Javascript anda tidak aktif!
Silahkan aktifkan javascript pada browser anda untuk mengakses website kami, atau ikuti timeline kami atau like halaman facebook kami.
  • SEMILIR – A SUPERERUPTION 20 Ma


    • Tulisan pak Awang Satyana:

      SEMILIR – A SUPERERUPTION 20 Ma

      Semilir, gunungapi purba 20 juta tahun yl (20 Ma), letusan paroxysmal -megakolosal sekelas Toba, di timur Yogyakarta sekarang.

      November tahun lalu, seorang teman kantor yang asli Yogya seusai sebuah rapat mengajak saya ke tempat wisata yang baru dibuka: Tebing Breksi, tak jauh dari candi Ratu Boko, timurlaut Yogya. Waktu saya saat itu sempit, tiga jam menjelang terbang pulang ke Jakarta. Tetapi rekan kantor saya itu berhasil membujuk saya dengan sesuatu yang memang suka susah saya tolak: geologi lapangan.

      Dan saya tak sia-sia terbujuk. Ini singkapan geologi spektakular dan bukti betapa hebatnya letusan Gunung Semilir kala itu. Tebing Tuf, tepatnya bukan Tebing Breksi seperti namanya. Tuf adalah pembatuan abu volkanik. Sepengetahuan saya ini singkapan tuf Semilir paling hebat.

      Awal tahun 2000-an seorang geolog perempuan dari Inggris bernama Helen Smyth ada tiga tahun melakukan penelitian area selatan Jawa dari Yogyakarta sampai Banyuwangi. Ia terobsesi oleh letusan purba pada Kala Oligo-Miosen (20 juta tahun yl) di selatan Jawa. Dan ia menemukan letusan-letusan kala itu lebih hebat daripada letusan-letusan sekarang. Magmanya lebih bersifat asam daripada intermediat seperti sekarang. Lalu Helen punya kesimpulan Semilir adalah erupsi sekelas Toba pada 20 juta tahun yl. Pada tahun 2005, Helen menyampaikan hasil penelitiannya di sidang ilmiah pertemuan IPA (Indonesian Petroleum Association), dan saya adalah reviewer paper sekaligus ketua sidangnya kala itu.

      Maka ketika sore itu saya terpapar kepada tebing tuf yang tinggi menjulang, saya langsung teringat Helen yang saat penelitiannya tebing ini belum tersingkap. Helen benar, tegas saya dalam hati.

      Sepasang calon pengantin dan beberapa anak gadis sore itu juga menikmati pemandangan Tebing Tuf yang spektakular. Saya dan rekan kantor saya mengobrol dan berfoto bersama mereka, juga memotret mereka. Hm..pandangan sore itu yang menyukakan hati.

      Tetapi pikiran saya pun berkelana jauh ke volkanisme Jawa pada 20 juta tahun yang lalu yang sore itu terpapar buktinya di depan mata. Setiap geolog yang baik bermata dua, ia melihat apa yang di depan mata fisiknya, dan mata batinnya yang melihat rangkaian peristiwa – yang dibangun benaknya.

      Calon pengantin yang tengah berbunga hatinya itu mungkin tak melihat utuh keindahan tebing ini sebab mereka terlalu bahagia di dalam hati. Keempat gadis itu seperti para pengunjung pada umumnya suka melihat panoramanya. Saya, seorang geolog selama hampir 30 tahun, punya kesukaan yang lebih lagi atas Tebing ini. Saya menikmati panoramanya, dan saya memahami apa ini. Apalagi saya tahu penelitian tiga tahun Helen Smyth atas batu ini yang mengungkapkan sejarahnya yang hebat.

      Bermanfaat mengetahui semua itu? Tentu saja: saya merasakan seperti hidup dua kali, dibandingkan hanya melihat keindahan pemandangannya.

      “Memandang alam dengan pengertian jauh lebih berarti dan menyukakan hati daripada hanya menyaksikan keelokannya.” (Mechanismus der Gebirgsbildung – Albert Heim, 1878)

       

      supereruption 20ma ft1

      supereruption 20ma ft2

      supereruption 20ma ft3

      supereruption 20ma ft4

       

       

      Comments

      comments