News Details

  • 13-05
  • 2024

SEMARAK HALAL BIHALAL DAN HUT IAGI KE-64 TAHUN

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun IAGI ke-64 sekaligus Halal Bi Halal, IAGI mengadakan Technical Talkshow bertajuk “The Carbon Capture, Use and Storage (CCUS) Challenges and the Impact of Submerging Nickel Commodity: How Can Indonesia Play a Pivotal Role in the Global Decarbonization Society with its Green Energy Campaign?”. Pada diskusi panel ini, IAGI mengundang empat orang pembicara yang memiliki pengalaman yang tidak diragukan kembali, para pembicara tersebut adalah Pertama, yaitu Ibu Diofanny Swandrina Putri, sebagai Head of Business Development di Indonesia Carbon Capture and Storage Center/ICCSC, sebuah badan independent yang menjadi katalis percepatan industry dan riset CCS/CCUS. Kedua, yakni Bapak Teddy Eka Putra sebagai Senior Specialist Innovation Geology - Upstream Innovation di Pertamina Hulu Energi, sebuah perusahaan BUMN yang menjadi contoh dan panutan industry CCS/CCUS di Indoneisa. Ketiga, Bapak Prof. Ferrian Anggara selaku Dosen di Departemen Teknik Geologi di Universitas Gajah Mada, dan terakhir yakni Bapak Agus Superiadi selaku Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesai/PERHAPI, sebuah organisasi profesi yang menjadi mitra pemerintah dalam bidang pertambangan di Indonesia. Selain 4 pembicara diatas, event HUT IAGI juga dibuka oleh Prof. RP Koesomadinata selaku Bapak Geologis Indoneisa.

Pembukaan acara HUT IAGI dimulai dengan penyampaian paparan oleh Pak Koeseomadinata, beliau menyampaikan bahwa geologis dan industry energi fosil bukanlah dalang pada climate change, melainkan fosil fuel adalah bagian dari evolusi industry dan musti dicari solusinya, salah satunya adalah dengan CCS/CCUS. Bak gayung bersambut, solusi tersebut dijelaskan dengan apik oleh bu Diofanny, beliau menjelaskan perkembangan regulasi dan kebijakan untuk mendukung implementasi CCS yang nantinya menjadi elemen penting dalam upaya mencapai Net Zero Emission (NZE) tahun 2060. Diofanny menegaskan bahwa Indonesia boleh berbangga menjadi salah satu negara yang terdepan di Asia Tenggara dalam mengembangkan kerangka kebijakan pendukung investasi CCS/CCUS, contohnya melalui Peraturan Presiden nomor 14 tahun 2024. Selain kebijakan, pemerintah dengan aktif mengadakan multi-stakeholder engagement, baik dengan negara lain maupun pelaku industri. “Indonesia memiliki kemampuan menjadi CCS hub untuk regional Asia Tenggara, tidak hanya karena potensi kapasitas penyimpanan yang besar secara geologi, namun juga karena letaknya yang strategis di antara banyak kluster industri,” tuturnya.

Diskusi dilanjutkan oleh pak Teddy, bagaimana implementasi kebijakan tersebut di skala industry, beliau menjelaskan secara komprehensif analisis teknis terkait capacity, injectivity, dan containment di proyek CCUS lapangan Subang, termasuk. Sebagai salah satu CCS/CCUS project developer yang berfokus di storage, Pertamina telah memulai kerjasama dengan perusahaan berskala internasional. Teddy mengapresiasi mulai terbentuknya kerangka kebijakan yang memfasilitasi CCS/CCUS, namun menekankan masih ada beberapa aspek keekonomian yang harus diperjelas untuk menambah attractiveness investasi CCS/CCUS. “Konversi sumur tua menjadi sumur injeksi tidak selalu dimungkinkan karena masalah integritas sumur, sehingga perusahaan harus mengalokasikan kapital untuk mengebor sumur baru yang lebih mahal,” tuturnya.

