Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
    • Tahun 2018 ditandai dengan banyaknya kejadian bencana kebumian di antaranya tanah longsor dan banjir, gempabumi, tsunami dan likuifaksi, serta erupsi gunung api. Di sisi lain, industri sumberdaya kebumian, seperti migas, minerba, panasbumi juga terus berjuang menghadapi tantangan baik yang bersifat eksternal (harga komoditi dan pasar yang lesu) maupun internal terkait masalah regulasi investasi dll. Sektor yang menggeliat relatif cerah adalah geowisata sejalan dengan program utama PP-IAGI “Satu Pengda Satu Geowisata”, dan juga sektor geologi teknik yang mengikuti gencarnya pembangunan infrastruktur negeri ini. Catatan ini merupakan ringkasan info tentang kegiatan IAGI pada periode sepanjang tahun 2018 dan isu-isu kebumian yang menjadi tantangan bagi komunitas geologi Indonesia.

      Di awal tahun 2018 pada saat erupsi G. Agung mereda, beberapa wilayah Indonesia dilanda bencana tanah longsor, di antaranya Trenggalek, Ponorogo, Kintamani dll. IAGI bergerak di Trenggalek dan Kintamani bersama Pengda IAGI Jatim dan Bali. Isu-isu tentang potensi gempa yang menyeruak mendorong IAGI lebih gencar membuat program dan diskusi, di antaranya Diskusi Potensi Gempa daerah Jakarta (27 Maret), Ekspedisi Palu Koro bersama Skala dan ACT (Juli-Agustus), dan seminar literasi bencana di Jakarta dan Bandung. Hingga pada saat gempa Lombok-Sumbawa menerjang (Juli-Agustus), PP-IAGI bersama Pengda Nusra aktif menggulirkan program “IAGI Peduli”. Belum lagi program Lombok-Sumbawa usai, bencana menerpa Palu-Sigi-Donggala (Pasigala) berupa gempa, tsunami dan likuifaksi, dan mendorong program “IAGI Peduli” digulirkan juga di sana bersama Pengda Sulawesi Selatan Barat Tengah (Sultanbateng). Apa yang dikuatirkan selama ini, sehingga mendorong IAGI-Skala-ACT membuat program Ekspedisi Palu-Koro, benar-benar terjadi berupa gempa dahsyat dengan bencana ikutannya (tsunami dan likuifaksi), dan ternyata kita semua belum siap menghadapinya.

      Jelang akhir tahun (Desember), Anak Krakatau yang sudah aktif erupsi sejak Juli, menggebrak melalui longsoran di sisi (flank) barat dayanya yang memicu tsunami di pantai Banten dan Lampung. Korban jiwa dan harta benda berjatuhan di ketiga peristiwa kegempaan tersebut. Duka dan keprihatinan meliputi kita semua. Pengda IAGI Jabar Banten pun bergerak ke lapangan. Di sisi lain, PP IAGI (Bidang Mitigasi Bencana) juga aktif membantu penanganan bencana ini bersama instansi terkait (BNPB, Kemenko Maritim) baik melalui forum-forum tanggap darurat di Jakarta maupun operasional lapangan.

      Bidang Hidrogeologi IAGI tahun ini menggelar beberapa kegiatan diantaranya Diskusi Problematika Salinitas Airtanah Jakarta (24 April) bersama Pengda DKI dan FGD Hidrogeologi Kota Surabaya (27 Agustus) bersama Pengda Jatim. Bidang Geothermal IAGI juga terus aktif dengan program-programnya, salah satunya “Geothermal Mengajar” di beberapa kampus geologi.

      Tahun ini, industri pengelolaan sumberdaya kebumian (migas dan minerba) seperti tahun sebelumnya masih mengalami kelesuan. Di awal tahun, IAGI menggelar FGD tentang Eksplorasi Migas (30 Jan) mengundang stakeholder eksplorasi migas. Hasil FGD dipublikasikan dalam siaran pers saat peringatan Ultah IAGI ke 58 di bulan April. Di sisi lain, ISPG juga aktif membuat program teknikal untuk meningkatkan profesionalisme dalam bentuk Luncheon/ Evening Talk yang berpuncak pada acara ISPG Research Forum (22 Mar) yang diadakan di Jakarta. Di sektor minerba, melalui MGEI, Kode KCMI dan Sistem CPI semakin dikukuhkan posisinya, setelah pada Nov 2017 diakui oleh CRIRSCO. Acara sosialisasi dan program pengembangan dilakukan beberapa kali tahun ini. Masih terkait dengan Kode KCMI dan Sistem CPI, IAGI-MGEI mengirimkan wakilnya ke Sidang CRIRSCO di London (Nov). MGEI juga mengadakan perhelatan internasional di Makasar pada awal bulan Des dengan tajuk “Southwest Pacific Resources”, dihadiri peserta dari berbagai negara di SW Pacific (Philippines, PNG, Australia, USA).

