<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)</title>
	<atom:link href="http://www.iagi.or.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.iagi.or.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 May 2013 14:33:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=198</generator>
		<item>
		<title>Program Pendampingan MDMC oleh SM IAGI UNDIP.</title>
		<link>http://www.iagi.or.id/program-pendampingan-mdmc.html</link>
		<comments>http://www.iagi.or.id/program-pendampingan-mdmc.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 14:31:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>-Admin-</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[gempa dieng]]></category>
		<category><![CDATA[mitigasi]]></category>
		<category><![CDATA[sosialisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iagi.or.id/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Program Pendampingan MDMC Sesaat setelah meresmikan SM IAGI UPN, SMS itu datang ke saya mengabarkan : &#8220;Selamat sore pak rovicky. Saya dani, koordinator SM IAGI UNDIP yg jd relawan di Dieng. Sebelumnya maaf karna baru ngabari sekarang. Alhamdulillah acara lancar pak. Dan skrg kami sudah di semarang. Total 42 personil kami dibagi ke 4 daerah. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Program Pendampingan MDMC</p>
<p><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SMIAGIUNDIP_5.jpg"><img class="size-medium wp-image-489 alignright" alt="SMIAGIUNDIP_5" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SMIAGIUNDIP_5-300x208.jpg" width="300" height="208" /></a>Sesaat setelah meresmikan SM IAGI UPN, SMS itu datang ke saya mengabarkan :</p>
<blockquote><p><i>&#8220;Selamat sore pak rovicky. Saya dani, koordinator SM IAGI UNDIP yg jd relawan di Dieng. Sebelumnya maaf karna baru ngabari sekarang. Alhamdulillah acara lancar pak. Dan skrg kami sudah di semarang. Total 42 personil kami dibagi ke 4 daerah. Sabtu pagi-siang melakukan pngecekan di rekahan2 yg ada, kmudian sore-malam melakukan pnyuluhan ke warga. Warga sangat antusias pak dgn materi yg disampaikan, trutama latar blkang trjadinya gempa yg tgl 19 april kmrin&#8221;.</i></p></blockquote>
<p>Dengan bangga dan gembira Ketum IAGI, Rovicky, menjawab :</p>
<blockquote><p>&#8220;<i>Alhamdulillah semua berjalan lancar. Saya yakin kontribusi kawan2 SMIAGI Undip beserta Magmadipa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kontribusi besar ini harus menjadi cambuk pemicu dan pemacu kiprah riil nantinya setelah selesai kuliah. Salam dan selamat serta terimakasih PP IAGI pada semua peserta dan kontributor ini. Saya tadi juga mendengar kiprah kawan2 Undip telah memotivasi SM IAGI UPN yang baru lahir tadi siang. Congrats utk semua dan sampaikan salam saya. Rovicky &#8211; IAGI. Cc : PP IAGI.</i>&#8220;</p></blockquote>
<p><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SMIAGIUNDIP_2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-491" alt="SMIAGIUNDIP_2" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SMIAGIUNDIP_2-300x263.jpg" width="300" height="263" /></a>Begitulah salah satu kiprah membanggakan dari Seksi Mahasiswa IAGI UNDIP yang dalam usianya satu bulan sudah berhasil melakukan tindakn nyata, bukan hanya untuk kegiatan ekstraksi yg paling sering dilakukan oleh organisasi mahasiswa pada umumnya, namun kegiatan mitigasi yang benar-benar dilakukan di lapangan.</p>
<p><span id="more-488"></span></p>
<h4>Pembekalan oleh Prof Ris Dr Sutikno Bronto (PSG) dan Agus Hendratno (PP IAGI)</h4>
<p>Seminggu sebelumnya SM IAGI Undip ini mendapatkan pembekalan ilmu tentang kegunungapian serta khususnya Gunungapi dieng oleh Prof Rid Sutikno Bronto. Sehingga ketika terjun ke lapangan mereka sudah mengenal dan mengerti gejala bencana yang langka terjadi yaitu Gempa Dieng yang menyebabkan longsoran.</p>
<p>Agus Hendratno Staf Khusus PP IAGI yang selalu memiliki perhatian khusus dalam sosialisasi geologi di pedesaan dan lingkungan daerah juga memberikan pembekalan tentang bagaimana memberikan informasi ke masyaratakat awam. Beliau juga secara khusus memberikan bantuan untuk pembuatan poster yang dibagikan ke masyarakat desa yang terkena dampak longsoran akibat gempa Dieng.</p>
<h4>Gempabumi dan gerakan tanah Dieng</h4>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;--></p>
<p><span lang="IN">Gempa bumi ini terjadi pada hari </span><span lang="EN-AU">Jumat</span><span lang="IN">, tanggal </span><span lang="EN-AU">19</span><span lang="EN-AU">April</span><span lang="IN"> 201</span><span lang="EN-AU">3</span><span lang="IN">, pukul </span><span lang="EN-AU">19</span><span lang="IN">:</span><span lang="EN-AU">00</span><span lang="IN">Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB). Pusat gempa bumi berada pada koordinat </span><span lang="EN-AU">7.29</span><span lang="IN">°LS-</span>109.88<span lang="IN">°BT atau sekitar </span><span lang="EN-AU">11 Km BaratLaut Wonosobo, </span><span lang="IN">dengan kedalaman </span><span lang="EN-AU">10</span><span lang="IN"> km (sumber BMKG). Penentuan sumber gempa berdasarkan perhitungan tim tanggap darurat Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi-Badan Geologi.</span></p>
<p><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SMIAGIUNDIP_3.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-492" alt="SMIAGIUNDIP_3" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SMIAGIUNDIP_3-300x264.jpg" width="300" height="264" /></a>Bencana alam tanah longsor terjadi setelah gempa bumi di beberapa titik lokasi yang tersebar di Kecamatan Batur, <span lang="SV">Kabupaten Banjarnegara dan Kec. Bawang, Kec. Reban dan Kec. Blado, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah</span>. <span lang="SV">Jenis bencana gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan, retakan dan amblasan.</span></p>
<p>Pada saat kejadian gempa terjadi tanggal 19 April 2013, pukul 19:00 di Dieng, gempa ini telah memicu longsoran, amblesan dan retakan tanah di sekitar Dieng. Masyarakat telah diungsikan dan sebagian telah kembali ke hunian awal. Namun masih ada yang belum berani kembali. Pasca Bencana MDMC melakukan soisalisasi untuk menenangkan warga yg trauma akan kejadian ini</p>
<p>Dampak dari bencana ini antara lain munculnya efek goncangan gempa bumi dirasakan cukup kuat di beberapa daerah dengan intensitas gempa III – V MMI, Pos Pengamatan Gunung Api Dieng mencatat gempa dengan amplitudo max 10 &#8211; 100 mm dengan durasi 10 &#8211; 70 detik. Goncangan ini memicu gerakan tanah, longsor, dan amblesan dan retakan.</p>
<div id="attachment_493" class="wp-caption alignleft" style="width: 256px"><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SMIAGIUNDIP_4.jpg"><img class="size-medium wp-image-493 " alt="SMIAGIUNDIP_4" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SMIAGIUNDIP_4-246x300.jpg" width="246" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Sosialisasi ke masyarakat Dieng</p></div>
<p>Pada saat kejadian MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Centre) menemui beberapa permasalahan selama melakukan kegiatan penyelamatan,   beberapa masalah yg perlu pendampingan/pencerahan :</p>
<ol>
<li>Warga masih belum bisa menerima kalau daerahnya potensi gempa yg cukup besar, karena menurut mereka baru pertama kali ini yang besar hingga merusak rumah. Sehingg Rumah, Sekolah, Masjid dll tidak memperhatikan kekuatannya thd goncangan gempa. Butuh pencerahan&#8230;. mungkin dalam bentuk penyuluhan ttg geologi regional dan ancaman bencana geologi secara regional.</li>
<li>Warga kebingungan apa yg harus dilakukan ketika retakan retakan tanah ada di tebing, jalan dan lingkungan rumah mereka yang memang berada pada lereng bukit. Warga (Komunitas) butuh masukan treatmen yg perlu dilakukan.</li>
<li>Warga/ relawan masih belum bisa memahami relasi antara Gempa Bumi yg terjadi dengan ancaman Gas Beracun yg saat ini masih terus mengancam. Sehingga butuh klarifikasi dari ahli.</li>
</ol>
<p>Untuk komunitas yang perlu didampingi :</p>
<ul>
<li>2 desa (Kepakisan dan Pekasiran) di Kec. Batur, Kab. Banjarnegara</li>
<li>2 desa di Kecamatan Bawang, Kab. Batang.</li>
</ul>
<p>Setelah mendapatkan pembekalan sejumlah 42 Mahasiswa Geologi Universitas Diponegoro mendatangi kawasan terdampak dan memberikan sosialisasi tentang kebencanaan yang cukup langka ini. Interaksi mahasiswa dengan masyarakat ini menjadi sebuah pembelajaran yang baik tentang pentingnya mitigasi serta merealisasikan fungsi profesi geologi.</p>
<p><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SMIAGIUNIDIP_1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-490" alt="SMIAGIUNIDIP_1" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SMIAGIUNIDIP_1-300x224.jpg" width="300" height="224" /></a>Selain memeberikan sosialisasi kepada masyarakat, Mahasiswa ini juga melakukan pengamatan geologi kebencanaan meliputi pengukuran rekahan dll.</p>
<p>PP IAGI sangat bangga dengan kiprah SM IAGI Undip ini dan akan menjadi contoh tauladan untuk SM-SM IAGI nantinya,</p>
<p>Bahan yang dapat dishare dalam kegiatan ini:</p>
<p><a title="Bahan materi pembekalan dari Prof Ris Dr Sutikno Bronto" href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/Pembekalan-Dieng.pdf" target="_blank">Pembekalan Dieng</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iagi.or.id/program-pendampingan-mdmc.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KONTROVERSI GUNUNG PADANG</title>
		<link>http://www.iagi.or.id/kontroversi-gunung-padang.html</link>
		<comments>http://www.iagi.or.id/kontroversi-gunung-padang.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 May 2013 03:01:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>-Admin-</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita ke Anggota]]></category>
		<category><![CDATA[geologi]]></category>
		<category><![CDATA[gunung padang]]></category>
		<category><![CDATA[kontroversi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iagi.or.id/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[KONTROVERSI GUNUNG PADANG Oleh Prof Dr RP Koesoemadinata Para pembaca: Saya itu mulai belajar ilmu geologi ini masih di pertengahan abad yang lalu, di mana plate tectonics dan sequence stratigraphy  belum ada. Apa lagi computer, internet, georadar,  remote sensing, GPS, dsb, bahkan seismic survey  saja  masih sangat rudimenter. Saya ingat jawaban Prof Klompe waktu saya [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 304px"><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2011/10/koesoemadinata.jpg"><img alt="Prof. Dr RP Koesoemadinata" src="http://rovicky.files.wordpress.com/2011/10/koesoemadinata.jpg?w=294" width="294" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Prof Dr RP. Koesoemadinata. Mantan Ketua IAGI.</p></div>