Selain di industri migas, penggunaan yang lebih luas di industri lain yang tergolong “hard-to-abate” (sulit di-dekarbonisasi) juga merupakan pekerjaan rumah yang besar bagi pegiat CCS. Oleh karena itu, IAGI mengundang Prof. Ferian yang memberikan gambaran potensi penggunaan CCS/CCUS di industri pertambangan, ketenagalistrikan, dan konstruksi. Mengingat Indonesia merupakan negara yang masih bergantung pada batubara sebagai sumber listrik utama, potensi penggunaan material yang awalnya dianggap “limbah” PLTU dalam rantai pasok CCS adalah salah satu terobosan yang patut diperhitungkan. Prof. Ferian menjelaskan bahwa silika dari flying ash dapat digunakan sebagai substitusi pelarut (adsorbent) amine yang biasa digunakan dalam proses penangkapan karbon (capture), bahkan dengan biaya operasional yang lebih murah. Selain itu, elemen lain dari proses ini seperti kalsium dan magnesium slurry juga dapat digunakan sebagai bahan baku konstruksi yang lebih hijau, yaitu beton geopolimer (beton rendah semen). Hal ini penting mengingat produksi semen berkontribusi cukup signifikan pada emisi global, yaitu 7%.

Diskusi ditutup oleh paparan pak Agus Superiadi terkait dinamika industri nikel di Indonesia, terutama sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik (EV) melalui proses High Pressure Acid Leaching (HPAL) dan konversi NPI-to-Nickel Matte. Harga nikel yang sempat jatuh dalam setahun terakhir tentunya menjadi tantangan untuk produser nikel high-cost di Indonesia, namun di saat yang bersamaan dapat mendorong competitiveness dari baterai EV berbasis nikel. Walaupun alternatif baterai non-nikel seperti Lithium Ferrous Phospate (LFP) mulai meningkat, Agus menilai baterai berbasis nikel masih akan mendapat porsi yang signifikan di masa depan. “Ada perbedaan karakteristik antara baterai berbasis nikel dan LFP, sehingga masing-masing memiliki fungsi dan segmen yang berbeda. Saya pikir porsi nikel dan LFP akan menjadi sekitar 50:50,” jelasnya. Untuk mengantisipasi volatilitas harga di masa depan, Agus merangkum pentingnya integrasi vertikal, dimulai dari upstream (tambang), precursor, cathode, hingga battery cell. Akhirnya, Agus menutup dengan pentingnya terus meningkatkan perhatian pada Environment, Sustainability and Governance (ESG) untuk dapat berkompetisi secara global.

Selain technical talkshow, acara HUT IAGI kali ini juga meresmikan pemberian “HAKI” Penggawa (Pembangkit gas Rawa) dari Pengda Iagi Jawa Timur kepada PP IAGI. Pengda Jawa Timur diwakili oleh Pak Handoko selaku ketua Pengda Jatim kepada Pak STJ Budi Santoso selaku Ketua IAGI periode 2023-2026. Penggawa sendiri adalah sumber alternatif gas yang besumber dari rawa dan dapat dimanfaatkan di tingkat perdesaan, karena Penggawa sendiri dapat diaplikasikan dengan teknologi yang lebih simpel dan berbiaya murah. Sehingga besar harapan desa dapat mandiri dari sisi sumber energi. Penemuan dan prestasi Penggawa oleh Pengda Jawa Timur sungguh luar biasa, karena dari sisi manfaat dan aplikasinya sudah terbukti secara nyata di daerah Grobogan, Karanganyar, serta Banjarnegara, bravo Pengda Jatim!

Diskusi technical talkshow kali ini untuk memperingati HUT IAGI ke 67 terasa sekali marwah IAGI sebagai “organisasi teknikal”, dimana kegiatan yang dilakukan akan membahas secara detail tentang isu hangat Geologi di Indonesia dan membuka wawasan para anggota IAGI serta khalayak ramai. Acara diskusi kali ini ditutup oleh halal bihalal IAGI yang ditandai dengan pemotongan tumpeng dan ramah tamah sesama anggota IAGI. Terimakasih IAGI, terimakasih Indonesia, sampai jumpa lagi di momen tak terlupakan lainnya.

Gambar 1. Para speaker Halal Bihalal Iagi Technical Talkshow, dari kiri, Maria Alexandre S, Diofanny Swandrina Putri, Teddy Eka Putra, Bapak Sumardiman Digdowirogo, Prof Ferrian Anggara, dan Agus Superiadi.

Gambar 2. Foto potong tumpeng acara Ulang tahun IAGI.

Gambar 3. Pemberian simbolis Haki dari Pengda IAGI Jatim ke PP IAGI.