Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Makassar, 29 Okt 2019. Bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang meluluh-tantakan Kota Palu, Sigi dan Donggala pada tanggal 29 September 2018 yang menelan ribuan korban jiwa, harta benda serta menyisakan trauma psykis bagi masyarakat sekitar pada khususnya dan secara umum di Sulawesi dan bahkan di Indonesia. Peristiwa geologi yang menjelma menjadi bencana selalu dan akan senantiasa terjadi jika manusia tidak arif dalam menyikapinya. Belum lagi trauma terhadap bencana Palu, Sigi dan Donggala usai, peristiwa alam lainnya berupa banjir dan tanah longsor kembali melanda sejumlah Kawasan di Sulawesi, khususnya di Konawe, Konawe Utara di Sulawesi Tenggara, serta Kabupaten Bone, Wajo, Luwu serta Gowa dan Jeneponto di Sulawesi Selatan. Peristiwa banjir dan tanah longsor tersebut sebenarnya adalah peristiwa geologi biasa yang tidak harus menjadi bencana yang mengakibatkan sejumlah orang lagi-lagi menjadi korban. Demikian pula kerugian harta benda yang ditimbulkan. Pengalaman tersebut mengantarkan para ahli dan para pengambil kebijakan dalam pembangunan untuk duduk bersama menetapkan langkah-langkah strategis agar bencana serupa dapat diminimalkan tidak.

      Perisitiwa geologi dan bahkan bencana alam yang ditimbulkan adalah keniscayaan yang seringkali sulit dihindari, akan tetapi pemahaman dasar para ahli akan fenomena alam, hendaknya dapat dijadikan acuan dalam perencanaan pembangunan daerah yang pada akhirnya dapar meminimalisir bencana yang terjadi. Oleh karena itu penyebarluasan informasi serta pemahaman akan fenomena geologi yang berpotensi menjadi bencana di suatu daerah menjadi wajib untuk dilakukan.

      Kegiatan mitigasi merupakan faktor penting dan utama serta wajib dilakukan pihak-pihak yang berkompeten. Ahli geologi dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap pemerintah khususnya pemerintah daerah untuk secara aktif melakukan mitigasi bencana alam terutama bencana geologi.

      Pulau Sulawesi dan sekitarnya termasuk “Busur Banda” dikategorikan sebagai Kawasan yang mempunyai potensi besar akan bencana geologi. Terutama, Gempa Bumi Tektonik, Letusan Gunungapi, Tsunami, Banjir Bandang dan Tanah Longsor. Hal itu sebagai implikasi dari kedudukan Pulau Sulawesi yang berada pada zona tumbukan atau zona Konvergen antar Lempeng-Lempeng Tektonik Besar (Lempeng Indo-Australia, Lempeng Oceanik Pacific, dan Lempeng Eurasia). Kedudukan Pulau Sulawesi pada Zona Konvergensi tersebut telah menjadikan Kawasan ini sebagai daerah yang labil rawan gempa serta gerakan tanah (tanah longsor dan bahkan likufaksi sebagaimana yang pernah terjadi di Palu menyusul Gempa Tektonik 7.4 MMI setahun lalu.

      Pemerintah daerah seyogyanya aktif bekerjasama dengan para pakar dari berbagai lembaga kegeologian termasuk Perguruan Tinggi yang memiliki sumberdaya keilmuan yang mumpuni.

      Pengda IAGI Sulawesi Selatan – Barat (Sulselbar) mengadakan kegiatan seminar dan workshop kebencanaan dengan tajuk “Pembangunan yang Bersahabat dengan Alam” pada 29-30 Okt 2019 di Makassar. Kegiatan ini adalah salah wujud dari upaya penyebarluasan informasi ilmiah terkait dengan perencanaan pembangunan daerah serta mitigasi yang dapat dipersiapkan secara dini. Kegiatan ini diperuntukkan bagi para pejabat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) serta pejabat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta juga untuk umum, akademisi, peneliti dan mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kebumian.

      Hadir sebagai narasumber Ketua Umum IAGI (Sukmandaru Prihatmoko), Deputi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana/ BNPB (B. Wisnu Wijaya), Kepala Puslitbang Kebencanaan Unhas (Adi Maulana), Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan/ Badan Geologi (Wahyudin), Ketua MAPIN/ Masyarakat Penginderaan Jauh, Sulsel (Ilham Alimoeddin), Ketua Pengda IAGI Sulselbar (Musri Mawaleda), Ketua MGTI (Imam Sadisun), Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/ Badan Geologi (Supartoyo), dan Ketua Dept. Teknik Geologi Unhas (Asri Jaya).

      Materi seminar dan workshop lebih ditekankan pada mitigasi bencana geologi mulai dari pemahaman tentang bencana sampai dengan sosialisasi, edukasi, dan literasi kebencanaan serta kendala-kendalanya. Pada acara ini, Badan Geologi yang diwakili oleh Wahyudin memberikan sosialisasi tentang peta (Atlas) Likuifaksi Indonesia yang baru diterbitkan beberapa waktu lalu. Atlas ini memberi ulasan dan gambaran tentang zona-zona kerentanan likuifaksi seluruh Indonesia yang dapat dijadikan acuan dalam menyusun tata ruang daerah dan rencana pembangunan daerah.

      Acara yang dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan dibuka oleh Kepala Dinas ESDM Sulawesi Selatan mewakili Gubernur. (Panitia/ Pengda IAGI Sulselbar/ Biro Media IAGI)

      Seminar kebencanaan sulselbar nov19 ft1
      Foto 1. Pose bersama narasumber seminar Kebencanaan IAGI Sulselbar

      Seminar kebencanaan sulselbar nov19 ft2
      Foto 2. Deputi BNPB, Wisnu Wijaya memberikan paparan, seminar Kebencanaan IAGI Sulselbar

      Seminar kebencanaan sulselbar nov19 ft3
      Foto 3. Pembukaan Seminar Kebencanaan (sambutan oleh Ketum IAGI)

      Seminar kebencanaan sulselbar nov19 ft4
      Foto 4. Penyerahan simbolik Atlas Likuifaksi Indonesia produk Badan Geologi, oleh wakil BG (Wahyudin) kepada Ketum IAGI

      Comments

      comments