<p>KONTROVERSI GUNUNG PADANG<br />
Oleh Prof Dr RP Koesoemadinata</p>
<p>Para pembaca:</p>
<p>Saya itu mulai belajar ilmu geologi ini masih di pertengahan abad yang lalu, di mana <i>plate tectonics </i>dan <i>sequence stratigraphy </i> belum ada. Apa lagi computer, internet, georadar,  remote sensing, GPS, dsb, bahkan seismic survey  saja  masih sangat rudimenter. Saya ingat jawaban Prof Klompe waktu saya memberanikan diri menanyakan mengenai teori Wegener (pada zaman itu bertanya di ruang kuliah tidak ada, bahkan dianggap taboo), dia bilang “Oh, that is a fairy tale” (itu adalah dongeng mau tidur). Padahal kita tahu bahwa theory Wegener itu mempelopori teori plate-tectonic. Pada zaman itu bahwa benua bisa bergerak, bahkan berkeliaran (drifting) adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Dengan diyakini <i>plate tectonics</i> sekarang ini, maka sebetulnya telah terjadinya suatu revolusi dalam ilmu pengetahuan. Juga <i>sequence stratigraphy</i> telah merubah pandangan kita mengenai pola perlapisan serta sistim pengendapan sediment dari konsep “<i>layer cake” geology.</i> Juga penjelajahan ruang angkasa yang memperkaya pengetahuan planet2 serta teknologi exsplorasi penafsiran gempa telah merubah/menambah pengetahuan kita mengenai interior bumi kita. Thomas Kuhn (1962/1970, The structure of scientific revolutions: Chicago,Ill, University of Chicago Press)<img title="More..." alt="" src="http://rovicky.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" /></p>
<p>mengatakan bahwa perubahan dalam science itu bersifat revolusioner, di mana terjadi perubahan paradigma secara drastis, dan bukan secara evolusioner, dengan contoh perubahan setelah Newton dan juga Einstein dalam ilmu pengetahuan alam. Di antara revolusi <i>science</i> itu adalah zaman yang disebutkan sebagai <i>“normal science”</i>, di mana teori-teori itu terikat ketat oleh paradigma yang berlaku secara mantap. (Istilah paradigma sendiri berasal dari Kuhn yang menyangkut prinsip-prinsip yang sangat mendasar ini kemudian istilah ini diambil alih para ahli social sciences, di mana  memang ilmu-ilmu ini sedang mengalami revolusi, namun sayangnya istilah <i>paradigma</i> ini mengalami perubahan pengertiannya, sehingga pengertian sekarang  perubahan paradigma itu tidak lain dari sekadar perubahan konsep)</p>
<p><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2012/06/peta.gif"><img class="alignright" alt="peta" src="http://rovicky.files.wordpress.com/2012/06/peta.gif?w=300" width="176" height="150" /></a>Saya belajar geologi di ruang kuliah maupun di lapangan pada waktu  apa pada zaman itu disebut <i>geological excursion</i> (mungkin sekarang disebutnya sebagai kuliah lapangan, atau <i>geological field trip</i>), di mana kita belajar mengenai gejala alam baik secara morfologis maupun dari segi <i>outcrop</i>, khususnya hal2 seperti sifat perlapisan dari batuan sedimen, serta kedudukan strukturnya (<i>strike&amp;dip</i>) dengan struktur sedimennya, gejala ketidak-selarasan,  mengenai kekar-kekar, <i>columnar jointing</i>, struktur patahan, pelipatan,  serta sifat2 batuan lainnya yang hanya dapat dilihat pada <i>outcrop</i> di lapangan, juga seperti gejala pelapukan, <i>spheroidal weathering</i>, sedimentasi resen. Hal ini dijarkan di semua textbook geologi di seluruh dunia.  Tentu selaku pemula kita sangat ta’ajub bahwa ternyata alampun dapat membentuk gejala-gejala geometrik seperti <i>columnar joints,</i> <i>mudcracks</i> yang bersegi lima. Gejala-gejala geologi inilah diajarkan pada tingkat S-1. Memang benar kita tidak diajarkan cara membedakan gejala alam dengan gejala buatan manusia, atau <i>artefact</i>, karena yang terakhir ini dianggap <i>obvious</i>. Tentu di bidang  arkeologi pada mahasiswa juga diajari di lapangan maupun di laboratorium bagaimana mengenai artifact, barang-barang buatan manusia, karena banyak pula artifact tidak bersifat geometric, seperti kapak batu dsb.</p>
<p>Maka sebagai seorang ahli geologi lapangan yang ulung seperti Pak Sujatmiko, yang bertahun-tahun berkeliaran dilapangan merasa heran bahkan sangat terganggu kalau ada sesorang expert dalam bidang geofisika, bahkan juga seorang ahli geologi terkemuka (bahkan mantan Ketua IAGI) yang menafsirkan <i>columnar joints</i> sebagai buatan manusia. Juga sama halnya dengan para arkeolog yang berpengalaman mereka akan terusik dengan ke-expertis-annya. Ini sudah menyalahi “the basics of geology”, bahkan  pada zaman <i>“normal science</i>” dengan paradigma mantap yang sekarang berlaku sekarang. Barangkali Pak Danny dan Pak Andang memulai satu revolusi baru dalam ilmu kebumian dan arkeologi? Memang sebagaimana dikatakan (Wilson, Jr., E. Bright, 1990, An introduction to scientific research: New York, Dover Publication, Inc), suatu penemuan yang aneh yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu yang berlaku dapat mengelindingkan suatu revolusi baru dalam ilmu pengetahuan, namun hal ini sangat sangat jarang sekali terjadi, atau peluang-nya sangat-sangat kecil sekali. <i>Mainstream Science</i>, dalam hal ini <i>mainstream geosciences</i> akan mengabaikannya. <i>Mainstream science will simply ignore it</i>.</p>
<p>Saya juga adalah seorang pendukung  kemampuan “field geology” yang cukup fanatik yang mengutamakan hasil pengamatan visual sebagai kebenaran mutlak (a’inal yaqin), sesuai dengan filsafah ilmu kebumian yang berlandaskankan <i>empiricism</i>. Ini tentu  tidak mengenyampingkan hasil-hasil penyelidikan teknologi explorasi seperti <i>geophysics, seismic, gravity, logging</i> dsb yang berkembang dengan yang sangat menakjubkan, bahkan yang merupakan tulang punggung dari explorasi modern di zaman sekarang ini; apakah explorasi minyak-dan gasbmi, explorasi mineral, batubara dan sebagainya, yang tetap  merupakan interpretasi, bagaimanapun telah dikalibrasikan dengan keadaan geologi yang sebenarnya. Saya kira dalam kalangan industri minyak dan gasbumi maupun di kalangan pertambangan suatu <i>discovery</i> akan keberadaan  satu cadangan minyak-dan gasbumi  atau cebakan mineral hanya akan diakui setelah dilakukan pemboran yang ikuti dengan ujicoba /testing atau dilakukan core-sampling dan dianalisa di laboratorium yang diakui kemapannya. Bagaimanapun indah dan bagusnya hasil interpretasi <i>seismic</i>, <i>georadar,</i> <i>remote sensing</i> dsb, itu tetap belum merupakan kenyataan geologi, atau dalam istilah explorasi tetap hanya merupakan suatu prospect. Saya mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan dengan hal ini. Di tahun 70-han hasil <i>seismic</i> di Salawati Basin dekat lapangan Klamono menunjukkan suatu <i>build-up</i> yang sangat meyakinkan dan direkomendasikan untuk dibor (Orba-1). Pada waktu rig pemboran sudah naikkan, Petromer Trend melakukan survey SLR. Dari hasil side-looking radar itu terlihat  lokasi rig yang berada suatu tepat di tengah suatu drepressi yang berdasarkan penelitian Petromer Trend (Norman Foster, Exploration Manager) yang mempublikasikannya metoda geomorphology ini dalam AAPG sebagai methode explorasi dengan ketelitian 98% , paling tidak untuk menemukan suatu terumbu untuk cekungan Salawati dan sekitarnya. Norman Foster sendiri sangat <i>excited</i> melihat lokasi rig itu, “it is going to be a gusher!”, ujarnya. Saya sendiri berada di <i>well site</i> pada saat-saat pahat mau menembus <i>reef</i> yang diharapkan. Menit demi menit lewat, jam demi jam, bahkan sudah lebih dari 1 hari, yang keluar hanya <i>orbitoid foraminiferal limestone</i> melulu (<i>Hey, where is the reef</i>?, tanya si toolpusher), sama sekali tidak satu pun <i>coral fragment</i>.. Apalagi setelah ditest pun tidak keluar minyaknya. Ya mungkin Orba-1 itu sial, justru merupakan probability yang 2%, dari  100%  <i>success probability</i>. Mungkin saja pada tahun 70-han seismic pada waktu itu belum secanggih sekarang. Namun falsafah yang kita bisa ambil dari perisitiwa itu bahwa bagaimanapun canggihnya suatu teknologi explorasi, hasil tetap adalah merupakan peluang/probability saja, tetapi tetap merupakan suatu teknologi yang penting dan sangat bermanfaat, bahkan kita sangat tergantung demi suksesnya explorasi.. Tentu tidaklah semua gejala geologi yang ditafsirkan teknologi explorasi atau geofisika dapat diverifikasi kebenarannya secara visual, misalnya gejala lempeng dalam<i> mantle </i>atau inti bumi. Dalam hal ini kebenaran ilmiah dari penafsiran geofisika dsb harus diterima sesuai dengan keakuratan data yang ada, sesuai dengan logika serta kaidah dasar yang berlaku, sampai diketemukannya lagi data baru dengan teknologi baru serta penjelasan yang logis sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku saat itu.</p>
<p><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2012/02/g_padang_6.jpg"><img class="alignleft" alt="G_Padang_6" src="http://rovicky.files.wordpress.com/2012/02/g_padang_6.jpg?w=300" width="300" height="224" /></a>Kembali mengenai masalah kebenaran ilmiah, kita harus sadari bahwa pengetahuan mengenai penafsiran gejala geologi lapangan yang dianut Pak Sujatmiko, Prof. Bronto dan juga termasuk saya sendiri, merupakan <i>main-stream geology</i> dewasa ini diseluruh dunia. Tentu saja banyak teori-teori geologi yang aneh-aneh yang dimuat di website/ blogs dsb, termasuk adanya “flat earth theory”, bahkan ada masyarakatnya sendiri di London yang bernama “the Flat-Earth Society”, yang merupakan side-stream (dalam agama mungkin disebut sebagai aliran sesat). Juga halnya dalam ilmu-ilmu lainnya, antara lain dalam Arkeologi, banyak teori-teori yang bertentangan dengan mainstream archaeology, seperti teori Atlantis, teori Paleo-aliens dari Erich Von Daniken, UFO, Bermuda Triangle, Crystal Skull.</p>
<p>Perlu pula diketahui bahwa saya sendir adalah penggemar membaca buku-buku, menonton film <i>“documentary</i>” di National Geographic atau Discovery Channel, dan film-film <i>science-fiction</i> di mana teori-teori di luar <i>mainstream science</i> ini ditayangkan, namun dalam hal ini saya menikmatinya hanya semata sebagai hiburan/entertainment saja. Banyak bukti-bukti yang dikemukakan dalam teori-teori itu sangat meyakinkan, tetapi <i>mainstream science</i> tetap tidak menghiraukannya. Pada umumnya <i>main-stream scientific communities</i> tidak menghiraukan dan cenderung mengabaikan (<i>ignore</i>) teori side-stream ini. Jarang-jarang ada yang meminta dilakukan tindakan terhadap terhadap aliran (sesat) ini, silahkan saja, namun kadang-kadang pula ada menyatakannya toeri-teori aneh ini sebagai <i>pseudo-science, para-science atau science fiction</i>. Namun teori-teori yang aneh ini, yang merupakan side-stream praktis tidak bisa dimuat dalam  <i>main-stream scientific journals</i>, di lain fihak karena penuturan ini sangat menarik bagi public yang haus akan adanya mujizat (<i>instat miracle</i>) dalam perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga tgeori-teori macam ini  mempunyai nilai komersial yang tinggi daripada artikel-artikel ilmiah yang cenderung membosankan, dan akan sangat laku keras dijual sebagai buku diluar penerbitan <i>mainstream science</i>, seperti buku <i>Atlantis</i> dari Prof Santos, <i>Chariot of the Gods </i>dari Eric von Daniken dsb. Dalam hal ini tidak ada kelompok ilmiah yang meminta kepada pemerintahnya untuk dilakukan pelarangan.</p>
