Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Mulai Senin 24 Juni  hingga 1 Juli 2019, tim Ekspedisi Poso memulai kembali perjalanan menyusuri Sesar Poso yang memanjang dari kota Poso mengikuti desa-desa sepanjang sungai Poso terus kesisi timur Danau Poso.

      Ketua tim Ekspedisi Poso, Lian Gogali dalam penjelasannya mengatakan, bukan hanya meneliti dan berusaha menemukan kenampakkan sesar, tim ekspedisi poso dibagi menjadi 4 kelompok utama.

      “Tim geologi mempelajari struktur batuan, sejarah gempa , dan rekahan permukaan sesar. Tim arkeologi akan menyusuri situs-situs tua untuk mempelajari peninggalan budaya orang Poso yang ada di jalur Sesar Poso ini. Lalu tim biologi mempelajari biota laut dan sungai. Ketiga  tim ini melakukan riset di wilayah-wilayah yang disebutkan dalam cerita dan tradisi masyarakat setempat yang akan dipelajari oleh tim Antropologi dan tim laulita”

      Lian mengatakan tim Ekspedisi Poso merupakan kolaborasi antara para ilmuwan yakni geolog, arkeolog, palaentolog, biolog, teolog, antropolog dengan budayawan serta peminat kajian ekologi, fotografer dan pembuat film dokumenter. Inisiatif perjalanan ekspedisi Poso memang dimulai dari masyarakat komunitas Penjaga Danau Poso.

      Banyaknya disiplin ilmu yang turut dalam ekspedisi poso menariknya tidak saling mendominasi. Sebab menurut Lian ini merupakan kolaborasi baik diantara para akademisi maupun dengan budayawan sebagai sumber utama data dan pengetahuan mengenai wilayah yang dipelajari.

      Peneliti LIPI Hery Yogaswara berulangkali menegaskan bahwa tidak ada satu ilmu atau ahli yang mendominasi proses penelitian selama ekspedisi ini. Semuanya berjalan setara sesuai disiplin masing-masing. Sebab tujuan ekspedisi ini untuk menguatkan pengetahuan masyarakat mengenai sejarah, kekayaan alam dan potensi bencana diwilayahnya.

      Ekspedisi Poso tahap dua ini akan dimulai dari Kelurahan Bonesompe kecamatan Poso Kota Utara. Pemilihan Bonesompe setelah mendengar para budayawan yang menyebutkan nama kelurahan ini dalam bahasa Poso berarti pasir yang tersangkut atau tumpukan pasir. Setelah Bonesompe ada pula Tana Runtuh, sebuah lokasi di kelurahan Gebang Rejo kecamatan Poso Kota. Di ruas jalan pulau Irian Jaya, ada sebuah titik dimana setiap tahun terjadi penurunan tanah yang menyebabkan jalan disini turun cukup dalam. Selain kedua wilayah ini tim ekspedisi juga akan mempelajari beberapa tempat lain seperti kelurahan Lombugia, Tegal Rejo dan Madale.

      Tercatat beberapa kali peristiwa gempa bumi yang berkaitan dengan sesar Poso. Salah satunya berkekuatan  Magnitudo 3 di kedalaman 21 Km terjadi pada 5 April 2019 lalu yang bersumber di Teluk Poso, 29 kilometer arah timur laur Poso. Selanjutnya pada 22 Mei 2019 lalu kembali terjadi gempa dilokasi yang sama dengan kekuatan lebih besar, magnitudo 3,6.

      Rekaman Reza Permadi, dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia yang juga merupakan tim ahli Ekspedisi Poso mengatakan bahwa sejarah gempa yang terjadi di wilayah Sesar Poso menunjukkan sesar aktif, sehingga  inisiatif masyarakat untuk menelusuri jejak sesar perlu diapresiasi.

      “Gempa tidak membunuh manusia, tetapi struktur bangunan dan ketidaksiapan masyarakat dan pemerintah bisa saja menjadikannya bencana. Karena itu inisiatif masyarakat untuk bisa mengetahui bumi yang dipijak dan merancang pembangunan yang tepat perlu diapresiasi” kata Reza.

      Berbeda dengan ekspedisi tahap satu yang mengelilingi desa-desa di pinggir danau Poso, perjalanan kali ini menyusuri pinggiran laut lalu sungai hingga ke danau juga akan melihat bagaimana tradisi masyarakat pesisir pantai di Poso menghadapi potensi bencana baik di masa lalu maupun saat ini.

      Ekspedisi Poso menjadi salah satu perjalanan penting karena akan mempelajari secara langsung potensi bencana di wilayah ini. Sejumlah ahli mengakui data-data sejarah bencana dan potensinya yang ada di wilayah Poso masih belum terdokumentasi. Bahkan diakui pula oleh BNPB bahwa belum ada pengukuran GPS terhadap beberapa sesar di Indonesia, termasuk 3 sesar yang melintasi Poso, yakni sesar Tokararu, Sesar Poso dan Sesar Poso Barat.

      Hasil penelitian tim geologi, biologi, antropologi dan arkeologi bukan hanya konsumsi para anggota tim ekspedisi. Pada malam hari, diadakan diskusi dengan masyarakat di wilayah yang dijelajahi oleh tim ekspedisi. Dilakukan pemaparan hasil temuan sementara yang diperoleh tim ekspedisi dan masyarakat diharapkan bisa memberikan masukan dan informasi berkaitan dengan desa mereka.

      Poster 20190702

      Kontak Person :
      Sekretariatan Institut Mosintuwu : 0458 – 21765

      (RP/Biro Media Internal IAGI)

      Comments

      comments