      Di bidang geowisata, tahun ini IAGI bersama MAGI sangat aktif melakukan kegiatan. Seminar/ workshop dan field trip. Di antaranya dilaksanakan di Mataram/ Pengda Nusra (18 Jul), di Jambi/ Pengda Jambi (25 Aug) di Kendari/ Pengda Sultra (10 Sep), di Jayapura/ Pengda Papua (21 Sep), di Gorontalo/ Pengda SulutGo (12 Okt). Tahun ini IAGI-MAGI berduka dan kehilangan dengan berpulangnya ke Rahmatullah, rekan Budi Brahmantyo, tokoh aktivis geowisata nasional dan Ketua MAGI pada bulan Jun 2018, semoga almarhum khusnul khotimah.

      PP IAGI melalui Bidang Kebijakan Publik tahun ini mengeluarkan beberapa siaran pers terkait dengan kegeologian. Antara lain “Pentingnya Ilmu Kebumian untuk Pembangunan Bangsa” pada 28 Apr, sekaligus sebagai peringatan Ultah IAGI ke 58, dan juga mendorong RUU Geologi dan dibentuknya Badan Geologi Nasional melalui pertemuan dengan Komisi VII DPR RI pada 17 Okt.

      Di tahun 2018, jumlah anggota IAGI bertambah cukup signifikan, dan sampai bulan Desember berjumlah lebih dari 6.300 anggota. Jumlah Pengda bertambah satu tahun ini menjadi 23, yaitu dengan dikukuhkannya Pengda Jambi pada 25 Agustus 2018.  Selain itu, konsolidasi Pengda tahun ini dilaksanakan, di antaranya dengan aktifasi Pengda DKI, serta kunjungan ke Pengda Nusra, Pengda Sultra, Pengda Papua, Pengda Sultanbateng, Pengda SulutGo, Pengda Jatim, Pengda DIY, dan Pengda Kaltim. Kunjungan ke Pengda-Pengda ini selalu dibarengi dengan acara teknikal seperti seminar dan field trip.

      Puncak kegiatan IAGI tahun ini yaitu PIT (Pertemuan Ilmiah Tahunan) ke 47 dilaksanakan di Pekanbaru, dengan berkolaborasi dan sebagai tuan rumah Pengda IAGI Riau. Event ini dihadiri tidak kurang 600 peserta, dengan jumlah makalah sekitar 300. Diskusi pakar tentang gempabumi Pasigala digelar pula di acara ini. Penghargaan IAGI tahun ini diberikan kepada 4 aktivis yang gencar mengkomunikasikan dan mensosialisasikan kebumian yaitu kepada Rovicky Dwi Putrohari, Heryadi Rachmat, Sinung Baskoro dan Sutopo Purwo Nugroho, dan diberikan saat acara PIT.

      Di sisi generasi muda, FGMI juga sangat aktif berkegiatan baik berkolaborasi dengan PP IAGI dan Pengda-Pengda, maupun dengan para mahasiswa melalui SM IAGI. Tahun ini jumlah SM IAGI bertambah dari 25 menjadi 28 dengan dikukuhkannya SM IAGI Universitas Jambi (Jambi), ITERA/ Institut Teknologi Sumatera (Lampung) dan Universitas Pertamina (Jakarta). Generasi muda IAGI ini diharapkan menjadi cikal bakal para pegiat IAGI di masa datang.

      Seperti tahun-tahun sebelumnya, PP IAGI menjalankan program-programnya sesuai dengan visi dan misinya dan sejalan dengan AD-ART. “IAGI lebih Membumi” dan “IAGI lebih Profesional” telah coba diaktualisasikan di semua sektor kegeologian yaitu Georesources, Geohazard, Geoenvironment dan Geo-engineering.