<p>Dalam soal teori pyramid G. Padang sayapun secara prinsip tidak setuju untuk meminta Presiden untuk melarang dilakukan penelitian lebih lanjut oleh Tim yang mempercayainya G. Padang sebagai pyramid yang terpendam. Kita sebagai scientist harus berpikiran terbuka (<i>open-minded</i>). Dalam soal agama memang banyak pihak yang ingin melarang aliran sesat, tetapi inipun secara internasional  dianggap sebagai pelanggaran hak azasi manusia atau hak kebebasan beragama, hak kebebasan berpendapat. Tentu dalam soal G. Padang ada masalah praktis lain, seperti penggunaan anggaran Negara, masalah kerusakan lingkungan, kerusakan cagar budaya dsb.</p>
<p>Namun demikian munculnya teori-teori off the mainstream science dapat menimbulkan masalah dalam pendidikan ilmu kebumian. Tentu sebagaimana pendidikan geologi di seluruh dunia pendidikan geologi di Indonesia mengikuti <i>mainstream geology</i>, di mana secara tegas <i>columnar joints</i> yang diperdebatkan ini dinyatakan sebagai gejala alam dan dapat dijelaskan dengan penciutan magma/lavayang membeku. Dengan digembar-gemborkannya oleh media masa akan adanya piramida di G. Padang yang jelas terdiri dari <i>columnar joints</i> itu saya kira akan juga mempengaruhi persepsi mahasiswa akan terjadinya gejala ini sebagai buatan manusia (yang tentunya lebih menarik), walaupun bertentangan dengan penjelasan yang diberikan di ruang kuliah dengan alasan kebebasan akademis dalam menyatakan pendapat, dan muncul lah pada peta geologi mereka pyramid atau bangunan puba  setiap kali diketemukan <i>columnar jointing</i>. Saya tidak tahu apakah pandangan Pak Danny dan Pak Andang ini hanya terbatas pada <i>columnar jointing</i> yang ada di G. Padang saja atau untuk semua <i>columnar jointing. </i>Bagaimana pula jadinya kalau setelah lulus dari S-1 di Indonesia kemudian melanjutkan pasca sarjana di luar negeri, dan waktu diinterview mengidentifikasikan gambar Devil’s Tower di Wyoming itu sebagai buatan manusia (atau aliens dari ruang angkasa?)</p>
<p>Masalah ini pernah terjadi pula di sekitar tahun 90-han di mana salah seorang gurubesar yang sangat senior mengajarkan secara fanatik teori delapsi. Teorinya sendiri sebetulnya masih termasuk dalam <i>mainstream geology</i>, yang dihasilkan dari disertasi doktor di Universitas Utrecht di Negeri Belanda yaitu suatu kombinasi antara tektonik, pelengseran dan sedimentasi. Namun caranya Prof Sartono alm (<i>now it can be told</i>)  mengaplikasikan teori adalah sangat berlebihan dan diberlakukan di semua lingkungan tektonik. Padahal teori ini sebetulnya dikembangkan untuk suatu lingkungan palung dalam subduction. Anehnya Prof Sartono alm (bersama dengan Dr. Moh Koesmono alm dari Unpad) sama sekali tidak bisa menerima teori plate-tectonics. Menurut beliau semua struktur geologi itu hasil dari proses delapsi, dan hasilnya semua bidang perlapisan itu kacau balau teracak-acakan, sehingga tidak adanya gunanya untuk dilakukan pengukuran strike and dip. Beliau itu membimbing banyak mahasiswa untuk thesis lapangan di ITB, Unpad maupun di UPN yang disponsori instansi maupun perusahaan (a.l. Caltex di Sumatra Tengah). Maka pada peta geologi yang dihasilkan para mahasiswa itu tidak tertera satupun <i>strike&amp;dip</i>, apalagi keberadaan struktur lipatan seperti antiklin dan sinklin, hanya batas-batas penyebaran litologi dan sesar/patahan saja, padahal daerah pemetaan mereka itu berdasarkan peta dari P3G jelas terdapat struktur lipatan, a.l. daerah Sumatra Tengah, di mana pada puncak-puncak antiklin di dapatkan lapangan minyak yang terkenal seperti Duri dan Minas. Juga kolom stratigrafinya yang muncul menjadi <i>off the mainstream stratigraphy</i>. Pada sidang ujian sarjana jelas ini menjadi masalah. Walaupun kami pada umumnya lebih junior dan belum jadi gurubesar, tetapi kami tentu tidak dapat menerima hal ini untuk meluluskan si mahasiswa ini dalam sidang. Di lain pihak kamipun  tidak dapat pula mempersoalkan hal ini pada beliau secara langsung karena selain kami menghargai beliau yg sudah sangat senior, juga memang kami harus menghormati  kebebasan akademis untuk berbeda pendapat, karena debat dengan beliau tidak akan ada gunanya. Saya tidak ingat betul bagaimana akhir penyelesaiannya, namun seingat saya si mahasiswa terpaksa kembali ke lapangan untuk mengukur strike and dip dan selanjutnya mereka membuat 2 versi laporan, satu versi untuk pembimbingnya, dan versi utama untuk yang lainnya dan sponsor pemetaan (a.l. Caltex). Mungkin di antara pembaca ada yang pernah jadi korban peristiwa ini dan dapat menceritakan apa yang selanjutnya terjadi.</p>
<p>Juga yang jadi masalah adalah penggunaan dana pemerintah untuk penelitian dalam ilmu ataupun konsep/teori yang  di luar mainstream science. Dalam hal penggunaan anggaran negara memang suatu pemerintahan modern selalu akan bersandarkan/berorientasi pada <i>main-stream science,</i> yang terlihat dalam pengangkatan pejabat dalam instansi-instansi yang berlandaskan science dan teknologi yang didukung oleh masyarakat  ilmiah yang diakui secara internasional. Begitupun dengan Indonesia, Presiden tak mungkin akan mengangkat Menteri Kesehatan seorang ahli penyembuhan alternatif, tentu akan ditentang oleh Ikatan Dokter Indonesia yang diakui secara internasional oleh <i>mainstream medical profession</i>, walaupun sangat banyak masyarakat Indonesia yang lebih percaya pada pengobatan alternative dari pada ke dokter.  Namun pernah pula terjadi di Indonesia (zaman Gus Dur) di mana Menteri Riset-nya ingin melakukan riset mengenai jin. Jika Indonesia ini menganggap dirinya sebagai negara modern maka , maka undang-undang dari Negara ini harus pula berdasarkan <i>main-stream science</i>. Dalam hal ini kita bermasalah karena anggota DPR masih sangat banyak yang percaya sama klenik, seperti halnya dengan undang-undang mengenai santet, yang oleh <i>mainstream science</i> jelas tidak diakui keberadaannnya. Mungkin saja di dalam DPR yang ingin mendukung penelitian pyramid.</p>
<p><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/02/iagi-logo.jpg"><img class="alignright" alt="IAGI - Logo" src="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/02/iagi-logo.jpg?w=300" width="300" height="300" /></a>Di sinilah sebetulnya peranan dari IAGI dan reputasi IAGI dipertaruhkan, jika ingin diakui secara internasional. Di satu pihak tentu IAGI ingin para anggotanya untuk bebas berpendapat, bagaimanapun absud-nya pendapat itu, di lain pihak tentu ingin diakui sebagai masyarakat ilmiah internasional, yang jelas mengikuti <i>mainstream geology</i>. Apakah <i>columnar joints </i>ini dapat diterima sebagai buatan manusia oleh <i>mainstream geology</i>?</p>
<p>Yang krusial dini adalah dalam hal penerbitan IAGI. Apakah IAGI akan mau menerbitkan dalam majalahnya, sebagai suatu <i>mainstream scientific journal</i>,  teori piramid ini sebelum benar-benar terbukti secara visual, di mana dengan mata kepala dapat melihat adanya ruangan yg dapat diyakini sebagai buatan manusia dengan keberadaan aftefak di dalamnya seperti pada dindingnya. Boleh jadi dalam suatu presentasi di PIT IAGI ini masih bisa dimungkinkan, karena biasanya tidak di refferied. Bahkan nilai kum dari presentasi itu dalam naik jabatan fungsional di instansi pemerintah adalah rendah.</p>
<p>Namun demikian kita simak mengenai Bull AAPG yang sangat terkenal di dunia internasional ini. Pada akhir tahun 1960-an teori plate-tectonics ini sudah mulai diakui oleh masyarakat ilmiah dunia. Namun pada waktu itu Chief Editor dari AAPG dipegang oleh A.A. Meyerhoff yang menentang teori plate-tectonics, yang sempat menerbitkan artikel oleh dirinya sendiri(?) mengenai data-data dari Iceland yang bertolak belakang dengan teori spreading center. Di awal 70-han beliau diganti sebagai chief editornya, dan muncullah teori-teori mengenai plate-tectonics yang sudah diterima keberadaannya sebagai sesuatu yang nyata. A.A. Meyerhoff sendiri mempunyai teori alternatif yang diberti nama”Surge Tectonics”, namun beliau mengalami kesulitan untuk menerbitkannya, termasuk dalam AAPG Bull, dan dalam scientifc journal dunia yang terkemuka, karena selalu ditolak. Bayangkan seseorang yang pernah berkuasa untuk menentukan diterima atau tidak suatu artikel dalam suatu scientific journal yang sangat bergengsi mendapatkan kesulitan untuk menerbitkan dalam suatu mainstream scientific journals. Menjelang ajalnya akhirnya artikel yang cukup tebal (60 hal) diterbitkan juga oleh Journal of Southeast Asia Geosciences. Namun teori ini diabaikan (ignored) oleh masyarakat ilmiah (mainstream), walaupun sangat menarik dalam menjelaskan gejala-gejala geologi yang selama ini sulit dijelaskan tanpa plate-tectonics. Di lain pihak Bull AAPG setelah Meyerhoff juga menerbitkan makalah mengenai teori dari Rusia mengenai terbentuknya minyak bumi secara anorganik, yang sampai kini teori ini tidak diterima oleh masyarakat mainstream geology.</p>
<p>Kembali ke masalah G. Padang, saya kira pihak yang ingin melanjutkan penelitian mengenai keberadaan piramid ini silahkan saja. Kebebasan ilmiah harus dijamin negara, namun tentu harus sesuai ketentuan yang ada, seperti tidak merusak/membahayakan  cagar budaya, atau gejala alam lainnya. Kalau pintu untuk masuk ke ruangan dalam piramid itu sudah diketemukan, singkirkan bongkah2 yang menghalangi terowongan selanjutnya, saya kira kerusakan yang akan ditimbulkan dapat diminimalkan. Mungkin bisa dilakukan <i>horizontal core-drilling</i> yang dampaknya terhadap lingkungan akan sangat minimal, dan begitu suatu ruangan diketemukan diintai dengan camera yg diusung dengan kabel flexible. Dalam hal kegiatan ini gagal untuk membuktikan keberadaan piramid,  <i>core-samples</i>-nya tetap masih bermanfaat dan dapat digunakan untuk research dalam petrologi dari suatu volcanic neck  Hindari penggunaan dana pemerintah, himpunlah dari dana masyarakat kaya, yang mendambakan suatu <i>miracle </i>dengan diketemukannya kejayaan masa lalu, dan mengharap dapat kembali modal dengan berkembangnya pariwisata. Juga yang penting adalah kapan harus berhenti, jangan seperti terjadi di salah satu negara di Europa Timur (ex Yugoslavia kalau tidak salah) di mana seseorang berkeyakinan pula keberadaan suatu piramid di bawah suatu gunung berbentuk kerucut mendapakan dana untuk melakukan penggalian dengan terowongan. Sesudah bertahun-tahun penggalian terowongan yang sudah ratusan meter  itu tidak pula menemukan ruangan yang diharapkan. Beberapa orang geologist pernah menyelinap masuk ke dalamnya, dan batuan yang ditembus diyakini adalah gejala alam. Namun sang fanatik piramid tetap melanjutkan penggaliannya, masih berkeyakinan bahwa sesuatu waktu pembuktian akan tiba. Di lain pihak pariwisata pun berkembang, bahkan menghasilkan sumbangan dana untuk melanjutkan penggalian itu.</p>
