Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • Saatnya Tambora Menyapa Dunia


    • Empat tahun yang lalu yaitu dalam rangkaian kegiatan Festival Tambora pada tahun 2015, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) telah melakukan pendakian bersama puncak Gunung Tambora pada tanggal 11 April 2015 sebagai salah satu langkah edukasi kegeologian dan pembelajaran akan dahsyatnya dampak Letusan Gunung Tambora pada tanggal 11 April 1815. Saat ini, terhitung sudah 204 (dua ratus empat) tahun Gunung Tambora menumpahkan isi perut bumi ke dataran Dompu dan Bima dan menerbangkannya bersama udara sampai ke Benua Eropa, Amerika, dan seluruh dunia.

      Dengan semangat menyebarluaskan pemahaman kegeologian kepada masyarakat, IAGI melalui pengurus daerah Nusa Tenggara pada tahun 2019 melakukan Joint Event Seminar Nasional Geopark Gunungapi Indonesia. Kegiatan ini sendiri merupakan rangkaian dari Festival Geopark Tambora I, sekaligus dengan pelantikan kepengurusan baru IAGI pengda NUSRA.

      Dalam sesi pembukaan acara Festival Geopark Tambora I yang langsung dibuka oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc., Sekretaris Jenderal IAGI, Dwandari Ralanarko, mewakili Pengurus Pusat IAGI mengukuhkan kepengurusan IAGI Pengda NUSRA periode 2019 – 2022 dengan ketua terpilih adalah Kusnadi. Pengangkatan kepengurusan baru secara simbolis dilakukan langsung di hadapan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Bupati Bima, Wakil Bupati Bima, Walikota Bima, Bupati Dompu serta seluruh tamu undangan dan hadirin. Dr. Heryadi Rahmat (Ketua Masyarakat Geowisata Indonesia – MAGI), sebagai salah satu anak organisasi IAGI berkesempatan secara langsung membagikan buku  Tambora kepada seluruh Pejabat Pemerintah Nusa Tenggara Barat yang hadir.

      Kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Geopark Gunungapi Indonesia yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang geopark sebagai salah satu pendekatan ekonomi, pendidikan dan konservasi yang terbukti berhasil di banyak tempat di dunia dan di Indonesia sendiri serta secara khusus memberikan pembelajaran akan gunungapi baik dari segi kebencanaan dan segi manfaatnya. Guna menghadirkan seminar yang edukatif dan atraktif, panitia berusaha mendatangkan narasumber-narasumber ternama baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

      Sesi pertama seminar dibuka dengan materi Satukan Langkah Menuju Tambora UNESCO Global Geopark yang dibawakan oleh Azwir Malaon yang merupakan Wakil Ketua Percepatan Geopark Indonesia-Kementrian Pariwisata. Ada empat poin pilar penting dalam pengembangan geopark yaitu international value, management, visibility dan networking. Sebagai salah satu letusan yang mendunia, Geopark Tambora memiliki international significance sebagai calon geopark dunia namun tentunya diperlukan pembenahan dalam segi manajemen dan peningkatan sarana prasarana hingga berkelas internasional sebagai penunjang dalam segi ekonomi, edukasi dan konservasi di masing-masing geositenya. Tentunya yang tak kalah penting adalah networking. Baik yang bersifat lokal dengan penggiat wisata, swasta dan pemerintah daerah, maupun secara nasional dengan kementrian yang membidangi dan dengan geopark lain serta secara internasional dengan jaringan geopark UGG. Dan yang tak kalah penting pula harus memiliki donatur yang siap membantu pendanaan dalam pengembangan geopark.