      Tidak jauh berbeda dengan tahun 2017, di bidang industri ekstraktif, tahun 2018 masih ditandai dengan lesunya harga dari hampir semua komoditi baik migas, batubara, dan semua jenis logam. Hal ini mengindikasikan usaha bidang industri ekstraktif akan tetap lesu, dan lapangan kerja bagi geologist akan terus kompetitif untuk beberapa waktu ke depan. Padahal lulusan baru geologi terus bertambah setiap tahunnya. Ini saatnya bagi lulusan baru untuk berpikir jangan hanya berfokus pada sektor industri ekstraktif (migas dan minerba). Sektor mineral industri (mineral non logam dan batuan), pembangunan infrastruktur dan geowisata mesti ditengok lebih serius.

      Catatan Penutup khusus untuk Kebencanaan Geologi

      (pernah dimuat di media awal Okt 2018 – dengan sedikit editing)

      Tahun 2018 boleh disebut sebagai tahun bencana geologi. Banyak fenomena kebencanaan baru bermunculan dan bisa menjadi rujukan pengembangan ilmu. Seperti misalnya tsunami Palu kaitannya dengan Sesar Palu Koro, tsunami Selat Banten kaitannya dengan erupsi Anak Krakatau, juga likuifaksi masif di Palu.  Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana pengetahuan baru tentang ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan manajemen mitigasi kebencanaan nasional. Pelajaran demi pelajaran sudah kita petik dari berbagai peristiwa bencana kebumian tanah air. Pola kejadiannya boleh dikata selalu berulang dan sama, yaitu setelah terjadi bencana, kita sibuk (panik), kajian dan diskusi teknis bermunculan bahkan memanas, kemudian kesimpulan diambil, serta usulan dan rekomendasi diberikan. Namun setelah itu minim tindak lanjutnya. Sampai kapan kita akan mengulang ritual seperti ini tanpa (hanya sedikit) aksi riil yang dilakukan?

      Sebagian dari kita mestinya tahu, selama ini kita sebenarnya sudah menyiapkan banyak hal terkait dengan kebencanaan. Kita sudah punya para ahli geologi/ geosain dan ahli kebencanaan baik yang bernaung di bawah instansi pemerintah (Badan Geologi, BMKG, BNPB, LIPI dll) maupun di organisasi non-pemerintah (asosiasi profesi, LSM dll). Kita juga sudah punya bahan pengetahuan tentang zona-zona potensi bahaya aktif (jalur sesar/ struktur geologi, gunung api, zona rawan longsor dll) dan strategi mitigasi termasuk prosedur evakuasi jika terjadi bencana. Riset-riset ilmiah kebumian yang dapat dikaitkan dengan potensi bencana juga sudah banyak dilakukan. Namun terasa dan nampak bahwa kita masih dan terus saja gagap menghadapi bencana kebumian. Terutama sekali di sisi masyarakat terdampak yang selalu panik dan kebingungan setiap kali terjadi bencana. Apakah ini pertanda bahwa bahan dan materi pengetahuan yang sudah disiapkan tidak tersampaikan ke masyarakat dengan baik? Dalam arti lain, tugas penyampaian/ sosialisasi tentang mitigasi bencana ini tidak jalan (?). Padahal seandainya tersampaikan dengan baik dan dapat diikuti oleh masyarakat semestinya akan dapat mengurangi jumlah korban di daerah bencana.

      Tiga hal utama yang mestinya dapat dilakukan untuk lebih menggugah kesadaran kita semua tentang potensi bencana kebumian dan bagaimana memitigasinya. Pertama, sosialisasi dan edukasi sadar bencana harus dilakukan secara masif dan melalui program nasional yang terstruktur. Program sosialisasi dan edukasi ini perlu dilakukan di segala lapisan masyarakat dan di segala umur. Praktek lapangannya akan lebih efektif dilakukan melalui sekolah-sekolah dari tingkat SD sampai SMA, lebih utama seandainya program ini dapat masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Materi/ muatan edukasi yang berisi pengenalan tentang potensi bahaya lokal perlu ditekankan di masing-masing daerah (tingkat Kabupaten/ Kota dan Provinsi). Latihan-latihan (drill) evakuasi harus dilakukan secara rutin/ periodik dan serius baik melalui sekolah, Karang Taruna maupun desa/ kelurahan. (Beberapa hari lalu diberitakan bahwa Presiden menginstruksikan agar Edukasi Kebencanaan masuk dalam Kurikulum Pendidikan, yang adalah langkah tepat)