<p>Saya orang penggemar film2 mengenai Atlantis, Bermuda Triangle, Paleo-aliens, UFO dan sebagainya sebagai hiburan yang sehat. Dalam hal G. Padang saya mempunyai pikiran terbuka, tetapi saya tetap seorang <i>mainstream geologis</i>t yang berkeyakinan pada field geology dengan field observationnya.. All geophysical interpretations must be subject to testing. Saya baru akan percaya akan keberadaan piramid di bawah G.Padang kalau ruangan di dalam perut gunung ini sudah terlihat secara visual secara meyakinkan buatan manusia dengan keberadaan artefak-nya.</p>
<p>Sebagai penutup saya ingin mensitir suatu pepatah yang berlaku  dalam industri minyakbumi sektor non-real :</p>
<p>“ALL PROSPECTS ARE GOOD UNTIL YOU DRILL”</p>
<div>
<p>Dalam portfolio perusahaan minyak, blok yang menunjukkan adanya prospect-prospect hasil tafsiran geologi/geophysics itu mempunyai nilai ekonomis tinggi (bahkan dapat meningkat sesuai dengan peningkatan harga minyak)  sampai prospect itu dibor, karena hasil pemboran itu dapat menaikkan nilainya sampai berlipat ganda, tetapi nilainya bisa turun sangat drastic, jika ternyata kosong. Jadi janganlah dibor jika Anda  meninginginkan nilai portfolio-nya stabil..</p>
</div>
<p>Ciburial,  Bandung  tanggal  6 Mei 2013 jam 02.00</p>
<p>R.P.Koesoemadinata</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iagi.or.id/kontroversi-gunung-padang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertemuan &#8216;empat mata&#8217; Ketua IAGI dan IAAI seputar Gunung Padang</title>
		<link>http://www.iagi.or.id/pertemuan-empat-mata-ketua-iagi-dan-iaai-seputar-gunung-padang.html</link>
		<comments>http://www.iagi.or.id/pertemuan-empat-mata-ketua-iagi-dan-iaai-seputar-gunung-padang.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 May 2013 01:22:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>-Admin-</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[gunung padang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iagi.or.id/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[Dear All IAGI-ers, Sabtu siang kemarin saya bertemu Pak Junus Ketua Umum IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia) di Chitos, saya sendiri dan beliau juga sendiri saja, empat mata. Sehingga saya tidak dapat hadir diacara FGMI MGEI di hari yg sama. Kami ngobrol santai sampai hampir 2 jam tentang issue Gunung Padang. Dan kami saling mengemukakan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All IAGI-ers,</p>
<p>Sabtu siang kemarin saya bertemu Pak Junus Ketua Umum IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia) di Chitos, saya sendiri dan beliau juga sendiri saja, empat mata. Sehingga saya tidak dapat hadir diacara FGMI MGEI di hari yg sama.</p>
<p>Kami ngobrol santai sampai hampir 2 jam tentang issue Gunung Padang. Dan kami saling mengemukakan pandangan organisasi pada issue yang sedang berkembang ini. Beliau mengemukakan kekhawatiran kalau issue ini berkembang lanjut akan mempengaruhi profesi arkeologi secara umum. Saya mengerti concern beliau tentang hal ini. Saya juga mengemukakan bahwa dalam eksplorasi situs arkeologi ini, anggota IAGI atau geolog sebagai &#8220;<i>supporting science</i>&#8220;nya. Penggalian situs Arkeologi bukan ranah utamanya ahli geologi. Namun ilmu geologi sudah berinteraksi dengan arkeologi dalam hal ini.<br />
<span style="text-decoration: underline"><b><br />
Gunung Padang</b></span></p>
<div id="attachment_480" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/GPadangPuraJatnika.jpg"><img class="size-medium wp-image-480" alt="Ilustrasi Pon Purajatnika" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/GPadangPuraJatnika-300x190.jpg" width="300" height="190" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi Pon Purajatnika</p></div>
<p>Saya memberitahukan bahwa IAGI sebagai organisasi profesi sangat terbuka kepada semua anggotanya untuk berkreasi dan berkiprah dalam bidang apapun asalkan masih dalam koridor ilmiah akademis. Walaupun pada akhirnya ada perbedaan dan bahkan kontradiksi dalam hal interpretasi atau opini, IAGI tidak akan memihak salah satu. Justru dengan dua tiga hingga berapapun macam hasil interpretasinya akan menambah wawasan dan perkembangan berpendapat, dan IAGI tetap akan melindunginya sebagai hak mengemukakan pendapat, sekali lagi, asalkan semuanya kaidah keilmuannya tidak dilanggar. Saya memberikan contoh bagaimana IAGI saat ini berusaha tidak memberikan opini karena adanya perbedaan pendapat tentang Lusi yang juga ada pro-kontra diantara anggota IAGI.</p>
<p>Pak Junus mengerti pendapat IAGI diatas, beliau juga sama dalam hal hak dan kebebasan berpendapat pada anggotanya ini. Tetapi beliau, sebagai arkeolog, dan kawan-kawan lainnya, sangat konsen dengan masa depan profesinya (ahli arkeologi) bila pengambilan kesimpulan yang menurut beliau sangat terburu-buru ini masuk dalam keputusan kepemerintahan dan menjadi kebiasaan yang berkelanjutan. Saya rasa ini hal yang wajar kalau beliau sangat konsen.</p>
<p>Beberapa aspek keilmuan dalam pengujian hipotesa arkeologi juga diceritakan termasuk bagaimana menjelaskan aspek <i>supporting socia (community, group, kelopon state dll)</i> ketika sebuah bangunan (konstruksi) yang sangat besar dibangun pada satu masa saja. Seberapa besarnya aspek sosial ini. Dalam pembangunan sebuah candi yg besar, memerlukan waktu, jumlah tenaga manusia yang besar, <i>food</i>, <i>shelter</i>, dll dimana didalamnya ada sebuah manajemen sosial yg tentunya juga masih harus dijawab sebelum memberikan sebuah kesimpulan final adanya bangunan besar dibawah situs, apalagi untuk melakukan sebuah excavasi atau penggalian penemuan yang baru.</p>
<p>Salah satu diskusi lain yaitu tentang ijin, justifikasi serta otorita excavasi situs purbakala juga mengemuka tadi siang. Kalau misalnya ada satu penemuan situs candi di Jogja tentunya relatif mudah untuk melakukan justifikasi serta ijin excavasi, apalagi diatasnya tidak ada situs yg harus dilindungi. Namun untuk excavasi di G Padang tentunya harus ada banyak &#8220;<i>reasons based on researches</i>&#8220;  yang perlu dilakukan sebelum melakukan excavasi besar-besaran. Beliau mengingatkan juga bahwa situs G Padang bukanlah satu-satunya situs megalith di Jawa Barat, namun merupakan situs Megalith terbesar di Asia. Jadi perlu perlindungan khusus. Penggalian dibawah situs purbakala ini memang sepertinya belum ada rujukan pastinya. (catatan: ini PR untuk institusi kepurbakalaan)</p>
<p>Sebagai seorang PNS Penyidik, beliau mengkhawatirkan apabila nantinya mengarah pada penyidikan. Salah satu kasus yang beliau lakukan pada kasus pembongkaran Batutulis dahulu, yang merupakan salah satu dugaan (kemungkinan) adanya pelanggaran aturan yang berlaku. Sepertinya memang team mandiri ini harus bersabar sebelum melakukan pembuktian melalui excavasi dibawah Gunung Padang. Dan saya pribadi beberapa kali menyingung dengan menuliskan bahwa &#8220;<i>sebuah penemuan besar itu sering tidak disadari oleh penemunya</i>&#8220;. Jadi kalau ini nantinya menjadi sebuah penemuan besar ya waktulah yang membuktikan, seolah begitu. Yang penting ada<span style="text-decoration: underline"><b> publikasi ilmiah yang akan menjadi catatan</b></span> dan rekaman sebuah penelitian ilmiah. Ini berkali-kali saya dorong ke semua Anggota IAGI yang rajin meneliti.</p>
<p>Akhirnya saya dan Pak Junus sepakat untuk mengadakan seminar bersama IAAI dan IAGI tentang Gunung Padang ini. Nanti IAGI dan IAAI menghadirkan pembicara-pembicara baik yang pro, kontra juga yang dianggap netral. Walaupun ini diselenggarakan bersama, namun karena hal ini lebih dekat dengan profesi Arkeologi, maka beliau (IAAI) yang akan menginisiasi jadwal, waktu serta pengaturan tempatnya. IAGI akan menjadi pendamping penyelenggaranya dan memberikan usulan pembicara dari ahli anggota IAGI.</p>
<p><b>Geoscience dan Arkeologi</b></p>
<p>Pemanfaatan Georadar serta pengeboran yg dilakukan oleh team mandiri ini memang lazim di dalam penyelidikan kebumian, namun belum atau masih belum berkembang didalam penyelidikan Arkeologi di Indonesia. Ini sangat disadari Pak Junus. Beliau juga terbuka untuk mendapat ilmu tentang &#8220;<i>mengintai</i>&#8221; bawah permukaan dengan GPR, <i>slimhole drilling</i>, Geolistrik dll. Ini wacana baru untuk Arkeolog pada umumnya.<br />
Geoarkeologi sendiri juga belum lama berkembang di dunia ini. Jadi kolaborasi dua keilmuan ini harus mulai dikembangkan di Indonesia. <i><b>Archaeological geology </b>is a term coined by Werner Kasig in 1980. It is a sub-field of geology which emphasises the value of earth constituents for human life. </i></p>
<p>Saya juga kemukakan beberapa anggota IAGI yang saat ini banyak tertarik sejarah manusia dan interaksinya dengan manusia. Termasuk bagaimana aspek Gunung Merapi dalam kehidupan untuk melihat konsep mitigasi jaman dahulu yg mungkin dapat dipelajari. Termasuk Candi Kedulan yg diperkirakan ditinggal karena gempa, bukan karena lahar, hipotesa danau mengelilingi Candi Borobudur dll.<br />
Menurut Pak Junus, saat ini ada beberapa geolog yang menjadi anggota IAAI, salah satunya Pak Zaim yang beliau ingat. Mungkin Pak Zaim dapat bercerita banyak tentang hal ini.</p>
<p><i>Hal lain yang juga lebih penting</i><br />
<span style="text-decoration: underline"><b>Simposium Internasional 200 tahun Letusan G. Tambora,</b></span></p>
<p>Saya mengemukakan tentang rencana IAGI dan HAGI untuk memperingati 200 tahun Gunung Tambora tahun 2015 (TAmbora klimax meletus 10 April 1815), dan ternyata sejalan dengan beliau (IAAI) yang sudah melakukan beberapa penggalian di &#8220;Pompei of Indonesia&#8221; ini. Letusan ini meninggalkan beberapa lokasi yang dapat diteliti dan diselidiki aspek Arkeologisnya. Namun banyak hal yang tidak dapat dijelaskan oleh arkeolog ketika melihat sedimen-sedimen penutup yang semestinya menjadi domain geolog (<i>Quartenary stratigrapher</i>).</p>
<p>Juga kita sepakat sudah harus dimulai kerjasama IAAI dan IAGI ini tidak hanya untuk hal ini (G Padang) saja, banyak hal-hal yang mengemuka selama ngobrol santai dengan Pak Junus ini. Ini salah satu hikmah dari issue tentang Gunung Padang barangkali.</p>
<p>Apabila diperlukan IAGI mungkin akan menyelenggarakan pertemuan terpisah sendiri di kalangan IAGI untuk sekalilagi berargumentasi tentang kontroversi geologi.</p>
