Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • Monthly Archives: April 2017

    Peta Geologi dari Sabang sampai Merauke

    Indonesia yang diapit oleh dua lempeng besar, memiliki kondisi geologis yang komplek dan unik. Di negeri ini bencana dan anugerah menjadi satu karena faktor geologi. Bencana seperti tanah longsor, gempa bumi, dan tsunami adalah peristiwa geologi. Anugerah berupa kesuburan alam, kekayaan sumber daya alam berupa mineral dan migas, juga karena proses geologi.

    Hampir seluruh aktivitas pembangunan fisik di Indonesia juga tak lepas dari aspek geologi. Pembangunan jalan, jembatan, bendungan, gedung dan perumahan, mau tidak mau harus melalui analisis geologi yang profesional untuk menghindari terjadinya bencana yang memakan korban.  Perencanaan pembangunan wajib menyertakan kajian geologi agar pembangunan dapat dilakukan dengan efektif dan efisien dan aman bagi masyarakat.

    Mengingat posisinya yang krusial tersebut maka kebutuhan informasi geologi dasar berupa peta geologi sangat diperlukan. Karena itulah Badan Geologi selama lima tahun terakhir berjibaku menuntaskan pembuatan peta geologi dengan skala 1:50.000.  Sebagaimana lagu perjuangan ciptaan R. Suhardjo berjudul ‘Dari Sabang Sampai Merauke’, maka peta geologi dengan skala besar itu pun sudah meliputi seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua.

    ‘’Total jumlah peta 3.774 lembar,’’ kata Ipranta, kepala Bidang Sarana Program dan Kerjasama pada PSG (Pusat Survei Geologi) kepada Berita IAGI, Desember silam. Jumlah peta tersebut sesuai dengan indeks peta Indonesia skala 1:50.000 yang dikeluarkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) –dulu Bakosurtanal. Peta ini sekaligus pembaruan dari peta geologi yang sebagian masih dalam skala 1:100.000 dan 1:250.000, khususnya yang di Indonesia timur.

    Pembuatan peta geologi ini boleh dibilang kerja raksasa yang supercepat. Mulai dari perencanaan sampai selesai memakan waktu lima tahun, terhitung dari 2010. Setiap tahun ditargetkan sekitar 740 lembar. Tak kurang 20 orang terlibat dalam pembuatan, mereka terdiri atas lima dari geodesi (yang mengerti kartografi, data base serta proses citra satelit), empat ahli geologi yang paham tentang proses remote sensing dan basis data, serta 11 orang ahli geologi.

    Peta Geologi web

    “Dalam menyusun peta geologi ini, Indonesia patut berbangga karena dilakukan dalam waktu yang tergolong cepat, sekitar lima tahun, dengan tetap mengacu pada kaidah-kaidah keilmiahan yang ada. Jika dibandingkan dengan negara lain, ini tergolong cepat sekali. Ini perintah Presiden,’’ kata Kepala Badan Geologi Ego Syahrial saat merilis peta tersebut di Bandung Desember silam.

    Mengapa peta ini perlu disegerakan sampai ada perintah Presiden? Menurut Ipranta karena kebutuhan peta geologi dalam skala tersebut sudah menjadi tuntutan jaman. Selain itu, peraturan perundangan menuntut pula dibuatnya peta dengan skala tersebut untuk kebutuhan seperti mendukung Tata Ruang tingkat Kabupaten atau kota dan peruntukan yang lainnya baik yang terkait dengan kebencanaan maupun sumberdaya alam.

    Peta geologi yang tersaji dalam bentuk dijital ini merupakan hasil kombinasi antara  interpretasi inderaan jauh dan pengamatan singkapan langsung di lapangan.  Data dari lapangan tersebut dilakukan –khususnya– oleh Pusat Survei Geologi (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi/direktorat geologi). ‘’Jadi peta dari hasil interpretasi citra inderaan jauh itu disempurnakan dengan penambahan data lapangan yang disusun sesuai petunjuk teknis,” kata Ego Syahrial.