      Pendekatan Kedua yang perlu dilakukan paralel dengan pendekatan Pertama adalah penyiapan infrastruktur pendukung menghadapi bencana kebumian di daerah dengan kategori rawan bencana. Sebagian dari upaya ini sudah dilakukan oleh pemerintah (BNPB/ BPBD atau bahkan Kemen PUPR) seperti penyiapan jalur evakuasi, penyiapan alat-alat pendukung dalam keadaan darurat seperti misalnya sumber listrik cadangan (genset), alat komunikasi (telepon satelit), opsi-opsi lokasi pengungsian yang aman dan posko darurat, dll. Tidak kalah penting adalah pemeliharaan sarana dan prasarana pendukung ini yang sering diabaikan terutama pada situasi aman (tidak ada bencana).

      Pendekatan Ketiga adalah melalui penataan ruang berbasis geologi – kebencanaan (Kemen ATR/ Bappenas, PUPR), serta penegakan hukum (“law enforcement”) atas pelanggaran-pelanggaran terhadap regulasi terkait dengan tata ruang dan mitigasi bencana. Penerapan Kode Bangunan (“building codes”) / SNI harus dilaksanakan secara ketat untuk pembangunan infrastruktur di daerah rawan bencana. IMB (Izin Mendirikan Bangunan) perlu dimodifikasi persyaratannya dengan implementasi yang konsisten, dan lain sebagainya.

      Langkah-langkah/ pendekatan di atas tentunya akan berjalan baik dengan dukungan dan koordinasi semua pihak terutama pemerintah pemegang otoritas. Karena program ini akan melibatkan banyak instansi pemerintah di antaranya Kementerian Pendidikan Nasional, Dalam Negeri, Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Energi dan Sumberdaya Mineral, Pemprov, Pemkab/ Pemkot dll. Semua pimpinan di setiap level diharapkan memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang bencana yang tinggi di daerah masing-masing dan dapat menentukan kebijakan berdasar faktor kebencanaan di daerahnya

      Demikian, PP IAGI akan terus terbuka untuk menerima saran, masukan dan kritik dari seluruh anggota IAGI. Dan kami harapkan di 2019 kita bisa bekerja bersama lebih baik lagi untuk kemajuan dunia kegeologian yang kita cintai ini.

      Selamat Tahun Baru 2019.

      Jakarta, 31 Desember 2018

      laporan_akhir_th_2018_ft1

      Foto 1. IAGI Peduli Bencana – Lombok Sumbawa

      laporan_akhir_th_2018_ft2

      Foto 2. IAGI Peduli Bencana – Palu Sigi Donggala

      laporan_akhir_th_2018_ft3

      Foto 3. Ekspedisi Palu-Koro bersama Gubernur Sulteng

      laporan_akhir_th_2018_ft4

      Foto 4. Diskusi Potensi Gempa Jakarta – bersama Kepala BMKG dan Kepala Badan Geologi

      laporan_akhir_th_2018_ft5

      Foto 5. Aktivasi Pengda IAGI DKI Jakarta

      laporan_akhir_th_2018_ft6

      Foto 6. Konsolidasi Pengda IAGI Sulawesi Tenggara

      laporan_akhir_th_2018_ft7

      Foto 7. Pengukuhan Pengda IAGI Jambi

      laporan_akhir_th_2018_ft8

      Foto 8. Rapat dengan Komisi VII DPR RI tentang RUU Geologi

      laporan_akhir_th_2018_ft9

      Foto 9. Seminar Geowisata – Pengda Papua

      laporan_akhir_th_2018_ft10

      Foto 10. Field Trip Geowisata – Gorontalo (Pengda SulutGo)

      laporan_akhir_th_2018_ft11

      Foto 11. Peringatan Ultah IAGI 58

      laporan_akhir_th_2018_ft12

      Foto 12. PIT IAGI ke 47 – Pekanbaru 2018

      Comments

      comments