<p>Salam Sukses !</p>
<p>Rovicky Dwi Putrohari<br />
Ketua Umum IAGI.</p>
<p><i>Penemuan besar itu bukan karena menghasilkan, tetapi menCERAHkan, mengINSPIRASI, dan meMOTIVASI yang lain untuk meneruskannya.</i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iagi.or.id/pertemuan-empat-mata-ketua-iagi-dan-iaai-seputar-gunung-padang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klarifikasi IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) kepada anggota IAGI tentang penelitian Gunung Padang, dan seputar Piramida.</title>
		<link>http://www.iagi.or.id/klarifikasi-iagi-ikatan-ahli-geologi-indonesia-kepada-anggota-iagi-tentang-penelitian-gunung-padang-dan-seputar-piramida.html</link>
		<comments>http://www.iagi.or.id/klarifikasi-iagi-ikatan-ahli-geologi-indonesia-kepada-anggota-iagi-tentang-penelitian-gunung-padang-dan-seputar-piramida.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 May 2013 04:37:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>-Admin-</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita ke Anggota]]></category>
		<category><![CDATA[gunung padang]]></category>
		<category><![CDATA[situs megalitik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iagi.or.id/?p=470</guid>
		<description><![CDATA[Adanya beberapa anggota IAGI yang mengikuti dan ikut aktif menandatangani Petisi 34 dengan menyebutkan sebagai IAGI, tanpa menambahkan kata “anggota”, dengan ini Pengurus Pusat IAGI menjelaskan bahwa kepesertaan ybs adalah atas nama pribadi, BUKAN pernyataan kelembagaan. Sebagai penjelasan saya selaku Ketua Umum PP-IAGI adalah, hingga kini PP-IAGI tidak memberikan pernyataan resmi secara keorganisasian mengenai pembicraan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/IAGI-Logo.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-473" alt="IAGI - Logo" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/IAGI-Logo-150x150.jpg" width="150" height="150" /></a>Adanya beberapa anggota IAGI yang mengikuti dan ikut aktif menandatangani Petisi 34 dengan menyebutkan sebagai IAGI, tanpa menambahkan kata “<em>anggota</em>”, dengan ini Pengurus Pusat IAGI menjelaskan bahwa kepesertaan ybs adalah atas nama pribadi, BUKAN pernyataan kelembagaan.</p>
<p>Sebagai penjelasan saya selaku Ketua Umum PP-IAGI adalah, hingga kini PP-IAGI tidak memberikan pernyataan resmi secara keorganisasian mengenai pembicraan serta diskusi tentang situs Arkeologi Gunung Padang ini. Bahkan IAGI belum mendapatkan surat resmi dari siapapun juga mengenai hal ini. Demikian juga soal Gunung Padang yang sudah dinyatakan sebagai peninggalan arkeologis. IAGI hanya menerima jawaban surat elektronik dari ketua umum organisasi profesi Arkeolog Indonesia (IAAI), sebagai organisasi resmi, mengenai hal ini, dimana IAAI juga tidak membuat release ataupun pendapat terhadap sebuah kasus seperti ini..</p>
<h3>Himbauan kepada anggota IAGI</h3>
<p><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/2012_IAGI_G_Padang_Diskusi.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-476" alt="2012_IAGI_G_Padang_Diskusi" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/2012_IAGI_G_Padang_Diskusi-150x150.jpg" width="150" height="150" /></a>Di era kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat saat ini anggota IAGI bebas mengemukakan pendapatnya, se-”<em>nyleneh</em>” apapun opini dan pendapatnya itu semestinya disadari akan melekat pada pribadi masing-masing. IAGI sangat mendorong dilakukannya penelitian riset dan pengkajian sesuai dengan kaidah keilmuan. Oleh sebab itu dihimbau ketika berhubungan dengan media silahkan ditegaskan ulang bahwa yang diungkapkan opininya ini adalah opini pribadi, tidak mewakili institusi IAGI.</p>
<p>Secara mudah prosedur atau protokol dalam Ilmu komunikasi sebuah pernyataan resmi dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Diutarakan langsung oleh Pimpinan dalam forum dinamakan Konfrensi Pers dan disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta</li>
<li>Diutarakan tidak langsung oleh seorang jurubicara dalam forum dinamakan Konfrensi Pers disaksikan oleh pemirsa dan dicatat pewarta</li>
<li>Diutarakan secara tertulis , dengan Kop surat dan Nomor Surat dan ditandatangi oleh Pimpinan, atau Sekjen dan bukan Juru Bicara.</li>
</ol>
<p>Penyataan yang keluar dari tidak melalui ketiga protokol diatas bukan merupakan pernyataan resmi walaupun di katakan sebagai pernyataan pribadi. (SMS, e-mail atau seseorang sambil jalan kemudian diwawancarai).</p>
<div id="attachment_475" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/2012_IAGI_G_Padang_Gerbang_Situs.jpg"><img class="size-medium wp-image-475 " alt="2012_IAGI_G_Padang_Gerbang_Situs" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/2012_IAGI_G_Padang_Gerbang_Situs-300x198.jpg" width="300" height="198" /></a><p class="wp-caption-text">Kunjungan PP IAGI ke G Padang Feb 2012.</p></div>
<p>Sebagai anggota IAGI, kita belajar satu hal baru dalam dunia komunikasi media. Masyarakat Indonesia saat ini sangat haus dan sensitif terhadap sebuah issue atau berita. Perlu kehati-hatian dalam hal mengemukakan pendapat ini di media apapun (tulis, cetak ataupun media elektronik lainnya). Selain isi dari kajian saintifik yang dilakukan, perlu juga mengindahkan kaidah kesopanan dalam berdiskusi dan mengemukakan argumentasi. Untuk itu, juga perlu berhati-hati ketika menyinggung institusi resmi termasuk perusahaan, perorangan, juga pejabat maupun institusi resmi lainnya. Konsekuensi logis dari kebebasan berbicara (dan mnulis) adalah tanggungjawab.</p>
<p>PPIAGI berusaha selalu mengikuti perkembangan kegiatan anggotanya. Khususnya untuk evaluasi Gunung padang ini, Tahun lalu (Feb 2012) PP IAGI telah menyelenggarakan seminar serta kunjungan eksursi ke lokasi. Juga FGMI (Forum Geosaintist Muda Indonesia) bersama dengan MGEI (Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia) merencanakan untuk peninjauan kembali ke situs Gunung padang sebagai bagian dari usaha PP IAGI untuk mengerti tentang issue ini. Rekan-rekan IAGI silahkan menghubungi FGMI untuk mengikuti ekskursi/trip ke lokasi serta seminar tersebut.</p>
<p><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/2012_IAGI_G_Padang_Batu_Nada.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-477" alt="2012_IAGI_G_Padang_Batu_Nada" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/05/2012_IAGI_G_Padang_Batu_Nada-150x150.jpg" width="150" height="150" /></a>Mari kita teruskan melakukan riset, studi, penelitian dan juga berdiskusi secara elegan dan bertanggung jawab.</p>
<p>Salam</p>
<p>Ketua Umum IAGI.</p>
<p>Rovicky Dwi Putrohari</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iagi.or.id/klarifikasi-iagi-ikatan-ahli-geologi-indonesia-kepada-anggota-iagi-tentang-penelitian-gunung-padang-dan-seputar-piramida.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersatu Selamat di Bumi Pertiwi</title>
		<link>http://www.iagi.or.id/bersatu-selamat-di-bumi-pertiwi.html</link>
		<comments>http://www.iagi.or.id/bersatu-selamat-di-bumi-pertiwi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Apr 2013 09:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>-Admin-</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[hari bumi]]></category>
		<category><![CDATA[press release]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iagi.or.id/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[Press Release Ikatan Ahli Geologi Indonesia Menyambut Hari Bumi 22 April 2013 Bumi yang dihuni manusia sudah berumur lebih dari 4,5 milyar tahun.  Sudah renta atau justru sedang menuju kesempurnaan? Kita lebih sering mendengar pernyataan bumi sudah renta sehingga perlu perawatan khusus. Ataukah sebetulnya bumi sedang menuju kedewasaan hingga bumi berulah layaknya ABG yang penuh [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/04/IAGI-Logo.jpg"><img class=" wp-image-462 alignright" alt="IAGI - Logo" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/04/IAGI-Logo-300x300.jpg" width="180" height="180" /></a><i>Press Release Ikatan Ahli Geologi Indonesia Menyambut Hari Bumi 22 April 2013</i></p>
</div>
<p align="right">
<p>Bumi yang dihuni manusia sudah berumur lebih dari 4,5 milyar tahun.  Sudah renta atau justru sedang menuju kesempurnaan? Kita lebih sering mendengar pernyataan bumi sudah renta sehingga perlu perawatan khusus. Ataukah sebetulnya bumi sedang menuju kedewasaan hingga bumi berulah layaknya <i>ABG</i> yang penuh energi ekstra.  Mungkin kita tak akan pernah tahu.</p>
<p>Apapun yang kita percayai sebagai persepsi tingkat kedewasaan bumi saja mampu membuat manusia lupa akan tugas lengkapnya dalam memanfaatkan isi dan hasil bumi, mengerti perilaku bumi hingga harus menjaga lingkungan di bumi untuk menunjang kehidupan.</p>
<h1>Ekstraksi – Mitigasi – Konservasi</h1>
<p><b>Tiga aspek holistik yang tak terpisahkan.</b></p>
<p>Mengambil hasil bumi dan sumberdaya alam merupakan salah satu kegiatan manusia sejak mereka diciptakan. Demi bertahan hidup, manusia awalnya memanfaatkan air, buah-buahan, dedaunan, hutan hingga sumber daya pangan dan juga sumber daya energi. Kemajuan ilmu pengetahuan mampu memperkirakan kebutuhan air tawar dan bahan makanan satu individu manusia.<span id="more-461"></span></p>
<p>Ekstraksi sumberdaya alam sudah seharusnya dilakukan manusia dengan bijak, lantaran bila berlebihan akan menimbulkan ketimpangan ekosistem. Tentu kita tidak boleh mengambil semua saat ini, dan memproduksi sebanyak-banyak untuk hari ini. Ekstraksi sumberdaya alam harus dikontrol dengan ilmu, akal dan pengetahuan serta diproyeksikan untuk memenuhi  kebutuhan tidak sekadar masa kini, tetapi harus  memperkiraan kebutuhan anak cucu kita pada masa depan.</p>
<p>Bumi bukanlah sekedar benda mati yang diam. Bumi memiliki siklus aktifitas seolah bernafas. Bumi juga bergerak, bergetar, dan air laut pun terus mengalun. Dinamika bumi juga mengikuti kaidah fisis serta memiliki mahluk lain yang menghuninya selain manusia, yang juga harus kita mengerti. Tanpa pengetahuan akan dinamika bumi, manusia akan memandang seluruh aktifitas bumi yang mengganggu sebagai bencana.</p>
<p>Banjir adalah mekanisme pengaliran air yang juga menjadi agen pengangkut unsur hara penyebar kesuburan. Longsoran merupakan proses stabilitasi lereng secara alamiah, gempa merupakan pelepasan tenaga akibat gerakan tektonik kulitnya. Letusan gunungapi sejatinya kegiatan magma di dalam bumi yang perlu disalurkan.</p>
<p>Dinamika geologi bumi merupakan ciri planet yang layak untuk menunjang kehidupan manusia. Mitigasi dinamika geologi bumi ini tidak dapat diabaikan. Banjir tidak perlu selalu dimusuhi, longsoran jangan hanya dicaci. Semua dinamika geologi bumi ini perlu dimitigasi, diketahui dan dimengerti untuk menunjang lingkungan yang layak, dan aman.  Dengan begitu nafas dan detak-detak bumi tidak hanya dianggap sebagai bencana.</p>