    Jika bicara tentang cek lapangan, menurut Ipranta, berarti terhitung dari saat berdirinya institusi geologi, bahkan di jaman Belanda. Karena titik-titik pengamatan lapangan merupakan kumpulan dari hasil pengamatan lapangan pada masa lalu sampai saat ini. Jika hitungannya begitu, maka jumlah orang yang turun ke lapangan tak kurang dari 400-500 orang.

    Pembuatan peta kali ini memang merupakan bagian dari sejarah pemetaan geologi yang dimulai pada 1921. Saat itu pemetaan geologi lebih banyak dimanfaatkan untuk menemukan bahan tambang dan galian. Mengutip situs Badan Geologi, sejarah pemetaan geologi di Indonesia dibagi menjadi empat periode:

    • Periode I: Antara 1921-1968. Pemetaan dilakukan secara setempat-setempat terutama di wilayah Jawa dan Sumatera.
    • Periode II: Dari tahun 1969 sampai 1995. Pemetaan Geologi dilakukan secara sistematik pada skala 1: 100.000 untuk wilayah pulau Jawa dan 1:250.000 untuk wilayah Pulau Jawa.
    • Periode III: Antara tahun 1996 sampai 2008, pemetaan geologi sudah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan yang juga mendukung pelaksanan dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan juga mendukung pelaksanaan geologi tematik.
    • Periode IV: Dari tahun 2009 sampai saat ini pemetaan dilalkukan dengan pemantapan dengan teknologi penginderaan jauh resolusi tinggi untuk melakukan pemetaan dengan skala yang lebih besar 1:50.000.

    Kepentingan Nasional

    Dari sisi kepentingan pembangunan nasional, peta geologi ini dipandang strategis karena berposisi sebagai penunjang dan pendukung program pembangunan di suatu wilayah yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Peta geologi yang menyajikan beragam informasi berupa jenis dan sebaran batuan, struktur, morfologi dan kemiringan lereng, kerentanan tanah, serta runtunan variasi batuan misalnya, sangat diperlukan untuk bekal pengambilan keputusan pengembangan wilayah.

    Dalam hal kebencanaan, peta geologi ini akan berperan besar dalam mengantisipasi jatuhnya korban. Pada bencana longsor misalnya, jika pemerintah daerah memiliki peta geologi berikut data geologi yang baik, akan terlihat daerah yang berpotensi longsor untuk kemudian menginformasikan ke masyarakat di kawasan berisiko tinggi. Karena itu seyogyanya setiap Pemda memiliki ahli geologi agar bisa menerjemahkan peta tersebut.

    Tak terkecuali, peta geologi ini juga bermanfaat untuk menjadi bekal awal dalam menganalisis keberadaan sumber daya alam, baik itu berupa air, mineral pertambangan, maupun sumber energi seperti geothermal, minyak, dan gas.

     

    Ipranta mengakui bahwa peta yang dibuat berdasarkan citra satelit masih banyak keterbatasan, karena itu Badan Geologi terus melakukan pemutakhiran data dan informasi. Meski begitu setidaknya dalam dari peta geologi ini bisa diketahui sebaran batuan, lewat gambar  3 Dimensi juga bisa melihat lembah dan gunung, struktur geologi (lipatan, sesar, maupun kelurusan) sebagaimana layaknya peta geologi, dan tentu juga terlihat pola drainase, tekstur dan sebagainya.

    Hal senada dikatakan Sukmandaru Prihatmoko, praktisi pertambangan yang juga ketua umum IAGI. Peta geologi yang berdasarkan interpretasi indera jarak jauh itu mesti diperlakukan sebagai peta pendahuluan. ‘’Peta tersebut perlu di-upgrade terus dengan data-data lapangan riil agar bisa dimanfaatkan di sektor riil baik eksplorasi, pembangunan infrastuktur, mitigasi bencana, maupun kepentingan lain,’’ katanya.

