Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Geneva, 29 Apr – 3 Mei 2019. Bertempat di Palais des Nations, Gedung PBB/ United Nations (UN) di Geneva, Swiss telah berlangsung konferensi dan workshop tentang pengelolaan sumberdaya kebumian yang bertajuk “Resources for Sustainable Development”. Acara yang dikelola oleh UNECE (UN Economic Commission for Europe) atas nama PBB ini diikuti oleh para ahli sumberdaya kebumian/ alam dari seluruh dunia yang bernaung dibawah “Expert Group on Resource Management (EGRM)”. Acara tahunan ini sudah berlangsung 10 kali dan tahun ini diikuti oleh perwakilan dari sekitar 70 negara anggota PBB.

      Tema utama dari acara ini adalah “UNFC (UN Framework Classification for Resources) and UNRMS (UN Resource Management System): Tools for Managing Resources for Sustainable Development”. Sumberdaya (resources) yang menjadi pokok bahasan meliputi minyak dan gas bumi, solid mineral, batubara, mineral radioaktif, geotermal, bioenergy, solar/ sinar matahari, angin, hydropower/ air, marine, sumberdaya antropogenik (anthropogenic resources) dll.

      UNFC yang diluncurkan pertama kali tahun 2009 merupakan kerangka/ pedoman klasifikasi sumberdaya yang dibuat dengan maksud untuk mengakomodasi semua jenis sumberdaya terutama terkait dengan kebumian. Tujuannya adalah bahwa potensi sumberdaya kebumian yang ada di dunia yang berasal dari berbagai jenis/ sumber tersebut dapat diklasifikasikan menggunakan pedoman/ system dan “bahasa” yang sama. Sehingga para penggunanya akan memiliki pemahaman dan “bench mark” yang sama di seluruh dunia. Ada dua kepentingan utama yang dapat diambil dari penggunaan satu system UNFC. Pertama, pada level negara, ini akan dapat digunakan sebagai pedoman dalam membuat neraca sumberdaya alam sebagai modal dasar pembangunan di masing-masing negara. Kedua, penggunaan UNFC akan memudahkan dalam memvaluasi sumberdaya kebumian antar negara/ region baik untuk kepentingan negara yang bersangkutan maupun untuk kepentingan investasi.

      UNFC akan menjadi tulang punggung utama UNRMS yang juga sedang disiapkan. Apalagi ini dikaitkan dengan agenda besar PBB yaitu Sustainable Development Goals (SDG) 2030. SDG ini mengagendakan 17 goals yang sebagian besarnya terkait dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya bumi.

      IAGI mewakili Indonesia mulai terlibat di perhelatan besar ini sejak yahun lalu (2018). Berbekal Kode KCMI dan Sistem CPI yang dikembangkan MGEI (anak organisasinya) dan PERHAPI sejak 2009, dan dipakai untuk klasifikasi sumberdaya minerba, IAGI bisa berbicara di pentas dunia ini. Hal ini berawal dari pengakuan resmi oleh CRIRSCO (Committee for Mineral Reserves International Reporting Standards) atas Kode KCMI di tahun 2017 yang menjadikan IAGI mendapatkan undangan ke Geneva ini. Dua anggota / pengurus IAGI saat ini mendapat kehormatan menjadi anggota Working Group – Mineral di EGRM, yaitu Yoseph Swamidharma dan Arif Zardi Dahlius, berkumpul bersama ahli-ahli dari negara lain dengan goal merumuskan UNRMS (UN Resource Management System) dan mengembangkan UNFC.

      Melalui presentasi resmi dalam sidang UNECE ini, Ketua Umum IAGI (Sukmandaru Prihatmoko) memberikan overview tentang perkembangan kode pelaporan sumberdaya dan cadangan minerba termasuk Kode KCMI dan Sistem CPI, serta mengenalkan kode pelaporan untuk bidang migas (modified PRMS) dan bidang geotermal (SNI 6009/ 2017). Dua kode terakhir (untuk migas dan geotermal) perlu upaya tindak lanjut agar dapat diharmonisasikan dengan UNFC. Tanggapan positip didapatkan dari beberapa delegasi negara lain, terutama sekali yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Kode KCMI yang sudah diakui oleh CRIRSCO dan sejalan dengan UNFC.

      Ke depannya, Kode KCMI dan kode-kode yang lain bersama UNFC akan dapat dipakai untuk mendukung Sistem Managemen Sumberdaya (UNRMS) yang sedang dikembangkan dalam rangka menjalankan Agenda Sustainable Development Goals (SDG) 2030.

      Di sela-sela acara Resource Management Week 2019, ini delegasi IAGI sempat berkunjung ke Konsulat (PTRI) Republik Indonesia di Geneva. Sambutan dan dukungan hangat diberikan oleh Konsul RI Geneva (Bonanza Taihitu dan staff) dan juga Dubes RI untuk Swiss (Muliaman Dharmansyah Hadad) untuk suksesnya misi IAGI di acara ini. Tahun-tahun berikutnya, bidang migas dan geotermal diharapkan dapat berperan aktif dalam acara PBB ini. (SP/ Biro Media IAGI).

      geneva_ft1
      Foto 1. Delegasi Indonesia (IAGI) di sidang UNECE for Resource Management System

      geneva_ft2
      Foto 2. Ketum IAGI (dua dari kanan) di depan sidang UNECE

      geneva_ft3
      Foto 3. Ketum IAGI memberikan overview tentang Resource Management Indonesia di depan sidang UNECE

      geneva_ft4
      Foto 4. Delegasi Indonesia (IAGI) di depan gedung PBB, Geneva

      geneva_ft5
      Foto 5. Delegasi Indonesia bersama Konsul RI Geneva

      Comments

      comments