<p>Manusia memerlukan ruang untuk menunjang kehidupan. Namun, tidak semua tempat layak dihuni, dan mampu menunjang seluruh kebutuhan manusia. Ada ruang di bumi yang pas untuk ditinggali, ada ruang yang hanya dapat ditanami.  Selain itu, ada pula ruang yang dapat dimanfaatkan hasil buminya, airnya, mineralnya, minyaknya, gasnya. Dan ada pula yang dapat dimanfaatkan secara bersama dan bergantian.</p>
<p>Ekosistem yang layak huni luasnya terbatas. Ekstraksi sumberdaya alam yang tak terkontrol, dan tanpa usaha  mitigasi dinamika lingkungan akan membahayakan kelangsungan hidup. Manusia dengan ilmu, akal dan pengetahuannya dituntut harus mampu melakukan konservasi ekosistemnya secara bijak. Keterbatasan ruang harus dipelihara.  Singkatnya, konservasi lingkungan hidup perlu dilakukan dengan lebih bijak.</p>
<p>Keberagaman Indonesia tersebar di lebih dari 17.000 pulau. Keberagaman ini termasuk ragam sumberdaya alam dan ragam dinamika geologinya. Tidak semua tempat mengalami gempabumi, dan merasakan letusan gunungapi.  Namun, kita di Indonesia perlu tahu dimana tempat-tempat yang penuh dengan dinamika bumi yang khas ini. Tidak semua tempat memiliki batubara, emas, minyakbumi, dan air yang layak dikonsumsi. Namun dengan kesatuan negara Republik Indonesia maka rakyat akan terus bertahan, maju dan berkembang secara bersama-sama.</p>
<p>Kondisi spesifik Indonesia ini harus kita kenali. Salah satunya kondisi demografi tahun 2020-2030, ketika terjadi bonus demografi.  Pada saat itu 161 juta diantara 260 juta penduduk Indonesia merupakan usia produktif.  Rakyat Indonesia membutuhkan sumberdaya alam mineral dan energi yang cukup untuk bekerja, serta lingkungan yang aman dari dinamika geologi.  Sangat disadari, manusia memiliki keterbatasan.  Kegiatan ekstraksi, mitigasi dan usaha konservasi  tidak mungkin dilakukan sendiri atau secara sektoral.  Bersatunya para pengelola bumi Nusantara semestinya mampu menjadikan penduduk Indonesia tetap bertahan, berkembang, dan maju bersama saat  terjadi bonus demografi sepuluh tahun lagi.</p>
<p>Dalam rangka Hari Bumi, pemerhati bumi di Indonesia harus BERSATU dalam menyediakan sumberdaya alam dan menyiapkan lingkungan yang sehat dan aman bagi generasi penerus bangsa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam Bumi Lestari</p>
<p><b>Ikatan Ahli Geologi Indonesia</b></p>
<p align="left"><b><span style="text-decoration: underline">Rovicky Dwi Putrohari</span></b>                                                                                        <b>Seno Aji</b><br />
Ketua Umum (08159120363 rovicky@gmail.com)                                        Sekrtearis Jendral (0811581320)</p>
<p align="left"><b>Singgih Widagdo</b>, Ketua Bidang Sumberdaya alam (0811170123)<br />
<b>Ipranta</b>, Ketua Bidang Mitigasi dan Konservasi (082112189087)<br />
<b>Mohammad Syaiful</b>, Ketua Bidang Pendidikan dan Pertemuan Ilmiah (08129372808)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iagi.or.id/bersatu-selamat-di-bumi-pertiwi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Regenerasi dan Kaderisasi di IAGI</title>
		<link>http://www.iagi.or.id/regenerasi-dan-kaderisasi-di-iagi.html</link>
		<comments>http://www.iagi.or.id/regenerasi-dan-kaderisasi-di-iagi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Apr 2013 02:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gayuh Putranto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Berita ke Anggota]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iagi.or.id/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Acara syukuran Ulang Tahun IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) ke 53 alhamdulillah berjalan cukup meriah. Tema “Regenerasi dan Kaderisasi” ini secara diam-diam dimulai sejak awal persiapan serta penyelenggaraan acara malam syukuran ini telah sukses dijalankan oleh FGMI. Setelah dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, beragam pentas berjalan meriah dipandu oleh Mas Ipul. Acara dihadiri oleh [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Acara syukuran Ulang Tahun IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) ke 53 alhamdulillah berjalan cukup meriah.</p>
<p>Tema “Regenerasi dan Kaderisasi” ini secara diam-diam dimulai sejak awal persiapan serta penyelenggaraan acara malam syukuran ini telah sukses dijalankan oleh FGMI. Setelah dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, beragam pentas berjalan meriah dipandu oleh Mas Ipul. Acara dihadiri oleh sesepuh dan mantan ketua-ketua IAGI, Pak Koesoema, Pak Zuhdi Pane, Abah Yanto, Pak Andang juga Pak Luthfi yang juga sharing pengalaman dalam mengelola IAGI dimasal lalu. Juga hal penting kritik serta usulan beliau-beliau yang disampaikan untuk pengurus IAGI dan generasi muda. Wakil Pengda serta instansi termasuk LIPI, SKKMIGAS, dan mahasiswa (Forhimagi) wah terlalu banyak kalau disebut satu-satu. Beragamnya acara dimulai dengan sharing pengalaman juga pemaparan tema kali ini “Renegenerasi dan Kaderisasi IAGI”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/04/1-demografianggotaiagi2013.jpg" target="_blank"><img title="Demografi anggota IAGI 2013" alt="Demografi anggota IAGI 2013" src="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/04/1-demografianggotaiagi2013.jpg?w=468&amp;h=350" width="468" height="350" /></a></div>
<div></div>
<p>Pemaparan yang saya lakukan selaku Ketua Umum IAGI adalah data tentang anggota IAGI. Data anggota IAGI yg ada saat ini ada “sekitar” 4300, mengapa “sekitar”, adakah yang pasti ? Ini merupakan salah satu tugas kesekretariatan untuk memverifikasi data anggota IAGI yg masih aktif. Demografi anggota IAGI menunjukkan usia aktif anggota antara 30-60 tahun, terlihat adanya gap atau kesenjangan seperti yang terlihat pada gambar terlampir. Jumlah anggota diatas usia 50 anggotanya menurun. Grafik ini juga menunjukkan bawah rata-rata setiap angkatan ahli geologi diwakili sekitar 100 anggota. Kalau (asumsi) jumlah lulusan sarjana geologi itu sekitar 400 sarjana pertahun, maka IAGI telah menyerap 25%nya. Namun pada saat ini mungkin lulusan sarjana geologi sudah jauh meningkat dengan adanya sekitar 20 universitas dan institut yang memiliki jurusan geologi. Barangkali ini memperlihatkan bahwa daya tarik IAGI secara proporsi (prosentase) menurun dari tahun ketahun. Saat ini IAGI juga memiliki anggota mahasiswa (status anggota luar biasa), mereka dikoordinasikan dan aktif dalam kegiatan FGMI.</p>
<p>Gambar kedua memperlihatkan distribusi anggota IAGI berdasarkan pekerjaannya. Salah satu tantangan IAGI adalah merekrut anggota-anggota yang berkecimpung dalam berbagai bidang ilmu dan bidang kerja supaya diversity atau keberagaman IAGI mencerminkan keberagaman Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/04/2-statistikanggotaiagi2011.jpg" target="_blank"><img title="Statistik Anggota IAGI" alt="Statistik Anggota IAGI" src="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/04/2-statistikanggotaiagi2011.jpg?w=468&amp;h=348" width="468" height="348" /></a></div>
<div></div>
<p>Kegiatan-kegiatan IAGI juga masih didominasi kegiatan Ekstraksi, peran serta bidang profesi lain masih sangat diperlukan. Termasuk Geoteknik yg merupakan kegiatan konservasi dan persiapan lahan (urban geologi) yang menjadi laporan utama Berita IAGI yang akan mulai dikirimkan ke anggota pekan ini.</p>
<p>Grafik ketiga memperlihatkan usia ketua-ketua IAGI ketika menjabat sebagai ketua IAGI. Cukup menarik, mengapa usia ketua IAGI ini cenderung semakin tua (eh semakin dewasa <img alt=":)" src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1129645325g" /> ) ?. Berapa usia Pak Sutaryo Sigit ketika pertamakali menjadi Ketua Umum IAGI ? Perkiraan saya buat karena, sekali lagi, kurang validnya data yg ada di IAGI. Menurut Pak Koesoema dibawah 30 tahun !, Juga ketika Pak Koesoema mengambil inisiatif mengaktifkan kembali tahun 1974, beliau berusia 37 tahun.</p>
<p>Semakin tuanya usia pemimpin IAGI ini, banyak ragam dugaan serta penjelasan mengenai hal ini. Benarkah ini akibat kurang bagusnya regenerasi atau kaderisasi di IAGI ? Ataukah ini memang secara alamiah sulit mencari kader baru karena lingkungan dan kungkungan sewaktu mahasiswanya menjadi enggan dan cuek dengan organisasi. Mungkin juga karena demografi serta bertebarannya geologi sehingga tidak terjangkau oleh IAGI utk ditarik menjadi anggota. Silahkan berpendapat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/04/3-usiaketuaiagi.jpg" target="_blank"><img title="Usia Ketua-ketua IAGI saat dilantik." alt="Usia Ketua-ketua IAGI saat dilantik." src="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/04/3-usiaketuaiagi.jpg?w=468&amp;h=351" width="468" height="351" /></a></div>
<div></div>
<div></div>
<p>Namun yang menjadi salah satu konsen saya selaku Ketua Umum IAGI yang sekarang adalah belajar dari sejarah sendiri dan pentingnya mempersiapkan kader-kader organisatoris IAGI dimasa depan. Salah satu yang dilakukan adalah memfasilitasi geologi muda ini dalam berkiprah di IAGI. Learning atau pembelajaran dari daftar usia ketua IAGI ini cukup menakjubkan saya. Ketua-ketua yang saat dilantik usianya 40 kebawah menyandang gelar Doktor (Phd) di otaknya. Artinya seorang organisastoris itu juga harus PANDAI dalam bidangnya. Persis apa yang disinggung mantan Ketua IAGI, Pak Luthfi, bahwa semua urusan itu akan menjadi bagus bila ditangani oleh yang benar-benar ahli di bidangnya. Dan memang pada saat beliau-beliau menjabat sebagai ketua umum IAGI telah banyak membuat terobosan-terobosan baru. Salah satu nasehat baru untuk kader-kader muda IAGI adalah belajar yang sungguh-sungguh tetapi tidak melupakan jiwa sosisal berorganisasi. Jiwa organisatoris ini juga tercermin pada semua mantan Ketua IAGI, selalu hadir dalam kegiatan IAGI. Mantan-mantan ketua ini masih terus memantau, memberikan bimbingan serta memberikan kritik yg diperlukan IAGI.</p>
<div><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/04/ultahiagi53-2.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Acara di Hotel Bidakara" alt="Acara di Hotel Bidakara" src="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/04/ultahiagi53-2.jpg?w=468&amp;h=82" width="468" height="82" /></a></div>
<div></div>
<p>Pada kesempatan khusus, FGMI (Forum Geosaintis Muda Indonesia) memaparkan kiprah dan hasil kerjanya yang sudah dijalani dalam setahun ini. FGMI telah mengundang pertanyaan kepenasaran pada anak muda, dan juga wejangan diberikan dari para senior dan sesepuh IAGI. Proses kaderisasi itu sebuah proses yang diperlukan untuk menjaga ‘sustainability’ jalannya organisasi.</p>