    Disadari bahwa itu upgrade terus menerus membutuhkan waktu dan biaya besar. Karena itu perlu terobosan misalnya bekerja sama dengan perguruan tinggi dengan memanfaatkan data dari tesis mahasiswa yang melakukan pemetaan lapangan. Menurut Sukmandaru, selama ini hasil pemetaan mahasiswa untuk tesis hanya menghiasi rak-rak perpustakaan dan tidak termanfaatkan. ‘’Mungkin cara itu bisa lebih efektif dan efisien.’’@

    Ipranta

    ** Artikel ini pernah terbit di majalah BERITA IAGI Edisi IX 2017

    Box artikel2

    Box artikel1

    DIRGAHAYU IAGI

    Hari ini, 13 April, 57 tahun yang lalu, organisasi IAGI yang kita cintai dideklarasikan oleh para senior kita. Perjalanan selama lebih dari setengah abad telah dilalui oleh IAGI dengan berbagai gejolak naik dan turun. Masih banyak hal yang perlu dikontribusikan oleh IAGI bagi komunitas kebumian tanah air. Apalagi di tengah situasi carut marut pengelolaan sumberdaya alam kebumian saat ini, dan juga pentingnya keterlibatan geologi dalam pembangunan infrastruktur serta pengelolaan kebencanaan dan lingkungan. Peran serta kita semua komunitas kebumian sangat dinantikan.

    SELAMAT ULANG TAHUN KE 57 IAGI – SEMAKIN MEMBUMI GEOLOGI

    Salam,
    Sukmandaru Prihatmoko

    Pertandingan Futsal Piala Bergilir IAGI Ke-2

    Jakarta, 11 April 2017, Dalam rangka memperingati HUT IAGI ke-57 telah diadakan pertandingan Futsal Piala Bergilir IAGI ke-2.
    Pertandingan diikuti oleh 13 tim yang terdiri dari para pemain dengan background pekerja di bidang geologi-geoscientist, mahasiswa dan anak organisasi IAGI. Tim yang bertanding, antara lain :

    1. Crusbone (IA UGM)
    2. TIM INPEX
    3. TIM HuraHura SMGC
    4. MYLONITE (IA UNHAS)
    5. Breccia (IA UGM)
    6. Geodipa (IA UNDIP)
    7. FGMI
    8. IAGEO UPN (IA UPN )
    9. IAGF ITB
    10. IAGF UPN
    11. KUARSA UNPAK (SM-IAGI UNPAK, Juara IAGI Cup 2016 )
    12. SC MGEI ITSB
    13. TIM PEPC

    Acara pembukaan pada pukul 08.15 WIB oleh pembawa acara Dwandari, dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan pembukaan turnamen secara resmi oleh Bapak Sukmandaru Prihatmoko, Ketua Umum IAGI. Pembukaan dihadiri oleh lebih dari 140 orang peserta yang terdiri dari para pemain dan panitia. Selanjutnya kick off awal dimulai dengan pertandingan Inpex Vs Mylonite.
    futsal_iagi_2017_1
    Gambar 1. Pembukaan oleh Bapak Sukmandaru Prihatmoko, Ketua IAGI
    futsal_iagi_2017_2
    futsal_iagi_2017_3
    Gambar 2-3. Suasana pembukaan
    Menjelang sore hari, pukul 2 siang, pertandingan memasuki perdelapan besar, yaitu tim IAGEO UPN, IAGF UPN, PEPC, MYLONITE, GEODIPA, SM-IAGI PAKUAN, BRECCIA, dan IAGF ITB. Pertandingan terus berlanjalan hingga memasukin babak semi final antara pertandingan IAGF UPN  VS MYLONITE dan SM-IAGI UNPAK melawan IAGEO UPN. Akhirnya juara 3 diraih oleh IAGF UPN mengalahkan IAGEO UPN di adupinalti.

    Babak final berlangsung cukup ketat antara 2 tim unggul MYLONITE Vs juara tahun lalu SM-IAGI  UNPAK dan akhirnya permainan ditutup dan trophy dimenangkan kembali oleh SM-IAGI UNPAK dengan Skor 5-2 dari MYLONITE .

    Juara bertahan SM-IAGI UNPAK berhasil membawa kembali trophy sebagai juara 1 dan permain terbaik nomor punggung 10, juara 2 MYLONITE, dan juara 3 diraih IAGF UPN.

