Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Potensi tsunami sangat mungkin terjadi di Indonesia, tak terkecuali di Jawa bagian Selatan.  Ramainya pemberitaan potensi tsunami di pantai Jawa bagian barat, muncul paska Seminar Ilmiah Badan Metereologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) (03/04). Mengingat pemberitaan tsunami dapat menimbulkan keresahan masyarakat, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) perlu memberikan klarifikasi terhadap pemberitaan ini. IAGI sendiri bersama Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), satu anak organisasi IAGI,  telah  mengadakan Seminar Ilmiah tentang potensi gempa di Jakarta (27/03), termasuk mitigasi yang harus dilakukan menghadapoi bencana gempa bumi dan tsunami.

      Dari diskusi IAGI dan mengacu pada hasil penelitian ahli geologi dan seismik, sejauh ini diketahui ada 3 kemungkinan sumber gempa besar di Jawa bagian barat, yaitu “megathrust” di lepas pantai selatan Jawa, “struktur intraslab” di bawah Jawa, dan sesar-sesar dangkal yang merajang daratan Jawa Barat, seperti di antaranya Sesar Baribis dan Sesar Cimandiri-Lembang.

      Gempa yang berpotensi membangkitkan tsunami besar bersumber pada “megathrust” di wilayah Selat Sunda sampai laut selatan Jawa. Pemberitaan media tentang ketinggian (run up) tsunami sampai 57m di pantai barat Pandeglang, 41m di selatan Sukabumi, setelah dikonfirmasi ke salah satu narasumber Seminar BMKG (03/04), adalah hasil simulasi/ pemodelan (seandainya) terjadi gempa bumi M9 pada megathrust tersebut. Artinya potensi tsunami sebesar itu mungkin ada, tetapi hal ini harus dikaji lebih lanjut dengan penelitian yang lebih mendalam.  Selain itu perihal kapan gempa-tsunami megathrust tersebut dapat terjadi belum bisa diprediksi.

      IAGI terus mendorong dilakukannya penelitian, termasuk simulasi dan pemodelan, tentang struktur geologi (sesar/ patahan) aktif baik pada skala regional maupun skala rinci. Riset-riset: pemetaan geologi sesar aktif, studi tektonik – geodesi (GPS), seismologi gempa, paleoseismik dan paleotsunami serta dokumentasi berbagai catatan sejarah gempa di masa lalu harus terus dilakukan.  Dalam kaitannya dengan mitigasi bencana, perlu juga ada prioritas untuk melakukan studi yang intensif dan komprehensif pada jalur-jalur sesar aktif atau sumber gempa yang dekat dengan wilayah padat populasi dan infrastruktur, khususnya untuk jalur Sesar Kendeng-Baribis yang berarah barat-timur melintasi bagian utara Pulau Jawa, mulai dari Kota Surabaya, melewati Kota Semarang, Cirebon, dan diperkirakan menerus sampai Kota Jakarta.

      Data sesar aktif – sumber gempa dan tsunami yang sebanyak dan seakurat mungkin sangat diperlukan untuk menyusun strategi mitigasi bencana yang lebih tepat dan efektif. Semakin banyak dan bagus datanya  akan semakin sahih prediksi potensi bencana gempa dan tsunami yang dapat dibuat. Pemaparan hasil-hasil penelitian melalui seminar, workshop dsb diharapkan bisa menjadi sarana edukasi dan peringatan kepada masyarakat awam agar terus meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami.

      Bersamaan, IAGI juga menghimbau kepada insan media agar dapat memberitakan hasil penelitian ilmiah para ahli secara proporsional dalam rangka membantu edukasi, bukan malah mengakibatkan keresahan yang tidak perlu di masyarakat.

      Jakarta, 5 April 2018

      Pengurus Pusat IAGI

      Sukmandaru Prihatmoko

      Ketua Umum

      Comments

      comments