<p>Acara syukuran ini dimeriahkan oleh nyanyian para hadirin dan Pak Syaiful menutup acara syukuran ini pada pukul 11 malam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iagi.or.id/regenerasi-dan-kaderisasi-di-iagi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Press Release IAGI: Strategi Pengelolaan Sumberdaya Migas Indonesia</title>
		<link>http://www.iagi.or.id/press-release-iagi-strategi-pengelolaan-sumberdaya-migas-indonesia.html</link>
		<comments>http://www.iagi.or.id/press-release-iagi-strategi-pengelolaan-sumberdaya-migas-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Mar 2013 06:09:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gayuh Putranto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Press Release IAGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iagi.or.id/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Press Release IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) 28 Februari 2013 Strategi Pengelolaan Sumberdaya Migas Indonesia Sumberdaya minyak dan gas bumi merupakan aset nasional yang perlu dilakukan pengelolaan seoptimal mungkin dengan memaksimalkan peran serta seluruh komponen bangsa Indonesia untuk meningkatkan kinerja dan produktivitasnya, sehingga sumberdaya minyak dan gas bumi dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Press Release IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia)<br />
</strong>28 Februari 2013</p>
<p align="center"><strong>Strategi Pengelolaan Sumberdaya Migas Indonesia</strong></p>
<p>Sumberdaya minyak dan gas bumi merupakan aset nasional yang perlu dilakukan pengelolaan seoptimal mungkin dengan memaksimalkan peran serta seluruh komponen bangsa Indonesia untuk meningkatkan kinerja dan produktivitasnya, sehingga sumberdaya minyak dan gas bumi dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia.</p>
<p>Selama 50 tahun terakhir, bangsa Indonesia sudah berpengalaman dalam pengelolaan lapangan minyak dan gas bumi, sehingga telah memiliki kemampuan keuangan, teknis mau pun pengendalian resikonya. Dari sisi sumberdaya manusia, bangsa Indonesia mempunyai ahli-ahli geologi, perminyakan, maupun ahli hukum dan ekonomi yang telah mumpuni dan terbukti berperan aktif dalam pengelolaan sumberdaya migas baik di Indonesia mau pun di manca negara.</p>
<p>Pemerintah Indonesia sudah selayaknya memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi sumber daya manusia Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam pengelolaan sumber daya migas nasional. Pertamina sebagai perusahaan milik negara beserta perusahaan-perusahaan migas nasional telah terbukti mampu melakukan pengelolaan sumber daya migas nasional dengan baik.</p>
<p>IAGI mendukung Pertamina sebagai perusahan migas milik negara untuk turut berkembang dan diberi kepercayaan dengan fokus untuk pengelolaan lapangan migas yang berskala besar, sehingga menjadi perusahaan yang lebih efisien dan memberikan hasil keuntungan maksimum untuk negara, Sedangkan untuk pengembangan lapangan berskala kecil atau marjinal,Pertamina diharapkan untuk terus meningkatkan pembinaan perusahaan migas nasional melalui kerjasama operasi pengelolaan lapangan migas marjinal dengan mengutamakan perusahaan-perusahaan migas nasional yang telah terbukti berprestasi dalam pengelolaan lapangan migas marjinal.</p>
<p>Dalam kerangka cetak biru Pertamina untuk menjadi pengelola lapangan migas besar, seharusnya Pertamina diberi kesempatan untuk mengelolaan lapangan migas yang terletak di Blok Mahakam yang telah dinikmati oleh Total Indonesia selama 50 tahun terakhir dan akan berakhir masa kontraknya. Tentunya Pertamina perlu melakukan strategi bisnis dan investasi untuk pengendalian resiko secara konsorsium dengan mitra yang terpercaya, terutama Total Indonesia yang telah berpengalaman mengelola Blok Mahakam.</p>
<p>Mengingat risiko dalam pengelolaan dan besarnya Blok Mahakam yang meliputi <em>Producing Area</em> dan <em>Undeveloped Area (</em>termasuk<em> deeper target)</em>, maka perlu dipikirkan pemisahan pengelolaannya sehingga operasi pengelolaan lapangan menjadi lebih efisien, yaitu menjadi Blok Mahakam <em>Producing Area</em> dan Blok Mahakam <em>Undeveloped Area</em>. Pertamina sebagai perusahaan milik negara dapat diberikan prioritas terutama untuk pengelolaan Blok Mahakam yang terletak di <em>Producing Area</em>.</p>
<p>Untuk Area yang masih belum dikembangkan, termasuk target lebih dalam), IAGI mengusulkan untuk dilakukan tender terbuka dengan memberikan &#8220;<em>right to match</em>&#8221; kepada konsorsium Pertamina dan Total Indonesia, sehingga pemerintah Indonesia dapat mengoptimalkan tingkat investasi untuk pengelolaan Blok Mahakam serta memastikan besarnya komitmen eksplorasi migas di daerah tersebut. Dengan mekanisme &#8220;<em>right to match</em>&#8220;, maka konsorsium Pertamina dan Total Indonesia mendapatkan prioritas untuk mendapatkan Blok Mahakam. Dalam rangka meningkatkan kapasitas nasional, para peserta tender dapat diutamakan dalam bentuk konsorsium dengan porsi minimal 30% untuk perusahaan migas nasional lainnya.</p>
<p>Untuk memenuhi kebutuhan energy di dalam negeri yang akan meningkat 3 kali lipat dalam 20 tahun kedepan, alokasi energy menjadi sangat strategis. Sehingga kontrak pengusahaan migas juga harus mencantumkan peruntukan pemanfaatan energy untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sesuai dengan harga keekonomiannya.</p>
<p>IAGI sebagai organisasi profesi para ahli geologi Indonesia bersedia untuk memberikan pertimbangan dan evaluasi teknis untuk pengelolaan Blok Mahakam, terutama untuk mengoptimumkan komitmen eksplorasi migas yang bertujuan untuk meningkatkan cadangan sumber daya migas nasional.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ikatan Ahli Geologi Indonesia – IAGI</p>
<p>Ketua Umum,</p>
<p>Rovicky Dwi Putrohari</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lampiran:</p>
<p><a title="Press Release IAGI 28 Februari 2013.PDF" href="http://gayuh.putranto.net/wp-content/uploads/2013/03/Press-Release-IAGI-28-Februari-20130001.pdf.pdf" target="_blank">Press release IAGI 28 Februari 2013</a></p>
<p><a title="Berita Press Release IAGI 28 Februari 2013" href="http://gayuh.putranto.net/wp-content/uploads/2013/03/Berita-Press-Release-IAGI-28-Februari-20130001.pdf" target="_blank">Berita terkait press release IAGI 28 Februari 2013</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iagi.or.id/press-release-iagi-strategi-pengelolaan-sumberdaya-migas-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banjir dan Longsor Masih Terus Mengancam</title>
		<link>http://www.iagi.or.id/banjir-dan-longsor-masih-terus-mengancam.html</link>
		<comments>http://www.iagi.or.id/banjir-dan-longsor-masih-terus-mengancam.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2013 01:24:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>-Admin-</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Press Release IAGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iagi.or.id/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA – Perubahan iklim global terus mempengaruhi cuaca dan hujan di awal tahun 2013. Ancaman banjir dan longsor masih terus harus diwaspadai. “Ancaman bahwa masih akan terus berlangsungnya banjir dan tanah longsor semakin terlihat nyata” kata Rovicky Dwi Putrohari, Ketua IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia di Jakarta, Kamis (21/2/2013). Dikatakan oleh Rovicky, perbedaan prakiraan hujan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA – Perubahan iklim global terus mempengaruhi cuaca dan hujan di awal tahun 2013. Ancaman banjir dan longsor masih terus harus diwaspadai.</p>
<p>“<em>Ancaman bahwa masih akan terus berlangsungnya banjir dan tanah longsor semakin terlihat nyata</em>” kata Rovicky Dwi Putrohari, Ketua IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia di Jakarta, Kamis (21/2/2013).</p>
<p>Dikatakan oleh Rovicky, perbedaan prakiraan hujan bulanan dari BMKG bulan Januari lalu menunjukkan bahwa curah hujan yang diperkirakan jauh diatas yang terukur, ini diartikan sebagai ancaman banjir dan longsor di Indonesia semakin besar dari yang diperkirakan dan dimodelkan sebelumnya.</p>
<p>Menurut Rovicky, perlu dilakukan evaluasi ulang terhadap prakiraan hujan serta banjir yang kemungkinan mengancam lebih besar pada daerah-daerah yang selama ini berpotensi terjadi longsoran dan banjir. Terutama di daerah-daerah yang sebelumnya menjadi pusat bencana. Termasuk diantaranya daerah sekitar gunungapi yang tahun sebelumnya aktif menumpuk material yang masih belum terbatukan. Juga daerah-daerah yang sebelumnya tergetarkan oleh gempa dan menimbulkan keretakan pada tanah. “<em>Material ini pasti rawan tererosi dan terangkut menjadi lahar dingin atau longsor</em>” ujarnya.</p>
<p>Di dalam evaluasi singkat banjir Jakarta dan sekitarnya yang dilakukan oleh team ahli dari IAGI, menyebutkan bahwa jebolnya tanggul merupakan salah satu penyebab yang memperlihatkan kurangnya pengawasan dan perawatan terhadap bangunan-bangunan air. Ini mengingatkan Rovicky pada kasus jebolnya bendung Situ Gintung di Jakarta beberapa tahun lalu.</p>
<p><a href="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/02/waduk_penjalin1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-456" alt="waduk_penjalin1" src="http://www.iagi.or.id/wp-content/uploads/2013/02/waduk_penjalin1.jpg" width="940" height="401" /></a></p>
<p>Team ahli dari IAGI juga telah melihat adanya ancaman pada Waduk Penjalin, Jawa Tengah, yang merupakan bendungan lama yang dibangun jaman Belanda (1930). Bendung waduk ini terletak diatas patahan yang menurut Rovicky sangat rawan kebocoran yang mungkin saja memicu keruntuhan bendungan ini. Rovicky mengatakan, team IAGI menyarankan untuk terus dikontrol dan diawasi bendungan-bendungan yang memiliki konstruksi lama serta konstruksi sederhana. “<em>Termasuk juga tanggul di Lumpur Sidorajo loh ya</em>”, demikian ujarnya.</p>
<p>Untuk masalah sosialisasi ini IAGI yang dipimpinnya berjanji untuk terus mengikuti kegiatan ekstraksi sumberdaya alam, mitigasi kebencanaan serta konservasi lingkungan. “<em>Loh IAGI kan memiliki anggota lebih dari 4000 ahli geologi yang tersebar di Indonesia, sudah seharusnya berkiprah langsung membantu masyarakat dengan sosialisasi seperti ini</em>”, demikian menutup pembicaraan dengan beberapa reporter media.</p>
<p>Detilnya dapat diunduh dibawah ini</p>
<ul>
<li><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/02/press-release-iagi-feb-2013.pdf">PRESS RELEASE IAGI Feb 2013</a></li>
<li><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/02/lampiran-1-press-release-iagi-feb-2013.pdf">Lampiran 1 PRESS RELEASE IAGI Feb 2013</a></li>