    Atas nama panitia penyelanggara kami mengucapkan selamat dan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh participant. Sampai jumpa di Futsal Piala Bergilir IAGI Cup 2018 dengan acara yang lebih baik !
    futsal_iagi_2017_5
    Gambar 4. Tim Kuarsa UNPAK (SM-IAGI UNPAK), Juara FUTSAL IAGI Cup 2017
    futsal_iagi_2017_4
    futsal_iagi_2017_6
    futsal_iagi_2017_7
    Gambar 5-7. Penyerahan piala kepada wakil tim pemenang Futsal

    Sebuah Upaya Menyelamatkan Generasi Geosaintis

    Berawal pada bulan Maret 2016, Herman Darman mengundang aktivis  organisasi untuk membahas mengenai program kerja FOSI dan AAPG di Indonesia. Hadir ketika itu adalah Minarwan (FOSI), Dwandari Ralanarko (AAPG) dan Mohamad Amin (FOSI dan AAPG).

    Dari masalah program, pembicaraan merembet ke masalah kondisi industri di Indonesia dan pengaruhnya pada lulusan baru. Seiring dengan merosotnya harga komoditas, lapangan kerja geosain semakin sempit. Nyaris tak ada perusahaan yang membuka lowongan untuk fresh graduate.

    Melihat kenyataan tersebut, tercetus ide dari Herman untuk membuat wadah bagi fresh graduate untuk tetap berkarya. “Pekerjaan geosain sebenarnya banyak, namun perusahaan tidak dapat mempekerjakan mereka dengan kondisi komoditas seperti saat ini,” katanya.

    Profesi Indogeo Image1
    Pertemuan Maret 2016 (ki-ka Dwandari Ralanarko, Minarwan, Mohamad Amin, Herman Darman)

    Hasil diskusi mengenai lapangan kerja dilanjutkan dengan survei terhadap jumlah lulusan geosains angkatan 2011 dibanding dengan serapan di dunia industri. Hasilnya,  hanya 2-10 persen lulusan dari jurusan geosains yang terserap dunia kerja bidang geosain.

    Isu ini kemudian dibawa dalam diskusi dengan mahasiswa pada IPA 2016. Ternyata betul, sangat banyak lulusan baru yang sudah terlalu lama menunggu pekerjaan geosain. Akhirnya sebagian beralih profesi, dan sebagian yang lain tetap menganggur.

    Lantas kepada lulusan baru itu ditawarkan inisiatif untuk mengakomodir ‘masa tunggu’ sambil mengedukasi lulusan baru yang berminat di geosains. Mayoritas menjawab “ya”.

    Hal ini kemudian dikomunikasikan Herman Darman ke AAPG. Syukur AAPG menyanggupi untuk men-support sistem komunikasi virtual bernama Webex Platform. Maka lahirlah inisiatif yang pada awalnya bernama AAPG Gotong Royong. Tim yang paling awal bergabung adalah Tim UNPAD dengan leader Shaskia Herida dan Tim UGM dengan leader Muhamad Rizki Asy’ari.

    Tim yang baik memerlukan supervisor, beruntung ada Cindy Dhevayani, Elok Galih, Carl Fakhruddin dan Ifon Ratna Dewi yang bersedia secara volunteer dan sekaligus menjadi supervisor untuk memberikan masukan teknis terhadap project maupun sebagai mentor. Penulis pun bergabung dalam tim ini.

    Profesi Indogeo Image2
    Grafik jumlah mahasiswa dan lulusan geologi angkatan 2011 pada awal tahun 2016. Pengambilan data dilakukan oleh chat survey oleh beberapa volunteer.

    IndoGeo Social Enterprise

    Masa-masa tahun emas industri migas dan minerba sebelum 2014 menjadikan geologi sebagai jurusan favorit. Dengan begitu, seleksi untuk masuk di bidang geosain sangat ketat, hanya lulusan SMA terbaik yang bisa masuk. Jurusan geologi di berbagai perguruan tinggi  pun mendapatkan bibit-bibit unggul.

    Sayangnya begitu lulus seolah-olah bibit-bibit unggul ini tersia-siakan karena harga komoditas anjlok. Ada kekhawatiran begitu harga bahan tambang dan minyak naik, mereka tidak siap pakai karena sudah diserap oleh industri atau aktivitas lainnya. Jika itu terjadi, demografi geosaintis Indonesia (dan dunia) akan terganggu, satu generasi geosaintis terancam hilang. Jadi perlu dipikirkan bagaimana menyelamatkan mereka.

