Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Tahun 2011 saya putuskan untuk mundur dari rencana – tawaran Prof Kerry Sieh untuk meneliti paleotsunami di gua Aceh (yang akhirnya berhasil masuk publikasi Nature). Saya memutuskan untuk bergabung dengan mimpi besar senior peneliti gempabumi LIPI Danny Hilman Natawidjaja ,PhD (Pak Danny). Pak Danny memiliki gagasan besar GREAT (program pasca sarjana tentang gempabumi – hardcore sciencenya) dan CRATER (lembaga/wadah penelitian gempabumi Indonesia). GREAT akhirnya terwujud dengan kerjasama besar antara ITB dan LIPI yang didukung pemerintah Australia melalui AIFDR. Saya dan Astyka Pamumpuni (Tiko) langsung mendapatkan dua pekerjaan besar yaitu GEOLOGI GEMPABUMI SELURUH WILAYAH INDONESIA. Tiko fokus di wilayah Papua dsk dan saya fokus di Sulawesi bagian tengah – Sesar Palukoro Matano, Sumatra Barat – Segment Sianok-Sumani-Suliti, dan Bandung- Sesar Lembang.

      Dibawah Bimbingan Promotor Benjamin Sapiie ,PhD (Pak Mino), Pak Danny dan Prof Kerry Sieh (Direktur EOS – NTU – hingga kemajuan ke III saja) saya melakukan pekerjaan saya sebagai mahasiswa paska sarjana Institut Teknologi Bandung didalam program “perjuangan” GREAT (Graduate Research on Earthquake and Active Tectonic – meski secara administrasi adalah dibawah Sains Kebumian).

      Menggunakan data lama hasil survey gempabumi kembar (doublet) 2007 daerah Solok – Sumatra Barat dan ditambah survey rinci , akhirnya kita memahami karakteristik gempabumi di daerah ini… Gempa bumi Sesar Sumatra di wilayah ini selalu terjadi gempabumi kembar yang dimulai dari selatan dan kemudian disusul bagian utara dengan magnitud yang sama dengan jeda waktu antara 2 jam hingga 7 jam. Jalur Segmen Sianok dan Segmen Sumani (bagian dari Sesar Sumatra) akhirnya dapat dipetakan dan dipublikasikan di Bulletin of Seismology Society of America (BSSA). Ini adalah publikasi pertama retakan permukaan gempabumi (surface rupture) yang pertama di Sumatra dan Indonesia.

      Sesar Lembang adalah bukan hal baru untuk saya. Saya mulai bekerja membantu peneliti senior Dr Eko Yulianto sejak masuk kerja di LIPI tahun 2007. Sejak masuk program S3, saya akhirnya bisa mengembangkan ide-gagasan-passion tentang mencari tahu karakteristik Sesar Lembang ini. Menggunakan data LiDAR yang mahal yang dibelikan pemerintah Australia akhirnya saya dapat memahami pola kinematika gerak dan jalur pasti Sesar Lembang. Berbekal data inilah saya akhirnya dapat menemukan dua kejadian gempabumi tua yaitu hasil uji paritan di Batu Lonceng yaitu kejadian gempabumi pada Abad ke-15 dan uji paritan di Desa Panyairan Danau kejadian gempabumi pada 60 Sebelum Masehi. Bukti gempabumi pada 60 Sebelum Masehi ini adalah bukti yang jelas dan tak terbantahkan tentang keaktifan Sesar Lembang. Panjang Sesar Lembang berhasil diidentifikasikan sepanjang 29 Kilometer. Sesar Lembang ini memiliki kemampuan menghasilkan gempabumi dengan besaran Magnitud 6.5 hingga 7. Saat ini proses publikasi telah pada tahap review di jurnal Tectonophysics.