<li><a href="http://rovicky.files.wordpress.com/2013/02/lampiran-2-press-release-iagi-feb-2013.pdf">Lampiran 2 PRESS RELEASE IAGI Feb 2013</a></li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iagi.or.id/banjir-dan-longsor-masih-terus-mengancam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerja sama Badan Geologi &#8211; IAGI: Sosialisasi Geologi di Kendari</title>
		<link>http://www.iagi.or.id/kerja-sama-badan-geologi-iagi-sosialisasi-geologi-di-kendari.html</link>
		<comments>http://www.iagi.or.id/kerja-sama-badan-geologi-iagi-sosialisasi-geologi-di-kendari.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2012 07:28:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gayuh Putranto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iagi.or.id/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Pada 18 Juni 2012, Badan Geologi bekerja sama dengan IAGI melakukan rangkaian acara sosialisasi geologi di Kendari, Sulawesi Tenggara. Rangkaian acara tersebut meliputi: 1) Sosialisasi Geologi untuk Guru2 SD-SMP-SMU (19-20 Juni 2012) Acara ini dibagi di dalam 3 sesi selama dua hari dan topik ceramah dan diskusi adalah sbb: Geologi Umum disampaikan oleh A.M. Imran [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div>Pada 18 Juni 2012, Badan Geologi bekerja sama dengan IAGI melakukan rangkaian acara sosialisasi geologi di Kendari, Sulawesi Tenggara. Rangkaian acara tersebut meliputi:</div>
<div></div>
<div><strong>1) Sosialisasi Geologi untuk Guru2 SD-SMP-SMU (19-20 Juni 2012)</strong></div>
<div>Acara ini dibagi di dalam 3 sesi selama dua hari dan topik ceramah dan diskusi adalah sbb:</div>
<ul>
<li>Geologi Umum disampaikan oleh A.M. Imran (dosen Teknik Geologi Unhas, anggota IAGI)</li>
<li>Geologi Mineral disampaikan oleh Haryadi Permana (LIPI, anggota IAGI)</li>
<li>Geologi Migas disampaikan oleh M. Syaiful (mewakili IAGI)</li>
<li>Geologi Kebencanaan &#8211; Gempa Bumi disampaikan oleh Engkon Kertapati (PSG, anggota IAGI)</li>
<li>Geologi Kebencanaan &#8211; Gunungapi disampaikan oleh Igan S. (PSG, anggota IAGI)</li>
<li>Geologi &#8211; Sistem Data Informasi disampaikan oleh Ipranta (PSD, anggota IAGI)</li>
<li>Geologi dan Potensi Sulawesi Tenggara disampaikan oleh Abdul Latif (Dinas ESDM Sulteng)</li>
</ul>
<p><strong>2) Pertemuan dengan para ahli kebumian Sulteng (19 Juni 2012 malam).</strong></p>
<div>Pertemuan antara IAGI (diwakili oleh Ipranta, M. Syaiful, dan Haryadi Permana) dengan para ahli kebumian (geologi, geografi, dan geofisika) dimulai di lobi Plaza Inn dan dilanjutkan dengan makan malam bersama di RM Alamo. Dalam pertemuan itu dibahas tentang wacana mandirinya para ahli kebumian tersebut menjadi Pengda tersendiri (Pengda Sultra) dimana sekarang mereka masih dalam lingkup Pengda Sultanbatara (Sulawesi Selatan, Barat, Tengah, dan Tenggara). Untuk itu, juga dibahas tentang siapa calon ketua pengda, koordinasi pusat-pengda, dan formalitasnya. Disusul pembahasan tentang tindak-lanjut acara Sosialisasi Geologi ini dalam suatu program yang konkret kepada masyarakat.</div>
<p><strong>3) Pertemuan Pembahasan Pembentukan Jurusan Geologi <strong>Universitas Haluoleo</strong> (20 Juni 2012 malam)</strong></p>
<div>Pertemuan antara IAGI dan pihak kampus Universitas Haluoleo ini dilaksanakan di Plaza Inn setelah makan malam bersama. Topik pembahasannya adalah menampung masukan dari Badan Geologi-IAGi untuk pembentukan program studi geologi di Unhalu. Saat ini Jurusan Fisika di bawah FMIPA yang ada di Unhalu, mempunyai dua konsentrasi (atau peminatan), yaitu Konsentrasi Geologi dan Konsentrasi Geofisika. Mereka sedang mengusahakan agar konsentrasi ini bisa menjadi jurusan atau program studi tersendiri. Bahkan karena satu jurusan di Fakultas Pertanian, yaitu Sosek (sosial-ekonomi) sudah kurang peminat (mahasiswa), maka rektor Unhalu pun menyarankan dialihkan saja ke jurusan baru, misalnya Sosek Pertambangan.</div>
<div></div>
<div><strong>4) kuliah umum di Universitas Haluoleo<strong> ( 21 Juni 2012)</strong></strong></div>
<div>Kuliah Umum di Unhalu dilakukan dengan presentasi oleh Prof. Surono, Haryadi Permana, M. Syaiful, dan Ipranta. Peserta mahasiswa yang hadir cukup ramai dan diselingi sesi diskusi. Lalu acara dilanjutkan dengan peninjauan ke Museum Wallace yang baru diresmikan oleh menteri sebulan sebelumnya.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iagi.or.id/kerja-sama-badan-geologi-iagi-sosialisasi-geologi-di-kendari.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MGEI Annual Convention “BESA” 2012, Malang 26-27 November 2012</title>
		<link>http://www.iagi.or.id/mgei-annual-convention-besa-2012.html</link>
		<comments>http://www.iagi.or.id/mgei-annual-convention-besa-2012.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2012 10:58:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gayuh Putranto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.iagi.or.id/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[“Membedah Potensi Sumber Daya Mineral Busur Sunda Timur dan Banda” Sejak 2009, MGEI mempunyai agenda rutin berupa Annual Convention dengan tema regional metallogeny atau mengkaji potensi sumber daya mineral dan batubara di setiap region/pulau. Konvensi tahunan pertama pada 2009 di Jakarta bertemakan Sumatera Metallogeny, lalu pada 2010 acara serupa dilaksanakan di Balikpapan dan membahas Kalimantan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>“Membedah Potensi Sumber Daya Mineral Busur Sunda Timur dan Banda”</strong></p>
<p>Sejak 2009, MGEI mempunyai agenda rutin berupa Annual Convention dengan tema <em>regional metallogeny </em>atau mengkaji potensi sumber daya mineral dan batubara di setiap region/pulau<em>. </em>Konvensi tahunan pertama pada 2009 di Jakarta bertemakan <em>Sumatera Metallogeny</em>, lalu pada 2010 acara serupa dilaksanakan di Balikpapan dan membahas <em>Kalimantan Coal and Mineral Resources</em> (KCMR), serta pada 2011 kebagian Pulau Sulawesi yang diulas potensi mineralnya di Manado (SMR), maka pada 2012 kali ini diselenggarakan di Kota Malang, Jawa Timur pada 26-27 November 2012 dan mengambil tema <em>Banda and Eastern Sunda Arc</em> (BESA).</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><a href="http://www.mgei-iagi.org/images/stories/1.%20foto%20lengkap%20besa.jpg"><img class=" " src="http://www.mgei-iagi.org/images/stories/1.%20foto%20lengkap%20besa.jpg" alt="" width="576" height="433" /></a><p class="wp-caption-text">Foto bersama peserta MGEI &quot;BESA&quot; 2012</p></div>
<p>Rangkaian acara dibuka dengan seremoni dan pidato oleh ketua panitia Arief Rachmansyah dan Ketua MGEI Sukmandaru Prihatmoko. Sesi teknikal yang pertama dimulai dengan topik pembahasan geologi regional Busur Sunda Timur (Lucas Donny – UGM) dan Busur Banda (Ade Kadarusman &#8211; Antam) serta kajian metallogeny-nya (Adi Maryono &#8211; Buena). Busur Sunda Timur dimulai dari Jawa, Bali, Lombok, dan Sumbawa, sedangkan Busur Banda terdiri dari jajaran pulau mulai dari Flores ke arah timur (Kepulauan Maluku). Batas antara kedua busur ini merupakan suatu diskontinuitas dari dua rezim geologi yang kontras berbeda.</p>
<p>Sesi teknikal yang kedua sampai dengan ketujuh, membahas lebih detil aspek geologi ekonomi beberapa situs atau proyek mineralisasi logam, mulai dari ujung barat Pulau Jawa yaitu deposit emas-perak di Kerta, Banten sampai ke ujung timur Busur Banda yaitu deposit emas di Pulau Buru, Maluku. Total ada 17 presentasi teknis, termasuk satu presentasi tentang deposit batubara di Jawa (Chairul Nas &#8211; Trisakti) dan satu presentasi tentang Ertsberg (Lasito Subari &#8211; Freeport). Dua <em>evening talk</em> dibawakan oleh Wahyu Sunyoto – Freeport (berjudul <em>Porphyry and Skarn Cu-Au Deposits and its Associated Cu-Au Bearing Intrusions of the Ertsberg District, Papua</em>) dan Steve Garwin (berjudul <em>Control to Mineralization and Exploration Vectors in Gold-Copper systems</em>).</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><a href="http://www.mgei-iagi.org/images/stories/untitled-10.jpg"><img src="http://www.mgei-iagi.org/images/stories/untitled-10.jpg" alt="" width="576" height="433" /></a><p class="wp-caption-text">Evening Talk bersama Steve Garwin</p></div>
<p>Selain dihadiri oleh para praktisi profesional dan akademisi, acara ini juga dihadiri oleh para undangan dari siswa sekolah dan mahasiswa. Diadakan pula <em>Student Paper Contest</em> yang diikuti oleh 20 mahasiswa dari berbagai kampus dan dimenangkan oleh Fahmi Hakim – UGM dengan judul posternya <em>Ore and Alteration Mineralogy of Muara Bungo Gold Prospect, Implication for Deposit Genesis.</em></p>
<p>Di penghujung rangkaian acara, diadakan acara laporan pertanggungjawaban pengurus MGEI 2010-2012  yang disampaikan oleh Ketuanya, Sukmandaru Prihatmoko. Lalu diikuti oleh acara perhitungan suara pemilihan Ketua MGEI periode 2012-2014. Bronto Sutopo – Antam terpilih melalui proses pemungutan suara yang demokratis ini.</p>
<p>Selain seminar, dalam rangkaian acara ini juga diadakan <em>field trip</em> ke Grassberg (Freeport), Batu Hijau (Newmont), dan Cibaliung (Antam).</p>
<p><strong>Busur Sunda Timur</strong></p>
<p>Potensi sumber daya mineral logam di Busur Sunda Timur ini didominasi oleh emas, perak, dan tembaga dengan dominan tipe deposit <em>porphyry</em> dan <em>epithermal</em> dan semuanya berasosiasi dengan jalur magmatik berumur Neogen.</p>
<p>Dengan total sumber daya lebih dari 90 juta oz emas, 275 juta oz perak dan 60 milyar pounds tembaga, tidak salah kalau Busur Sunda Timur ini dikenal sebagai salah satu dari sabuk emas-tembaga terbaik di dunia (Maryono dkk., 2012). <em>Discovery</em> deposit besar tipe <em>Cu-Au Porphyry </em>terdapat di Banyuwangi (Jawa Timur), Lombok bagian selatan, dan Selogiri (Jawa Tengah). Sedangkan, tipe endapan epithermal dominan berada di Jawa bagian barat yaitu Kerta, Pongkor, dan Papandayan, serta beberapa situs di Sumbawa. Di sisi lain, masih terbuka untuk <em>discovery</em> deposit-deposit baru dengan pemahaman tentang evolusi jalur-jalur struktur-magmatik di busur ini.</p>
<p>Selain target mayor, terbuka pula peluang untuk proyek inovatif berskala kecil seperti <em>nano gold</em> dan <em>phytomining.</em></p>
<p><strong>Busur Banda</strong></p>
<p>Busur Banda, baik Busur Banda Dalam maupun Luar, masih dapat dikatakan menarik untuk eksplorasi mineral logam, dengan ditemukannya deposit emas di Pulau Buru dan Pulau Wetar serta deposit mangan di Timor. Dengan pemahaman akan tipe-tipe endapan yang <em>unconventional</em>, region ini masih sangat membuka peluang untuk dieksplorasi lebih lanjut dan sistematis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right">(diolah dari berbagai sumber)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.iagi.or.id/mgei-annual-convention-besa-2012.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