    Suatu kali Herman Darman diundang ke Kuala Lumpur khusus mempresentasikan mengenai “How to safe a generation of geoscientists during crisis”. Dari situ diketahui bahwa rupanya tidak hanya Indonesia yang akan kehilangan satu generasi geosaintis, Malaysia dan negara-negara lain juga mengalami problematika yang sama.

    Keinginan menyelamatkan itu meninggikan semangat AAPG Gotong Royong. Herman yang ketika itu menjadi Principal Geologist Shell International EP mengambil pensiun dini pada Juli 2016 untuk fokus kepada AAPG Gotong Royong. Penulis tahu pada awalnya Herman ragu untuk pindah ke kuadran ke social project. Namun kecintaan terhadap tanah air dan keinginan untuk mengembangkan pemuda Indonesia, telah meyakinkan niatnya.

    Selanjutnya bentuk organisasi dari AAPG Gotong Royong diubah menjadi sociopreneur project, sebuah organsiasi yang menempatkan kemanfaatan terhadap masyarakat di atas profit. Lalu tercetuslah nama IndoGeo Social Enterprise, sebuah enterprise untuk pengembangan geosaintis muda dengan moto save generation of geoscientist.

    ‘’Saya memikirkan sebuah reward system seperti koperasi, setiap anggota bisa mendapat penghasilan yang dibagi dari proyek proyek yang berjalan. Gol utama adalah memberikan pelatihan atau on the job training  bagi fresh graduate agar mereka memiliki kesibukan sambil menunggu harga komoditas membaik,’’ kata Herman.

    Jadi, IndoGeo adalah kumpulan dari kelompok kerja lulusan baru geosain (dalam bahasa kekinian  disebut crowd-sourcing). Setiap kelompok mengerjakan projek dengan anggota 4-10 orang dan 1 ketua kelompok. Ketua-ketua kelompok diarahkan/supervisi oleh tim supervisor agar mendapatkan hasil yang berkualitas dan memperoleh big picture dari sebuah produk.

    IndoGeo tidak mempunya kantor. Semua dikerjakan secara online dengan menggunakan fasilitas WhatsApp, Facebook, E-mail untuk berkomunikasi. Sebulan sekali ketua tim,  tim supervisi, dan Herman bertemu secara virtual menggunakan fasilitas Skype. Hasil-hasil pekerjaan tim di upload ke Google drive untuk diperiksa oleh “supervision team”. Personil IndoGeo tersebar di berbagai tempat di Indonesia bahkan ada satu tim di Kuala Lumpur.@Mohamad Amin Ahlun Nazar (Pertamina)  

    Saat ini para lulusan baru dapat mengerjakan lima proyek berbeda pada waktu yang tidak bersamaan, yaitu:

    • GIS Mapping, melatih untuk membuat peta-peta geologi digital Indonesia dan kawasan Asia
    • Basin Review, melatih untuk membuat rangkuman dari cekungan-cekungan sedimen di Asia
    • Seismic Atlas, melakukan kompilasi dari data-data published section di Asia Tenggara
    • Geo Book, menulis buku atau brosur panduan untuk mendukung geowisata di Indonesia.
    • Geo Training, mengadakan training digital dan non-digital untuk pengembangan kompetensi personil Indogeo.

    Profesi Indogeo Image3

    Profesi Indogeo Image4

    ** Artikel ini pernah terbit di majalah BERITA IAGI Edisi IX 2017

    ASTRONAUT APOLLO 8 KUNJUNGI GEOPARK BATUR BALI

    Kabar dari Ketua Pengda IAGI Bali (pak Ketut Ariantana), tanggal 18 Maret 2017  lalu, pak Ketut Suharta , anggota dan aktivist IAGI Bali membantu memandu wisatawan spesial. William Anders dan keluarga, salah satu astronaut Apollo 8 khusus datang mengunjungi Geopark Batur. “Museum yang sangat bagus dan lengkap, di Amerika pun blm ada Museum sebagus ini … “, begitu komentarnya. Mari kita rawat dan ramaikan Geopark Batur. (KA)

    imagGeopark Batur Bali Astronot8 Photo2

    Geopark Batur Bali Astronot8 Photo1