      Materi kedua tentang keanekaragaman geologi (geodiversity) Indonesia oleh Dwandari Ralanarko, Sekjen IAGI. Beliau membahas tentang tiga aspek penting geologi bagi hajat hidup manusia yaitu Geo-Resources dan Geo-Hazard serta Geo-Convservation. Indonesia sebagai salah satu negara yang berada di pertemuan lempeng aktif merupakan negara dengan sumber daya alam geologi yang sangat berlimpah, dinamika geologi yang begitu tinggi membuat potensi bahan tambang dan minyak bumi begitu besar. Namun di sisi lain, dinamika geologi tersebut juga menghasilkan potensi bencana alam geologi seperti gempa bumi, tsunami, gunungapi dan gerakan tanah.

      Menariknya, proses geologi yang sama juga telah membentuk bentang alam yang indah seperti pegunungan, lembah sungai dan garis pantai dengan pasir putihnya. Berdasarkan catatan IAGI ada 89 lokasi geowisata yang tersebar di seluruh Indonesia dengan potensi dan keunikan yang berbeda-beda. Di situlah dihadirkan kolaborasi dan kontribusi nyata dari IAGI untuk memberdayakan potensi-potensi tersebut melalui MAGI dan Pengurus Daerah yang sedang didorong untuk bisa mengembangkan potensi yang ada sebaik-baiknya. Keberadaan geopark memudahkan masyarakat dalam pengembangan paket-paket geotrip di beberapa wilayah Indonesia yang telah memiliki status geopark seperti Tambora dan Rinjani di NTB. Di situlah titik keseimbangan yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa untuk dapat kita syukuri dan bijaki.

      Pemateri ketiga A. Djumarma Wirakusumah secara khusus memaparkan tentang outstanding value dari Geopark Tambora. Beliau memaparkan bahwa Gunung Tambora secara global telah dikenal oleh seluruh masyarakat dunia akibat letusannya yang dahsyat pada tahun 1815. Hanya ada 3 (tiga) gunungapi yang mampu menyaingi kejadiaan letusan dahsyat Tambora yaitu Danau Toba, Yellow Stone dan Rinjani tapi ketiga gunungapi tersebut terjadi pada zaman Pra-Sejarah (ketika penduduk belum melakukan pencatatan akan kejadian letusan gunungapi) bahkan Toba dan Yellow Stone terjadi sebelum peradaban ada.

      Banyak sejarah besar terjadi akibat terjadinya letusan Tambora di antaranya kekalahan Napoleon Bonaparte, ditemukannya sepeda dan cerita Frankenstein yang sangat terkenal waktu itu. Hal tersebut tidak terlepas dari dampak abu vulkanik Tambora, yang menutupi lapisan stratosphere bumi sehingga matahari tidak bisa menembus lapisan tersebut. Terjadi kegelapan yang berkepanjangan dan tidak terjadi musim panas di Eropa. Di Tambora sendiri tidak kalah besar ceritanya di mana 3 (tiga) kerajaan besar yaitu Tambora, Pekat dan Sanggar terkubur akibat kejadian letusan tersebut. Selain dari dahsyatnya cerita letusan Tambora, di sekitar Tambora juga terdapat keunikan-keunikan geologi yang sangat menarik seperti Doro Bente yang merupakan cinder cone, Pulau Satonda dengan 2 kali letusan magmatik besar serta danau air asin yang dipenuhi stromatolyte sebagai penciri ekosistem purba. Selain keunikan tersebut sebenarnya ada keunikan yang bisa dimasukkan sebagai bagian dari Geopark Tambora seperti teluk Saleh dan Pulau Moyo. Selain keunikan geologi, kedua kawasan ini memiliki keanekaragaman biologi dan budaya yang sangat menarik. Semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memperluas kawasan Geopark Tambora.

      Sesi kedua juga diisi oleh 3 (tiga) pemateri. Pertama yaitu Dr. Sugeng Santoso, dengan materi pengembangan geopark sebagai jalan baru peningkatan ekonomi berkelanjutan. Beliau lebih menjelaskan tentang Perpres No. 9 tahun 2019. Keberadaan Perpres ini merupakan payung hukum yang kuat bagi pengembangan geopark di Indonesia. Perpres memberikan pedoman mengenai keberadaan geopark, management dan langkah pengembangannya. Semoga dengan keberadaan Perpres ini baik geopark yang sudah ada maupun yang sedang dalam aspiring dapat segera berkembang dengan lebih cepat.