      Sesar Palukoro – Sesar Matano adalah bagian tersulit studi S3 saya. Wilayah Sulawesi bagian tengah ini sangat kompleks dan juga milestone penelitian yang membingungkan. Hal pertama yang saya lakukan adalah memberikan tata nama yang berdasarkan nama-nama morfologi lokal (seperti sungai dsb). Dengan berbekal citra IFSAR eceran (beli dengan kotak-kotak kecil daerah tertentu, meski di akhir studi mendapatkan data IFSAR seluruh wilayah Sulawesi bagian Tengah punya pemerintah (=meskipun saya juga orang pemerintah)) dan citra “gratisan” SRTM 90 meter berhasil menemukan pergeseran sungai yang kentara jelas di Sungai Muara Saluki. Berbekal dengan hasil penelitian awal ini saya mendapatkan dana untuk pergi ke lapangan selama 17 hari dengan target menemukan bukti retakan gempabumi tua. Dengan ditemani teknisi (Sukoco dan Nandang Supriatna) dan mahasiswa S1 Jessica Candra akhirnya berhasil menemukan pergeseran mendatar meng-kiri 5.5 meter dan vertikal 1.5 meter. Kemudian hasil uji paritan juga terlihat jelas 6 jejak gempabumi tua. Dengan keterbatasan jumlah sampel uji AMS karbon dating akhirnya dapat diketahui bahwa gempa terakhir adalah kejadian 1909 yang sesuai juga dengan buku Abendanon (1917) yang merupakan saksi kejadian gempa di tahun 1907 dan tahun 1909. Pada tahun 2012 terjadi gempabumi Magnitudo 6 di Danau Lindu. Saya bersama kolega GREAT mendapatkan kesempatan untuk mempelajari kejadian gempabumi ini dan hasilnya menunjukkan bahwa gempabumi 2012 ini identik dengan kejadian gempabumi 1907 (yang kita tahu 2 tahun berikutnya disusul dengan gempabumi yang lebih besar pada tahun 1909). Kekuatiran ini saya sampaikan ke senior peneliti Prof. Hery Harjono (Pak Hery). Pak Hery bilang kesaya untuk berani dan harus memberikan informasi ini ke masyarakat. Tepat didalam kegiatan diseminasi tahunan Puslit Geoteknologi LIPI saya bertemu dengan Mas Anwar wartawan Tempo wilayah Bandung dan dimuat. Saya jelaskan kemungkinan karakteristik gempabumi di Sesar Palukoro ini… bahwa jika kebiasaan Sesar Utama bergerak didahului oleh gempabumi dari sesar minor yang tegaklurus… jika benar adalah dua tahun setelah 2012 yaitu di tahun 2014… saya berharap perhitungan ini salah dan ternyata tidak terjadi gempabumi di tahun 2014… dan kemudian terjadi gempabumi Magnitud 7.4 tahun 2018 sekarang (informasi yang sama saya sampaikan ke Ahmad Arif Kompas dan juga ketika sosialisasi dengan Ekspedisi Sesar Palukoro di tahun 2017 – setelah saya lulus). Ketika gempabumi 2018 ini terjadi, WA Pak Hery langsung menanyakan apakah benar ini adalah gempabumi yang saya tunggu – awalnya saya Ya dan Bukan – Ya, karena memang gempabumi di tiap segmen Sesar Palukoro adalah mampu menghasilkan gempabumi Magnitud 7 dan Bukan, karena lokasi sumber gempabumi adalah di utara Segment Palu (Segmen paling utara di darat). Setelah data interferometri pergerakan deformasi didarat akhirnya jelas terlihat bahwa gempabumi ini juga telah menggerakkan Segmen Saluki – lokasi dimana saya menemukan bukti kejadian gempabumi 1909. Berarti Ya – ini gempa yang saya tunggu. Tetapi saya tidak pernah menduga sedahsyat ini….

      Indonesia Raya – hampir seluruh wilayah adalah dekat dengan jalur sesar aktif penghasil gempabumi baik didarat maupun laut. Membangun negara ini harus berdasarkan konsep “hidup harmonis dengan ancaman gempabumi”. Secara rinci kita bisa perikan hal yang rinci bencana gempabumi ini…
      1) Ancaman jalur sesar aktif. Jalur ini ketika terjadi gempabumi bergerak berbeda arah dan menyebabkan robekan permanen. Bangunan apapun akan hancur. Cara mengatasinya adalah menghindari jalur ini sepanjang 15 meter tiap sisi – atau 30 METER SAJA (bukan berkilo-kilometer). Permasalahanya adalah mendapatkan jalur sesar ini adalah SANGAT MAHAL – yaitu menggunakan survei rinci airborne LiDAR (yang mampu menembus tutupan vegetasi) dan/atau setelah terjadi gempabumi. Di Indonesia , peta jalur sesar aktif ini yang layak bisa digunakan baru Sesar Lembang dan Segment Sianok-Sumani saja.
      2) Bahaya goncangan gempabumi. Guncangan gempabumi ini menyebar ke segala arah… dan solusinya adalah membangun bangunan tahan gempa. Kementerian PUPR Permukiman di dalam websitenya telah banyak menjelaskannya… ujungnya adalah pelaksanaanya di lapangan.
      3) Bahaya ikutan goncangan gempabumi. Ini adalah tsunami, longsoran, likuifaksi dsb. Penelitian ini adalah keahlian tersendiri dalam bidang geoteknik, oseanografi, geologi teknik dsb.

      HIDUP HARMONIS DENGAN ANCAMAN GEMPABUMI hanya dapat dilakukan jika kita benar-benar paham ancaman-ancaman ini… penelitian gempa bumi adalah hal yang vital dalam membangun negara ini dan masih banyak yang kita tidak tahu. Philippine sadar bahwa ibukota Manila berada dekat dengan sesar aktif dan ini yang mendorong mereka melakukan penelitian rinci jalurnya yang memaksa tiga kementerian bersinergi biaya dan tenaga yang akhirnya mereka mampu menghasilkan regulasi batas menghindari jalur sesar aktif 5 meter (lebih presisi dari New Zealand 12.5 meter, Amerika 15 meter).

      Indonesia dengan cakupan wilayah yang sedemikian luas sangat menantang untuk memahami perilaku gempabumi di sesar-sesar aktifnya. Secara padat saya katakan –> Diperlukan suatu sistem yang lebih mengakomodasi para ahli “HARDCORE” gempabumi(=peneliti yang benar-benar efektif dan berdedikasi) dan regulasi tanpa celah untuk dapat mengarahkan pembangunan Indonesia dari ancaman gempabumi.

      Salam,
      dr_mudrik_r_daryono

      Oleh: Dr. Mudrik R. Daryono (Peneliti LIPI/ Anggota Tim Ekspedisi Palu Koro IAGI-Skala-ACT)

      Comments

      comments