kuatir? Waspada iya karena jeda waktu erupsi 10 tahunan sudah terlewat, mungkin masih tersisa akumulasi energinya. Namun tidak perlu kuatir berleihan karena Tangkuban Perahu sudah dilengkapi dengan ground instrument untuk melakukan pengamatan dan prediksi jangka pendek seperti pemantau kegempaan, pemantau perubahan suhu kawah, perubahan tubuh gunungapi dll.

      Apakah cukup mitigasi yang sudah dilakukan tersebut? Resiko = Bencana/Kesiapan, maka dengan rumus sederhana ini alangkah lebih baik jika kita sebagai individu juga melakukan self mitigation, menaikan kesiapan berarti akan mengecilkan resiko. Selain mengikuti arahan dan anjuran pihak yang berwenang namun juga mempelajari dan bisa membaca “kearifan” alam yang bisa dengan cepat menjadi penanda awal letusan gunungapi akan terjadi seperti: merasakan gempa vulkanik yang intensif, keluarnya asap/abu dari kawah, keringnya mata air panas, keluarnya gas dari kawah hingga perubahan prilaku binatang yang tinggal di sekitar gununapi.

      Prediksi jangka pendek maupun jangka panjang adalah ikhtiar kita membaca pesan alam dalam memberikan sinyal kapan letusan akan terjadi, bukan mencegah!

      Dengan ini semoga resiko bisa kita kurangi.

      Tidak ada pilihan bagi mayarakat Indonesia selain hidup harmoni dengan alamnya.(Mirzam Abdurrachman/ Vokanolog/ Bidang Pengembangan Ilmu IAGI)

      wawancara Mirzam Abdurrachman

      Comments

      comments