      Pemateri kedua adalah Yongmuen Jeon dari Jeju Island UGGp. Beliau memaparkan materi tentang Geo Branding Project dengan studi kasus Jeju Island UGGp. Beliau memaparkan dalam pengembangan geopark branding menjadi hal yang sangat penting. Dengan branding yang kuat, pembatas antara wisata alam biasa dengan geopark sangat jelas. Wisata alam biasa hanya mementingkan aspek pemandangan alam tanpa menyelami ke dalam bagaimana kenampakan itu terjadi hal tersebut berakibat pengunjung tidak memiliki pengalaman yang lebih dari mengunjungi suatu tempat wisata. Pengalaman yang lebih inilah yang berusaha ditawarkan oleh Jeju UGGp sehingga Jeju Island yang dulunya hanya dikenal sebagai pulau bagi nelayan dan pekerja saat ini menjadi pulau bagi wisatawan dan pensiunan. Semoga geopark Tambora mampu membuat branding yang tegas melalui edukasi masyarakat lokal, penciptaan sarana dan prasarana yang memadai dan penciptaan lapangan pekerjaan dalam bidang pariwisata yang lebih besar sehingga dalam waktu 5 tahun sudah bisa mendatangkan wisata yang pesat.

      Pemateri terakhir dalam sesi ini adalah Pak Iman dari Badan Ekonomi Kreatif yang memberikan materi tentang pengembangan geopark melalui ekonomi kreatif. Geopark merupakan sebuah kawasan di mana masyarakat lokal beraktivitas di dalamnya, dengan moto menyejahterakan masyarakat geopark seharusnya menjadi wadah untuk pengembangan ekonomi masyarakat. Masyarakat yang dahulunya hanya bertani, berladang dan nelayan harus mampu ditingkat pemahamannya melalui pelatihan dan kunjungan kerja sehingga mereka paham bahwa kegiatan bertani dan nelayan bisa lebih menguntungkan apabila dikembangkan dalam branding geopark. Tentunya untuk melakukan itu butuh kerjasama dan satu visi antara masing-masing stackholder agar satu branding ini tetap berjalan bersama. Jangan sampai sebuah instansi mengembangkan branding geopark, Instansi B justru mengembangkan branding lain.

      Rangkaian acara ditutup dengan pelaksanaan Field Trip 2 hari 1 malam yang meng-observasi secara langsung beberapa geosite andalan dari Geopark Tambora, antara lain Situs Doro Bente, Pulau Satonda, Sere Nduha, dan lain-lain. Field Trip tersebut menghadirkan diskusi yang sangat menarik antara Dr. Jeong (UGGp Jeju) dengan para Geolog IAGI – MAGI yang hadir (Dr. Heryadi Rahmat, Dwandari Ralanarko, A. Djumarma) serta seluruh peserta dari Jaringan Geopark Indonesia (Geopark Tambora, Geopark Gunung Rinjani, Geopark Gunung Batur, Geopark Gunung Sewu, dan lainnya.

      Dari keseluruhan rangkaian Festival Geopark Tambora I dapat dikatakan sudah cukup lengkap membahas semua aspek dari geopark mulai dari pemahaman dasar, outstanding values, branding, dan langkah pengembangan. Semoga dengan peningkatan pemahaman ini dapat menjadi referensi untuk pengembangan geopark gunungapi Indonesia secara umum dan Geopark Tambora secara khusus.

      semnas geopark nusra 2019 ft2

      semnas geopark nusra 2019 ft6 semnas geopark nusra 2019 ft9 semnas geopark nusra 2019 ft8

      Comments

      comments